Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis
Tere Liye
Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan
10, Januari 2014
Tebal
299 halaman
ISBN
978-979-22-6905-5
Pertumbuhan seorang anak menjadi cerminan pendidikan orang tuanya. Baikkah
ia? Atau brutalkah? Dalam hadits Nabi Muhammad saw. dijelaskan, “Kullu mauludin yuuladu ala fitrah al-islam illa
inna abawaahu yahudaanihi wa yanshiraniihi wa yumajjisaniihi—setiap anak
dilahirkan dengan membawa agama Islam yang murni (fitrah al-islam),
hanyasanya kedua orang tuanya yang akan menjadikannya beragama Yahudi, Nasrani,
dan Majusi.”
Sebuah cerita dalam bentuk novel tentang lika-liku seorang bapak
mendidik anaknya tampil memukau dalam novel Tere Liye, Ayahku (Bukan)
Pembohong.
Dam. Dialah anak seorang bapak yang dibesarkan dengan
dongeng-dongeng sejak kanak-kanak. Pelbagai dongeng yang diceritakan Ayah cepat
memikat kesukaan dan kecintaan Dam akan dongeng itu. Selain dongengnya menarik,
memotivasi, dan mendidik, Ayah punya kepandaian mengarang-ngarang cerita.
Seakan-akan cerita itu faktual.
Ayah menceritakan sang Kapten, pemain sepak bola bergengsi dan
hebat. Nama sang Kapten menyeruak ke pelosok dunia. Kesukaan Dam akan sepak
bola menjadikan sang Kapten sebagai idolanya.
“Kami menjadi teman baik sejak malam itu, Dam. Dua hari kemudian,
Ayah kembali memesan sup hangat, dan sang Kapten kecil yang mengantar. Kami
berbincang banyak hal. Meski usianya baru delapan, dia mempunyai mimpi dan cara
berpikir seperti orang dewasa. Aku bertanya, benda apa yang menyembul di saku
celananya. Dia tertawa, mengeluarkan bola kasti yang separuh botak. Dia suka
main sepak bola, tapi tidak cukup uang untuk membeli bola sungguhan. Hanya
dengan bola kasti yang dia temukan di kotak sampah itulah dia menggunakan
halaman belakang restoran sebagai tempat bermain, sambil menunggu tugas
mengantar pesanan. Menendang-nendang bola kasti, membuat lingkaran target di
dinding, memasang tiang-tiang halang, dan berlatih mengiring bola. Itu cara yang
baik untuk mengusir rasa bosan sampai pemilik restoran menyuruhnya bergegas
membawa pesanan.” (hal 33).
Cerita Ayah membuat Dam kaget. Dam kecil yang masih lugu mengiyakan
keabsahan cerita itu. Pemain yang diidolakan ternyata teman Ayahnya sendiri.
Suntikan semangat Ayah tidak mematahkan semangat Dam saat melihat
sang Kapten cedera dan mengakhiri kekalahan 2-3. Dam kembali bangkit.
“Percayalah, Dam. Sang Kapten akan bermain minggu depan walau
dengan kaki dibebat. Sang Kapten akan membalas kekalahan ini. Dia tidak akan
menyerah, tidak akan pernah. Ayah berani bertaruh.” Motivasi Ayah (hal 12).
Dalam paruh waktu yang lain, Ayah bercerita Lembah Bukhara. Ia mengaku
pernah berkunjung ke lembah itu. Tempatnya yang indah. Sayang, keindahan itu
akhirnya rusak karena keserakahan penghuninya, para penambang emas.
Dam fokus menyimak cerita. Ayah meneruskan cerita Kepala Suku
Penguasa Angin. Suku itu suka bergurau, bercengkrama, dan bermain. Satu dan
yang lain humanis dan tidak ambisius. Hidup kerumahtanggaan terpatri.
Ayah menjelaskan manis dan pahitnya perjuangan Suku Penguasa Angin;
“Tetapi kehidupan sebaik itu tidak datang sendiri, Dam. Suku
Penguasa Angin mengorbankan banyak hal untuk memastikan pemahaman yang baik itu
tetap ada. Mereka dijajah ratusan tahun, dihina, dianggap rendah, lebih dari
sekedar olok-olok soal rambut keriting kau. Mereka memberikan apa saja untuk memastikan
generasi berikutnya tetap memiliki pemahaman yang baik. Cara hidup yang baik.”
(hal 155-156).
Dam remaja berubah kritis mengkaji cerita-cerita Ayah. Ceritanya
yang terkesan berlebihan bikin Dam tergoncang psikologinya. Mumet. Apakah
cerita itu faktual? Atau imajiner? Di tengah-tengah kebingungan yang
berkecamuk, Dam memastikan, “Ayahku bukan pembohong!”
Kebingungan terjadi karena ceritanya yang berlebihan tanpa jawaban yang
jelas—saat Dam tanya benar atau tidak cerita itu. Hanya saja Ayah bercerita dan
bercerita. Apalagi saat Dam belajar di Akademi Gajah dan mendapat hukuman
membersihkan perpustakaan, temannya dipertemukan dengan buku-buku dongeng yang
isinya tentang cerita persis dengan yang Ayahnya ceritakan. Sama sekali tanpa
menyinggung Ayah dalam cerita itu.
Kepercayaan Dam akan kebenaran cerita-cerita itu nihil. Mustahil Ayah
menunggang layang-layang, mengunyah apel mas, atau bersahabat baik dengan sang
Kapten.
Tak heran jika Dam remaja berkata tegas;
“Berhentilah bercerita.” Aku meremas rambut, tidak peduli raut
sedih Ayah. “Tidak mengapa Ayah membohongiku dengan cerita-cerita itu sejak
kecil. Tidak mengapa. Aku tahu boleh jadi cerita itulah satu-satunya Ayah
miliki sebagai hadiah, teman bermain, kesenangan untukku. Tetapi berhentilah
membohongi Ibu tentang kesimpulan si Raja Tidur. Kumohon….” (hal 235).
Sikap Dam keras kepala terkesan amoral dalam pandangan ibu dan
teman-temannya. Tapi, ketidakpuasan akan cerita-cerita Ayah dapat terjawab saat
dihadapkan dengan kenyataan yang tampak di depan mata.
Dam tumbuh menjadi orang yang berbudi luhur, pintar, dan
berprestasi. Di antaranya, [1] Dam lulus dengan nilai sempurna di Akademi Gajah
untuk kelas menggambar dan pengetahuan alam; [2] ia memperoleh pencapaian dalam
mengembangkan pemahaman hidup yang bersahaja (hal 241); [3] Dam meraih juara lomba
renang estafet antarklub; dan [4] ia menjadi arsitek yang maju dan menjadi
pembicara di forum-forum.
Cerita itu telah memotivasi, mendidik, dan berubah menjadi
imajinasi unik.
Selain itu, saat Ayah Dam tutup usia. Sang Kapten datang melayat;
dan informasi tentang cerita Ayah bahwa ibunya adalah artis sejak usia mudanya
mengakurat. Sehingga, di akhir novel ini, Dam berkata tegas, “Ayah bukan
pembohong.”
Novel Tere ini dapat dijadikan cermin bagi orang tua dalam mendidik
anaknya. Mendidik dengan cerita-cerita banyak disukai. Hanya yang penting
digarisbawahi mutu cerita itu. Sebab, tak keseluruhan cerita itu positif.
Carilah cerita yang bernuansa edukatif, memompa semangat, dan tidak berlebihan.[]
Annuqayah, 3 Oktober 2015

No comments:
Post a Comment