Friday, July 24, 2015

Idul Fitri; Menuju Hidup Lebih Bermutu



Takbir dikumandangkan dari masjid ke masjid. Letusan petasan mengusik telinga. Wajah ceria nan bahagia. Pakaian serba baru. Parfum menusuk rahang hidung. Segala indera merasa hari raya telah tiba kini hari Kamis tanggal 16 Juli 2015.

Akal bertanya.

Akankah pakaian baru dan bagus mencerminkan lahiriyah seseorang? Apakah mutu pakaian kita menjadi penentu kualitas ideologi dan spiritual seseorang? Dan, apakah lahirnya hari raya kini menjadi lahirnya spirit dan ghirah untuk menyongsong masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering diabaikan seakan-akan sepele dan tak berarti sedikit pun. Coba baca kisah dan jejak hidup pendahulu-pendahulu Anda, dari nabi hingga guru-guru Anda, saat menjelang hari raya.

Dalam sebuah jejak hidup Nabi saw, diceritakan bahwa beliau sangat bersedih saat menjelang hari raya. Karena, keberkahan bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan yang lain telah berakhir.

Jejak beliau terus membekas hingga ulama saat ini, tapi tak semua orang bisa merasakannya. Jamak manusia merasa susah saat menjelang puasa Ramadhan karena hidup seakan-akan tidak berjalan seperti biasa—berpuasa sepanjang hari—sebaliknya mereka lebih kegirangan saat menjelang hari raya. Sungguh berbalik 180 derajat!

Tidak ingin menggurui atau ‘sok’ suci, tulisan ini hadir di hadapan Anda. Tapi, sebagai manusia yang diberi akal sebagai deferensia dari makhluk yang lain dapat disyukuri melalui berfikir. Aktivitas berfikir mampu melahirkan inovasi-inovasi baru.

Anda berfikir kuantitas dan kualitas amal baik Anda selama hidup sebelum hari raya guna mengevaluasi diri dan melangkah lebih baik di masa mendatang. Layak mulut tersenyum dan hati gembira jika kualitas amal baik lebih dari amal buruk. Sebaliknya, kendatipun takbir menyesaki atap perumahan, jika amal buruk yang menguasai hidup Anda, tahanlah kegirangan itu; menangislah dan mintalah ampun kepada Allah swt agar dosa dan salah dapat terhapus di hari yang suci dan agung ini.

Tak ayal, kata maaf—minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir dan batin—disampaikan melalui beraneka macam tipe: oral, telepon, SMS, Facebook, dll. Tak kalah lebainya, sebelum kata maaf itu terlontar, sering sms atau pesan-pesan itu dimulai dengan kata-kata yang beritme puitis.

Kata maaf ini tak pernah berubah dari tahun ke tahun, hanya saja yang diedit kata mutiara sebelum kata maafnya. Pernahkan Anda merenungkan makna lafal minal aidzin wal faizin? Jangan Anda terhanyut dengan kegirangan karena menjelang hari raya terus berpakaian serba bagus dan mahal sehingga lafal itu terlontar dengan ‘enteng’. Yang seperti ini termasuk kesalahan di atas kesalahan.

Minal aidzin wal faizin merupakan isyarat doa Anda menjadi bagian dari orang yang kembali fitrah atau suci (adizin) dan beruntung meraih kesuksesan (faizin), baik di sisi manusia dan atau di sisi Allah swt nanti. Hidup yang semakin baik menjadi cermin dari penyucian jiwa, sehingga semakin tampak tanda-tanda keberuntungan. Maka, perlu mengasah kecerdasan intelektual dan spiritual Anda selain mengenakan pakaian modis guna menghindari kesia-siaan hidup menuju hidup lebih bermutu.

Selamat hari raya Idul Fitri tahun 2015! Mohon maaf lahir dan batin.[]

Congka’, 16 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...