Selain Ahad menjadi hari lahir saya, itu juga
menjadi hari yang dinanti-nanti untuk momentum tertentu. Momentum pembelajaran kitab Ta’lim Mutaallim-nya
Az-Zarnuji yang diselenggarakan setiap Ahad. Sejatinya, yang paling esensial
hingga menyita perhatian saya lebih adalah tutor/penyampai yang alim, humoris,
dan putra pengasuh/kiai. Dialah Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad Shalahuddin A.
Warits, M.Hum. Pengalaman belajar selama melanglang buana—salah satunya di
Al-Azhar Mesir—telah mengantarkan beliau menjadi inspirator dan ilmuwan muda.
Tak terhitung kali berapa saya mengikuti materi
beliau, namun yang saya tulis guna mendokumentasikan yang telah disampaikan
beliau sehingga dapat saya (pun pembaca tulisan saya) baca di lain kali, masih
kali kedua sekarang.
Metode ‘review’ menjadi agenda rutin sebelum beliau melanjutkan materi dalam kitab Az-Zarnuji. Asyik!
Yang pernah mengikuti materi yang telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya
dapat mengasah dan menajamkan ingatan; yang
absen karena kegiatan lain dapat menyimak materi yang tertinggal melalui ‘review’.
Ahad (30/8) Kiai Mamak me-review materi
silam. Saya ingat/yakin bahwa itu telah dibahas, salah satunya, melalui
makna-makna yang terkatung-katung di bawah teks Arab. Misal, [a] kriteria teman yang baik adalah
rajin, warak, berwatak baik, dan refleks; [b] kriteria teman yang tidak baik
adalah pemalas, suka nganggur, banyak bicara, suka bikin kerusakan, dan
pemfitnah; dan [c] syair-syair: “Jangan tanyakan kepribadian seseorang—kepada
dirinya sendiri—namun, lihatlah temannya # karena sesungguhnya teman itu
mengikuti terhadap orang yang ditemani//Jika orang itu bejat, maka jauhilah
sesegera mungkin # jika ia termasuk orang baik, maka temanilah, sehingga kamu
mendapat petunjuk.”
“Saat kriteria itu disebutkan pasti terbayang di
pikiran para santri. Siapa saja teman yang patut didekati?” Kiai Mamak berdecak setelah menyampaikan isi kitab tersebut. Saya yang duduk bersila lurus nan persis di depan beliau
mengangguk usai tafakur sejenak. Sayangnya, kriteria-kriteria tersebut sering
ditabrak karena terdesak nafsu yang menjanjikan kenikmatan dan kebahagian. Penyesalan
tak diperhitungkan di kemudian hari. Surga, ya, kebahagian yang dirasakan
sekarang ini. Demikian persepsinya.
“Kriteria teman yang disebutkan Az-Zarnuji lebih
difokuskan pada soal menuntut ilmu karena menuntut ilmu erat kaitannya dengan
tempat dan waktu,” jelas beliau.
Beliau melanjutkan, “Ketika pulang ke masyarakat,
anda akan dipertemukan dengan orang kayak gini—karakter orang yang
macam-macam.” Saat kondisi seperti itu, kita dituntut menyikapinya
dengan santun dan adil. Tak pantas memuji-muji yang baik;
sebaliknya, tak baik membiarkan yang jelek. Siap atau tidak, kita terikat
kontrak sebagai pewaris para Nabi saw.
Lalu materi kitab dilanjutkan. Kiai Mamak membaca
teks sembari memberikan makna berbahasa Madura dan diterjemah ke dalam bahasa
Indonesia. Terjemahan yang baik dan renyah terpancar dari perpaduan kekayaan
literatur yang dibaca. Ditambah titel ‘penulis’ yang disandang beliau, tak
diragunakan, gaya bahasa atau pemilihan diksi yang tepat.
Beberapa syair Arab dibaca beliau: “Jangan
berteman dengan orang yang malas # banyak orang yang baik menjadi bejat karena
pengaruh orang lain yang bejat//Orang yang bodoh cepat mengalahkan orang yang
pintar # seperti bara api yang ditenggelamkan ke dalam tanah sehingga padam.”
Sebentar! Tafsir Kiai Mamak akan lafal ‘al-baliid’
dalam syair tersebut bikin saya tertegun. “Orang yang bodoh adalah orang yang
tidak ingin belajar. Sedangkan, yang lebih bodoh lagi adalah orang yang tahu
tapi tidak mengamalkannya.” Kira-kira seperti itu saya membahasakannya. Andaikan
saya menafsirkan lafal ‘al-baliid’ hanya tertuju pada ‘orang yang tidak
pintar/IQ-nya lemah’. Saya sadar kapasitas IQ saya masil jauh jika disejajarkan
dengan beliau. IQ saya banyak louding-nya. Benar.
Merujuk tafsir beliau, tak sedikit orang yang
dikategorikan bodoh. Ssst…. Saya sendiri bisa jadi termasuk. Sebab, sering saya
bertindak bodoh, padahal saya sadar dan tahu. Demikian pengakuan saya. Selain
saya, bisa jadi bertidak bodoh pula. Tapi, saya tak ingin membuka tabir orang
lain. Ghibah, bukan? Titik.
“Kerjaan orang bodoh selalu yang senang-senang,”
Kiai Mamak menambali. Sebuah pertanyaan membersit, “Masa?” Pertanyaan indikasi
seorang yang menyadari kesalahannya.
Sebuah cerita yang disitir dari tamu lembaga
kemasyarakatan di Pamekasan tentang “Kasus Narkoba”: “Bahwa pelaku narkoba
banyak ditemukan dari putra kiai, putra bussinessman, dan sopir kiai.”
Saya terenyuh. Tak disangka-sangka, putra dan sopir kiai harus tenggelam di
ranah yang terlarang. Akal sehat, antara percaya atau tidak. Tapi, siapapun,
jika itu berstatus manusia, tak bisa lepas dari rayuan nafsu. Hanya orang
bersabar dan kuat yang dapat mengalahkan nafsu. Peperangan melawan nafsu lebih
besar daripada Perang Badar—paling besarnya peperangan di masa Nabi saw. Kekalahan
dalam peperangan akan mengakibatkan manusia tersungkur dalam jurang kenistaan.
Sejatinya, semua orang lahir tanpa mewarisi dosa orang
tua dan nenek moyangnya. Lingkungan itulah yang akan membentuk kepribadian
seseorang. Bisa saja lingkungan meliputi orang tua sendiri, teman, dan tetangga/masyarakat.
Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda: “Kullu
mauludin yuuladu ala fitrah al-islam illa inna abawaahu yahudaanihi wa
yanshiraniihi wa yumajjisaniihi—setiap anak dilahirkan dengan membawa agama
Islam yang murni (fitrah al-islam), hanyasanya kedua orang tuanya yang
akan menjadikan ia beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”
Kenapa kedua orang tua (parents) yang
dituding Nabi saw? Bisa jadi, orang tua adalah lingkungan yang dekat dan kuat pengaruhnya
dalam membentuk karakter anak-anaknya. Si anak memilih Islam, Yahudi, Nasrani
atau Majusi sebagai agamanya, dapat terbaca dari agama orang tuanya. Islamkah
mereka? Yahudi? Nasrani? Atau Majusi?
Pertanyaan, kenapa agama Yahudi, Nasrani, dan
Majusi yang disebut-sebut dalam hadits di atas? Tidak agama Kongucu, Kristen,
atau Budha? Padahal ketiga ini termasuk agama-agama non-Islam?
Jawabannya dapat dipahami dari penjelasan Kiai
Mamak setelah hadits itu dibacakan. “Agama Budha, Kristen, apalagi Kongucu
tidak disebut dalam hadits Nabi saw karena semua itu termasuk agama
tren-tren-an,” jelas Kiai Mamak, “Kongucu bukan agama, tapi aliran filsafat. Kemudian,
dijadikan agama.”
Karakteristik Kiai Mamak tampak melalui cara
beliau mengakhiri pembahasan dengan sebuah kalimat pendek yang sarat makna.
Dan, saya (pun santri yang lain) mudah menghafal dan mengingatnya. Kalimat
sebagai penutup saat itu, “Tanah yang banyak rumputnya disebut Safana; tanah
luas dan datar disebut padang pasir; tanah yang banyak pepohonannya adalah
hutan; sedangkan, tanah yang banyak sampahnya… pondok anda.” Penutup bernada
kritik terhadap santri yang tidak peduli lingkungan bersih.
Kantor EEP dan Markaz, 7 September 2015
No comments:
Post a Comment