Monday, July 6, 2015

Melihat Annuqayah dan Tebuireng



Kira-kira jam 22:00 saya baru sampai di PP. Tebuireng Jombang, pesantren yang didirikan oleh KH. M. Hasyim Asy’ari—pahlawan Nasional Indonesia dan the founding father Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi besar yang sampai sekarang semakin berkembang—setelah berangkat dari Ambunten, Sumenep, Madura kira-kira jam 14:00-an. Tak pelak, badan terasa cepek, rasa ngantuk tak dapat ditepis, apalagi ditambah denyut sakit kepala yang mematuk-matuk tiada henti, sehingga semua itu mendorong saya “tidur” di beranda masjid dengan bersilimut sarung. Dingin!

Jauh sebelum saya berangkat ke Tebuireng, keinginan mengetahui dan belajar di sana selalu memompa ghirah saya dari hari ke hari. Akhirnya, Tuhan menjawab doa dan niat positif hamba-Nya; saya ditakdirkan berangkat ke pondok pesantren itu guna mengikuti hataman kitab Shahih Bukhari. Keputusan yang bulat ini timbul tak hanya dari kata hati nurani saya dan dorongan kedua orang tua, melainkan support Kiai Fikri—panggilan K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I—pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Saya sebaiknya memilih ikut hataman kitab Shahih Bukhari di Tebuireng Jombang dari pada melalui dua pilihan yang sempat membikin ambigu untuk menentukan yaitu “ngaji” Al-Qur’an pada Kiai Fikri dan ikut kursus bahasa Mandarin di Kampong Pare Kediri. Selain keberangkatan saya mendapat ilmu, saya juga mendapat pengalaman yang baru.

Yang membikin saya bertanya-tanya tentang PP. Tebuireng Jombang adalah penjelasan Kiai Mamak—panggilan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum, putra Drs. KH. A. Warits Ilyas, sekarang beliau menjabat kepala Madrasah Aliyah 1 Putra Annuqayah—waktu menghadiri acara SISKA (Siswa Kelas Akhir) MA 1 Annuqayah Putra Tahun Pelajaran 2014-2015 di aula yang disertai dialog interaktif yang membahas tentang Ahlussunnah wal Jama’ah yang dikenal dengan sebutan ASWAJA, bahwa apa yang diajarkan Abah beliau, termasuk bacaan-bacaan tahlil—seperti subhana Allah wa bihamdih—merupakan representasi dari guru-guru beliau saat nyanti di Tebuireng tempo dulu, kemudian diajarkan kepada santri-santri Annuqayah, khususnya daerah Lubangsa. Misalkan, di Tebuireng tidak ada acara hawul KH. Hasyim Asy’ari, begitu pula di Annuqayah tidak dilaksanakan acara hawul KH. Moh. As’sarqawi dan para kiai lainnya. Hanya saja perayaan kecil di “dhalem.” 

Saya sebagai moderator dengan pembicara K. Zainurrahman Hammam, pengasuh PP. Al-Mukri Parenduan Sumenep, saat itu bertanya-tanya, “Seperti apa sih Tebuireng itu?” Tak dapat diragukan lagi jejak kiai-kiai Annuqayah dalam mendirikan pesantren di pulau Madura. Jejak beliau bukanlah sesuatu yang “dibuat-dibuat” untuk menipu sesama, tetapi jejak yang ditopang dengan “sanad” yang jelas dari guru beliau, gurunya beliau, guru gurunya beliau sampai nyambung kepada Nabi Muhammad saw. Subhanallah!

Keterikatan sanad yang jelas akan melahirkan output yang dapat dipertanggungjawabkan—dalam bahasa hadis termasuk shahih—dan menjadi deferensia dengan murid Mbah Google. Jamak kita ketahui murid Mbah Google hanya saja berkutat pada tombol komputer kemudian search apa saja sesuai selera kita masing melalui google di internet. Cukup. Mayoritas hasil search bukanlah ilmu yang benar—tak dapat dipertanggungjawabkan—berdasarkan standarisasi Al-Qur’an dan hadits, melainkan opini semata tanpa disertakan sandaran atau rujukan yang jelas. Jika manusia dari hari ke hari disodori ilmu yang seperti ini, maka mereka akan kering dari cucuran barakah sebagai investasi masa depan mereka dan keterikatan emosional dan spiritual antar guru dan murid. Andai saja zaman kini telah memoja google habis-habisan, tentu tak ada bedanya belajar dengan berguru dan belajar otodidak. Ilmu memang didapat, tapi keberkahannya yang membedakan. Sebab, guru selalu mendoakan muridnya menjadi orang yang sukses, terus bagaimana dengan Mbah Google? Apakah Mbah Google selalu mendoakan kita?

Di Tebuireng saya berusaha menjadi aktivis sekalipun saya masih belum tahu kriteria menjadi aktivis serta langkah-langkahnya. Saya mencoba memperhatikan mulai surat-surat Al-Qur’an yang dibaca pada waktu Shalat Maghrib, Shalat Isya’, dan Shalat Subuh karena ketiga bacaan shalat ini dinyaringkan; surat-surat Al-Qur’an dalam Shalat Tarawih; bacaan tahlil; doa-doa setalah shalat fardu; cara santri beretika dengan sesama temannya dan gurunya; dan kegiatan menanak. Ternyata semua itu tidak persis dengan yang dipraktekkan di Annuqayah, khususnya PPA. Lubangsa. “Eh, kok beda?!” begitulah ungkapan rasa kaget saya.

Di Annuqayah bacaan surat Al-Qur’an di dalam Shalat Maghrib untuk rakaat pertama adalah al-Kafirun, sedangkan untuk rakaat kedua adalah Al-Ikhlas; bacaan dalam Shalat Isya’ untuk rakaat pertama adalah al-Tin, sedangkan rakaat kedua adalah al-Qadr; dan bacaan untuk Shalat Subuh adalah al-Syarh, sedangkan untuk rakaat kedua adalah al-Fiil.

Selain itu, cara beretika santri dengan kiai di Annuqayah jauh lebih ketat. Santri selalu menundukkan kepala sambil meletakkan kedua telapak tangan di bawah perut tanpa bicara. Dan, di Annuqayah santri bisa masak nasi sendiri atau beli kecuali indekos. Saya sadari perbedaan etika murid tak lepas dari situasi dan kondisi—meminjam bahasa Syeikh Habib Ahmad, qari’ kitab Shahih Bukhari di PP. Tebuireng, termasuk SIKON. Perbedaan tempat akan mempengaruhi terhadap cara bersikap. Sebab, etika erat kaitannya dengan SIKON itu. Justru akan menjadi tercelanya mempraktekkan kultur daerah kita di daerah orang lain yang kulturnya kontras.

Di PPA.  Lubangsa cara tahlil—termasuk cara tawassul—sampai doa-doa setelah shalat fardu dll telah didokumentasikan dalam buku yang bertajuk A’mal al-Yaum yang disusun oleh Kiai Wafi Nuh. Jadi, santri PPA. Lubangsa, menurut saya, tak perlu repot-repot beli buku doa-doa lain di pasar atau toko buku. Buku kecil itu cukup dijadikan pedoman untuk beribadah (habl min allah) dan mengikat spiritual dengan Nabi Muhammad saw, sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, ulama, dan guru-guru kita.

Kini saya masih bertanya-tanya melihat perbedaan antara Annuqayah dan Tebuireng. Karena baru menyelami suasana perkotaan di Tebuireng selama 15 hari, tentunya tak cukup saya memberikan konklusi. Tentang perbedaan ini, saya akan diskusikan dengan Kiai Mamak dan Kiai Fikri. Mohon kesudian panjenengan![]

Congka’, 5 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...