Saturday, November 7, 2015

Cerita Perjalanan Saya ke Jogja



Tetangga saya bilang bahwa saya berani benar pergi jauh: ke Jogjakarta. Saya diam. Tersenyum masam. Seakan-akan saya ingin menjawab, “Hanya ke sana, kenapa harus takut?”

Saya ngerti itu ungkapan rasa kaget plus khawatir. Jika mereka demikian, justru saya yang terlebih dahulu khawatir. Takut-takut kenapa-kenapa nanti di jalan. Tapi, perasaan negatif itu saya buang jauh-jauh sebelum menguasai alam bawah sadar hingga menggagalkan rencana saya, belanja buku ke Jogja dan observasi kampus-kampus untuk persiapan lanjut S2.

Salah satu cara menghapus perasaan kikuk dalam perjalanan, di antaranya, tujuannya diperjelas; tahu rutenya; punya uang; dan bawa ponsel—ya, bisa untuk komunikasi atau buka/lihat-lihat google map. Melalui komposisi-komposisi itu hati saya merasa tenang. Tinggal saja hati-hati di jalan: dompet (uang/ATM); ponsel; tas; dan barang berharga lainnya.

Rasa cemas dan kikuk biasanya timbul jika seseorang dihadapkan pada sesuatu yang belum pernah dijalani. Bagi nelayan, melaut berhari-hari di tengah laut, terkesan biasa, tanpa perasaan keder sedikitpun; bagi pilot, mengendarahi pesawat di atas udara, biasa-biasa saja, seperti mengendarahi mobil di daratan. Tentu kewaspadaan tetap dijaga. Perasaan takut, hanya bagi orang yang tak sama sekali naik perahu dan atau pesawat. Jangankan naik, beli tiket saja untuk naik pesat, misalkan, pusing tujuh keliling.

Sebelum ke Jogja, saya contact teman-teman alumni Annuqayah, kendati pun tidak kenal. Saya kasih tahu saya pengin ke Jogja. Tidak blak-blakan saya tidak tahu, tapi tanya rute dari Madura ke Jogja; kira-kira siapa yang bisa saya hubungi; dan kira-kira pula berapa biaya transportasi dari Sumenep ke Jogja.

Informasi yang masih saya ingat: rute dari Sumenep ke Jogja, yaitu naik bus—baik yang patas ataupun yang ekonomi—dari Terminal Wiraraja Sumenep/nunggu di pertigaan Perenduan menuju Terminal Bungurasi Surabaya; di Surabaya, cari bus jurusan/tujuan Jogjakarta; dan bilang turun di Jembatan Janti. Nanti kalo sampai, saya akan dijemput. Mmm, untuk ongkos dari Sumenep ke Jogja, pulang-pergi, kurang lebih dua ratus ribu-an.

Pengalaman naik bus, pernah saya rasakan beberapa tahun sebelumnya. Nunggu bus di pinggir jalan/di terminal, berdesak-desakan di dalam bus, berdiri berjam-jam di dalam bus karena tidak dapat tempat duduk, kaget tanpa dinyana bus yang ditumpangi berstatus patas—jadi, biayanya lebih mahal daripada bus ekonomi—dsb. Komitmen saya selama perjalanan menghindari naik bus patas. Bukannya fasilitasnya tidak nyaman, tapi biayanya yang mahal. Makanya saya selalu hati-hati memilih bus: terkadang saya tanya “Ekonomi, Pak?” Baru ada jawaban, “Monggo.” Saya naik. Kalo di Terminal Bungurasi saya lihat-lihat papan yang diletakkan di atas parkir bus yang siap-siap berangkat. Menghapus kegamangan yang bercokol di pikiran, lihat saja jajaran kursinya ke samping. Jika jajarannya dua-dua, itu jelas-jelas bus patas. Justru bus ekonomi, jajaran kursinya dua banding tiga.

Di lain sisi, batas penumpang bus patas diukur dari tersisanya kursi atau tidak, sehingga tidak ada penumpang yang berdiri karena tidak mendapat tempat duduk; dikasih jatah makan di pertengahan jalan dengan kupon yang diberikan saat ongkos diminta kondektur.

Sampai di Jogja kira-kira jam 03.00-an saya dijemput di Janti Jogja. Saya bermalam di asrama Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Jogjakarta. Paginya saya belanja buku di Toko Social Agency. Banyak buku yang tersedia, dari yang fiksi hingga non-fiksi. Untuk belanja buku, sengaja saya tidak menulis daftar/nama-nama buku yang akan dibeli, namun mencatat penulis-penulis yang menurut saya hebat seperti Dee Lestari, Habiburrahman El-Shirasy, Tere Liye, Andrea Hirata, Nur Cholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, A. Mushtafa Birsi, Prof. Dr. Said Agil Siradj, dsb. Catatan itu muncul melalui pengalaman belanja buku kecil-kecilan di Festifal Cinta Buku (FCB) Annuqayah, dan beberapa toko buku yang lain.

Dulu, saya tidak mempedulikan kualitas buku yang dibeli, yang terpenting saya dapat banyak buku dengan uang sekian dan sekian. Sehingga, buku yang saya beli mendapat komentar minus dari teman-teman. Menyesal? Ia. Tapi, saya sadar yang telah berlalu menjadi evaluasi/pengalaman untuk menuju yang baik/lebih baik.

Nurani saya merasa lain saat saya baca buku yang ditulis penulis-penulis hebat dan saya mengenalnya, baik melalui cerita teman-teman, baca profilnya, atau ketemu langsung—seperti AS. Laksana, cerpenis dan esais; dan Dr. Seno Gumira Aji Darma, penulis cerita bersambung di harian Koran Jawa Pos. Saya pernah ketemu Seno di acara FCB 2015 di Aula Syarqawi. Moderatornya, Kiai Mamak—sebutan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum.

Nurani saya dan penulis-penulis buku-buku itu seakan-akan terikat kuat. Teks yang dibaca tidak terkesan gamang dan hambar. Teks yang dibaca tidak hanya menjelma dalam otak, tapi membekas di hati.  

Sehari di Jogja, rasa kerasan tiba-tiba membekas. Bukan karena lingkungannya bebas, tapi kebersihan lingkungannya yang terjaga. Tinggal di tempat yang bersih merasa nyaman, sudah saya biasakan di pondok. Terkadang saya marah-marah karena teman-teman tidak nyampu. Dan, selalu saya diingatkan dengan pesan Kiai Warits, Kiai Fikri, dan Kiai Mamak tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyakit-penyakit yang hinggap di dalam tubuh kita.

Untuk observasi kampus, saya pikir belum maksimal selama di Jogja. Sebab, saya di sana hanya dua hari-dua malam. Hanyasanya saya punya pengalaman Shalat Idhul Adha di halaman kampus UIN Sunan Kalijaga. Saya posting status di fb, “Pertama kali saya ke Jogja, pertama kali pula saya Shalat Idhul Adha di sana.” Yang menyukai banyak, sedangkan yang komentar hanya satu orang.

Saya tanya-tanya, “Kira-kira kampus mana yang cocok untuk jurusan saya, IQT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)? UIN Sunan Kalijaga? Universitas Gajah Mada? Atau kampus yang lain?” Teman saya masih kebingungan menjawab, lalu dia menyarankan saya tanya ke yang lebih tahu, yakni Ra Mamak, adiknya Kiai Mushthafa Annuqayah. Oke, saya sudah punya jalan. Yang masih saya bingung untuk cari link beasiswa S2. Teman-teman dan guru saya menyarankan searching di internet dengan alamat “dektis”.

Pulang dari Jogja pada malam Jum’at dan sampai di rumah hari Jum’at menjelang azan asyar. Banyak buku yang saya bawa, sekitar 44 buku. Tugas saya sekarang membaca dan menulis—baik diresensi atau yang lainnya.[]

Congka’, 25 September 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...