Memilah
dan memilih tulisan non-fiksi yang mudah dikenyam telah saya lalui sejak kali
pertama saya belajar menulis kira-kira tahun 2010-an. Kala itu saya berkenalan
dengan tulisan A.S. Laksana yang terbit setiap hari minggu Koran Jawa Pos dan tulisan Samuel Mulia yang
juga nongol setiap minggu Koran Kompas. Tulisan-tulisan
dua penulis hebat yang dibingkai dengan kata-kata yang ringan disertai
pembahasannya yang luas dan kritis mampu bikin saya terlena menikmati setiap
tulisan itu setiap minggu. Selalu saya melongo dan berdiri kelamaan di depan Koran
Jawa Pos setiap hari Minggu atau
tanya lalu pinjam koran-koran langganan milik teman-teman pondok atau
perpustakaan. Saking ngefannya, saya kliping tulisan-tulisan mereka sehingga
dapat saya baca berkali-kali.
Setelah
berbulan-bulan tidak mencicipi tulisan A.S. Lakasana dan Samuel Mulia karena
berganti selera membaca karya-karya fiksinya Dee (Dewi Lestari) dan karya-karya
penulis yang lain, saya dipertemukan dengan Mengikat
Makna Update-nya Hernowo, penulis produktif dan percetak buku-buku best-seller. Saya dengar nama Hernowo
tiga tahun silam kira-kira tahun 2011 melalui cerita teman-teman yang mengikuti
Diklat Kepenulisan di MAT Annuqayah
yang disampaikan oleh Bapak Hernowo. Sekedar membaca esai-esai yang dituangkan
dalam lembaran kertas yang di-print out, masih
melekat di memori saya frasa atau kalimat yaitu Mengikat Makna dan Andaikan
Buku Itu Sepotong Pizza, tapi saya belum tahu bahwa frasa dan kalimat
tersebut termasuk tajuk buku karyanya. Dan, saya belum tahu apa sih maksud mengikat makna menurut Hernowo.
Setelah
saya berkunjung ke rumah famili, di sana saya ketemu dengan tumpukan buku-buku
miliknya yang sedang dalam tahap diperbaiki. Sekedar iseng-iseng, saya
menghampiri tumpukan buku itu, dijumpai beberapa buku menarik yang ditulis
penulis-penulis hebat seperti Madre,
Rectoverso (keduanya karya Dee), Mengikat
Makna Update (karya Hernowo), dll. Saya kegirangan menatap buku-buku Dee
karena karya-karyanya selain Perahu
Kertas, Supernova, dan Pilosofi Kopi,
masih saya cari dan baru saat itu baru ketemu. Akhir-akhir ini cara saya mengoleksi
buku tampak berbeda dibandingkan dengan masa dulu; sekarang saya lebih selektif
dalam memilih buku; hanya buku-buku karya penulis-penulis hebat yang saya cari
dan baca. Sebut, penulis seperti Prof. Dr. Said Aqil Siradj (karyanya, Tasawuf sebagai Kritik Sosial dan Islam Kalap dan Islam Karib), Prof. Dr. M.
Quraish Shihab (salah satu karya monumentalnya, Tafsir Al-Misbah), dan beberapa penulis hebat lainnya.
Selesai
membaca Madre-nya Dee, saya lanjut-membaca
karya Hernowo tersebut. Awal kali membaca Pembuka
dalam buku Mengikat Makna Update
dilanjutkan pada bab-bab berikutnya, saya diperkenalkan dengan pentingnya
membaca dan menulis dalam kehidupan manusia. Membaca dan menulis, menurut
Hernowo, merupakan dua aktivitas yang saling mengikat; membaca tanpa menulis
akan sia-sia dan menulis tanpa membaca akan hampa. Saya baru menyadari manfaat
membaca dan menulis. Saya menyesal bertahun-tahun tidak rajin membaca dan
menulis.
Di
samping menikmati tulisan-tulisan Hernowo yang renyah dan ringan, saya
termotivasi dengan gambar-gambar buku dan sinopsisnya serta komentarnya yang
diselipkan di dalam tulisannya yang dijadikan cuplikan/rujukan dalam buku Mengikat Makna Update ini. Di antara
buku-buku tersebut, The World is Flat-nya Thomas L. Friedman; New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya; Crowd Marketing Become Horizontal-nya Yuswohady; The 28 Laws Attraction-nya Thomas J.
Leonard; Brain-Based Learning-nya
Eric Jensen; Quantum Learning-nya
Bobi DePoster dan Mike Hernacki; Spiritual
Capitas (SC)-nya Zohar dan Marshall; Ketika
Diam Bukan Emas-nya James W. Pennebaker; Writing without Teacher-nya Peter Elbow; Main-Main dengan Teks, Vitamin T, Langkah Mudah Membuat Buku, Self
Digesting, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Aku Ingin Bunuh Harry Potter!,
Mengikat Makna Sehari-hari, dan Bu
Slim dan Pak Bil-nya Hernowo; Membumikan
Al-Qur’an-nya M. Quraish Shihab; dan lain-lain.
Sederetan
buku tersebut, sejujurnya, belum saya baca. Tak ayal, rasa takjub melihat
Hernowo yang kutu buku mampu membangkitkan saya dari keterpurukan membaca dan
menulis. Kemudian terbentuk kometmen kuat dalam benak saya, “Jika Hernowo mampu
membaca banyak buku dan menulis banyak buku di kala berusia lebih 40 tahun,
saya harus menjadi seperti atau melebihi dia pada usia 21 tahun sekarang ini.”
Kekayaan
bahan bacaan dan kebiasaan menulis Hernowo, tulisan-tulisannya tak kesan hambar
atau hampa literatur dan rakitan kata demi kata dalam tulisannya benar-benar mengalir
dan renyah. Buku Mengikat Makna Update ini
ditulis berbasis pengalaman Hernowo. Tak heran jika dalam tulisannya dia sering
menggunakan kata “saya” sebagai isyarat subjektifitas penulis.
Selain
tulisannya yang renyah dan ringan, otak saya tidak njelimet dan ruet-ruet memahami. Melalui tulisannya saya dapat
menggarisbawahi beberapa main point yaitu
cara mudah menulis dengan menggunakan kata ganti “saya” atau “aku” guna
mengungkapkan perasaan dan pengalaman penulis; penerapan mindmapping dan outlining untuk
menjembatani kesulitan menulis atau kekacauan sistematisasi ide; dan 3 cara
membuat buku yaitu ‘ide’, ‘mengomunikasikan ide’, dan ‘mengemas ide’.
Sebagai
penutup dalam tulisan ini, saya memberikan apresiasi positif atas karya Hernowo
ini. Terima kasih, Pak Hernowo! Anda adalah motivor saya.[]
Congka’, 20 Juli 2015

No comments:
Post a Comment