Sunday, September 27, 2015

Perjuangan Kak Laisa



Judul Buku
Bidadari-Bidadari Surga
Penulis
Tere Liye
Penerbit
Republika
Cetakan
8, Juni 2011
Tebal
363 halaman
ISBN
978-979-1102-26-1

Berangkat dari perspektif teman saya—atau orang lain—berkenaan dengan orang sukses dalam dunia pendidikan, sebuh novel karya Tere Liye, Bidadari-Bidadari Surga, dapat dijadikan rujukan dan cermin belajar dan mendidik orang lain, lebih-lebih famili sendiri. Katanya, pendidik disebut ‘sukses’ jika yang dididik lebih bermutu dari pendidiknya. Jika guru, siswanya lebih pandai dan cerdas; jika bapak-ibu, anak-anak mereka tumbuh lebih dewasa dan bersemangat mendaki lebih tinggi cita-cita hidup; dan jika penulis, pembaca mampu menyerap amanat tersurat dalam tulisannya.

Bagaimana menjadi seorang Kak Laisa berdiri tegar, percaya diri, dan berjuang keras untuk masa depan adik-adiknya, yaitu Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta? Kenapa Kak Laisa rela menjadi lilin yang lentur terbakar api? Ia selalu mengalah untuk kesuksesan adiknya?

Kak Laisa adalah sulung dari lima saudara. Sekalipun ia bukan kakak asli mereka, perjuangannya tak kalah hebat dengan Ki Hajar Dewantara. Keterbatasan ekonomi, tak jadi soal. Tapi semangat berikhtiar dan berdoa tak pernah absen. Camkan kata-kata Kak Laisa saat Ikanuri dan Wibisana ketahuan bolos sekolah: “Tapi sebelum hari itu tiba, sebelum masanya datang, dengarkan Kakak, kalian harus rajin sekolah, rajin belajar, dan bekerja keras….” (hal 138).

Kak Laisa selalu marah-marah saat tahu adiknya nakal sekolah. Baginya, sekolah adalah bekal masa depan menjadi pintar dan terpandang. Adik-adiknya yang nakal biasanya diberi hukuman, salah satunya, tidak boleh masuk rumah. Penting digaris bawahi, tindakan Kak Laisa yang terkesan keras, sedikitpun tanpa dibarengi perasaan dendam. Itulah pendidikan untuk adik-adiknya.

Kak Laisa tidak ingin kegagalan Mamak Lainuri dan tetangga-tetangga daerah Lembah Lahambay terulang kembali pada adik-adiknya: tidak lulus pendidikan kelas enam, tidak banyak bersentuhan dengan dunia pendidikan, dsb. Cukup itu menjadi sejarah pahit di masa silam. Sekarang dan seterusnya harus lebih maju.

“Kau anak lelaki Dalimunte! Anak lelaki harus sekolah! Akan jadi apa kau jika tidak sekolah? Pencari kumbang di hutan sana seperti orang lain di kampung sini? Penyadap dammar? Kau mau menghabiskan seluruh masa depanmu di kampung ini? Setiap tahun berladang dan berharap hujan turun teratur? Setiap tahun berladang hanya untuk cukup makan! Kau mau setiap tahun hanya makan ubi gadung setiap kali hama belalang menyerang ladang? Hah, mau jadi apa Dalimunte?” tegur Kak Laisa saat mengetahui Dalimunte bolos sekolah. (hal 61).

Dalimunte pun pernah dimarahi kakak sulungnya. Begitulah karakter Dalimunte: tidak melawan, tidak membantah, dan diam saja. Tak seperti Ikanuri dan Wibisana. Mereka bandelnya minta ampun. Ikanuri pernah bilang, “Kak Laisa bukan kakakku,” lalu kabur ke Gunung Kedeng—tempat berbahaya dan penuh dengan siluman harimau yang suka memangsa manusia. Babak mereka ditemukan mati dengan tubuh yang tercabik-cabik harimau dulu. Rasa sayang Kak Laisa kepada adiknya mampu mengalahkan sikap bandel itu. Ia dan Dalimunte menjelajahi gunung mencari Ikanuri dan Wibisana yang menghilang hingga bikin penduduk Lembah Lahambay khawatir dan mencari sana-sini. Dan, akhirnya mereka tertolong Kak Laisa saat harimau itu meraung-raung. Siap memangsa.  

Dalimunte tampak berbeda di antara saudara-saudaranya. Ia dikaruniai IQ yang cerdas bin kreatif. Karya mutlaknya, ‘kincir air’ di sungai untuk mengairi sawah-sawah penduduk Lembah Lahambay yang krisis air. Opini ini disampaikan Dalimunte pada acara pertemuan kampung terkait masa depan kampung mereka. Karena ia termasuk yang paling muda di antara peserta rapat yang lain, ia tampak gugup. Tak sedikit peserta yang menyangkal. Tapi, Wawak Burhan bersikap netral selaku moderator dan Kak Laisa men-support dengan alasan-alasan logis.

“Kita bisa melakukannya. Apa susahnya membuat kincir-kincir itu. Jika Dalimunte bisa membuat dua dengan bambu seadanya, kita bisa membuatnya yang lebih bagus, lebih kokoh.” Kak Laisa berseru melangkah ke depan menyangkal pendapat-pendapat peserta yang kontra. (hal 89).

Sepakat gagasan Dali dicoba. Singkat cerita, hasilnya positif. Sawah semakin mudah diairi. Dan, suatu hari berikutnya kincir air itu menjadi generator listrik. Secara tidak langsung Dali telah memberikan sumbangan jariah untuk masyarakat daerah sana.

Semangat menyekolahkan adik-adiknya juga ditunjukkan pada Yashinta si gadis cantik, bungsu di antara lima saudara itu. Tidak ingin Yash bekerja banting tulung. Ia cukup belajar/sekolah. Kebanggaan Kak Laisa terpancar dari adik-adiknya yang giat sekolah. Titik. Tentang biaya sekolah, ada Mamak dan Kak Laisa yang menanggung. Tak perlu khawatir.

Dari didikan yang super-ketat, motivasi, dan rasa kasih sayang yang tinggi seorang Kak Laisa, tanpa terasa, adiknya tumbuh menjadi orang sukses. Si Dalimunte lulus S1 hingga S3. Semua jenjang pendidikan ini ditempuh dengan jalur beasiswa. Kreativitas Dali mencipta kincir air menjadi latarbelakang disematkannya titel ‘profesor’. Ia dikenal banyak orang dan masuk tv. Menjadi pembicara di setiap acara nasional/internasional.

Yashinta tak kalah dengan Dali. Ia menjadi hebat dan mampu menyelesaikan S1 dengan predikat lulus cumlaude, terbaik. Menjadi wakil wisudawan saat memberikan sambutan. Enam bulan kemudian, Yashinta akan melanjutkan studi S2-nya di Eropa. Ia mendapatkan beasiswa penelitian konservasi ekologi, bahkan beasiswa itu ditawarkan saat Yashinta masih menulis tugas akhir kuliah S2-nya.  (hal 241).

Mata Kak Laisa dan keluarga yang lain berkaca-kaca. Menangis terharu. Tanpa dinyana keluarga sederhana dengan ekonomi pas-pasan mampu menjadi yang terbaik.

Begitu dengan Ikanuri dan Wibisana. Mereka, sekalipun bandel dan sering bolos sekolah saat kanak-kanak, menjelang usia tua, pola pikirnya semakin tambah dewasa menatap masa depan. Mereka juga lulus kuliah dan punya bengkel besar di tingkat provinsi. Mereka tampak mandiri.

Kesuksesan yang Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta raih, akhirnya kesadaran akan perjuangan Kak Laisa terngiang langsung. Sikap kakak sulungnya yang terkesan keras, membatasi, dan selalu mengatur sejak usia kanak-kanak telah direspons salah, padahal pelbagai sikap itu adalah salah satu bentuk rasa perhatiannya. Kesadaran yang membuncah dan membekas di hati menjadikan mereka merasa berhutang budi di kala kesuksesan di depan mata.

Kak Laisa sukses mendidik adik-adiknya, sekalipun tidak sekandung. Mereka tampak lebih hebat dibandingkan dirinya, tapi mereka tetap mengatakan Kak Laisalah yang paling hebat. Namanya disebut-sebut tak ubahnya pahlawan. Dikenang. Selalu hidup, kendatipun raganya tiada.

Kepribadian Kak Laisa terekam kuat di dalam diri adik-adiknya. Dia tahu masa kanak-kanak adalah masa peniru. Mereka memperhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan. Lingkungan, keluarga dan sekitar akan membentuk watak mereka (hal 335). Kesuksesan Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta sejatinya kesuksesan Kak Laisa.

Membaca perjuangan seorang Kak Laisa tentunya pembaca banyak belajar menjadi pendidik yang sejati: ikhlas, sabar, dan menjadi teladan yang baik. Sungguh novel yang fantastik, kaya komplik, dan sederhana. Novel yang menyentuh berkisah tentang pendidikan, tapi tidak dalam hal percintaan. Itulah kelebihan novel-novel Tere Liye. Selamat membaca![]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...