Saturday, November 7, 2015

Perjuangan Hidup Said Nursi, Fahmi, dan Nuzula



Judul Buku
Api Tauhid
Penulis
Habiburrahman El Shirazy
Penerbit
Republika
Cetakan
10, September 2015
Tebal
xxxvi +  587 halaman
ISBN
9786028997959

Tauhid adalah mengesakan Tuhan. Tak ada tuhan selainnya. Kejahiliahan yang menjangkit di pikiran dan hati manusia sulit menerima dan membenarkan bahwa yang sepatutnya yang diesakan adalah Allah swt.

Adalah masalah besar berbicara tentang kerancuan bertauhid. Kerancuan ini sudah menyejarah sejak sebelum, saat, dan setelah masa Nabi Muhammad saw. Tapi, kerancuan ini, berkat perjuangan beliau dapat diatasi, sehingga para masyarakat yang hidup di zaman jahiliyah menemukan kesegaran dan kesejukan dengan ajaran yang dibawa beliau.

Masa demi masa tentang penanaman tauhid yang benar semakin banyak dicampakkan. Maka, hadirnya novel Habiburrahman El Shirazy, yaitu Api Tauhid, salah satu cara membuka jendela peradaban dan hati manusia dari kejahiliahan. Karya terbaru Kang Abik (sebutan Habiburrahman El Shirazy) ini merupakan novel pertama yang mengulas tentang sejarah serta cinta.

Sejarah yang diungkap tentang Badiuzzaman Said Nursi. Uraian demi uraian diceritakan saat Fahmi, Hamza, Bilal, Emel, dan Aysel jalan-jalan keliling dunia: mengunjungi tempat-tempat bersejarah kaitannya dengan Said Nursi. Mereka pergi ke Sanliurfa, Isparta, dan beberapa tempat yang lain.

***

Beberapa peneliti seperti Necmettin Sahiner, Abdulkadir Badilli, dan Muhammad Molla Zahid menuturkan silsilah nasab Badiuzzaman Said Nursi sebagai berikut: Ayah beliau adalah Sufi Mirza bin Ali bin Hidr bin Mirza Khalid bin Mirza Rasyan yang berasal dari daerah Isparta. Ibu beliau adalah Nuriyah atau Nuriye binti Molla Thahir yang berasal dari desa Balkan…. (hal 141).

Mirza adalah seorang yang baik, amanah, dan bertanggung jawab. Ketekunan ibadahnya dihiasi dengan dengan keuletannya bekerja di ladang untuk menghidupi keluarga. Sedangkan, Nuriye adalah seorang perempuan yang hafal Al-Qur’an, dan ahli ibadah. (hal 140)

Saudara Said Nursi adalah Mehmet (Muhammad), dan Molla Abdullah. Beliau lahir di kota Nurs. Beliau mendapat sebutan nuruzzaman (keajaiban zaman) dari gurunya, Syaikh Molla Fethullah karena beliau mampu menghafal satu halaman Maqamat Al-Haririyyah setelah dibaca satu kali.

Selain itu, beliau menghafal kitab Jam’u al-Jawami setebal 362 halaman dalam waktu satu pekan. (hal 201). Secara keseluruhan kitab yang dihafal tidak kurang dari delepan puluh kitab. Kealiman dan kecerdasannya mampu mengalahkan ulama di forum diskusi/debat: seperti perdebatan di Kota Siirt, pertanyaan para cendekiawan terkemuka Istanbul di Sekerci Han, dsb.

Beliau tidak hanya alim, tapi juga pemberani. Segala kebatilan dibabat habis dengan tangan beliau sendiri; berani mengkritik Jenderal Nicolas Nicolavich; dan berani melawan preman kejam, Mustafa Pasya.

Beliau tidak hanya alim dalam ilmu agama, namun juga menguasai bidang sains dan filsafat secara umum (hal 289).

Di antara guru-guru beliau adalah Seyyid Nur Muhammad (di Desa Pirmis); Syaikh Emin (di Desa Arvas); Molla Abdulkarim (di Mukus); Syaikh Muhammed Emin Effendi (di Baghdab); Syaikh Molla Fethullah di Siirt; dan beberapa ulama terkemuka yang lain.

Madrasah yang pernah dijadikan tempat belajar Said Nursi, di antaranya, Madrasah Molla Fethullah di Desa Kugak; Madrasah Syaikh Sibghatullah Gauth-I Hizan di Desa Gedya; Madrasah Mir Hasan Wali di Mukus; Madrasah (nama madrasahnya tidak disebutkan di buku ini) di Gevas; Madrasah Beyazid di Beyazid; dan lain sebagainya.

Karya-karya beliau, salah satunya, Syayqal al-Islam atau Rahatat al-Ulama (Resep untuk Ulama); Isarat-ul I`caz; Hakikat Cekirdekleri; Nokta; Hutuvat-i Sitte; Tuluat; Sunuhat; Lemeat, dan Hakikat Cekirdekleri.

Beberapa hal yang perlu dicatat tentang kontribusi Said Nursi, baik di bidang pengetahuan maupun menanamkan tauhid, adalah semangat beliau menghafal berpuluh-puluh kitab; mengahafal Al-Qur’an semenjak berumur dua puluh tahun; dan rela mendekap di penjara selama dua puluh lima tahun demi memperjuangkan kebenaran tauhidnya.

Akhirnya, Badiuzzaman Said Nursi memperbanyak menyepi di Izmit untuk memperbanyak ibadah dan dzikir kepada Allah swt (hal 359). Sedangkan, pengasingan yang sesungguhnya beliau tempuh di Barla.

***

Kisah cinta yang diungkap dalam novel ini adalah lika-liku perjalanan cinta Fahmi dan Nuzula. Fahmi adalah remaja yang lahir dari keluarga yang kesehariannya hidup sederhana dan ekonominya dapat dibilang cukup. Kehidupan keluarganya yang religius mampu mendidik Fahmi menjadi anak yang berbudi perkerti baik, agamis, dan hafal Al-Qur’an.

Beasiswa kuliah S2 di Universtias Islam Madinah diraih karena semangat dan kemampuannya. Secara tidak langsung ia telah belajar hidup menjadi mandiri dan dewasa.

Sifat warak Fahmi tidak hanya sekedar kata, tapi mampu diaplikasikan di dunia nyata. Tak ayal, sentuhan dunia luar yang kian bebas tidak membuat Fahmi keder. Ia tetap istikamah memelihara pandangan dari lawan jenis yang belum halal, mengulang-ngulangi hafalan Al-Qur’annya, zikir, dst.

Dan, Firdaus Nuzula adalah putri dari sosok kiai besar, yakni Kiai Arselan. Sebagai keturunan kiai, ia tumbuh dengan pendidikan yang baik dari keluarganya. Semangat menuntut ilmu mengantarkannya kuliah di Jakarta.

Kisah percintaan Fahmi dan Nuzula berawal dari kedatangan Kiai Arselan beserta keluarganya ke rumah Fahmi. Kehadiran mereka tidak hanya dimaknai sebagai silaturrahmi semata, melainkan punya tujuan khusus, yakni melamar Fahmi untuk putrinya, Nuzula.

Karena Nuzula masih kuliah S1 di Jakarta, sedangkan Fahmi kuliah S2 di Universitas Islam Madinah, mereka berdua diikat dengan “nikah sirri” yang disertai syarat tidak melakukan persetubuhan karena pernikahan ini masih belum disahkan secara hukum negara.

Sayang, ikatan pernikahan ini tidak berjalan mulus. Saat Fahmi kembali ke Madinah, banyak sikap mengganjal yang tampak dari pribadi Nuzula hari ke hari: SMS Fahmi yang tidak dibalas, jawaban SMS-nya yang beritme aneh yaitu Fahmi diminta tidak menghubungi Nuzula lagi, kepergian Kiai Arselan ke Madinah guna menemui Fahmi, dst.

Kedatangan Kiai Arselan yang tak lain membawa sejuta informasi mengagetkan Fahmi mendengarkannya. Aneh dan tidak masuk akal. Kata-kata beliau tidak didasari alasan yang logis. Ketika diusut apa alasannya, beliau bungkam seribu kata. Informasi yang dimaksud, “permintaan Kiai Nuzula kepada Fahmi untuk mentalak Nuzula”.

Permintaan itu tak langsung dipenuhi. Sebab, cinta Fahmi kepada istrinya bukan hanya sekedar cinta materi dan atau kata-kata, melainkan cinta yang telah menjamah nurani.

Banyak tragedi tragis setelah permintaan sampai kepada Fahmi dan orang tuannya. Di antaranya, Fahmi yang egois iktikaf di Masjid Nabawi sambil menghatamkan Al-Qur’an sebanyak empat puluh kali. Tekad yang instan membikin temannya, Ali, bertanya-tanya. Akhirnya, Fahmi tersungkur pingsan di atas lantai saat dikunjungi teman-temannya pada hari berikutnya. Mereka adalah Ali dan Hamza; dan sakit jantung yang mendera ibu Fahmi hingga bikin keluarganya panik.

Di akhir perjuangan Fahmi memendam perasaan cinta yang tidak gampang terlupakan dan menghapusnya, jarum yang hilang datang dengan tiba-tiba. Nuzula minta maaf dan menjelaskan segala kekhilafan—berbohong kepada ayahnya sendiri yakni hamil di luar nikah dengan pacarnya semenjak kuliah—dan yang jelas Nuzula masih suci. Kecupan Fahmi terhadap bibir Nuzula bertahun-tahun sebelumnya usai nikah sirri merupakan kecupakan pertama.

Nah, di KJRI Istanbul Fahmi dan Nuzula melangsungkan pernikahan ulang. Teman-temannya hadir: Hamza, Aysel, Emel, Bilal, Paman Recep, dan Hocca Ibrahim. Dan, beberapa tokoh dari Turki juga datang. 

Sosok Fahmi yang diketahui luhur akhlaknya, hafal Al-Qur’an, dan terpercaya juga mampu menggerakkan hati Aysel—gadis Turki—dan Emel—adiknya Hamza dan hafal Al-Qur’an. Tak dinyana kedua gadis cantik dan baik ini memendam perasaan cinta kepada Fahmi. Ia kaget saat cinta itu digadai oleh mereka.

***

Novel terbaru Kang Abik ini tergolong novel yang sederhana dan religius serta punya kekuatan memikat hati pembaca: seakan-akan pembaca menjadi tokoh di dalamnya. Tentunya semua itu tak lepas dari keseriusan, ketelitian, dan kemahiran Kang Abik dalam dunia kepenulisan. Pergulatan tokoh: sejarah tokoh Badiuzzaman dan warna-warni percintaan Fahmi dan Nuzula, sedikitpun tak mengurangi khas kepenulisan Kang Abik.[]

Annuqayah, 7 Oktober 2015  

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...