Jokowi Si Tukang Kayu
Penulis
Gatotkoco Suroso
Penerbit
Ufuk Publishing House
Cetakan
1, September 2012
Tebal
246 halaman
ISBN
978-602-9346-95-4
Biasanya, faktor ekonomi menjadi penentu
kesuksesan yang tertata apik di alam bawah sadar seseorang. Jamak pengusaha
gulung tikar; pelajar jadi pengangguran; dan perempuan-perempuan suci memilih
propesi PSK karena krisis ekonomi. Cekikan ekonomi alih-alih telah membunuh
kehormatan dan masa depan mereka.
Benarkah ekonomi menjadi syarat signifikan dibandingkan
syarat yang lain seperti kecerdasan, nasab, ketekunan, kesabaran, dsb? Masihkah
terbuka kesempatan orang miskin menjadi sukses karir dan pendidikannya?
Sebuah novel inspiratif bertajuk Jokowi Si
Tukang Kayu-nya Gatotkoco Suroso terbit sebagai literatur monomental yang
cocok dijadikan cermin saat kebanyakan orang menuhankan ekonomi sebagai bekal
pertama dan terutama dalam berbuat, menggapai cita-cita, dan berkuasa. Novel
ini mengisahkan seorang sosok pemimpin yang tampil sederhana, berkharismatik,
dan merakyat. Tentunya, mental baik yang terpancar dalam perbuatan tercermin
dari didikannya sedari usai kanak-kanak hingga dewasa. Dialah Joko
Widodo—banyak orang mengenalnya dengan sebutan Jokowi.
Hidup miskin merupakan pengalaman pahit yang
Jokowi dan keluarganya jalani. Ia menjadi penghuni liar bantaran kali yang
serba tidak enak: Bantaran Kali Anyar, daerah Srambatan, dan bantaran Kali Pepe
di Desa Munggung. Bantaran Kali Anyar menjadi tempat tinggal setelah dua tempat
ini dan akhirnya digusur karena tempat ini akan dijadikan jalan kereta api. Sungguh
terenyuh!
Saat tahu rumahnya digusur, Jokowi dan familinya terpaksa
pindah-mencari tempat tinggal yang baru. Sekalipun setelah itu mereka menemukan
rumah lagi, pendapatan untuk kebutuhan makan sehari-hari pun sering kali tidak
cukup. Bapaknya pekerja serabutan: penjual bambu dan kayu.
Sebagai anak sulung dari empat bersaudara: Iit,
Yati, dan Titik, Jokowi merasa prihatin melihat kondisi orang tuanya. Setiap hari
tanpa absen, ia membantu bapaknya bongkar-muat gerobak kayu dan bambu.
Dihadapkan dengan keterbatasan ekonomi, sering
Jokowi menyimak motivasi-motivasi bapak-ibunya, Mbah Harjo, dan teman-temannya,
untuk semakin giat dan optimis menjadi orang yang mampu menggapai cita-cita
melangit: menjadi orang mulia.
“Kalau apa yang disampirkan, dititipkan oleh Gusti
Allah kepada kita sebagai titah-Nya, itu harus disyukuri. Adapun caranya
bersyukur antara lain dengan tidak mengeluh, tidak menyalahkan keadaan, menerima
dengan ikhlas. Nrima ing pandum,” nasihat Mbah Harjo.
Nasehat Mbah Harjo yang lain, “Tapi, namanya orang
usaha, itu pasti ada hasilnya, mbah hasile iku, bisa langsung dinikmati,
ataupun diunduh besok ketika sudah saatnya ngunduh. Selain ikhtiar juga harus
sabar.”
Semangat yang hampir mati menggelora kembali. Ikhtiar
yang sungguh-sungguh telah membentuk kepribadian Jokowi berprestasi ranking
satu sejak sekolah SMP dan SMA, bahkan ia diterima sebagai mahasiswa di
universitas ternama yaitu Universitas Gajah Mada (UGM). Jokowi mampu
mengalahkan dan menyaingi teman-teman sekelasnya yang jelas-jelas anaknya orang
terpandang: lurah dan kepala sekolah.
Semangat belajar dan mengabdi ini yang membuat
Jokowi humanis dan bermasyarakat. Hal ini dibuktikan dengan rencana pelatihan
para pemuda pedesaan dan jaringan pemasarannya. Rencana ini akan diluncurkan
saat KKN nanti.
Daerah yang menjadi sasaran Jokowi dan
teman-temannya—Sigit, Edy, Evi, Susi, Gito, dan Yusuf—meliputi kawasan di
daerah Yogyakarta ke barat hingga Purworejo, dan ke timur serta utara hingga
Solo, Klaten, dan Delanggu. Daerah-daerah ini punya penghasilan kayu bahan baku
yang dibutuhkan dalam pembentukan klaster industri berbasis kayu, sedangkan
pemudanya lebih banyak yang merantau daripada membangun desanya sendiri.
Rencana ini membuah hasil gemilang; hasil produksi
dari kelompok mebel itu mulai mendominasi toko-toko dan mampu memikat konsumen.
Selain harganya yang miring, kreasinya juga bermacam-macam (hal 213).
Dampak positif tampak dan membekas pada
masyarakat. Saat pelaksanaan wisuda, pejabat daerah hingga tingkat provinsi
berkenaan hadir. Ia menyerahkan penghargaan kepada tujuh kelompok mahasiswa yang
telah berhasil menjadikan desa-desa mati menjadi desa industri. Tak hanya
medapatkan ijazah, Jokowi dan teman-temannya juga menjadi pemuda tauladan serta
pemuda polopor pembangunan. Suatu oleh-oleh yang membanggakan diri sendiri,
orang tuanya, pihak kampus, dan Iriana (hal 213).
Citra baik yang disandang Jokowi masih membekas
kuat di hati masyarakat. Kepercayaan, bagi Jokowi, adalah salah satu aset yang
tak dapat ditukar dengan harta. Bermodalkan kepercayaan masyarakat dan dukungan
orang tua, istri, dan teman-temannya, Jokowi mencalonkan diri sebagai wali kota
Jakarta. Dan, ia terpilih. Tercapailah, kata Jokowi, apa-apa yang diimpikan
sejak kenak-kanak dulu; menjadi orang mulai.
Keberhasilan yang digapai mulai rangking satu di SMP
dan SMA, diterima di UGM, terpilih sebagai wali kota Jakarta, dan sekarang
dipercaya sebagai presiden Indonesia, sedikit pun tidak mengubah sikap
kepribadian Jokowi: sederhana, merakyat, dan humanis. Sebuah pesan Mbah Harjo
yang tetap dipegang erat-erat, “Di atas langit masih ada langit.”
Novel ini telah dijadikan objek penelitian dalam
sebuah skripsi Taufiqurrahman dengan judul Nilai-nilai Karakter dalam Novel
Jokowi Si Tukang Kayu guna memenuhi persyarakat kelulusan S1 di kampus
INSTIKA (Institut Ilmu Keislaman Annuqayah). Selain itu, novel ini telah
tayang di layar lebar dengan judul Jokowi.
Novel Gatotkoco ini pantut menjadi cermin saat
zaman semakin hedonis dan pragmatis. Selamat membaca!
Lubangsa, 25 Agustus 2015

No comments:
Post a Comment