Tetangga saya bilang bahwa saya berani benar pergi jauh: ke
Jogjakarta. Saya diam. Tersenyum masam. Seakan-akan saya ingin menjawab, “Hanya
ke sana, kenapa harus takut?”
Saya ngerti itu ungkapan rasa kaget plus khawatir. Jika mereka
demikian, justru saya yang terlebih dahulu khawatir. Takut-takut kenapa-kenapa
nanti di jalan. Tapi, perasaan negatif itu saya buang jauh-jauh sebelum
menguasai alam bawah sadar hingga menggagalkan rencana saya, belanja buku ke
Jogja dan observasi kampus-kampus untuk persiapan lanjut S2.
Salah satu cara menghapus perasaan kikuk dalam perjalanan, di
antaranya, tujuannya diperjelas; tahu rutenya; punya uang; dan bawa ponsel—ya,
bisa untuk komunikasi atau buka/lihat-lihat google
map. Melalui komposisi-komposisi itu hati saya merasa tenang. Tinggal saja
hati-hati di jalan: dompet (uang/ATM); ponsel; tas; dan barang berharga
lainnya.
Rasa cemas dan kikuk biasanya timbul jika seseorang dihadapkan pada
sesuatu yang belum pernah dijalani. Bagi nelayan, melaut berhari-hari di tengah
laut, terkesan biasa, tanpa perasaan keder sedikitpun; bagi pilot, mengendarahi
pesawat di atas udara, biasa-biasa saja, seperti mengendarahi mobil di daratan.
Tentu kewaspadaan tetap dijaga. Perasaan takut, hanya bagi orang yang tak sama
sekali naik perahu dan atau pesawat. Jangankan naik, beli tiket saja untuk naik
pesat, misalkan, pusing tujuh keliling.
Sebelum ke Jogja, saya contact
teman-teman alumni Annuqayah, kendati pun tidak kenal. Saya kasih tahu saya
pengin ke Jogja. Tidak blak-blakan saya tidak tahu, tapi tanya rute dari Madura
ke Jogja; kira-kira siapa yang bisa saya hubungi; dan kira-kira pula berapa biaya
transportasi dari Sumenep ke Jogja.
Informasi yang masih saya ingat: rute dari Sumenep ke Jogja, yaitu
naik bus—baik yang patas ataupun yang ekonomi—dari Terminal Wiraraja
Sumenep/nunggu di pertigaan Perenduan menuju Terminal Bungurasi Surabaya; di
Surabaya, cari bus jurusan/tujuan Jogjakarta; dan bilang turun di Jembatan Janti.
Nanti kalo sampai, saya akan dijemput. Mmm, untuk ongkos dari Sumenep ke Jogja,
pulang-pergi, kurang lebih dua ratus ribu-an.
Pengalaman naik bus, pernah saya rasakan beberapa tahun sebelumnya.
Nunggu bus di pinggir jalan/di terminal, berdesak-desakan di dalam bus, berdiri
berjam-jam di dalam bus karena tidak dapat tempat duduk, kaget tanpa dinyana
bus yang ditumpangi berstatus patas—jadi, biayanya lebih mahal daripada bus
ekonomi—dsb. Komitmen saya selama perjalanan menghindari naik bus patas.
Bukannya fasilitasnya tidak nyaman, tapi biayanya yang mahal. Makanya saya
selalu hati-hati memilih bus: terkadang saya tanya “Ekonomi, Pak?” Baru ada
jawaban, “Monggo.” Saya naik. Kalo di
Terminal Bungurasi saya lihat-lihat papan yang diletakkan di atas parkir bus
yang siap-siap berangkat. Menghapus kegamangan yang bercokol di pikiran, lihat
saja jajaran kursinya ke samping. Jika jajarannya dua-dua, itu jelas-jelas bus
patas. Justru bus ekonomi, jajaran kursinya dua banding tiga.
Di lain sisi, batas penumpang bus patas diukur dari tersisanya kursi
atau tidak, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri karena tidak mendapat
tempat duduk; dikasih jatah makan di pertengahan jalan dengan kupon yang
diberikan saat ongkos diminta kondektur.
Sampai di Jogja kira-kira jam 03.00-an saya dijemput di Janti
Jogja. Saya bermalam di asrama Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Jogjakarta.
Paginya saya belanja buku di Toko Social Agency. Banyak buku yang tersedia,
dari yang fiksi hingga non-fiksi. Untuk belanja buku, sengaja saya tidak
menulis daftar/nama-nama buku yang akan dibeli, namun mencatat penulis-penulis
yang menurut saya hebat seperti Dee Lestari, Habiburrahman El-Shirasy, Tere
Liye, Andrea Hirata, Nur Cholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, A. Mushtafa Birsi,
Prof. Dr. Said Agil Siradj, dsb. Catatan itu muncul melalui pengalaman belanja
buku kecil-kecilan di Festifal Cinta Buku (FCB) Annuqayah, dan beberapa toko
buku yang lain.
Dulu, saya tidak mempedulikan kualitas buku yang dibeli, yang
terpenting saya dapat banyak buku dengan uang sekian dan sekian. Sehingga, buku
yang saya beli mendapat komentar minus dari teman-teman. Menyesal? Ia. Tapi,
saya sadar yang telah berlalu menjadi evaluasi/pengalaman untuk menuju yang
baik/lebih baik.
Nurani saya merasa lain saat saya baca buku yang ditulis penulis-penulis
hebat dan saya mengenalnya, baik melalui cerita teman-teman, baca profilnya,
atau ketemu langsung—seperti AS. Laksana, cerpenis dan esais; dan Dr. Seno
Gumira Aji Darma, penulis cerita bersambung di harian Koran Jawa Pos. Saya pernah ketemu Seno di
acara FCB 2015 di Aula Syarqawi. Moderatornya, Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad
Shalahuddin A. Warits, M.Hum.
Nurani saya dan penulis-penulis buku-buku itu seakan-akan terikat
kuat. Teks yang dibaca tidak terkesan gamang dan hambar. Teks yang dibaca tidak
hanya menjelma dalam otak, tapi membekas di hati.
Sehari di Jogja, rasa kerasan tiba-tiba membekas. Bukan karena
lingkungannya bebas, tapi kebersihan lingkungannya yang terjaga. Tinggal di
tempat yang bersih merasa nyaman, sudah saya biasakan di pondok. Terkadang saya
marah-marah karena teman-teman tidak nyampu. Dan, selalu saya diingatkan dengan
pesan Kiai Warits, Kiai Fikri, dan Kiai Mamak tentang pentingnya menjaga
kebersihan lingkungan guna mencegah penyakit-penyakit yang hinggap di dalam tubuh
kita.
Untuk observasi kampus, saya pikir belum maksimal selama di Jogja.
Sebab, saya di sana hanya dua hari-dua malam. Hanyasanya saya punya pengalaman
Shalat Idhul Adha di halaman kampus UIN Sunan Kalijaga. Saya posting status di fb, “Pertama kali saya
ke Jogja, pertama kali pula saya Shalat Idhul Adha di sana.” Yang menyukai
banyak, sedangkan yang komentar hanya satu orang.
Saya tanya-tanya, “Kira-kira kampus mana yang cocok untuk jurusan
saya, IQT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)? UIN Sunan Kalijaga? Universitas Gajah
Mada? Atau kampus yang lain?” Teman saya masih kebingungan menjawab, lalu dia
menyarankan saya tanya ke yang lebih tahu, yakni Ra Mamak, adiknya Kiai Mushthafa
Annuqayah. Oke, saya sudah punya jalan. Yang masih saya bingung untuk cari link beasiswa S2. Teman-teman dan guru
saya menyarankan searching di
internet dengan alamat “dektis”.
Pulang dari Jogja pada malam Jum’at dan sampai di rumah hari Jum’at
menjelang azan asyar. Banyak buku yang saya bawa, sekitar 44 buku. Tugas saya
sekarang membaca dan menulis—baik diresensi atau yang lainnya.[]
Congka’, 25 September 2015
No comments:
Post a Comment