Sunday, September 27, 2015

Potret Kehidupan Jokowi



Judul Buku
Jokowi Si Tukang Kayu
Penulis
Gatotkoco Suroso
Penerbit
Ufuk Publishing House
Cetakan
1, September 2012
Tebal
246 halaman
ISBN
978-602-9346-95-4

Biasanya, faktor ekonomi menjadi penentu kesuksesan yang tertata apik di alam bawah sadar seseorang. Jamak pengusaha gulung tikar; pelajar jadi pengangguran; dan perempuan-perempuan suci memilih propesi PSK karena krisis ekonomi. Cekikan ekonomi alih-alih telah membunuh kehormatan dan masa depan mereka.

Benarkah ekonomi menjadi syarat signifikan dibandingkan syarat yang lain seperti kecerdasan, nasab, ketekunan, kesabaran, dsb? Masihkah terbuka kesempatan orang miskin menjadi sukses karir dan pendidikannya?

Sebuah novel inspiratif bertajuk Jokowi Si Tukang Kayu-nya Gatotkoco Suroso terbit sebagai literatur monomental yang cocok dijadikan cermin saat kebanyakan orang menuhankan ekonomi sebagai bekal pertama dan terutama dalam berbuat, menggapai cita-cita, dan berkuasa. Novel ini mengisahkan seorang sosok pemimpin yang tampil sederhana, berkharismatik, dan merakyat. Tentunya, mental baik yang terpancar dalam perbuatan tercermin dari didikannya sedari usai kanak-kanak hingga dewasa. Dialah Joko Widodo—banyak orang mengenalnya dengan sebutan Jokowi.

Hidup miskin merupakan pengalaman pahit yang Jokowi dan keluarganya jalani. Ia menjadi penghuni liar bantaran kali yang serba tidak enak: Bantaran Kali Anyar, daerah Srambatan, dan bantaran Kali Pepe di Desa Munggung. Bantaran Kali Anyar menjadi tempat tinggal setelah dua tempat ini dan akhirnya digusur karena tempat ini akan dijadikan jalan kereta api. Sungguh terenyuh!

Saat tahu rumahnya digusur, Jokowi dan familinya terpaksa pindah-mencari tempat tinggal yang baru. Sekalipun setelah itu mereka menemukan rumah lagi, pendapatan untuk kebutuhan makan sehari-hari pun sering kali tidak cukup. Bapaknya pekerja serabutan: penjual bambu dan kayu.

Sebagai anak sulung dari empat bersaudara: Iit, Yati, dan Titik, Jokowi merasa prihatin melihat kondisi orang tuanya. Setiap hari tanpa absen, ia membantu bapaknya bongkar-muat gerobak kayu dan bambu.

Dihadapkan dengan keterbatasan ekonomi, sering Jokowi menyimak motivasi-motivasi bapak-ibunya, Mbah Harjo, dan teman-temannya, untuk semakin giat dan optimis menjadi orang yang mampu menggapai cita-cita melangit: menjadi orang mulia.

“Kalau apa yang disampirkan, dititipkan oleh Gusti Allah kepada kita sebagai titah-Nya, itu harus disyukuri. Adapun caranya bersyukur antara lain dengan tidak mengeluh, tidak menyalahkan keadaan, menerima dengan ikhlas. Nrima ing pandum,” nasihat Mbah Harjo.

Nasehat Mbah Harjo yang lain, “Tapi, namanya orang usaha, itu pasti ada hasilnya, mbah hasile iku, bisa langsung dinikmati, ataupun diunduh besok ketika sudah saatnya ngunduh. Selain ikhtiar juga harus sabar.”

Semangat yang hampir mati menggelora kembali. Ikhtiar yang sungguh-sungguh telah membentuk kepribadian Jokowi berprestasi ranking satu sejak sekolah SMP dan SMA, bahkan ia diterima sebagai mahasiswa di universitas ternama yaitu Universitas Gajah Mada (UGM). Jokowi mampu mengalahkan dan menyaingi teman-teman sekelasnya yang jelas-jelas anaknya orang terpandang: lurah dan kepala sekolah.

Semangat belajar dan mengabdi ini yang membuat Jokowi humanis dan bermasyarakat. Hal ini dibuktikan dengan rencana pelatihan para pemuda pedesaan dan jaringan pemasarannya. Rencana ini akan diluncurkan saat KKN nanti.

Daerah yang menjadi sasaran Jokowi dan teman-temannya—Sigit, Edy, Evi, Susi, Gito, dan Yusuf—meliputi kawasan di daerah Yogyakarta ke barat hingga Purworejo, dan ke timur serta utara hingga Solo, Klaten, dan Delanggu. Daerah-daerah ini punya penghasilan kayu bahan baku yang dibutuhkan dalam pembentukan klaster industri berbasis kayu, sedangkan pemudanya lebih banyak yang merantau daripada membangun desanya sendiri.

Rencana ini membuah hasil gemilang; hasil produksi dari kelompok mebel itu mulai mendominasi toko-toko dan mampu memikat konsumen. Selain harganya yang miring, kreasinya juga bermacam-macam (hal 213).

Dampak positif tampak dan membekas pada masyarakat. Saat pelaksanaan wisuda, pejabat daerah hingga tingkat provinsi berkenaan hadir. Ia menyerahkan penghargaan kepada tujuh kelompok mahasiswa yang telah berhasil menjadikan desa-desa mati menjadi desa industri. Tak hanya medapatkan ijazah, Jokowi dan teman-temannya juga menjadi pemuda tauladan serta pemuda polopor pembangunan. Suatu oleh-oleh yang membanggakan diri sendiri, orang tuanya, pihak kampus, dan Iriana (hal 213).

Citra baik yang disandang Jokowi masih membekas kuat di hati masyarakat. Kepercayaan, bagi Jokowi, adalah salah satu aset yang tak dapat ditukar dengan harta. Bermodalkan kepercayaan masyarakat dan dukungan orang tua, istri, dan teman-temannya, Jokowi mencalonkan diri sebagai wali kota Jakarta. Dan, ia terpilih. Tercapailah, kata Jokowi, apa-apa yang diimpikan sejak kenak-kanak dulu; menjadi orang mulai.

Keberhasilan yang digapai mulai rangking satu di SMP dan SMA, diterima di UGM, terpilih sebagai wali kota Jakarta, dan sekarang dipercaya sebagai presiden Indonesia, sedikit pun tidak mengubah sikap kepribadian Jokowi: sederhana, merakyat, dan humanis. Sebuah pesan Mbah Harjo yang tetap dipegang erat-erat, “Di atas langit masih ada langit.”

Novel ini telah dijadikan objek penelitian dalam sebuah skripsi Taufiqurrahman dengan judul Nilai-nilai Karakter dalam Novel Jokowi Si Tukang Kayu guna memenuhi persyarakat kelulusan S1 di kampus INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah). Selain itu, novel ini telah tayang di layar lebar dengan judul Jokowi.

Novel Gatotkoco ini pantut menjadi cermin saat zaman semakin hedonis dan pragmatis. Selamat membaca!

Lubangsa, 25 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...