Ayah
Penulis
Andrea Hirata
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
5, Agustus 2014
Tebal
396 halaman
ISBN
978-602-291-102-9
Selain ibu, ayah sangat besar pengaruh dan perannya bagi anaknya. Ia
ditamsilkan dengan cermin sebagai suri teladan bagi masa depan anaknya: semangat
hidup, budi perkerti luhur, dan menyikapi pernak-pernik masalah.
Kehadiran novel Andera Hirata yang berjudul Ayah sedikit
banyak memberikan kontribusi positif dalam menyikapi peliknya kehidupan guna
menjadi orang yang dewasa: bertanggung jawab, berpendidikan, dan mandiri.
Sebuah kisah yang dijabarkan panjang lebar dalam novel ini adalah
perjuangan hidup Sabari. Ia seorang yang pantas dinobatkan sebagai sang juara,
bukan karena ia menang dalam ajang bergengsi, tapi semangat memberikan yang
terbaik kepada orang lain tanpa banyak perhitungan, terutama yang menyangkut
pribadinya. Sepak terjang hidupnya yang lahir dari orang biasa—bukan keturunan
bangsawan, ningrat, atau darah biru—dan ditopang dengan ekonomi miris alias
miskin, sedikitpun tidak mematahkan semangat dan potensi hidupnya. Ia bisa
menjadi siswa yang dibanggakan guru-gurunya karena pandai, terutama pelajaran bahasa
Indonesia. Banyak guru terpana dengan puisi-puisinya. Kendatipun demikian,
Sabari tetap tidak sombong. Sehingga, tak sedikit teman-teman yang menyukainya.
Ukun dan Izmi, tamsilnya.
Prestasi yang diraih Sabari bukan tumbuh secara tiba-tiba. Di
belakang sana, ada seorang ayah, Amirza, yang tulus, kasih sayang, dan telaten
mendidik Sabari sejak lahir hingga dewasa. Amirza mampu menjadi ayah teladan
yang dapat dijadikan cermin bagi anaknya. Amirza yang tabah, kanaah, dan
penyayang hidup di tengah istri dan anaknya.
Adalah sebuah tamsil yang logis jika anak Sabari, Zorro, akan
mewarisi setiap sikap baiknya. Zorro menjadi anak yang berprestasi di
sekolahnya, yakni menduduki peringkat pertama, dan dinobatkan sebagai pemenang
lomba bercerita. Di sisi lain, Zorro suka menulis puisi. Tak ayal, puisi-puisi
lahir dari tangan Zorro saat jalan-jalan bersama ibunya ke Pangkal Pinang,
Toboali, Bengkulu, Medan, Batanghari, Siak, Rengat, Bengkalis, Pariaman,
Indragiri Hulu, Bagansiapiapi, Tanjung Pinang, Singkep, Dabo.
Di suatu kesempatan ibunya dikagetkan dengan sikap bijak dan
berbudi perkerti luhur Zorro. Kata Zorro dia sengaja menurunkan nilainya,
sengaja tak menjawab beberapa soal dalam ujian, sengaja membuat dirinya
kehabisan waktu dalam ujian karena kasihan kepada Imelda yang sangat ingin
menjadi juara pertama. (hal 258).
Kecerdasan dan sikap bijaksana yang membekas kuat dalam diri Zorro
tak dapat dilihat sebelah mata. Hal ini terjadi tak lain karena kekuatan
didikan ayahnya, Sabari. Di antara didikan Sabari terhadap Zorro: Pertama,
mendidinya dengan puisi. Misal, puisi yang disitir dari Negeri Turki: Dua
pohon yang menyendiri//Dua pohon di tepi sungai yang mengalir sepi//Berdiri
tegak, muda, dan tumbuh//Mereka ingin mengatakan sesuatu//Namun, mereka tetap
diam. Kedua, mendidik dengan nyanyian puisi rayuan awan. Seperti, Wahai
awan//Kalau bersedih//Jangan menangis//Jangan turunkan hujan//Karena aku mau
pulang//Untukmu awan//Kan kuterbangkan layang-layang.... Ketiga, mendidik
dengan cerita-cerita. Di antaranya, cerita Cinta pada Masa Wabah Kolera dengan
menganggab dirinya sebagai Florentino Ariza. Zorro terbuai kisah dari negeri
yang jauh, Amerika Selatan. (hal 224); dan kisah petualangan pendekar ayam pop
sambil mengepak-ngepakkan tangan dan berkokok-kokok. Zorro tertawa sampai
berair matanya. Dan keempat, mendidik dengan kasih sayang yang tulus. Sabari
menyayangi tanpa melebihi dari menyayangi dirinya sendiri.
Kisah tentang Sabari bukan hanya sebagai kisah yang kosong akan
makna. Andrea mampu menjadikan karya ini sebagai motivasi dan inspirasi pembaca
yang karam dalam mengarungi peliknya hidup.
Orang yang hebat bukanlah orang yang sering menang dalam ajang
bergengsi, menang bergulat, dan kaya harta, tapi hebat itu diukur dari
perjuangan hidup seseorang yang mampu mendidik orang lain menjadi orang yang
lebih hebat dari pada dirinya sendiri. Lihatlah Sabari! Ia orang yang lahir
dari keluarga miskin nan kampungan, tapi semangat hidupnya dalam menempuh ilmu
di sekolah mengantarkannya sebagai siswa yang berprestasi. Terus, perjuangan
cintanya terhadap perempuan molek sejak ketemu di sekolah hingga lulus tetap
tak pernah pudar. Ia kejar dengan segala cara guna menggapai cinta itu.
Akhirnya, Tuhan Maha Tahu; apa yang diimpikan terwujud, yaitu berlangsungnya
pernikahan antara Sabari dan Marlena.
Sabar. Sifat yang mudah diucap, tapi tak banyak orang yang mampu
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana menjadi orang seperti
Sabari yang sabar saat musibah menimpanya: cerai dengan Lena dan Zorro
menghilang tanpa jejak.
Anak yang baik dan shaleh adalah yang bisa menyejukkan dan
menenangkan hati orang tuanya. Zorro, salah satu anak, yang dijadikan misal.
Tanpa terbayang, jika ia tumbuh menjadi anak bijak hingga ibunya, Lena,
tersentuh hatinya: Zorro menenangkan hati ibunya saat tahu-tahu ibunya
kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk biaya hidup mereka di tengah
pengasingannya.
Membaca karya terbaru Andrea, tentunya pikiran pembaca
berkesimpulan bahwa ini bukan karya biasa. Novel ini mampu mengisahkan
kehidupan pedesaan di kampung Belantik, pulau paling ujung, di pinggir laut
Belitong yang jarang diamati banyak penulis dengan bahasa sederhana, mengalir,
dan puitis. Seakan kehidupan jauh dari peradaban dan sulit bersentuhan dengan
informasi menjadi hidup. Sebagai misal, kehidupan anak yang bermain sana-sini,
bawa katapel yang dikalungkan di lehernya, mengantongi duku muda untuk
pulurnya, bersandal cunghai, melempari buah dagu, mengejar layang-layang,
berlari di padang, dan berenang di danau galian tambang. (hal 7)
Andrea Hirata berhasil mengisahkan beragam sisi dengan bahasa baik:
tentang pendidikan, percintaan, kritik kepemerintahan, dst.
Novel ini sarat dengan pelbagai pengetahun: puisi, sisipan-sisipan
bahasa Inggris—seperti “Jawabannya no comment” (hal 159)//Barangkali
maksudnya up side down, jungkir balik. (hal 121)//Surat yang ditulis
Zorro kepada Larissa Sweet Wuruninga: Me and my father would like to say
thank you because you and you father look for me. After live separated for 8
years, 20 days, now I am with my father again and I am happy....—dan lain
sebagainya.
Andrea, lejitan potensi Anda telah mampu menjadi karya unik,
memukau, dan fantastik. Selamat membaca![]
Annuqayah, 7
November 2015

No comments:
Post a Comment