Setelah
saya membaca-tuntas buku Supernova;
Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, Supernova; Akar, Supernova; Petir,
Supernova; Partikel, Perahu Kertas, dan Pilosofi
Kopi, akhirnya kesukaan saya mengoleksi buku-buku karya Dee (Dewi Lestari)
semakin membakar diri saya. Dilanjutkan saya menonton film yang dirilis dari
salah satu novel dan atau kumpulan tulisan-tulisan Dee yaitu film Perahu Kertas, Recteverso, dan Madre. Menarik!
Awalnya
membaca karya Dee—semisal Perahu Kertas dan
Supernova—tak semudah membaca
novelnya Habiburrahman El-Shirazy seperti Ketika
Cinta Bertasbih 1 & 2, Ayat-Ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Dalam Mihrab
Cinta, dll. Sekalipun karya kedua penulis tersebut mampu menarik pembaca
melebur dalam tulisan itu, membaca karya Dee membutuhkan kemampuan bidang
pengetahuan lain selain sastra seperti Bahasa Inggris, Fisika, dsb. Saya sempat
berkeluh awal kali berjumpa dan membaca Perahu
Kertas dan Supernova; Kesatria,
Putri, dan Bintang Jatuh, “Ini novel atau karya ilmiah? Sulitnya minta
ampun.” Tapi, kala saya berusaha menyelam; beberapa karya Dee saya lalui
kendati tak mafhum seluruhnya, tiba-tiba rasa jengkel berubah menjadi rasa
senang hingga bikin saya ketagihan membaca semua karya Dee.
Kemampuan
Dee dalam merangkai kata dan menyelipkan pesan dalam tulisannya telah membuat
saya takjub. Dia tidak blakblakan menceritakan percintaan, dendam dan perbuatan
terlarang (hubungan intim). Hal semacam ini dapat saya baca dalam karyanya yang
berjudul Perahu Kertas yang
mengceritakan percintaan seorang Kenan dan Kugy yang tercipta dengan kerakter
yang berbeda; Kenan, orangnya teratur, sedangkan Kugy, orangnya berantakan,
tapi keduanya memiliki pontensi tersendiri yaitu Kenan mampu melukis dan Kugy
mahir menulis dongeng, sehingga dogeng Kugy mampu menjadi inspirasi lukisan
Kenan. Hebat, bukan?
Dalam
karya Dee yang lain, Madre, saya
tertarik pada salah satu tulisannya yang terakhir yang bertajuk Menunggu Layang-Layang. Tulisan itu
menceritakan percintaan dua orang yang diawali dengan status pertemanan. Mereka
adalah Christian dan Starla. Magnet cinta di antara mereka lama terungkap
karena kharakter mereka yang berseberangan; Christian yang setia menunggu dan
Starla yang sabar mencari. Sehingga, keduanya, sama-sama kesepian. Akhirnya,
cinta itu terungkap juga. Dee mengiaskan menunggunya Christian seperti menunggu
layang-layang.
Sekedar
menikmati karya-karya Dee, ghirah kepenulisan saya semakin berkobar setelah
berbulan-bulan mati suri. “Aku ingin menjadi penulis hebat seperti Dee, bahkan
Aku ingin berguru kepadanya,” batin saya bergumam, “semoga kesempatan itu
menjadi kenyataan.”
Terima
kasih Mbak Dee—saya memanggilnya—atas karya-karyanya! Melalui karya-karya Mbak
kecintaan saya untuk menulis semakin berkobar dan saya mampu bangun dari
keterpurukan menulis.[]
Congka’, 19 Juli 2015
No comments:
Post a Comment