Takbir
dikumandangkan dari masjid ke masjid. Letusan petasan mengusik telinga. Wajah
ceria nan bahagia. Pakaian serba baru. Parfum menusuk rahang hidung. Segala
indera merasa hari raya telah tiba kini hari Kamis tanggal 16 Juli 2015.
Akal
bertanya.
Akankah
pakaian baru dan bagus mencerminkan lahiriyah seseorang? Apakah mutu pakaian
kita menjadi penentu kualitas ideologi dan spiritual seseorang? Dan, apakah
lahirnya hari raya kini menjadi lahirnya spirit dan ghirah untuk menyongsong
masa depan?
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut sering diabaikan seakan-akan sepele dan tak berarti sedikit pun. Coba
baca kisah dan jejak hidup pendahulu-pendahulu Anda, dari nabi hingga guru-guru
Anda, saat menjelang hari raya.
Dalam
sebuah jejak hidup Nabi saw, diceritakan bahwa beliau sangat bersedih saat
menjelang hari raya. Karena, keberkahan bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan
yang lain telah berakhir.
Jejak
beliau terus membekas hingga ulama saat ini, tapi tak semua orang bisa
merasakannya. Jamak manusia merasa susah saat menjelang puasa Ramadhan karena
hidup seakan-akan tidak berjalan seperti biasa—berpuasa sepanjang
hari—sebaliknya mereka lebih kegirangan saat menjelang hari raya. Sungguh
berbalik 180 derajat!
Tidak
ingin menggurui atau ‘sok’ suci, tulisan ini hadir di hadapan Anda. Tapi,
sebagai manusia yang diberi akal sebagai deferensia dari makhluk yang lain
dapat disyukuri melalui berfikir. Aktivitas berfikir mampu melahirkan
inovasi-inovasi baru.
Anda
berfikir kuantitas dan kualitas amal baik Anda selama hidup sebelum hari raya
guna mengevaluasi diri dan melangkah lebih baik di masa mendatang. Layak mulut
tersenyum dan hati gembira jika kualitas amal baik lebih dari amal buruk.
Sebaliknya, kendatipun takbir menyesaki atap perumahan, jika amal buruk yang
menguasai hidup Anda, tahanlah kegirangan itu; menangislah dan mintalah ampun
kepada Allah swt agar dosa dan salah dapat terhapus di hari yang suci dan agung
ini.
Tak
ayal, kata maaf—minal aidzin wal faizin mohon
maaf lahir dan batin—disampaikan melalui beraneka macam tipe: oral, telepon, SMS,
Facebook, dll. Tak kalah lebainya, sebelum kata maaf itu terlontar, sering sms
atau pesan-pesan itu dimulai dengan kata-kata yang beritme puitis.
Kata
maaf ini tak pernah berubah dari tahun ke tahun, hanya saja yang diedit kata
mutiara sebelum kata maafnya. Pernahkan Anda merenungkan makna lafal minal aidzin wal faizin? Jangan Anda
terhanyut dengan kegirangan karena menjelang hari raya terus berpakaian serba
bagus dan mahal sehingga lafal itu terlontar dengan ‘enteng’. Yang seperti ini
termasuk kesalahan di atas kesalahan.
Minal aidzin wal faizin merupakan
isyarat doa Anda menjadi bagian dari orang yang kembali fitrah atau suci (adizin) dan beruntung meraih kesuksesan
(faizin), baik di sisi manusia dan
atau di sisi Allah swt nanti. Hidup yang semakin baik menjadi cermin dari
penyucian jiwa, sehingga semakin tampak tanda-tanda keberuntungan. Maka, perlu
mengasah kecerdasan intelektual dan spiritual Anda selain mengenakan pakaian modis
guna menghindari kesia-siaan hidup menuju hidup lebih bermutu.
Selamat
hari raya Idul Fitri tahun 2015! Mohon maaf lahir dan batin.[]
Congka’, 16 Juli 2015
No comments:
Post a Comment