Di pagi hari udara terasa dingin menyentuh kulit. Sinar matahari terbit
tak setinggi ujung tombak. Waktu shalat Dhuha tak kentara atas isyarat sinar
samsu di ujung tombak. Duduk sembari edarkan pandangan ke halaman rumah bikin
kondisi semakin tambah fresh. Sentuhan pemandangan yang sederhana
disertai ayam-ayam yang bertengger dan berebutan mematuk makanan, terasa indah,
hingga menyadarkan akan nikmatNya yang tak terhitung kuantitasnya. Hewan-hewan
penuh gairah mencari rizki Tuhan. Manusia pun begitu. Dari pagi hari hingga
menjelang malam, makhluk ghira aqlin dapat nikmati alam di sekitar
halaman rumah saja. Di malam hari mereka berdiam diri di kandang.
Pagi itu waktu terakhir liburan pondok, Maulid Nabi. Segala
aktivitas: ngobrol di ponsel atau Facebook, sulit dijumpai kembali. Bisanya,
hanya mengenang segala aktivitas yang telah berlalu di hari libur itu dengan
cerita bersama, atau ditulis di buku harian. Hari itu menjadi momen terindah
bagi santri. Kebahagian benar-benar dirasakan, tak dapat ditukar dengan
berlian. Hal ini tak lepas dari banyaknya santri yang pulang berlibur. Mungkin,
segelintir santri yang berdiam di pondok karena beberapa alasan. Misal, rumah
yang berjauhan dari pondok, hingga menghabiskan biaya transportasi yang
melonjak jika dipaksakan pulang; mendapat sanksi di pondok; jadi pembantu kiai
di dhalem; dan lain sebagainya.
Seperti biasanya. Kembali ke pondok pakai mobil rombongan. Mobil khusus,
milik seorang sopir famous sekitar desaku. Banyak orang memanggil
Matsalim. Karena mobil khusus, setiap akan kembali mobil itu selalu jemput ke
rumah santri yang hendak kembali, kecuali yang tidak ingin ikut. Dipikir-pikir,
enak, tak perlu repot-repot nunggu taksi di pinggir jalan. Menunggu disertai
isyarat jeritan klakson atau tanya lewat ponsel, enough.
Tak hanya santri putra, santri putri pun ikut di dalamnya. Toh, segitu
kayaknya, setahuku, tak ada santri yang neko-neko. Sadar, mereka santri yang
diharuskan berakhlakul karimah.
Mobil itu sering berangkat awal, selambat-lambatnya jam 13.00. Awal kali,
sering aku tanggapi negatif, “Kok tidak berangkat usai shalat Ashar saja? Kan
lebih baik? Apalagi batas akhir kembali ke kiai, usai shalat Subuh?” Tapi, setelah tahu
alasannya, diam membungkam mulutku. Anggukan kepala isyarat menyetujui. Hal itu
untuk menjaga keterlambatan sampai di pondok bagi santri putri PPA. Lubri,
hingga azan Asyar dikumandangkan. Setelah itu, mereka akan dikenahi sanksi:
ngaji atau menghafal Al-Qur’an.
Wuih, aku baru sadar. Aku sedang mengandai keberangkatanku ke pondok
nanti. Tak dikira jam....
Jam 7 aku masih tetap dalam dekapan ponsel. Seingatku, bukan aku yang
manggil, tapi Naila. sebelum panggilan itu received. Benak meyakini pagi
ini sudah call. Sedikit-banyak ada hal yang perlu disampaikan.
Meneruskan obrolan tadi malamnya? Pasalnya, obrolan belum finis pulsa habis dan
baterai low. Keasyikan ngobrol sana-sini, tak sempat cek kondisi ponsel.
Sedang baik-baik? Atau gawat? Hem, bigitulah dua orang yang baru saja berjumpa
atau nyambung, segala hal yang berlalu ingin diceritakan atau dicurhatkan
sepenuhnya tanpa terkecuali.
Padahal, poin-poin penting, masih ada yang belum tersampaikan. Luckily,
ada temanku yang mulai tadi duduk tak terlalu jauh dari arahku. Dia tidak
disibukkan dengan otak-atik ponsel. Matanya terbelalak di depan monitor yang sedang nyala. Tak sempat ngurus
sedang ngelakuin apa. Bisa jadi, cari lagu atau playing game. Dia appear
asyik. Sepertinya, tak dapat diganggu. Kemungkinan, ponsel yang
sedang tergeletak dekat tangan kanan yang sedang geser mouse, masih full
baterainya, apalagi tadi dia bilang daftar paket gratis: Serbu.
“Eh, hp-mu masih full beterinya?” ucapku menghentikan fokus tatapan
dan pikiran ke layar monitor.
Sekedar menggangguk, tanpa respons sedikit pun. Fokusnya tak dapat
diganggu. Hanya saja ponsel disodorkan padaku. Sip, aku kirim SMS untuk suruh
nelepon ke nomor ponsel milik temanku. Tak lama, panggilan
berkedip-kedip di layar ponsel. Diangkat, ternyata panggilan dari Naila. Al-Hamdulillah.
Tuhan masih merestui kita meneruskan obrolan yang masih belum finis.
Di ponsel yang baru masih tetap asyik. Kata-kata alay terus muntah. Dia
terkekeh-kekeh. Terus, dia cerita kalau dia akan meneruskan kuliahnya di luar
PPA. Annuqayah. Sebetulnya, hal ini sudah hinggap di telingaku jauh
hari sebelumnya lewat cerita yang sempat aku “nguping”. Entah tak tahu, hatiku tidak menerima atas kepergiannya
dari pulau Madura. Aku sendiri tidak mengerti memahami perasaan yang kian aneh.
Apa kaitan antara aku dan dia? Kan keputusan dia sendiri, dia pilih
kehendaknya? Mumetttt.... Seharusnya, aku merelakan karena itu keputusannya
sendiri. Itu semua tak lepas dari dorongan nurani bahwa di luar sana adalah
yang terbaik untuk dirinya untuk menggapai cita-cita yang kian menembus langit.
“Kok tidak di IKSTIKA saja?” usulku memotong ceritanya.
“Kamu apanya Instika? Kok sampai promosi kayak gitu.” Sanggahnya dingin.
About her, hanya sekedar
tahu, masih belum lihat dia secara langsung. Vis a vis. Pernah,
lihat-lihat foto profil Facebooknya dan beberapa album fotonya yang bertandang
di jejaring sosial itu. Sekilas, aku dapat simpulkan orangnya pretty
dan manis. Sampai aku berani ngomong blak-blakan, “Aku sudah tahu kamu.”
“Terus, lewat apa?” potongnya.
“Lihat di album foto fb-mu. Di sana, ada fotomu yang beserta teman-teman sekolahmu, MA 1 Annuqayah, kan?”
“Tak adil Mister,” responsnya dengan sebutan Mister.
Sebab, aku tau dia, sedang dia belum tau aku, my face. Tampan? Atau
jelek? Hehehe.... Akhirnya, aku promosi lewat tawaran. “Ade’ ingin tau fotoku
juga?”
“Iya Mister.” Ia respons positif.
“Tapi, aku takut.... Fotonya jelek!”
“Tak baik bilang gitu. Bilang saja kalo foto Mister ganteng.”
“Ya, ganteng.”
“Nah, gitu.”
“Insya Allah foto itu akan kukirimkan ke Ulfah.”
“Terserah Abang,” ucapnya campur kadang bilang ‘Mister’ atau ‘Abang’.
“Karena Abang sudah terlanjur kenal sama aku, aku ingin Abang tetap
semangat, tak boleh nakal, dan semangat mengembangkan bahasa Inggris.”
Tetap semangat. Ia ucapkan dengan penuh semangat. Artinya, tak boleh
lembek. Jangan mudah menyerah. optimis. Ia ingin aku (dan dia) menggapai
sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan. Get what we want. Ia
meyakini bahwa salah satu langkah yang paling penting adalah membangun jiwa
semangat dalam berikhtiar. Segala rasa capek, lesu, atau malas, bukanlah
alasan yang tepat. Mungkin, tapi sulit, kesuksesan digapai tanpa didasari rasa
semangat. Bukankah kesemangatan menjadi awal gapai kesuksesan?
Diketahui ia English lover. Banyak cerita dari teman-teman kalau
Naila adalah mantan ketua English Club (EC) Lubri. Dengan asrama yang dihuni
beberapa santri putri, selain mengakarnya ikatan pertemanan, cinta bahasa
Inggris pun mem-backing-i. Ia seakan-akan telah temukan ‘semangat’ hanya
dengan bahasa asing ini. Sepintas itu tergambar dari pesan yang disampaikan.
Semua ucapan tak jauh dari isi hatinya. Hati sebagai inti dari segala gerak
nafas hambaNya membenarkan dan menanamkan di dalam jiwanya bahwa English for her
is the best. Keterpisahannya, misalkan, bagai disayat pisau tajam. Bisa
jadi tetesan air mata meleleh. English becomes her life. No life without it.
Kagum. Multi-lesson penting. Tapi, jauh lebih berarti fokus satu
pelajaran dengan pendalaman amat dari pada tahu (tidak menguasai) pelajaran
secara mendasar. Biasanya tahu yang mendalam ini akan satisfy dari pada
multi-lesson yang tak sampai pada pemahaman secara mengakar. Guruku
bapak Tibyanto berujar pula dengan kalimat yang sama. Karena, terasa gamang
tahu pelajaran tapi tidak didalami. Kesannya kurang dalam pandangan orang lain.
Perasaan ragu akan membenarkan kemampuan orang tersebut sulit tersentuh di
benak seseorang. Ia (Naila), satahuku, kelihatan fokus pada satu pelajaran ini.
Toh, pelajaran yang lain dikaji pula. Tapi, tak sampai di hati terdalam.
Sekedar tahu saja. Apalagi, prestasi di sekolahnya, banyak dijumpai dalam
bidang bahasa Inggris, seperti speech atau debating. What a
great girl!
Dia memang lebih muda secara usia. Tapi, secara kemampuan pun dalam
menatap masa depan jauh lebih awal dibandingkan aku. Tak apa-apa, menyimak
sugesti dari orang yang junior. Bagiku, salama sugesti itu baik, jangan
ditolak. Karena yang diinginkan bukan usia atau orangnya tapi ma qala. Apa
yang dikatakan. Baik? Sesat? Bermakna? Omong kosong? Jika sugesti itu dibangun
atas dasar positif untuk raih prestasi in the future, sungguh merugi
membiarkan sugesti itu terlantar jadi santapan cacing tanah atau hilang
terhembus angin kencang. Ambil dan tanamkan di dalam diri kita agar tak pernah
mengeluh saat berikhtiar.
Terus, ‘la tahzan’ sugesti yang berarti ‘jangan khawatir’
benar-benar semakna dengan fighting yang selalu disisipkan dalam pesan
semangatnya. “Fighting Abang.”
Pesan semangat menjamah sekujur tubuh. Melepaskannya sungguh lafi
khusrin. Orang yang merugi. Hidup yang dilalui tak lepas dari pikatan
waktu. HambaNya sedang berada pada present (waktu sekarang). Mereka
nilai dan kenang past (waktu
lampau), untuk menyongsong future (waktu mendatang) yang cerah.
Suka menyia-nyiakan waktu berarti tidak ngerti akan sumpah Tuhan ‘wal
ashri’ (demi waktu). Sumpah yang didokumentasikan dalam kitabNya seharusnya
mendapat respons positif untuk direnungkan. Membaca sepintas sulit akan
merengkuh makna yang sebenarnya Ia maksud. Ditafsiri, dipikir-pikir adalah
langkah terbaik.
Aku (dan dia), diyakini, memiliki mimpi (cita-cita) yang tinggi. Tak kalah
dengan tingginya langit. Mimpi yang ditanam atau ditulis di biodata buku harian
menjadi doa yang tak henti-henti dimunajatkan. Mimpi happen karena
ikhtiar yang kontinu (istiqamah) serta dorongan semangat seperti
pesan di muka. Kadang, waktu tidak menentukan semangat yang membumi, hingga
hilang tak dikira. Berubahlah menjadi malas dan pesimis. Di saat-saat
keterpurukan ini alias masa buram diperlukan seorang motivator untuk
menumbuhkan semangat yang kelihatan mati suri. Insya Allah, motivasi
akan memberikan sumbangsih. Bisa saja motivasi diperoleh dari teman, kekasih,
orang tua, guru, atau buku-buku bacaan. Mereka, bagiku, jangan dinafikan. Buat
semua itu menjadi backing untuk selalu memantau langkah dan gerak kita.
“Terus, pesan untukku?” Bergantian jadi motivator. Tadi, motivatornya dia
sendiri, sekarang tinggal aku seorang. Dimintalah beberapa pesan semangat
dariku. Aku kebingungan. Pesan apa yang akan aku sampaikan. Aku takut sok menggurui
atau sok tahu. Sedangkan, aku sendiri yang perlu menjadi objek, bukan
menjadi subjek. Akhirnya, aku sampaikan beberapa pesan.
“Semangat belajar dan jangan melangar.” Itu saja yang aku ucapkan. Aku
pikir itu sudah cukup. Tapi, ia respons dengan nada sinis, “Hanya itu?” Dengar
respons yang kurang memuaskan, pikiranku menerawang tambah jauh. Kepala
mendongak. Dilihatlah langit yang terhampar lebar. Searching ide untuk
tumbuhkan imajinasi.
Dua kalimat yang aku sampaikan tadi kurang memberikan suntikan. Mungkin,
dua kalimat itu sudah biasa atau terlalu sering dia dengar. Bisa jadi, ia
sering dengar dari teman pondok atau Aba dan Uminya, “Nak, rajinlah belajar ya.
Hormatilah gurumu.” Pesanku sudah terkesan copy-paste. Tak menarik lagi.
Tapi, tak kenapa. Kucoba cari pesan unik. Toh, pesan yang satu ini aku
dengar dari guruku, bapak Mistarum. “Jangan menyakiti hati orang lain.” Kalimat
imperatif ini akhirnya disampaikan. Ia terdiam. Aku jelaskan, bahwa apa artinya
kepintaran, dan kekuasaan, jika selalu menyusahkan banyak orang. Orang yang ada
di sekitar merintih dan terkapar karena ulah tangan kita sendiri. Kebanggaan
itu tidak ada artinya.
Membuat banyak orang senang, tidak merasa tersakiti, dan tentram berada di
sisinya, adalah jembatan menjadi hero. Mengamalkan pesan ini berarti
mengambarkan bahwa diri kita adalah manusia yang harus tebarkan kasih sayang
terhadap seluruh alam (rahmatan lil alamin). Dalam dunia kecerdasan,
mereka cerdas secara emosional (emotional quotient).
Kita boleh cerdas secara intelektual (intelectual quotient), tapi
jangan lupakan kecerdasan emosional ini. Bukankah kecerdasan intelektual berada
pada level teredah dibandingkan dari dari dua kecerdasan berikutnya: kecerdasan
emosional dan kecerdasan spiritual. Ia
terdiam seketika mendengar pesan itu.
Sebenarnya, pesan itu disampaikan tak jauh dari rasa sakit hati yang
pernah menjamahku karena putus cinta. Aku tidak ingin rasa sakit ini terulang
kembali. Inginnya, rasa sakit itu cukup sampai pada saat itu. Karena, sakitnya
sulit terobati. Sulit temukan dokternya. Sebab, yang sakit dari segala organ
tubuh, yaitu hati. Beda hal, sakit kepala, sakit perut, atau sakit gigi.
Sakitnya hanya menjamah pada bagian organ sepihak saja, tak merambah ke
orga-organ yang lain.
“Semoga orang perempuan ini menjadi penyejuk hati yang sedang kalut.”
Berlarut-larut dalam obrolan. Panggilan diakhiri.[]
No comments:
Post a Comment