Sunday, September 27, 2015

Selektif Berteman



Selain Ahad menjadi hari lahir saya, itu juga menjadi hari yang dinanti-nanti untuk momentum tertentu. Momentum pembelajaran kitab Ta’lim Mutaallim-nya Az-Zarnuji yang diselenggarakan setiap Ahad. Sejatinya, yang paling esensial hingga menyita perhatian saya lebih adalah tutor/penyampai yang alim, humoris, dan putra pengasuh/kiai. Dialah Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum. Pengalaman belajar selama melanglang buana—salah satunya di Al-Azhar Mesir—telah mengantarkan beliau menjadi inspirator dan ilmuwan muda.

Tak terhitung kali berapa saya mengikuti materi beliau, namun yang saya tulis guna mendokumentasikan yang telah disampaikan beliau sehingga dapat saya (pun pembaca tulisan saya) baca di lain kali, masih kali kedua sekarang.

Metode ‘review’ menjadi agenda rutin sebelum beliau melanjutkan materi dalam kitab Az-Zarnuji. Asyik! Yang pernah mengikuti materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya dapat mengasah dan menajamkan ingatan; yang absen karena kegiatan lain dapat menyimak materi yang tertinggal melalui ‘review’.

Ahad (30/8) Kiai Mamak me-review materi silam. Saya ingat/yakin bahwa itu telah dibahas, salah satunya, melalui makna-makna yang terkatung-katung di bawah teks Arab. Misal, [a] kriteria teman yang baik adalah rajin, warak, berwatak baik, dan refleks; [b] kriteria teman yang tidak baik adalah pemalas, suka nganggur, banyak bicara, suka bikin kerusakan, dan pemfitnah; dan [c] syair-syair: “Jangan tanyakan kepribadian seseorang—kepada dirinya sendiri—namun, lihatlah temannya # karena sesungguhnya teman itu mengikuti terhadap orang yang ditemani//Jika orang itu bejat, maka jauhilah sesegera mungkin # jika ia termasuk orang baik, maka temanilah, sehingga kamu mendapat petunjuk.”

“Saat kriteria itu disebutkan pasti terbayang di pikiran para santri. Siapa saja teman yang patut didekati?” Kiai Mamak berdecak setelah menyampaikan isi kitab tersebut. Saya yang duduk bersila lurus nan persis di depan beliau mengangguk usai tafakur sejenak. Sayangnya, kriteria-kriteria tersebut sering ditabrak karena terdesak nafsu yang menjanjikan kenikmatan dan kebahagian. Penyesalan tak diperhitungkan di kemudian hari. Surga, ya, kebahagian yang dirasakan sekarang ini. Demikian persepsinya.

“Kriteria teman yang disebutkan Az-Zarnuji lebih difokuskan pada soal menuntut ilmu karena menuntut ilmu erat kaitannya dengan tempat dan waktu,” jelas beliau.

Beliau melanjutkan, “Ketika pulang ke masyarakat, anda akan dipertemukan dengan orang kayak gini—karakter orang yang macam-macam.” Saat kondisi seperti itu, kita dituntut menyikapinya dengan santun dan adil. Tak pantas memuji-muji yang baik; sebaliknya, tak baik membiarkan yang jelek. Siap atau tidak, kita terikat kontrak sebagai pewaris para Nabi saw.

Lalu materi kitab dilanjutkan. Kiai Mamak membaca teks sembari memberikan makna berbahasa Madura dan diterjemah ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan yang baik dan renyah terpancar dari perpaduan kekayaan literatur yang dibaca. Ditambah titel ‘penulis’ yang disandang beliau, tak diragunakan, gaya bahasa atau pemilihan diksi yang tepat.

Beberapa syair Arab dibaca beliau: “Jangan berteman dengan orang yang malas # banyak orang yang baik menjadi bejat karena pengaruh orang lain yang bejat//Orang yang bodoh cepat mengalahkan orang yang pintar # seperti bara api yang ditenggelamkan ke dalam tanah sehingga padam.”

Sebentar! Tafsir Kiai Mamak akan lafal ‘al-baliid’ dalam syair tersebut bikin saya tertegun. “Orang yang bodoh adalah orang yang tidak ingin belajar. Sedangkan, yang lebih bodoh lagi adalah orang yang tahu tapi tidak mengamalkannya.” Kira-kira seperti itu saya membahasakannya. Andaikan saya menafsirkan lafal ‘al-baliid’ hanya tertuju pada ‘orang yang tidak pintar/IQ-nya lemah’. Saya sadar kapasitas IQ saya masil jauh jika disejajarkan dengan beliau. IQ saya banyak louding-nya. Benar.

Merujuk tafsir beliau, tak sedikit orang yang dikategorikan bodoh. Ssst…. Saya sendiri bisa jadi termasuk. Sebab, sering saya bertindak bodoh, padahal saya sadar dan tahu. Demikian pengakuan saya. Selain saya, bisa jadi bertidak bodoh pula. Tapi, saya tak ingin membuka tabir orang lain. Ghibah, bukan? Titik.

“Kerjaan orang bodoh selalu yang senang-senang,” Kiai Mamak menambali. Sebuah pertanyaan membersit, “Masa?” Pertanyaan indikasi seorang yang menyadari kesalahannya.

Sebuah cerita yang disitir dari tamu lembaga kemasyarakatan di Pamekasan tentang “Kasus Narkoba”: “Bahwa pelaku narkoba banyak ditemukan dari putra kiai, putra bussinessman, dan sopir kiai.” Saya terenyuh. Tak disangka-sangka, putra dan sopir kiai harus tenggelam di ranah yang terlarang. Akal sehat, antara percaya atau tidak. Tapi, siapapun, jika itu berstatus manusia, tak bisa lepas dari rayuan nafsu. Hanya orang bersabar dan kuat yang dapat mengalahkan nafsu. Peperangan melawan nafsu lebih besar daripada Perang Badar—paling besarnya peperangan di masa Nabi saw. Kekalahan dalam peperangan akan mengakibatkan manusia tersungkur dalam jurang kenistaan.

Sejatinya, semua orang lahir tanpa mewarisi dosa orang tua dan nenek moyangnya. Lingkungan itulah yang akan membentuk kepribadian seseorang. Bisa saja lingkungan meliputi orang tua sendiri, teman, dan tetangga/masyarakat.

Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda: “Kullu mauludin yuuladu ala fitrah al-islam illa inna abawaahu yahudaanihi wa yanshiraniihi wa yumajjisaniihi—setiap anak dilahirkan dengan membawa agama Islam yang murni (fitrah al-islam), hanyasanya kedua orang tuanya yang akan menjadikan ia beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”

Kenapa kedua orang tua (parents) yang dituding Nabi saw? Bisa jadi, orang tua adalah lingkungan yang dekat dan kuat pengaruhnya dalam membentuk karakter anak-anaknya. Si anak memilih Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagai agamanya, dapat terbaca dari agama orang tuanya. Islamkah mereka? Yahudi? Nasrani? Atau Majusi?

Pertanyaan, kenapa agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang disebut-sebut dalam hadits di atas? Tidak agama Kongucu, Kristen, atau Budha? Padahal ketiga ini termasuk agama-agama non-Islam?

Jawabannya dapat dipahami dari penjelasan Kiai Mamak setelah hadits itu dibacakan. “Agama Budha, Kristen, apalagi Kongucu tidak disebut dalam hadits Nabi saw karena semua itu termasuk agama tren-tren-an,” jelas Kiai Mamak, “Kongucu bukan agama, tapi aliran filsafat. Kemudian, dijadikan agama.”

Karakteristik Kiai Mamak tampak melalui cara beliau mengakhiri pembahasan dengan sebuah kalimat pendek yang sarat makna. Dan, saya (pun santri yang lain) mudah menghafal dan mengingatnya. Kalimat sebagai penutup saat itu, “Tanah yang banyak rumputnya disebut Safana; tanah luas dan datar disebut padang pasir; tanah yang banyak pepohonannya adalah hutan; sedangkan, tanah yang banyak sampahnya… pondok anda.” Penutup bernada kritik terhadap santri yang tidak peduli lingkungan bersih.

Kantor EEP dan Markaz, 7 September 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...