Sunday, September 27, 2015

Sukses Tak Pandang Status



Persepsi salah sering menabrak alam bawah sadar Anda. Anda tak sadar kalau Anda sendiri sedang dihipnotis dan digurui. Persepsi ini muncul dari orang di sekitar Anda, sehingga jika Anda candu akan berakibat fatal terhadap masa depan Anda. Kegagalan tanpa disadari telah menghapus spirit Anda.

Jamak orang berkata: “Pantesan si anak itu pintar lalu jadi sang juara. Kan dia anaknya kiai. Kamu jangan ngerep-ngarep seperti dia, kamu anak orang awam. Bapak dan ibumu petani. Miskin lagi.”

Pernyataan di atas—kalau pun tidak persis saya mendikte layaknya kalimat itu diucap—isinya tak jauh berbeda. Mendengar kalimat itu, semangat kaum abangan yang berskala 100% akan turun drastis menjadi 10% atau nol.

Kesalahan konklusi akan tampak benar bisa jadi karena [1] kekuatan faktor genitik berdarah biru—seperti kiai, gubernur, apalagi presiden—berdiri seperti raja yang harus dielu-elukan; [2] kurangnya media informasi, buku-buku bacaan, dan atau lembaga progresif. Pasifnya bahan bacaan saja, misalkan, akan menjadi faktor sempitnya berpikir; dan [3] fatalisme dalam menyikapi sesuatu. Seakan-akan takdir Tuhan permanen dan dipilah-pilah berdasarkan bibit, bebet, dan bobot.

Sebentar, itu kan persepsi. Orang yang berilmu dan banyak mengenyam buku seperti Anda saatnya membongkar pola pikir sempit dan menata ulang sebaik mungkin. Coba Anda baca buku Orang Miskin (Boleh) Sukses Sekolah-nya M. Sanusi, Anda akan dipertemukan sekian orang sukses yang lahir dari keluarga yang berekonomi pas-pasan—untuk tidak mengatakan ‘miskin’.

Di antaranya, Mahfud MD. Dia orang Madura yang mampu meraih gelar doktor di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta; menjadi ketua Mahkamah Konstitusi; Menteri Pertahanan pada masa Gus Dur sebagai presiden; dan anggota Dewan. Kesuksesan ini digapai Mahfud bukan karena takdir, tapi sikap kemandiriannya. Kemandirian itu dilalui dengan mencari beasiswa seperti beasiswa rektor UII, beasiswa Supersemar dan beasiswa Yayasan Dharma Madura; dan menulis di majalah, koran, dan beberapa media yang lain seperti Kedaulatan Rakyat, Harian Masa Kini, Jogja Post, dll.

Dan, Azyumardi Azra. Sejak kecil ia dikenal pintar, sayang ia lahir dari keluarga pas-pasan. Tapi, semangat menjadi sukses, tak pernah terkalahkan. Sejarah mencatat ia kuliah di UIN Syarif Hidayatullah dengan bekal kiriman orang tua sekecil Rp. 5.000,- sebulan dan honor menulis di media cetak; lalu meneruskan kuliah S2 di Colombia University—sebuah universitas dari 10 universitas paling maju di Amerika—melalui beasiswa dari Fullbright dan mengikuti program postdoctoral di Oxford University selama setahun. Selain itu, usaha Azra membuahkan hasil gemilang: dipercaya sebagai rektor UIN Syarif Hidayatullah, ketua HMI Cabang Ciputat (1981-1982), ketua senat mahasiswa Fakultas Tarbiyah (1979-1982), dan wartawan majalah Panji Masyarakat (1979-1985).   

Dalam novel Jokowi Si Tukang Kayu, Jokowi Dodo adalah anak kelahiran orang miskin. Kalau pun kemiskinan yang menjerat, ia tak pernah patah semangat. Berjuta-juta motivasi, menjadi orang mulia, selalu terngiang dalam pikirnya. Sejak masa kanak-kanak, ia selalu dinobatkan sebagai siswa terbaik: meraih rangking 1 di sekolahnya. Singkat kisah, ia sekarang menjadi presiden Indonesia setelah Sosilo Bambang Yudiyono (SBY).

Dinukil dari majalah Mata Sumenep, majalah politik Dr. KH. Busro Karim—calon bupati Sumenep—Irwan, salah satu kontestan Dangdut Academy 2 Indoensia, booming dan banyak orang menyebutnya sebagai artis yang dapat membikin berjuta-juta orang Madura terpana. Kesuksesan Irwan, bukan dilatarbelangi kecukupan ekonomi, malah sebaliknya. Ia lahir dari orang yang miskin; kedua orang tua merantau jadi TKI. Mimpi menjadi penyanyi dangdut terkenal tiada henti memotivasi Irwan setiap kali melangkah. Akhirnya, Irwan juara 3.  

Beberapa misal di atas, saya kira cukup menghapus persepsi salah atau misunderstanding yang menjamur kuat. Artinya, “orang miskin seperti mereka masih bisa menjadi sukses karir dan pendidikan.” Kenapa kita patah semangat? Benar-benar merugi!

Allah swt berfirman: Yarfaillahu al-ladzina amanuu minkum wa al-ladizina utuu al-ilm darajat (Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu). Iman, hemat saya, “komitmen/keinginan melangit”, sedangkan ilmu adalah “potensi/skill”.

Coba Anda tafakur: kenapa Mahfud MD, Azyumardi Azra, Jokowi Dodo, dan Irwan sukses karier dan pendidikannya? Apakah karena takdir Allah swt? Atau karena mimpi mereka?

Allah swt tidak memandang keturunan atau status, tapi yang dilihat adalah usaha dan usaha. Anda tahu usaha itu berskala 99%, sedangkan skill hanya 1%. Betapa signifikan posisi usaha di sisi-Nya!

Dalam penciptaan alam—selain-Nya—Allah swt selalu mengajarkan arti sebuah usaha atau proses. Dalam akhir surah Yasin difirmankan, kun fa yakun (jadilah maka sesuatu itu jadi). Mencipta sesuatu tanpa proses bagi-Nya sangat mudah. Tapi, mengajarkan makhluk-Nya berfikir dan menafsir makna fa sehingga tak fatalisme dalam berbuat adalah harga mati.

Usaha sehingga membuahkan hasil dan melejitkan potensi adalah sunatullah. Jika Anda mengikuti aturan-Nya, tak perlu khawatir untuk menggapai mimpi yang tertata rapi di alam bawah sadar Anda. Semuanya bagi-Nya sangat gampang dan sepele.

Firman-Nya dalam QS. Ali Imran: 26: “Qulillahumma malika al-mulk tu’ti al-mulki man tasya’ wa tanzi’u mulk mimman tasya’ wa tuizzu man tasya’ wa tudhillu man tasya’ bi yadika al-khair innaka ala kulli syai’in qadir (Katakanlah wahai Allah Dzat yang memiliki kerajaan engkau memberikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki; engkau mencabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki; engkau memuliakan orang yang engkau kehendaki; dan menghinakan orang yang engkau kehendaki. Di atas kekuasaanmu ada kebaikan. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu).”

Muhammad Nawawi Al-Jawi menafsirkan ayat tersebut dalam Tafsir Marah Labid—yang lebih populer dengan sebutan Tafsir Nawawi: //Allah swt akan memberikan dan mencabut kerajaan dari manusia di bumi berdasarkan kehendak-Nya. Kerajaan dicabut, bisa karena mati, hilang akal, tidak punya daya dan rasa, bangkrut, atau direbutnya kerajaan//Allah swt dapat memuliakan manusia dengan keimanan; hak; harta yang melimpah; dan kebesaran hati manusia. Dan, Dia menghinakan mereka dengan kekufuran dan kebatilan//.

Wal-hasil, positive thinking adalah modal melangkah, menggapai kesuksesan karier dan atau pendidikan. Hapuslah negative thinking yang dapat membunuh segalanya secara tidak sadar supaya tidak menjadi orang yang merugi (min al-khasiriin).

Lubangsa, 1 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...