Persepsi salah sering menabrak
alam bawah sadar Anda. Anda tak sadar kalau Anda sendiri sedang dihipnotis dan
digurui. Persepsi ini muncul dari orang di sekitar Anda, sehingga jika Anda
candu akan berakibat fatal terhadap masa depan Anda. Kegagalan tanpa disadari
telah menghapus spirit Anda.
Jamak orang berkata: “Pantesan
si anak itu pintar lalu jadi sang juara. Kan dia anaknya kiai. Kamu jangan ngerep-ngarep
seperti dia, kamu anak orang awam. Bapak dan ibumu petani. Miskin lagi.”
Pernyataan di atas—kalau
pun tidak persis saya mendikte layaknya kalimat itu diucap—isinya tak jauh
berbeda. Mendengar kalimat itu, semangat kaum abangan yang berskala 100% akan
turun drastis menjadi 10% atau nol.
Kesalahan konklusi akan
tampak benar bisa jadi karena [1] kekuatan faktor genitik berdarah biru—seperti
kiai, gubernur, apalagi presiden—berdiri seperti raja yang harus dielu-elukan;
[2] kurangnya media informasi, buku-buku bacaan, dan atau lembaga progresif.
Pasifnya bahan bacaan saja, misalkan, akan menjadi faktor sempitnya berpikir;
dan [3] fatalisme dalam menyikapi sesuatu. Seakan-akan takdir Tuhan permanen
dan dipilah-pilah berdasarkan bibit, bebet, dan bobot.
Sebentar, itu kan
persepsi. Orang yang berilmu dan banyak mengenyam buku seperti Anda saatnya membongkar
pola pikir sempit dan menata ulang sebaik mungkin. Coba Anda baca buku Orang
Miskin (Boleh) Sukses Sekolah-nya M. Sanusi, Anda akan dipertemukan sekian
orang sukses yang lahir dari keluarga yang berekonomi pas-pasan—untuk tidak
mengatakan ‘miskin’.
Di antaranya, Mahfud MD.
Dia orang Madura yang mampu meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta; menjadi ketua Mahkamah Konstitusi; Menteri Pertahanan pada masa Gus
Dur sebagai presiden; dan anggota Dewan. Kesuksesan ini digapai Mahfud bukan
karena takdir, tapi sikap kemandiriannya. Kemandirian itu dilalui dengan
mencari beasiswa seperti beasiswa rektor UII, beasiswa Supersemar dan beasiswa
Yayasan Dharma Madura; dan menulis di majalah, koran, dan beberapa media yang
lain seperti Kedaulatan Rakyat, Harian Masa Kini, Jogja Post, dll.
Dan, Azyumardi Azra.
Sejak kecil ia dikenal pintar, sayang ia lahir dari keluarga pas-pasan. Tapi,
semangat menjadi sukses, tak pernah terkalahkan. Sejarah mencatat ia kuliah di
UIN Syarif Hidayatullah dengan bekal kiriman orang tua sekecil Rp. 5.000,-
sebulan dan honor menulis di media cetak; lalu meneruskan kuliah S2 di Colombia
University—sebuah universitas dari 10 universitas paling maju di
Amerika—melalui beasiswa dari Fullbright dan mengikuti program postdoctoral
di Oxford University selama setahun. Selain itu, usaha Azra membuahkan hasil
gemilang: dipercaya sebagai rektor UIN Syarif Hidayatullah, ketua HMI Cabang
Ciputat (1981-1982), ketua senat mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1979-1982), dan wartawan
majalah Panji Masyarakat (1979-1985).
Dalam novel Jokowi Si
Tukang Kayu, Jokowi Dodo adalah anak kelahiran orang miskin. Kalau pun kemiskinan
yang menjerat, ia tak pernah patah semangat. Berjuta-juta motivasi, menjadi
orang mulia, selalu terngiang dalam pikirnya. Sejak masa kanak-kanak, ia selalu
dinobatkan sebagai siswa terbaik: meraih rangking 1 di sekolahnya. Singkat
kisah, ia sekarang menjadi presiden Indonesia setelah Sosilo Bambang Yudiyono
(SBY).
Dinukil dari majalah Mata
Sumenep, majalah politik Dr. KH. Busro Karim—calon bupati Sumenep—Irwan,
salah satu kontestan Dangdut Academy 2 Indoensia, booming dan banyak
orang menyebutnya sebagai artis yang dapat membikin berjuta-juta orang Madura
terpana. Kesuksesan Irwan, bukan dilatarbelangi kecukupan ekonomi, malah
sebaliknya. Ia lahir dari orang yang miskin; kedua orang tua merantau jadi TKI.
Mimpi menjadi penyanyi dangdut terkenal tiada henti memotivasi Irwan setiap
kali melangkah. Akhirnya, Irwan juara 3.
Beberapa misal di atas,
saya kira cukup menghapus persepsi salah atau misunderstanding yang
menjamur kuat. Artinya, “orang miskin seperti mereka masih bisa menjadi sukses
karir dan pendidikan.” Kenapa kita patah semangat? Benar-benar merugi!
Allah swt berfirman: Yarfaillahu
al-ladzina amanuu minkum wa al-ladizina utuu al-ilm darajat (Allah akan
mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu). Iman, hemat saya, “komitmen/keinginan
melangit”, sedangkan ilmu adalah “potensi/skill”.
Coba Anda tafakur: kenapa
Mahfud MD, Azyumardi Azra, Jokowi Dodo, dan Irwan sukses karier dan
pendidikannya? Apakah karena takdir Allah swt? Atau karena mimpi mereka?
Allah swt tidak
memandang keturunan atau status, tapi yang dilihat adalah usaha dan usaha. Anda
tahu usaha itu berskala 99%, sedangkan skill hanya 1%. Betapa signifikan posisi
usaha di sisi-Nya!
Dalam penciptaan
alam—selain-Nya—Allah swt selalu mengajarkan arti sebuah usaha atau proses.
Dalam akhir surah Yasin difirmankan, kun fa yakun (jadilah maka sesuatu
itu jadi). Mencipta sesuatu tanpa proses bagi-Nya sangat mudah. Tapi, mengajarkan
makhluk-Nya berfikir dan menafsir makna fa sehingga tak fatalisme dalam
berbuat adalah harga mati.
Usaha sehingga
membuahkan hasil dan melejitkan potensi adalah sunatullah. Jika Anda mengikuti
aturan-Nya, tak perlu khawatir untuk menggapai mimpi yang tertata rapi di alam
bawah sadar Anda. Semuanya bagi-Nya sangat gampang dan sepele.
Firman-Nya dalam QS. Ali
Imran: 26: “Qulillahumma malika al-mulk tu’ti al-mulki man tasya’ wa tanzi’u
mulk mimman tasya’ wa tuizzu man tasya’ wa tudhillu man tasya’ bi yadika
al-khair innaka ala kulli syai’in qadir (Katakanlah wahai Allah Dzat yang
memiliki kerajaan engkau memberikan kerajaan kepada orang yang engkau
kehendaki; engkau mencabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki; engkau
memuliakan orang yang engkau kehendaki; dan menghinakan orang yang engkau
kehendaki. Di atas kekuasaanmu ada kebaikan. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa
atas segala sesuatu).”
Muhammad Nawawi Al-Jawi
menafsirkan ayat tersebut dalam Tafsir Marah Labid—yang lebih populer
dengan sebutan Tafsir Nawawi: //Allah swt akan memberikan dan mencabut
kerajaan dari manusia di bumi berdasarkan kehendak-Nya. Kerajaan dicabut, bisa
karena mati, hilang akal, tidak punya daya dan rasa, bangkrut, atau direbutnya
kerajaan//Allah swt dapat memuliakan manusia dengan keimanan; hak; harta yang
melimpah; dan kebesaran hati manusia. Dan, Dia menghinakan mereka dengan
kekufuran dan kebatilan//.
Wal-hasil, positive thinking
adalah modal melangkah, menggapai kesuksesan karier dan atau pendidikan. Hapuslah
negative thinking yang dapat membunuh segalanya secara tidak sadar
supaya tidak menjadi orang yang merugi (min al-khasiriin).
Lubangsa, 1 Agustus 2015
No comments:
Post a Comment