Judul Buku
Bidadari-Bidadari Surga
Penulis
Tere Liye
Penerbit
Republika
Cetakan
8, Juni 2011
Tebal
363 halaman
ISBN
978-979-1102-26-1
Berangkat dari perspektif teman saya—atau orang
lain—berkenaan dengan orang sukses dalam dunia pendidikan, sebuh novel karya
Tere Liye, Bidadari-Bidadari Surga, dapat dijadikan rujukan dan cermin
belajar dan mendidik orang lain, lebih-lebih famili sendiri. Katanya, pendidik
disebut ‘sukses’ jika yang dididik lebih bermutu dari pendidiknya. Jika guru,
siswanya lebih pandai dan cerdas; jika bapak-ibu, anak-anak mereka tumbuh lebih
dewasa dan bersemangat mendaki lebih tinggi cita-cita hidup; dan jika penulis,
pembaca mampu menyerap amanat tersurat dalam tulisannya.
Bagaimana menjadi seorang Kak Laisa berdiri tegar,
percaya diri, dan berjuang keras untuk masa depan adik-adiknya, yaitu
Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta? Kenapa Kak Laisa rela menjadi lilin
yang lentur terbakar api? Ia selalu mengalah untuk kesuksesan adiknya?
Kak Laisa adalah sulung dari lima saudara.
Sekalipun ia bukan kakak asli mereka, perjuangannya tak kalah hebat dengan Ki
Hajar Dewantara. Keterbatasan ekonomi, tak jadi soal. Tapi semangat berikhtiar
dan berdoa tak pernah absen. Camkan kata-kata Kak Laisa saat Ikanuri dan
Wibisana ketahuan bolos sekolah: “Tapi sebelum hari itu tiba, sebelum masanya
datang, dengarkan Kakak, kalian harus rajin sekolah, rajin belajar, dan bekerja
keras….” (hal 138).
Kak Laisa selalu marah-marah saat tahu adiknya
nakal sekolah. Baginya, sekolah adalah bekal masa depan menjadi pintar dan
terpandang. Adik-adiknya yang nakal biasanya diberi hukuman, salah satunya,
tidak boleh masuk rumah. Penting digaris bawahi, tindakan Kak Laisa yang
terkesan keras, sedikitpun tanpa dibarengi perasaan dendam. Itulah pendidikan
untuk adik-adiknya.
Kak Laisa tidak ingin kegagalan Mamak Lainuri dan
tetangga-tetangga daerah Lembah Lahambay terulang kembali pada adik-adiknya: tidak
lulus pendidikan kelas enam, tidak banyak bersentuhan dengan dunia pendidikan,
dsb. Cukup itu menjadi sejarah pahit di masa silam. Sekarang dan seterusnya
harus lebih maju.
“Kau anak lelaki Dalimunte! Anak lelaki harus
sekolah! Akan jadi apa kau jika tidak sekolah? Pencari kumbang di hutan sana
seperti orang lain di kampung sini? Penyadap dammar? Kau mau menghabiskan
seluruh masa depanmu di kampung ini? Setiap tahun berladang dan berharap hujan
turun teratur? Setiap tahun berladang hanya untuk cukup makan! Kau mau setiap
tahun hanya makan ubi gadung setiap kali hama belalang menyerang ladang? Hah,
mau jadi apa Dalimunte?” tegur Kak Laisa saat mengetahui Dalimunte bolos
sekolah. (hal 61).
Dalimunte pun pernah dimarahi kakak sulungnya.
Begitulah karakter Dalimunte: tidak melawan, tidak membantah, dan diam saja.
Tak seperti Ikanuri dan Wibisana. Mereka bandelnya minta ampun. Ikanuri pernah
bilang, “Kak Laisa bukan kakakku,” lalu kabur ke Gunung Kedeng—tempat berbahaya
dan penuh dengan siluman harimau yang suka memangsa manusia. Babak mereka
ditemukan mati dengan tubuh yang tercabik-cabik harimau dulu. Rasa sayang Kak
Laisa kepada adiknya mampu mengalahkan sikap bandel itu. Ia dan Dalimunte
menjelajahi gunung mencari Ikanuri dan Wibisana yang menghilang hingga bikin
penduduk Lembah Lahambay khawatir dan mencari sana-sini. Dan, akhirnya mereka tertolong
Kak Laisa saat harimau itu meraung-raung. Siap memangsa.
Dalimunte tampak berbeda di antara
saudara-saudaranya. Ia dikaruniai IQ yang cerdas bin kreatif. Karya mutlaknya,
‘kincir air’ di sungai untuk mengairi sawah-sawah penduduk Lembah Lahambay yang
krisis air. Opini ini disampaikan Dalimunte pada acara pertemuan kampung
terkait masa depan kampung mereka. Karena ia termasuk yang paling muda di
antara peserta rapat yang lain, ia tampak gugup. Tak sedikit peserta yang
menyangkal. Tapi, Wawak Burhan bersikap netral selaku moderator dan Kak Laisa
men-support dengan alasan-alasan logis.
“Kita bisa melakukannya. Apa susahnya membuat
kincir-kincir itu. Jika Dalimunte bisa membuat dua dengan bambu seadanya, kita
bisa membuatnya yang lebih bagus, lebih kokoh.” Kak Laisa berseru melangkah ke
depan menyangkal pendapat-pendapat peserta yang kontra. (hal 89).
Sepakat gagasan Dali dicoba. Singkat cerita,
hasilnya positif. Sawah semakin mudah diairi. Dan, suatu hari berikutnya kincir
air itu menjadi generator listrik. Secara tidak langsung Dali telah memberikan
sumbangan jariah untuk masyarakat daerah sana.
Semangat menyekolahkan adik-adiknya juga
ditunjukkan pada Yashinta si gadis cantik, bungsu di antara lima saudara itu. Tidak
ingin Yash bekerja banting tulung. Ia cukup belajar/sekolah. Kebanggaan Kak
Laisa terpancar dari adik-adiknya yang giat sekolah. Titik. Tentang biaya
sekolah, ada Mamak dan Kak Laisa yang menanggung. Tak perlu khawatir.
Dari didikan yang super-ketat, motivasi, dan rasa
kasih sayang yang tinggi seorang Kak Laisa, tanpa terasa, adiknya tumbuh
menjadi orang sukses. Si Dalimunte lulus S1 hingga S3. Semua jenjang pendidikan
ini ditempuh dengan jalur beasiswa. Kreativitas Dali mencipta kincir air menjadi
latarbelakang disematkannya titel ‘profesor’. Ia dikenal banyak orang dan masuk
tv. Menjadi pembicara di setiap acara nasional/internasional.
Yashinta tak kalah dengan Dali. Ia menjadi hebat
dan mampu menyelesaikan S1 dengan predikat lulus cumlaude, terbaik. Menjadi
wakil wisudawan saat memberikan sambutan. Enam bulan kemudian, Yashinta akan
melanjutkan studi S2-nya di Eropa. Ia mendapatkan beasiswa penelitian
konservasi ekologi, bahkan beasiswa itu ditawarkan saat Yashinta masih menulis
tugas akhir kuliah S2-nya. (hal 241).
Mata Kak Laisa dan keluarga yang lain
berkaca-kaca. Menangis terharu. Tanpa dinyana keluarga sederhana dengan ekonomi
pas-pasan mampu menjadi yang terbaik.
Begitu dengan Ikanuri dan Wibisana. Mereka,
sekalipun bandel dan sering bolos sekolah saat kanak-kanak, menjelang usia tua,
pola pikirnya semakin tambah dewasa menatap masa depan. Mereka juga lulus
kuliah dan punya bengkel besar di tingkat provinsi. Mereka tampak mandiri.
Kesuksesan yang Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan
Yashinta raih, akhirnya kesadaran akan perjuangan Kak Laisa terngiang langsung.
Sikap kakak sulungnya yang terkesan keras, membatasi, dan selalu mengatur sejak
usia kanak-kanak telah direspons salah, padahal pelbagai sikap itu adalah salah
satu bentuk rasa perhatiannya. Kesadaran yang membuncah dan membekas di hati
menjadikan mereka merasa berhutang budi di kala kesuksesan di depan mata.
Kak Laisa sukses mendidik adik-adiknya, sekalipun
tidak sekandung. Mereka tampak lebih hebat dibandingkan dirinya, tapi mereka
tetap mengatakan Kak Laisalah yang paling hebat. Namanya disebut-sebut tak
ubahnya pahlawan. Dikenang. Selalu hidup, kendatipun raganya tiada.
Kepribadian Kak Laisa terekam kuat di dalam diri
adik-adiknya. Dia tahu masa kanak-kanak adalah masa peniru. Mereka
memperhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan. Lingkungan, keluarga dan
sekitar akan membentuk watak mereka (hal 335). Kesuksesan Dalimunte, Ikanuri,
Wibisana, dan Yashinta sejatinya kesuksesan Kak Laisa.
Membaca perjuangan seorang Kak Laisa tentunya
pembaca banyak belajar menjadi pendidik yang sejati: ikhlas, sabar, dan menjadi
teladan yang baik. Sungguh novel yang fantastik, kaya komplik, dan sederhana.
Novel yang menyentuh berkisah tentang pendidikan, tapi tidak dalam hal percintaan.
Itulah kelebihan novel-novel Tere Liye. Selamat membaca![]

No comments:
Post a Comment