Api Tauhid
Penulis
Habiburrahman El Shirazy
Penerbit
Republika
Cetakan
10, September 2015
Tebal
xxxvi + 587
halaman
ISBN
9786028997959
Tauhid adalah mengesakan Tuhan. Tak ada tuhan
selainnya. Kejahiliahan yang menjangkit di pikiran dan hati manusia sulit
menerima dan membenarkan bahwa yang sepatutnya yang diesakan adalah Allah swt.
Adalah masalah besar berbicara tentang kerancuan
bertauhid. Kerancuan ini sudah menyejarah sejak sebelum, saat, dan setelah masa
Nabi Muhammad saw. Tapi, kerancuan ini, berkat perjuangan beliau dapat diatasi,
sehingga para masyarakat yang hidup di zaman jahiliyah menemukan kesegaran dan
kesejukan dengan ajaran yang dibawa beliau.
Masa demi masa tentang penanaman tauhid yang benar
semakin banyak dicampakkan. Maka, hadirnya novel Habiburrahman El Shirazy,
yaitu Api Tauhid, salah satu cara membuka jendela peradaban dan hati
manusia dari kejahiliahan. Karya terbaru Kang Abik (sebutan Habiburrahman El
Shirazy) ini merupakan novel pertama yang mengulas tentang sejarah serta cinta.
Sejarah yang diungkap tentang Badiuzzaman Said
Nursi. Uraian demi uraian diceritakan saat Fahmi, Hamza, Bilal, Emel, dan Aysel
jalan-jalan keliling dunia: mengunjungi tempat-tempat bersejarah kaitannya
dengan Said Nursi. Mereka pergi ke Sanliurfa, Isparta, dan beberapa tempat yang
lain.
***
Beberapa peneliti seperti
Necmettin Sahiner, Abdulkadir Badilli, dan Muhammad Molla Zahid menuturkan
silsilah nasab Badiuzzaman Said Nursi sebagai berikut: Ayah beliau adalah Sufi
Mirza bin Ali bin Hidr bin Mirza Khalid bin Mirza Rasyan yang berasal dari
daerah Isparta. Ibu beliau adalah Nuriyah atau Nuriye binti Molla Thahir yang
berasal dari desa Balkan…. (hal 141).
Mirza adalah seorang yang
baik, amanah, dan bertanggung jawab. Ketekunan ibadahnya dihiasi dengan dengan
keuletannya bekerja di ladang untuk menghidupi keluarga. Sedangkan, Nuriye
adalah seorang perempuan yang hafal Al-Qur’an, dan ahli ibadah. (hal 140)
Saudara Said Nursi adalah
Mehmet (Muhammad), dan Molla Abdullah. Beliau lahir di kota Nurs. Beliau
mendapat sebutan nuruzzaman (keajaiban zaman) dari gurunya, Syaikh Molla
Fethullah karena beliau mampu menghafal satu halaman Maqamat Al-Haririyyah setelah
dibaca satu kali.
Selain itu, beliau menghafal
kitab Jam’u al-Jawami setebal 362 halaman dalam waktu satu pekan. (hal
201). Secara keseluruhan kitab yang dihafal tidak kurang dari delepan puluh
kitab. Kealiman dan kecerdasannya mampu mengalahkan ulama di forum
diskusi/debat: seperti perdebatan di Kota Siirt, pertanyaan para cendekiawan
terkemuka Istanbul di Sekerci Han, dsb.
Beliau tidak hanya alim, tapi
juga pemberani. Segala kebatilan dibabat habis dengan tangan beliau sendiri;
berani mengkritik Jenderal Nicolas Nicolavich; dan berani melawan preman kejam,
Mustafa Pasya.
Beliau tidak hanya alim dalam
ilmu agama, namun juga menguasai bidang sains dan filsafat secara umum (hal
289).
Di antara guru-guru beliau
adalah Seyyid Nur Muhammad (di Desa Pirmis); Syaikh Emin (di Desa Arvas); Molla
Abdulkarim (di Mukus); Syaikh Muhammed Emin Effendi (di Baghdab); Syaikh Molla
Fethullah di Siirt; dan beberapa ulama terkemuka yang lain.
Madrasah yang pernah dijadikan
tempat belajar Said Nursi, di antaranya, Madrasah Molla Fethullah di Desa
Kugak; Madrasah Syaikh Sibghatullah Gauth-I Hizan di Desa Gedya; Madrasah Mir
Hasan Wali di Mukus; Madrasah (nama madrasahnya tidak disebutkan di buku ini)
di Gevas; Madrasah Beyazid di Beyazid; dan lain sebagainya.
Karya-karya beliau, salah
satunya, Syayqal al-Islam atau Rahatat al-Ulama (Resep untuk
Ulama); Isarat-ul I`caz; Hakikat Cekirdekleri; Nokta; Hutuvat-i Sitte;
Tuluat; Sunuhat; Lemeat, dan Hakikat Cekirdekleri.
Beberapa hal yang perlu
dicatat tentang kontribusi Said Nursi, baik di bidang pengetahuan maupun
menanamkan tauhid, adalah semangat beliau menghafal berpuluh-puluh kitab;
mengahafal Al-Qur’an semenjak berumur dua puluh tahun; dan rela mendekap di
penjara selama dua puluh lima tahun demi memperjuangkan kebenaran tauhidnya.
Akhirnya, Badiuzzaman Said
Nursi memperbanyak menyepi di Izmit untuk memperbanyak ibadah dan dzikir kepada
Allah swt (hal 359). Sedangkan, pengasingan yang sesungguhnya beliau tempuh di
Barla.
***
Kisah cinta yang diungkap
dalam novel ini adalah lika-liku perjalanan cinta Fahmi dan Nuzula. Fahmi
adalah remaja yang lahir dari keluarga yang kesehariannya hidup sederhana dan
ekonominya dapat dibilang cukup. Kehidupan keluarganya yang religius mampu
mendidik Fahmi menjadi anak yang berbudi perkerti baik, agamis, dan hafal
Al-Qur’an.
Beasiswa kuliah S2 di
Universtias Islam Madinah diraih karena semangat dan kemampuannya. Secara tidak
langsung ia telah belajar hidup menjadi mandiri dan dewasa.
Sifat warak Fahmi tidak hanya
sekedar kata, tapi mampu diaplikasikan di dunia nyata. Tak ayal, sentuhan dunia
luar yang kian bebas tidak membuat Fahmi keder. Ia tetap istikamah memelihara
pandangan dari lawan jenis yang belum halal, mengulang-ngulangi hafalan
Al-Qur’annya, zikir, dst.
Dan, Firdaus Nuzula adalah putri dari sosok kiai
besar, yakni Kiai Arselan. Sebagai keturunan kiai, ia tumbuh dengan pendidikan yang
baik dari keluarganya. Semangat menuntut ilmu mengantarkannya kuliah di
Jakarta.
Kisah percintaan Fahmi dan Nuzula berawal dari
kedatangan Kiai Arselan beserta keluarganya ke rumah Fahmi. Kehadiran mereka
tidak hanya dimaknai sebagai silaturrahmi semata, melainkan punya tujuan
khusus, yakni melamar Fahmi untuk putrinya, Nuzula.
Karena Nuzula masih kuliah S1 di
Jakarta, sedangkan Fahmi kuliah S2 di Universitas Islam Madinah, mereka berdua
diikat dengan “nikah sirri” yang disertai syarat tidak melakukan
persetubuhan karena pernikahan ini masih belum disahkan secara hukum negara.
Sayang, ikatan pernikahan ini
tidak berjalan mulus. Saat Fahmi kembali ke Madinah, banyak sikap mengganjal
yang tampak dari pribadi Nuzula hari ke hari: SMS Fahmi yang tidak dibalas,
jawaban SMS-nya yang beritme aneh yaitu Fahmi diminta tidak menghubungi Nuzula
lagi, kepergian Kiai Arselan ke Madinah guna menemui Fahmi, dst.
Kedatangan Kiai Arselan yang
tak lain membawa sejuta informasi mengagetkan Fahmi mendengarkannya. Aneh dan
tidak masuk akal. Kata-kata beliau tidak didasari alasan yang logis. Ketika
diusut apa alasannya, beliau bungkam seribu kata. Informasi yang dimaksud,
“permintaan Kiai Nuzula kepada Fahmi untuk mentalak Nuzula”.
Permintaan itu tak langsung
dipenuhi. Sebab, cinta Fahmi kepada istrinya bukan hanya sekedar cinta materi
dan atau kata-kata, melainkan cinta yang telah menjamah nurani.
Banyak tragedi tragis setelah
permintaan sampai kepada Fahmi dan orang tuannya. Di antaranya, Fahmi yang
egois iktikaf di Masjid Nabawi sambil menghatamkan Al-Qur’an sebanyak empat
puluh kali. Tekad yang instan membikin temannya, Ali, bertanya-tanya. Akhirnya,
Fahmi tersungkur pingsan di atas lantai saat dikunjungi teman-temannya pada
hari berikutnya. Mereka adalah Ali dan Hamza; dan sakit jantung yang mendera
ibu Fahmi hingga bikin keluarganya panik.
Di akhir perjuangan Fahmi
memendam perasaan cinta yang tidak gampang terlupakan dan menghapusnya, jarum
yang hilang datang dengan tiba-tiba. Nuzula minta maaf dan menjelaskan segala
kekhilafan—berbohong kepada ayahnya sendiri yakni hamil di luar nikah dengan
pacarnya semenjak kuliah—dan yang jelas Nuzula masih suci. Kecupan Fahmi terhadap
bibir Nuzula bertahun-tahun sebelumnya usai nikah sirri merupakan
kecupakan pertama.
Nah, di KJRI Istanbul Fahmi
dan Nuzula melangsungkan pernikahan ulang. Teman-temannya hadir: Hamza, Aysel,
Emel, Bilal, Paman Recep, dan Hocca Ibrahim. Dan, beberapa tokoh dari Turki
juga datang.
Sosok Fahmi yang diketahui
luhur akhlaknya, hafal Al-Qur’an, dan terpercaya juga mampu menggerakkan hati
Aysel—gadis Turki—dan Emel—adiknya Hamza dan hafal Al-Qur’an. Tak dinyana kedua
gadis cantik dan baik ini memendam perasaan cinta kepada Fahmi. Ia kaget saat
cinta itu digadai oleh mereka.
***
Novel terbaru Kang Abik ini tergolong
novel yang sederhana dan religius serta punya kekuatan memikat hati pembaca:
seakan-akan pembaca menjadi tokoh di dalamnya. Tentunya semua itu tak lepas
dari keseriusan, ketelitian, dan kemahiran Kang Abik dalam dunia kepenulisan. Pergulatan
tokoh: sejarah tokoh Badiuzzaman dan warna-warni percintaan Fahmi dan Nuzula,
sedikitpun tak mengurangi khas kepenulisan Kang Abik.[]
Annuqayah, 7
Oktober 2015

No comments:
Post a Comment