Saturday, November 7, 2015

Mendidik Anak dengan Cerita dan Dongeng



Judul Buku
Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis
Tere Liye
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan
10, Januari 2014
Tebal
299 halaman
ISBN
978-979-22-6905-5

Pertumbuhan seorang anak menjadi cerminan pendidikan orang tuanya. Baikkah ia? Atau brutalkah? Dalam hadits Nabi Muhammad saw. dijelaskan, Kullu mauludin yuuladu ala fitrah al-islam illa inna abawaahu yahudaanihi wa yanshiraniihi wa yumajjisaniihi—setiap anak dilahirkan dengan membawa agama Islam yang murni (fitrah al-islam), hanyasanya kedua orang tuanya yang akan menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani, dan Majusi.”

Sebuah cerita dalam bentuk novel tentang lika-liku seorang bapak mendidik anaknya tampil memukau dalam novel Tere Liye, Ayahku (Bukan) Pembohong.

Dam. Dialah anak seorang bapak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng sejak kanak-kanak. Pelbagai dongeng yang diceritakan Ayah cepat memikat kesukaan dan kecintaan Dam akan dongeng itu. Selain dongengnya menarik, memotivasi, dan mendidik, Ayah punya kepandaian mengarang-ngarang cerita. Seakan-akan cerita itu faktual.

Ayah menceritakan sang Kapten, pemain sepak bola bergengsi dan hebat. Nama sang Kapten menyeruak ke pelosok dunia. Kesukaan Dam akan sepak bola menjadikan sang Kapten sebagai idolanya.

“Kami menjadi teman baik sejak malam itu, Dam. Dua hari kemudian, Ayah kembali memesan sup hangat, dan sang Kapten kecil yang mengantar. Kami berbincang banyak hal. Meski usianya baru delapan, dia mempunyai mimpi dan cara berpikir seperti orang dewasa. Aku bertanya, benda apa yang menyembul di saku celananya. Dia tertawa, mengeluarkan bola kasti yang separuh botak. Dia suka main sepak bola, tapi tidak cukup uang untuk membeli bola sungguhan. Hanya dengan bola kasti yang dia temukan di kotak sampah itulah dia menggunakan halaman belakang restoran sebagai tempat bermain, sambil menunggu tugas mengantar pesanan. Menendang-nendang bola kasti, membuat lingkaran target di dinding, memasang tiang-tiang halang, dan berlatih mengiring bola. Itu cara yang baik untuk mengusir rasa bosan sampai pemilik restoran menyuruhnya bergegas membawa pesanan.” (hal 33).

Cerita Ayah membuat Dam kaget. Dam kecil yang masih lugu mengiyakan keabsahan cerita itu. Pemain yang diidolakan ternyata teman Ayahnya sendiri.

Suntikan semangat Ayah tidak mematahkan semangat Dam saat melihat sang Kapten cedera dan mengakhiri kekalahan 2-3. Dam kembali bangkit.

“Percayalah, Dam. Sang Kapten akan bermain minggu depan walau dengan kaki dibebat. Sang Kapten akan membalas kekalahan ini. Dia tidak akan menyerah, tidak akan pernah. Ayah berani bertaruh.” Motivasi Ayah (hal 12).

Dalam paruh waktu yang lain, Ayah bercerita Lembah Bukhara. Ia mengaku pernah berkunjung ke lembah itu. Tempatnya yang indah. Sayang, keindahan itu akhirnya rusak karena keserakahan penghuninya, para penambang emas.

Dam fokus menyimak cerita. Ayah meneruskan cerita Kepala Suku Penguasa Angin. Suku itu suka bergurau, bercengkrama, dan bermain. Satu dan yang lain humanis dan tidak ambisius. Hidup kerumahtanggaan terpatri.

Ayah menjelaskan manis dan pahitnya perjuangan Suku Penguasa Angin;

“Tetapi kehidupan sebaik itu tidak datang sendiri, Dam. Suku Penguasa Angin mengorbankan banyak hal untuk memastikan pemahaman yang baik itu tetap ada. Mereka dijajah ratusan tahun, dihina, dianggap rendah, lebih dari sekedar olok-olok soal rambut keriting kau. Mereka memberikan apa saja untuk memastikan generasi berikutnya tetap memiliki pemahaman yang baik. Cara hidup yang baik.” (hal 155-156).

Dam remaja berubah kritis mengkaji cerita-cerita Ayah. Ceritanya yang terkesan berlebihan bikin Dam tergoncang psikologinya. Mumet. Apakah cerita itu faktual? Atau imajiner? Di tengah-tengah kebingungan yang berkecamuk, Dam memastikan, “Ayahku bukan pembohong!”

Kebingungan terjadi karena ceritanya yang berlebihan tanpa jawaban yang jelas—saat Dam tanya benar atau tidak cerita itu. Hanya saja Ayah bercerita dan bercerita. Apalagi saat Dam belajar di Akademi Gajah dan mendapat hukuman membersihkan perpustakaan, temannya dipertemukan dengan buku-buku dongeng yang isinya tentang cerita persis dengan yang Ayahnya ceritakan. Sama sekali tanpa menyinggung Ayah dalam cerita itu.

Kepercayaan Dam akan kebenaran cerita-cerita itu nihil. Mustahil Ayah menunggang layang-layang, mengunyah apel mas, atau bersahabat baik dengan sang Kapten.

Tak heran jika Dam remaja berkata tegas;

“Berhentilah bercerita.” Aku meremas rambut, tidak peduli raut sedih Ayah. “Tidak mengapa Ayah membohongiku dengan cerita-cerita itu sejak kecil. Tidak mengapa. Aku tahu boleh jadi cerita itulah satu-satunya Ayah miliki sebagai hadiah, teman bermain, kesenangan untukku. Tetapi berhentilah membohongi Ibu tentang kesimpulan si Raja Tidur. Kumohon….” (hal 235).

Sikap Dam keras kepala terkesan amoral dalam pandangan ibu dan teman-temannya. Tapi, ketidakpuasan akan cerita-cerita Ayah dapat terjawab saat dihadapkan dengan kenyataan yang tampak di depan mata.

Dam tumbuh menjadi orang yang berbudi luhur, pintar, dan berprestasi. Di antaranya, [1] Dam lulus dengan nilai sempurna di Akademi Gajah untuk kelas menggambar dan pengetahuan alam; [2] ia memperoleh pencapaian dalam mengembangkan pemahaman hidup yang bersahaja (hal 241); [3] Dam meraih juara lomba renang estafet antarklub; dan [4] ia menjadi arsitek yang maju dan menjadi pembicara di forum-forum.

Cerita itu telah memotivasi, mendidik, dan berubah menjadi imajinasi unik.

Selain itu, saat Ayah Dam tutup usia. Sang Kapten datang melayat; dan informasi tentang cerita Ayah bahwa ibunya adalah artis sejak usia mudanya mengakurat. Sehingga, di akhir novel ini, Dam berkata tegas, “Ayah bukan pembohong.”

Novel Tere ini dapat dijadikan cermin bagi orang tua dalam mendidik anaknya. Mendidik dengan cerita-cerita banyak disukai. Hanya yang penting digarisbawahi mutu cerita itu. Sebab, tak keseluruhan cerita itu positif. Carilah cerita yang bernuansa edukatif, memompa semangat, dan tidak berlebihan.[]

Annuqayah, 3 Oktober 2015  

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...