Saturday, November 7, 2015

Menjadi Ayah yang Diimpikan Anaknya



Judul Buku
Ayah
Penulis
Andrea Hirata
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
5, Agustus 2014
Tebal
396 halaman
ISBN
978-602-291-102-9

Selain ibu, ayah sangat besar pengaruh dan perannya bagi anaknya. Ia ditamsilkan dengan cermin sebagai suri teladan bagi masa depan anaknya: semangat hidup, budi perkerti luhur, dan menyikapi pernak-pernik masalah.

Kehadiran novel Andera Hirata yang berjudul Ayah sedikit banyak memberikan kontribusi positif dalam menyikapi peliknya kehidupan guna menjadi orang yang dewasa: bertanggung jawab, berpendidikan, dan mandiri.

Sebuah kisah yang dijabarkan panjang lebar dalam novel ini adalah perjuangan hidup Sabari. Ia seorang yang pantas dinobatkan sebagai sang juara, bukan karena ia menang dalam ajang bergengsi, tapi semangat memberikan yang terbaik kepada orang lain tanpa banyak perhitungan, terutama yang menyangkut pribadinya. Sepak terjang hidupnya yang lahir dari orang biasa—bukan keturunan bangsawan, ningrat, atau darah biru—dan ditopang dengan ekonomi miris alias miskin, sedikitpun tidak mematahkan semangat dan potensi hidupnya. Ia bisa menjadi siswa yang dibanggakan guru-gurunya karena pandai, terutama pelajaran bahasa Indonesia. Banyak guru terpana dengan puisi-puisinya. Kendatipun demikian, Sabari tetap tidak sombong. Sehingga, tak sedikit teman-teman yang menyukainya. Ukun dan Izmi, tamsilnya.

Prestasi yang diraih Sabari bukan tumbuh secara tiba-tiba. Di belakang sana, ada seorang ayah, Amirza, yang tulus, kasih sayang, dan telaten mendidik Sabari sejak lahir hingga dewasa. Amirza mampu menjadi ayah teladan yang dapat dijadikan cermin bagi anaknya. Amirza yang tabah, kanaah, dan penyayang hidup di tengah istri dan anaknya.

Adalah sebuah tamsil yang logis jika anak Sabari, Zorro, akan mewarisi setiap sikap baiknya. Zorro menjadi anak yang berprestasi di sekolahnya, yakni menduduki peringkat pertama, dan dinobatkan sebagai pemenang lomba bercerita. Di sisi lain, Zorro suka menulis puisi. Tak ayal, puisi-puisi lahir dari tangan Zorro saat jalan-jalan bersama ibunya ke Pangkal Pinang, Toboali, Bengkulu, Medan, Batanghari, Siak, Rengat, Bengkalis, Pariaman, Indragiri Hulu, Bagansiapiapi, Tanjung Pinang, Singkep, Dabo.

Di suatu kesempatan ibunya dikagetkan dengan sikap bijak dan berbudi perkerti luhur Zorro. Kata Zorro dia sengaja menurunkan nilainya, sengaja tak menjawab beberapa soal dalam ujian, sengaja membuat dirinya kehabisan waktu dalam ujian karena kasihan kepada Imelda yang sangat ingin menjadi juara pertama. (hal 258).

Kecerdasan dan sikap bijaksana yang membekas kuat dalam diri Zorro tak dapat dilihat sebelah mata. Hal ini terjadi tak lain karena kekuatan didikan ayahnya, Sabari. Di antara didikan Sabari terhadap Zorro: Pertama, mendidinya dengan puisi. Misal, puisi yang disitir dari Negeri Turki: Dua pohon yang menyendiri//Dua pohon di tepi sungai yang mengalir sepi//Berdiri tegak, muda, dan tumbuh//Mereka ingin mengatakan sesuatu//Namun, mereka tetap diam. Kedua, mendidik dengan nyanyian puisi rayuan awan. Seperti, Wahai awan//Kalau bersedih//Jangan menangis//Jangan turunkan hujan//Karena aku mau pulang//Untukmu awan//Kan kuterbangkan layang-layang.... Ketiga, mendidik dengan cerita-cerita. Di antaranya, cerita Cinta pada Masa Wabah Kolera dengan menganggab dirinya sebagai Florentino Ariza. Zorro terbuai kisah dari negeri yang jauh, Amerika Selatan. (hal 224); dan kisah petualangan pendekar ayam pop sambil mengepak-ngepakkan tangan dan berkokok-kokok. Zorro tertawa sampai berair matanya. Dan keempat, mendidik dengan kasih sayang yang tulus. Sabari menyayangi tanpa melebihi dari menyayangi dirinya sendiri.

Kisah tentang Sabari bukan hanya sebagai kisah yang kosong akan makna. Andrea mampu menjadikan karya ini sebagai motivasi dan inspirasi pembaca yang karam dalam mengarungi peliknya hidup.

Orang yang hebat bukanlah orang yang sering menang dalam ajang bergengsi, menang bergulat, dan kaya harta, tapi hebat itu diukur dari perjuangan hidup seseorang yang mampu mendidik orang lain menjadi orang yang lebih hebat dari pada dirinya sendiri. Lihatlah Sabari! Ia orang yang lahir dari keluarga miskin nan kampungan, tapi semangat hidupnya dalam menempuh ilmu di sekolah mengantarkannya sebagai siswa yang berprestasi. Terus, perjuangan cintanya terhadap perempuan molek sejak ketemu di sekolah hingga lulus tetap tak pernah pudar. Ia kejar dengan segala cara guna menggapai cinta itu. Akhirnya, Tuhan Maha Tahu; apa yang diimpikan terwujud, yaitu berlangsungnya pernikahan antara Sabari dan Marlena.

Sabar. Sifat yang mudah diucap, tapi tak banyak orang yang mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana menjadi orang seperti Sabari yang sabar saat musibah menimpanya: cerai dengan Lena dan Zorro menghilang tanpa jejak.

Anak yang baik dan shaleh adalah yang bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang tuanya. Zorro, salah satu anak, yang dijadikan misal. Tanpa terbayang, jika ia tumbuh menjadi anak bijak hingga ibunya, Lena, tersentuh hatinya: Zorro menenangkan hati ibunya saat tahu-tahu ibunya kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk biaya hidup mereka di tengah pengasingannya. 

Membaca karya terbaru Andrea, tentunya pikiran pembaca berkesimpulan bahwa ini bukan karya biasa. Novel ini mampu mengisahkan kehidupan pedesaan di kampung Belantik, pulau paling ujung, di pinggir laut Belitong yang jarang diamati banyak penulis dengan bahasa sederhana, mengalir, dan puitis. Seakan kehidupan jauh dari peradaban dan sulit bersentuhan dengan informasi menjadi hidup. Sebagai misal, kehidupan anak yang bermain sana-sini, bawa katapel yang dikalungkan di lehernya, mengantongi duku muda untuk pulurnya, bersandal cunghai, melempari buah dagu, mengejar layang-layang, berlari di padang, dan berenang di danau galian tambang. (hal 7)

Andrea Hirata berhasil mengisahkan beragam sisi dengan bahasa baik: tentang pendidikan, percintaan, kritik kepemerintahan, dst.

Novel ini sarat dengan pelbagai pengetahun: puisi, sisipan-sisipan bahasa Inggris—seperti “Jawabannya no comment” (hal 159)//Barangkali maksudnya up side down, jungkir balik. (hal 121)//Surat yang ditulis Zorro kepada Larissa Sweet Wuruninga: Me and my father would like to say thank you because you and you father look for me. After live separated for 8 years, 20 days, now I am with my father again and I am happy....—dan lain sebagainya.

Andrea, lejitan potensi Anda telah mampu menjadi karya unik, memukau, dan fantastik. Selamat membaca![]

Annuqayah, 7 November 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...