Tuesday, June 30, 2015

Hingga Jadi Motivator...



Di pagi hari udara terasa dingin menyentuh kulit. Sinar matahari terbit tak setinggi ujung tombak. Waktu shalat Dhuha tak kentara atas isyarat sinar samsu di ujung tombak. Duduk sembari edarkan pandangan ke halaman rumah bikin kondisi semakin tambah fresh. Sentuhan pemandangan yang sederhana disertai ayam-ayam yang bertengger dan berebutan mematuk makanan, terasa indah, hingga menyadarkan akan nikmatNya yang tak terhitung kuantitasnya. Hewan-hewan penuh gairah mencari rizki Tuhan. Manusia pun begitu. Dari pagi hari hingga menjelang malam, makhluk ghira aqlin dapat nikmati alam di sekitar halaman rumah saja. Di malam hari mereka berdiam diri di kandang.

Pagi itu waktu terakhir liburan pondok, Maulid Nabi. Segala aktivitas: ngobrol di ponsel atau Facebook, sulit dijumpai kembali. Bisanya, hanya mengenang segala aktivitas yang telah berlalu di hari libur itu dengan cerita bersama, atau ditulis di buku harian. Hari itu menjadi momen terindah bagi santri. Kebahagian benar-benar dirasakan, tak dapat ditukar dengan berlian. Hal ini tak lepas dari banyaknya santri yang pulang berlibur. Mungkin, segelintir santri yang berdiam di pondok karena beberapa alasan. Misal, rumah yang berjauhan dari pondok, hingga menghabiskan biaya transportasi yang melonjak jika dipaksakan pulang; mendapat sanksi di pondok; jadi pembantu kiai di dhalem; dan lain sebagainya.

Seperti biasanya. Kembali ke pondok pakai mobil rombongan. Mobil khusus, milik seorang sopir famous sekitar desaku. Banyak orang memanggil Matsalim. Karena mobil khusus, setiap akan kembali mobil itu selalu jemput ke rumah santri yang hendak kembali, kecuali yang tidak ingin ikut. Dipikir-pikir, enak, tak perlu repot-repot nunggu taksi di pinggir jalan. Menunggu disertai isyarat jeritan klakson atau tanya lewat ponsel, enough.

Tak hanya santri putra, santri putri pun ikut di dalamnya. Toh, segitu kayaknya, setahuku, tak ada santri yang neko-neko. Sadar, mereka santri yang diharuskan berakhlakul karimah.

Mobil itu sering berangkat awal, selambat-lambatnya jam 13.00. Awal kali, sering aku tanggapi negatif, “Kok tidak berangkat usai shalat Ashar saja? Kan lebih baik? Apalagi batas akhir kembali ke kiai, usai shalat Subuh?” Tapi, setelah tahu alasannya, diam membungkam mulutku. Anggukan kepala isyarat menyetujui. Hal itu untuk menjaga keterlambatan sampai di pondok bagi santri putri PPA. Lubri, hingga azan Asyar dikumandangkan. Setelah itu, mereka akan dikenahi sanksi: ngaji atau menghafal Al-Qur’an.

Wuih, aku baru sadar. Aku sedang mengandai keberangkatanku ke pondok nanti. Tak dikira jam....

Jam 7 aku masih tetap dalam dekapan ponsel. Seingatku, bukan aku yang manggil, tapi Naila. sebelum panggilan itu received. Benak meyakini pagi ini sudah call. Sedikit-banyak ada hal yang perlu disampaikan. Meneruskan obrolan tadi malamnya? Pasalnya, obrolan belum finis pulsa habis dan baterai low. Keasyikan ngobrol sana-sini, tak sempat cek kondisi ponsel. Sedang baik-baik? Atau gawat? Hem, bigitulah dua orang yang baru saja berjumpa atau nyambung, segala hal yang berlalu ingin diceritakan atau dicurhatkan sepenuhnya tanpa terkecuali.

Padahal, poin-poin penting, masih ada yang belum tersampaikan. Luckily, ada temanku yang mulai tadi duduk tak terlalu jauh dari arahku. Dia tidak disibukkan dengan otak-atik ponsel. Matanya terbelalak di depan monitor yang sedang nyala. Tak sempat ngurus sedang ngelakuin apa. Bisa jadi, cari lagu atau playing game. Dia appear asyik. Sepertinya, tak dapat diganggu. Kemungkinan, ponsel yang sedang tergeletak dekat tangan kanan yang sedang geser mouse, masih full baterainya, apalagi tadi dia bilang daftar paket gratis: Serbu.

“Eh, hp-mu masih full beterinya?” ucapku menghentikan fokus tatapan dan pikiran ke layar monitor.

Sekedar menggangguk, tanpa respons sedikit pun. Fokusnya tak dapat diganggu. Hanya saja ponsel disodorkan padaku. Sip, aku kirim SMS untuk suruh nelepon ke nomor ponsel milik temanku. Tak lama, panggilan berkedip-kedip di layar ponsel. Diangkat, ternyata panggilan dari Naila. Al-Hamdulillah. Tuhan masih merestui kita meneruskan obrolan yang masih belum finis.

Di ponsel yang baru masih tetap asyik. Kata-kata alay terus muntah. Dia terkekeh-kekeh. Terus, dia cerita kalau dia akan meneruskan kuliahnya di luar PPA. Annuqayah. Sebetulnya, hal ini sudah hinggap di telingaku jauh hari sebelumnya lewat cerita yang sempat aku nguping. Entah tak tahu, hatiku tidak menerima atas kepergiannya dari pulau Madura. Aku sendiri tidak mengerti memahami perasaan yang kian aneh. Apa kaitan antara aku dan dia? Kan keputusan dia sendiri, dia pilih kehendaknya? Mumetttt.... Seharusnya, aku merelakan karena itu keputusannya sendiri. Itu semua tak lepas dari dorongan nurani bahwa di luar sana adalah yang terbaik untuk dirinya untuk menggapai cita-cita yang kian menembus langit. “Kok tidak di IKSTIKA saja?” usulku memotong ceritanya.

“Kamu apanya Instika? Kok sampai promosi kayak gitu.” Sanggahnya dingin.

About her, hanya sekedar tahu, masih belum lihat dia secara langsung. Vis a vis. Pernah, lihat-lihat foto profil Facebooknya dan beberapa album fotonya yang bertandang di jejaring sosial itu. Sekilas, aku dapat simpulkan orangnya pretty dan manis. Sampai aku berani ngomong blak-blakan, “Aku sudah tahu kamu.”

“Terus, lewat apa?” potongnya.

“Lihat di album foto fb-mu. Di sana, ada fotomu yang beserta teman-teman sekolahmu, MA 1 Annuqayah, kan?”

“Tak adil Mister,” responsnya dengan sebutan Mister.

Sebab, aku tau dia, sedang dia belum tau aku, my face. Tampan? Atau jelek? Hehehe.... Akhirnya, aku promosi lewat tawaran. “Ade’ ingin tau fotoku juga?”

“Iya Mister.” Ia respons positif.

“Tapi, aku takut.... Fotonya jelek!”

“Tak baik bilang gitu. Bilang saja kalo foto Mister ganteng.”

“Ya, ganteng.”

“Nah, gitu.”

“Insya Allah foto itu akan kukirimkan ke Ulfah.”

“Terserah Abang,” ucapnya campur kadang bilang ‘Mister’ atau ‘Abang’.

“Karena Abang sudah terlanjur kenal sama aku, aku ingin Abang tetap semangat, tak boleh nakal, dan semangat mengembangkan bahasa Inggris.”

Tetap semangat. Ia ucapkan dengan penuh semangat. Artinya, tak boleh lembek. Jangan mudah menyerah. optimis. Ia ingin aku (dan dia) menggapai sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan. Get what we want. Ia meyakini bahwa salah satu langkah yang paling penting adalah membangun jiwa semangat dalam berikhtiar. Segala rasa capek, lesu, atau malas, bukanlah alasan yang tepat. Mungkin, tapi sulit, kesuksesan digapai tanpa didasari rasa semangat. Bukankah kesemangatan menjadi awal gapai kesuksesan?

Diketahui ia English lover. Banyak cerita dari teman-teman kalau Naila adalah mantan ketua English Club (EC) Lubri. Dengan asrama yang dihuni beberapa santri putri, selain mengakarnya ikatan pertemanan, cinta bahasa Inggris pun mem-backing-i. Ia seakan-akan telah temukan ‘semangat’ hanya dengan bahasa asing ini. Sepintas itu tergambar dari pesan yang disampaikan. Semua ucapan tak jauh dari isi hatinya. Hati sebagai inti dari segala gerak nafas hambaNya membenarkan dan menanamkan di dalam jiwanya bahwa English for her is the best. Keterpisahannya, misalkan, bagai disayat pisau tajam. Bisa jadi tetesan air mata meleleh. English becomes her life. No life without it.

Kagum. Multi-lesson penting. Tapi, jauh lebih berarti fokus satu pelajaran dengan pendalaman amat dari pada tahu (tidak menguasai) pelajaran secara mendasar. Biasanya tahu yang mendalam ini akan satisfy dari pada multi-lesson yang tak sampai pada pemahaman secara mengakar. Guruku bapak Tibyanto berujar pula dengan kalimat yang sama. Karena, terasa gamang tahu pelajaran tapi tidak didalami. Kesannya kurang dalam pandangan orang lain. Perasaan ragu akan membenarkan kemampuan orang tersebut sulit tersentuh di benak seseorang. Ia (Naila), satahuku, kelihatan fokus pada satu pelajaran ini. Toh, pelajaran yang lain dikaji pula. Tapi, tak sampai di hati terdalam. Sekedar tahu saja. Apalagi, prestasi di sekolahnya, banyak dijumpai dalam bidang bahasa Inggris, seperti speech atau debating. What a great girl!

Dia memang lebih muda secara usia. Tapi, secara kemampuan pun dalam menatap masa depan jauh lebih awal dibandingkan aku. Tak apa-apa, menyimak sugesti dari orang yang junior. Bagiku, salama sugesti itu baik, jangan ditolak. Karena yang diinginkan bukan usia atau orangnya tapi ma qala. Apa yang dikatakan. Baik? Sesat? Bermakna? Omong kosong? Jika sugesti itu dibangun atas dasar positif untuk raih prestasi in the future, sungguh merugi membiarkan sugesti itu terlantar jadi santapan cacing tanah atau hilang terhembus angin kencang. Ambil dan tanamkan di dalam diri kita agar tak pernah mengeluh saat berikhtiar.

Terus, la tahzan’ sugesti yang berarti ‘jangan khawatir’ benar-benar semakna dengan fighting yang selalu disisipkan dalam pesan semangatnya. “Fighting Abang.”

Pesan semangat menjamah sekujur tubuh. Melepaskannya sungguh lafi khusrin. Orang yang merugi. Hidup yang dilalui tak lepas dari pikatan waktu. HambaNya sedang berada pada present (waktu sekarang). Mereka nilai dan kenang past (waktu  lampau), untuk menyongsong future (waktu mendatang) yang cerah.

Suka menyia-nyiakan waktu berarti tidak ngerti akan sumpah Tuhan ‘wal ashri’ (demi waktu). Sumpah yang didokumentasikan dalam kitabNya seharusnya mendapat respons positif untuk direnungkan. Membaca sepintas sulit akan merengkuh makna yang sebenarnya Ia maksud. Ditafsiri, dipikir-pikir adalah langkah terbaik.

Aku (dan dia), diyakini, memiliki mimpi (cita-cita) yang tinggi. Tak kalah dengan tingginya langit. Mimpi yang ditanam atau ditulis di biodata buku harian menjadi doa yang tak henti-henti dimunajatkan. Mimpi happen karena ikhtiar yang kontinu (istiqamah) serta dorongan semangat seperti pesan di muka. Kadang, waktu tidak menentukan semangat yang membumi, hingga hilang tak dikira. Berubahlah menjadi malas dan pesimis. Di saat-saat keterpurukan ini alias masa buram diperlukan seorang motivator untuk menumbuhkan semangat yang kelihatan mati suri. Insya Allah, motivasi akan memberikan sumbangsih. Bisa saja motivasi diperoleh dari teman, kekasih, orang tua, guru, atau buku-buku bacaan. Mereka, bagiku, jangan dinafikan. Buat semua itu menjadi backing untuk selalu memantau langkah dan gerak kita.

“Terus, pesan untukku?” Bergantian jadi motivator. Tadi, motivatornya dia sendiri, sekarang tinggal aku seorang. Dimintalah beberapa pesan semangat dariku. Aku kebingungan. Pesan apa yang akan aku sampaikan. Aku takut sok menggurui atau sok tahu. Sedangkan, aku sendiri yang perlu menjadi objek, bukan menjadi subjek. Akhirnya, aku sampaikan beberapa pesan.

“Semangat belajar dan jangan melangar.” Itu saja yang aku ucapkan. Aku pikir itu sudah cukup. Tapi, ia respons dengan nada sinis, “Hanya itu?” Dengar respons yang kurang memuaskan, pikiranku menerawang tambah jauh. Kepala mendongak. Dilihatlah langit yang terhampar lebar. Searching ide untuk tumbuhkan imajinasi.

Dua kalimat yang aku sampaikan tadi kurang memberikan suntikan. Mungkin, dua kalimat itu sudah biasa atau terlalu sering dia dengar. Bisa jadi, ia sering dengar dari teman pondok atau Aba dan Uminya, “Nak, rajinlah belajar ya. Hormatilah gurumu.” Pesanku sudah terkesan copy-paste. Tak menarik lagi.

Tapi, tak kenapa. Kucoba cari pesan unik. Toh, pesan yang satu ini aku dengar dari guruku, bapak Mistarum. “Jangan menyakiti hati orang lain.” Kalimat imperatif ini akhirnya disampaikan. Ia terdiam. Aku jelaskan, bahwa apa artinya kepintaran, dan kekuasaan, jika selalu menyusahkan banyak orang. Orang yang ada di sekitar merintih dan terkapar karena ulah tangan kita sendiri. Kebanggaan itu tidak ada artinya.

Membuat banyak orang senang, tidak merasa tersakiti, dan tentram berada di sisinya, adalah jembatan menjadi hero. Mengamalkan pesan ini berarti mengambarkan bahwa diri kita adalah manusia yang harus tebarkan kasih sayang terhadap seluruh alam (rahmatan lil alamin). Dalam dunia kecerdasan, mereka cerdas secara emosional (emotional quotient).

Kita boleh cerdas secara intelektual (intelectual quotient), tapi jangan lupakan kecerdasan emosional ini. Bukankah kecerdasan intelektual berada pada level teredah dibandingkan dari dari dua kecerdasan berikutnya: kecerdasan emosional  dan kecerdasan spiritual. Ia terdiam seketika mendengar pesan itu.

Sebenarnya, pesan itu disampaikan tak jauh dari rasa sakit hati yang pernah menjamahku karena putus cinta. Aku tidak ingin rasa sakit ini terulang kembali. Inginnya, rasa sakit itu cukup sampai pada saat itu. Karena, sakitnya sulit terobati. Sulit temukan dokternya. Sebab, yang sakit dari segala organ tubuh, yaitu hati. Beda hal, sakit kepala, sakit perut, atau sakit gigi. Sakitnya hanya menjamah pada bagian organ sepihak saja, tak merambah ke orga-organ yang lain.

“Semoga orang perempuan ini menjadi penyejuk hati yang sedang kalut.”

Berlarut-larut dalam obrolan. Panggilan diakhiri.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...