Kira-kira
jam 22:00 saya baru sampai di PP. Tebuireng Jombang, pesantren yang didirikan
oleh KH. M. Hasyim Asy’ari—pahlawan Nasional Indonesia dan the founding father Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi besar
yang sampai sekarang semakin berkembang—setelah berangkat dari Ambunten,
Sumenep, Madura kira-kira jam 14:00-an. Tak pelak, badan terasa cepek, rasa
ngantuk tak dapat ditepis, apalagi ditambah denyut sakit kepala yang mematuk-matuk
tiada henti, sehingga semua itu mendorong saya “tidur” di beranda masjid dengan
bersilimut sarung. Dingin!
Jauh
sebelum saya berangkat ke Tebuireng, keinginan mengetahui dan belajar di sana
selalu memompa ghirah saya dari hari ke hari. Akhirnya, Tuhan menjawab doa dan
niat positif hamba-Nya; saya ditakdirkan berangkat ke pondok pesantren itu guna
mengikuti hataman kitab Shahih
Bukhari. Keputusan yang bulat ini timbul tak hanya dari kata hati nurani saya
dan dorongan kedua orang tua, melainkan support
Kiai Fikri—panggilan K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I—pengasuh PP. Annuqayah
daerah Lubangsa. Saya sebaiknya memilih
ikut hataman kitab Shahih Bukhari di Tebuireng Jombang dari pada melalui dua
pilihan yang sempat membikin ambigu untuk menentukan yaitu “ngaji” Al-Qur’an
pada Kiai Fikri dan ikut kursus bahasa Mandarin di Kampong Pare Kediri. Selain
keberangkatan saya mendapat ilmu, saya juga mendapat pengalaman yang baru.
Yang
membikin saya bertanya-tanya tentang PP. Tebuireng Jombang adalah penjelasan Kiai
Mamak—panggilan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum, putra Drs. KH. A.
Warits Ilyas, sekarang beliau menjabat kepala Madrasah Aliyah 1 Putra Annuqayah—waktu
menghadiri acara SISKA (Siswa Kelas Akhir) MA 1 Annuqayah Putra Tahun Pelajaran
2014-2015 di aula yang disertai dialog interaktif yang membahas tentang
Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal dengan sebutan ASWAJA, bahwa apa yang
diajarkan Abah beliau, termasuk bacaan-bacaan tahlil—seperti subhana Allah wa bihamdih—merupakan
representasi dari guru-guru beliau saat nyanti di Tebuireng tempo dulu, kemudian
diajarkan kepada santri-santri Annuqayah, khususnya daerah Lubangsa. Misalkan, di Tebuireng tidak ada acara hawul
KH. Hasyim Asy’ari, begitu pula di Annuqayah tidak dilaksanakan acara hawul KH.
Moh. As’sarqawi dan para kiai lainnya. Hanya saja perayaan kecil di
“dhalem.”
Saya
sebagai moderator dengan pembicara K. Zainurrahman Hammam, pengasuh PP.
Al-Mukri Parenduan Sumenep, saat itu bertanya-tanya, “Seperti apa sih Tebuireng itu?” Tak dapat diragukan lagi jejak kiai-kiai Annuqayah dalam mendirikan
pesantren di pulau Madura. Jejak beliau bukanlah sesuatu yang “dibuat-dibuat”
untuk menipu sesama, tetapi jejak yang ditopang dengan “sanad” yang jelas dari
guru beliau, gurunya beliau, guru gurunya beliau sampai nyambung kepada Nabi
Muhammad saw. Subhanallah!
Keterikatan
sanad yang jelas akan melahirkan output yang
dapat dipertanggungjawabkan—dalam bahasa hadis termasuk shahih—dan menjadi deferensia dengan murid Mbah Google. Jamak kita ketahui murid Mbah Google hanya saja
berkutat pada tombol komputer kemudian search
apa saja sesuai selera kita masing melalui google di internet. Cukup.
Mayoritas hasil search bukanlah ilmu
yang benar—tak dapat dipertanggungjawabkan—berdasarkan standarisasi Al-Qur’an
dan hadits, melainkan opini semata tanpa disertakan sandaran atau rujukan yang
jelas. Jika manusia dari hari ke hari disodori ilmu yang seperti ini, maka mereka
akan kering dari cucuran barakah sebagai investasi masa depan mereka dan
keterikatan emosional dan spiritual antar guru dan murid. Andai saja zaman kini
telah memoja google habis-habisan,
tentu tak ada bedanya belajar dengan berguru dan belajar otodidak. Ilmu memang
didapat, tapi keberkahannya yang membedakan. Sebab, guru selalu mendoakan
muridnya menjadi orang yang sukses, terus bagaimana dengan Mbah Google? Apakah Mbah
Google selalu mendoakan kita?
Di
Tebuireng saya berusaha menjadi aktivis sekalipun saya masih belum tahu kriteria
menjadi aktivis serta langkah-langkahnya. Saya mencoba memperhatikan mulai surat-surat
Al-Qur’an yang dibaca pada waktu Shalat Maghrib, Shalat Isya’, dan Shalat Subuh
karena ketiga bacaan shalat ini dinyaringkan; surat-surat Al-Qur’an dalam
Shalat Tarawih; bacaan tahlil; doa-doa setalah shalat fardu; cara santri beretika dengan sesama temannya dan
gurunya; dan kegiatan menanak. Ternyata semua itu tidak persis dengan yang dipraktekkan
di Annuqayah, khususnya PPA. Lubangsa. “Eh,
kok beda?!” begitulah ungkapan rasa kaget saya.
Di
Annuqayah bacaan surat Al-Qur’an di dalam Shalat Maghrib untuk rakaat pertama
adalah al-Kafirun, sedangkan untuk rakaat kedua adalah Al-Ikhlas; bacaan dalam
Shalat Isya’ untuk rakaat pertama adalah al-Tin, sedangkan rakaat kedua adalah
al-Qadr; dan bacaan untuk Shalat Subuh adalah al-Syarh, sedangkan untuk rakaat
kedua adalah al-Fiil.
Selain
itu, cara beretika santri dengan kiai di Annuqayah jauh lebih ketat. Santri
selalu menundukkan kepala sambil meletakkan kedua telapak tangan di bawah perut
tanpa bicara. Dan, di Annuqayah santri bisa masak nasi sendiri atau beli
kecuali indekos. Saya sadari perbedaan etika murid tak lepas dari situasi dan
kondisi—meminjam bahasa Syeikh Habib Ahmad, qari’
kitab Shahih Bukhari di PP.
Tebuireng, termasuk SIKON. Perbedaan tempat akan mempengaruhi terhadap cara
bersikap. Sebab, etika erat kaitannya dengan SIKON itu. Justru akan menjadi
tercelanya mempraktekkan kultur daerah kita di daerah orang lain yang kulturnya
kontras.
Di
PPA. Lubangsa cara tahlil—termasuk cara tawassul—sampai doa-doa setelah shalat
fardu dll telah didokumentasikan dalam buku yang bertajuk A’mal al-Yaum yang disusun oleh Kiai Wafi Nuh. Jadi, santri PPA. Lubangsa, menurut saya, tak perlu repot-repot
beli buku doa-doa lain di pasar atau toko buku. Buku kecil itu cukup dijadikan
pedoman untuk beribadah (habl min allah)
dan mengikat spiritual dengan Nabi Muhammad saw, sahabat, tabi’in, tabi’
tabi’in, ulama, dan guru-guru kita.
Kini
saya masih bertanya-tanya melihat perbedaan antara Annuqayah dan Tebuireng. Karena
baru menyelami suasana perkotaan di Tebuireng selama 15 hari, tentunya tak
cukup saya memberikan konklusi. Tentang perbedaan ini, saya akan diskusikan
dengan Kiai Mamak dan Kiai Fikri. Mohon kesudian panjenengan![]
Congka’, 5 Juli 2015
No comments:
Post a Comment