Sejak
saya update status “bertunangan (got angaged)” pada 9 Juli 2015,
teman-teman Facebook saya—mulai teman, sahabat, hingga murid saya—berkomentar. Hanya
iseng-iseng, komentar disertai komentar jawaban saya mencapai 109 komentar.
Belum pernah saya update status
dikomentari sebanyak itu.
Saya
hanya bertafakur: Kenapa komentar
teman-teman sebanyak itu? Apakah ada yang aneh dan menarik dari status itu?
Salahkah saya update status seperti itu?
Isi
komentar tersebut jika saya simpulkan meliputi pertanyaan nama tunangan saya;
alamatnya; akun Facebooknya; minta kue tunangan; ungkapan rasa ketidakpercayaan
mereka, doa mereka; dsb. Untungnya, mereka tidak minta foto tunangan saya untuk
di-posting, hanya saja saya kirim
foto orang lain di inbox sebagian
teman Facebook untuk menguatkan kepercayaan mereka tanpa mengetahui planning saya yang masih tersimpan di
hati. Di antara akun Facebook yang saya kirimi foto palsu tunangan saya, Elvien
ElviaNa, Lee Lenient, Malzum Penuh Misteri, dan Rijalir Rochim (rijal
el-ricim).
Saat
teman saya, Lely, ngobrol di ponsel, awalnya dia mengucapkan “selamat” atas
ikatan pertunangan saya. Saya menyadari semua itu hanya status palsu, tapi saya
tetap membenarkannya. Sekedar share saya
tanya, “Kenapa teman kasih komentar sebanyak itu?”
Dia
menjawab, “Bisa jadi karena aneh mendengar orang kayak kamu bertunangan; bisa
jadi mereka termasuk orang yang engkau PHP-in; atau….”
Saya
membatin, “Masa iya? Banyak orang yang sedang naksir sama cowok kayak aku?
Jadi, mereka benar-benar fall in love me? Ihhh, tidak-tidak.”
Jika
prediksi saya benar—banyak cewek yang fall
in love atau merasa di-PHP-in—mumpung masih baru-baru selesai hari raya
saya ucapkan, “Minal aidzin wal faizin mohon
maaf atas perbuatan saya.” Tanpa saya sadari—mencuplik pernyataan Ronald Frank,
motivator cinta—bahwa kebanyakan laki-laki tidak peka membaca psikologi orang
perempuan. Sehingga, banyak perempuan berujung “patah hati” karena cintanya
tidak terjawab. Tak ingin menyalahkan perempuan untuk tidak berusaha. Jika kita
mengingat terhadap besarnya perasaan malu orang perempuan yaitu 99%, sungguh
sangat sulit mengungkapkan perasaan cintanya kecuali orang perempuan tomboy atau bersifat kelelaki-lakian.
Update status
“bertunangan” di publik, tak lain, [1] untuk menjadi tameng diri saya sekarang
dari gangguan godaan perempuan yang menggiurkan sehingga mampu mengalahkan saya
meraih cita-cita di masa depan yaitu sebagai penulis dan pembisnis. Sebab,
banyak orang gagal pendidikannya, lebih-lebih kariernya, karena terlena
berpacaran, tunangan, terus menikah. Tragisnya, anak belum lulus Sekolah Dasar
(SD) tiba-tiba menikah atau dinikahkan. Coba Anda berfikir sejenak tentang keminusan
pendidikan pasangan suami-istri ini dalam menjalani rumah tangga dan membina
anak; dan memberikan nafkah terhadap istri dan anaknya. Bisa jadi haram menikah
karena tidak mampu memberikan nafkah—baik lahir atau batin—terhadap istrinya.
Saya
juga mengimpikan pendidikan saya minimal tuntas sampai Strata 2 (S2). Di era
sekarang banyak pelajar yang mampu menyelesaikan hingga Strata 1 (S1). Tak
heran, banyak wisudawan/wisudawati yang nganggur karena tidak punya pekerjaan.
Mendaftar menjadi guru, sudah penuh. Melamar jadi dosen, tidak diterima karena persyaratan
dosen adalah lulusan S2 atau S3. Saya tak ingin diri saya terjatuh karena
disibukkan dengan pacaran. Biarlah “pacaran” saya letakkan nomor sekian, yang
terpenting atau nomor satu adalah kesuksesan pendidikan dan karier.
[2] Ungkapan
rasa berani saya mengambil tindakan setelah saya putus hubungan percintaan
dengan perempuan asal Situbondo—banyak orang memanggilnya “Nai”. Biarlah status “bertungangan” ini menjadi modal saya
membayar kelelakian saya. Orang Madura, banyak orang menilainya, ambisi; sekali
melangkah harus tercapai. Jika kenyataan berseberangan dengan keinginan adalah
suatu masalah yang harus segera diatasi dengan mengambil tindakan lain agar image sebagai orang Madura tidak luntur.
Saya yang berdarah Madura masih selalu mengingat kometmen kuat Orang Madura yaitu
Lebih baik putih tulang dari pada putih
mata.
Dan,
[3] iseng-iseng update status yang dikira
langka, “bertunangan”, apalagi “nikah”. Kedua status ini biasanya mengundang
banyak komentar. Untuk seusia saya dengan status santri aktif dan mahasiswa
semester 7, sulit dipercaya—untuk tidak mengatakan “mustahil”—update status “menikah”, lalu saya
memilih status “bertunangan”, menurut saya, sangat netral dan serasi dengan
status saya sekarang. Tak ayal, komentar meledak di jaringan sosial seperti
Facebook.
Demikian,
fakta update status “bertunangan”
saya. Namanya status di Facebook, keabsahannya membutuhkan investigasi lebih
radikal. Saya minta teman-teman tidak langsung percaya.[]
Congka’, 19 Juli 2015
No comments:
Post a Comment