Friday, July 24, 2015

Setelah Saya Membaca Karya-Karya Dee



Setelah saya membaca-tuntas buku Supernova; Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh, Supernova; Akar, Supernova; Petir, Supernova; Partikel, Perahu Kertas, dan Pilosofi Kopi, akhirnya kesukaan saya mengoleksi buku-buku karya Dee (Dewi Lestari) semakin membakar diri saya. Dilanjutkan saya menonton film yang dirilis dari salah satu novel dan atau kumpulan tulisan-tulisan Dee yaitu film Perahu Kertas, Recteverso, dan Madre. Menarik!

Awalnya membaca karya Dee—semisal Perahu Kertas dan Supernova—tak semudah membaca novelnya Habiburrahman El-Shirazy seperti Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2, Ayat-Ayat Cinta, Cinta Suci Zahrana, Dalam Mihrab Cinta, dll. Sekalipun karya kedua penulis tersebut mampu menarik pembaca melebur dalam tulisan itu, membaca karya Dee membutuhkan kemampuan bidang pengetahuan lain selain sastra seperti Bahasa Inggris, Fisika, dsb. Saya sempat berkeluh awal kali berjumpa dan membaca Perahu Kertas dan Supernova; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, “Ini novel atau karya ilmiah? Sulitnya minta ampun.” Tapi, kala saya berusaha menyelam; beberapa karya Dee saya lalui kendati tak mafhum seluruhnya, tiba-tiba rasa jengkel berubah menjadi rasa senang hingga bikin saya ketagihan membaca semua karya Dee.

Kemampuan Dee dalam merangkai kata dan menyelipkan pesan dalam tulisannya telah membuat saya takjub. Dia tidak blakblakan menceritakan percintaan, dendam dan perbuatan terlarang (hubungan intim). Hal semacam ini dapat saya baca dalam karyanya yang berjudul Perahu Kertas yang mengceritakan percintaan seorang Kenan dan Kugy yang tercipta dengan kerakter yang berbeda; Kenan, orangnya teratur, sedangkan Kugy, orangnya berantakan, tapi keduanya memiliki pontensi tersendiri yaitu Kenan mampu melukis dan Kugy mahir menulis dongeng, sehingga dogeng Kugy mampu menjadi inspirasi lukisan Kenan. Hebat, bukan?

Dalam karya Dee yang lain, Madre, saya tertarik pada salah satu tulisannya yang terakhir yang bertajuk Menunggu Layang-Layang. Tulisan itu menceritakan percintaan dua orang yang diawali dengan status pertemanan. Mereka adalah Christian dan Starla. Magnet cinta di antara mereka lama terungkap karena kharakter mereka yang berseberangan; Christian yang setia menunggu dan Starla yang sabar mencari. Sehingga, keduanya, sama-sama kesepian. Akhirnya, cinta itu terungkap juga. Dee mengiaskan menunggunya Christian seperti menunggu layang-layang.

Sekedar menikmati karya-karya Dee, ghirah kepenulisan saya semakin berkobar setelah berbulan-bulan mati suri. “Aku ingin menjadi penulis hebat seperti Dee, bahkan Aku ingin berguru kepadanya,” batin saya bergumam, “semoga kesempatan itu menjadi kenyataan.”

Terima kasih Mbak Dee—saya memanggilnya—atas karya-karyanya! Melalui karya-karya Mbak kecintaan saya untuk menulis semakin berkobar dan saya mampu bangun dari keterpurukan menulis.[]

Congka’, 19 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...