Friday, July 24, 2015

Pak Hernowo; Anda, Motivator Saya



Memilah dan memilih tulisan non-fiksi yang mudah dikenyam telah saya lalui sejak kali pertama saya belajar menulis kira-kira tahun 2010-an. Kala itu saya berkenalan dengan tulisan A.S. Laksana yang terbit setiap hari minggu Koran Jawa Pos dan tulisan Samuel Mulia yang juga nongol setiap minggu Koran Kompas. Tulisan-tulisan dua penulis hebat yang dibingkai dengan kata-kata yang ringan disertai pembahasannya yang luas dan kritis mampu bikin saya terlena menikmati setiap tulisan itu setiap minggu. Selalu saya melongo dan berdiri kelamaan di depan Koran Jawa Pos setiap hari Minggu atau tanya lalu pinjam koran-koran langganan milik teman-teman pondok atau perpustakaan. Saking ngefannya, saya kliping tulisan-tulisan mereka sehingga dapat saya baca berkali-kali.

Setelah berbulan-bulan tidak mencicipi tulisan A.S. Lakasana dan Samuel Mulia karena berganti selera membaca karya-karya fiksinya Dee (Dewi Lestari) dan karya-karya penulis yang lain, saya dipertemukan dengan Mengikat Makna Update-nya Hernowo, penulis produktif dan percetak buku-buku best-seller. Saya dengar nama Hernowo tiga tahun silam kira-kira tahun 2011 melalui cerita teman-teman yang mengikuti Diklat Kepenulisan di MAT Annuqayah yang disampaikan oleh Bapak Hernowo. Sekedar membaca esai-esai yang dituangkan dalam lembaran kertas yang di-print out, masih melekat di memori saya frasa atau kalimat yaitu Mengikat Makna dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, tapi saya belum tahu bahwa frasa dan kalimat tersebut termasuk tajuk buku karyanya. Dan, saya belum tahu apa sih maksud mengikat makna menurut Hernowo.

Setelah saya berkunjung ke rumah famili, di sana saya ketemu dengan tumpukan buku-buku miliknya yang sedang dalam tahap diperbaiki. Sekedar iseng-iseng, saya menghampiri tumpukan buku itu, dijumpai beberapa buku menarik yang ditulis penulis-penulis hebat seperti Madre, Rectoverso (keduanya karya Dee), Mengikat Makna Update (karya Hernowo), dll. Saya kegirangan menatap buku-buku Dee karena karya-karyanya selain Perahu Kertas, Supernova, dan Pilosofi Kopi, masih saya cari dan baru saat itu baru ketemu. Akhir-akhir ini cara saya mengoleksi buku tampak berbeda dibandingkan dengan masa dulu; sekarang saya lebih selektif dalam memilih buku; hanya buku-buku karya penulis-penulis hebat yang saya cari dan baca. Sebut, penulis seperti Prof. Dr. Said Aqil Siradj (karyanya, Tasawuf sebagai Kritik Sosial dan Islam Kalap dan Islam Karib), Prof. Dr. M. Quraish Shihab (salah satu karya monumentalnya, Tafsir Al-Misbah), dan beberapa penulis hebat lainnya.

Selesai membaca Madre-nya Dee, saya lanjut-membaca karya Hernowo tersebut. Awal kali membaca Pembuka dalam buku Mengikat Makna Update dilanjutkan pada bab-bab berikutnya, saya diperkenalkan dengan pentingnya membaca dan menulis dalam kehidupan manusia. Membaca dan menulis, menurut Hernowo, merupakan dua aktivitas yang saling mengikat; membaca tanpa menulis akan sia-sia dan menulis tanpa membaca akan hampa. Saya baru menyadari manfaat membaca dan menulis. Saya menyesal bertahun-tahun tidak rajin membaca dan menulis.

Di samping menikmati tulisan-tulisan Hernowo yang renyah dan ringan, saya termotivasi dengan gambar-gambar buku dan sinopsisnya serta komentarnya yang diselipkan di dalam tulisannya yang dijadikan cuplikan/rujukan dalam buku Mengikat Makna Update ini. Di antara buku-buku tersebut,  The World is Flat-nya Thomas L. Friedman; New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya; Crowd Marketing Become Horizontal-nya Yuswohady; The 28 Laws Attraction-nya Thomas J. Leonard; Brain-Based Learning-nya Eric Jensen; Quantum Learning-nya Bobi DePoster dan Mike Hernacki; Spiritual Capitas (SC)-nya Zohar dan Marshall; Ketika Diam Bukan Emas-nya James W. Pennebaker; Writing without Teacher-nya Peter Elbow; Main-Main dengan Teks, Vitamin T, Langkah Mudah Membuat Buku, Self Digesting, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Aku Ingin Bunuh Harry Potter!, Mengikat Makna Sehari-hari, dan Bu Slim dan Pak Bil-nya Hernowo; Membumikan Al-Qur’an-nya M. Quraish Shihab; dan lain-lain.

Sederetan buku tersebut, sejujurnya, belum saya baca. Tak ayal, rasa takjub melihat Hernowo yang kutu buku mampu membangkitkan saya dari keterpurukan membaca dan menulis. Kemudian terbentuk kometmen kuat dalam benak saya, “Jika Hernowo mampu membaca banyak buku dan menulis banyak buku di kala berusia lebih 40 tahun, saya harus menjadi seperti atau melebihi dia pada usia 21 tahun sekarang ini.”

Kekayaan bahan bacaan dan kebiasaan menulis Hernowo, tulisan-tulisannya tak kesan hambar atau hampa literatur dan rakitan kata demi kata dalam tulisannya benar-benar mengalir dan renyah. Buku Mengikat Makna Update ini ditulis berbasis pengalaman Hernowo. Tak heran jika dalam tulisannya dia sering menggunakan kata “saya” sebagai isyarat subjektifitas penulis.

Selain tulisannya yang renyah dan ringan, otak saya tidak njelimet dan ruet-ruet memahami. Melalui tulisannya saya dapat menggarisbawahi beberapa main point yaitu cara mudah menulis dengan menggunakan kata ganti “saya” atau “aku” guna mengungkapkan perasaan dan pengalaman penulis; penerapan mindmapping dan outlining untuk menjembatani kesulitan menulis atau kekacauan sistematisasi ide; dan 3 cara membuat buku yaitu ‘ide’, ‘mengomunikasikan ide’, dan ‘mengemas ide’.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, saya memberikan apresiasi positif atas karya Hernowo ini. Terima kasih, Pak Hernowo! Anda adalah motivor saya.[]

Congka’, 20 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...