Semenjak Kiai Fikri—sapaan Kiai Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I—meneruskan kepemimpinan ayahnya, Kiai Warits, salah satu kebiasaan kiai Annuqayah yang tetap saya perhatikan adalah bacaan surah-surah setelah surah Al-Fatihah pada shalat fardu yang sifatnya jahr (bacaan surah-surahnya pada rakaat 1 dan 2 dinyaringkan) yakni Shalat Maghrib, Shalat Isya’ dan Shalat Subuh. Kebiasaan ini merupakan kearifan lokal PP. Annuqayah daerah Lubangsa yang dikerjakan secara kontinu dari generasi ke genarasi—dari kiai senior/kiai sepuh ke kiai muda.
Di antara surah-surah yang dibaca meliputi [a] surah ke-110 (An-Nasr)
untuk rakaat pertama Shalat Maghrib dan surah ke-112 (Al-Ikhlas) untuk
rakaat keduanya; [b] surah ke-95 (At-Tin) untuk rakaat pertama Shalat
Isya’ dan surah ke-97 (Al-Qadr) untuk rakaat keduanya; dan [c] surat
ke-94 (Asy-Syarh) untuk rakaat pertama Shalat Subuh dan surah ke-105 (Al-Fil)
untuk rakaat keduanya.
Tadi sejak saya mengikuti shalat jamaah—istilah Pondok
Pesantren Annuqayah: hadiran—Shalat Maghrib yang dipimpin/diimami Kiai Fikri,
saya dibikin kaget menyimak bacaan surah pendek yang biasa dibaca beliau. Di
rakaat pertama beliau membaca surah ke-82 (Al-Infitar) yang berjumlah 19
ayat. Semestinya, yang dibaca surah An-Nasr.
Saya membatin. Kefokusan pikiran buyar. Pelbagai pertanyaan terbayang
dalam pikir. Apakah Kiai Fikri lupa membaca surah Al-Infitar? Sekilas
saya membuka surah Al-Infitar dibandingkan dengan surah An-Nasr sedikit
ada kemiripan: penulisan kata idza diawal ayat. Barangkali beliau punya
rujukan lain, baik dinukil dari kitab kuning dan atau disitir dari sesepuh-sesepuh
beliau seperti Kiai Warits, dsb? Mungkin saatnya surah Al-Infitar yang
menjelaskan ‘celaan terhadap manusia yang durhaka kepada Allah swt’ dan
‘catatan dan balasan perbuatan manusia’ dibaca di depan beratus-ratus santri karena
melihat jamaknya manusia sekarang yang semakin lupa Allah swt sehingga mereka
terlena dengan kemegahan harta, perempuan, dll? Atau beliau berkeinginan
menyampaikan pesan tersurat bahwa keistikamahan tidak harus fokus pada suatu
objek, melainkan fokus pada niat beramal?
Saya sendiri tidak berani menjawab pasti, melainkan
memprediksi saja karena surah Al-Infitar—setahu saya sedari Kiai Fikri
menjadi imam hingga sekarang selain liburan Ramadlan tahun 2015 kemarin—masih
pertama kali dibaca waktu bershalat Maghrib (5/8). Biasanya suatu hal diketahui
keputusannya jika terjadi berulang-ulang.
Di balik semuanya penting investigasi: konsultasi langsung
kepada Kiai Fikri, baca sejarah Annuqayah berkenaan dengan kebiasaan kiai-kiai
sepuh—baik yang telah wafat maupun yang masih hidup—atau baca literatur yang
lain. Jawaban yang sebenarnya akan diketahui.
Sejujurnya, uraian-uraian tentang kepribadian Kiai Fikri
tersebut adalah semangat saya menimba ilmu tulen dari guru-guru Pondok
Pesantren Annuqayah, khususnya daerah Lubangsa, sehingga dapat diamalkan
sendiri dan diajarkan kepada orang lain nanti. Bukannya saya terlalu fanatik,
tapi menyertakan sanad dalam mencari ilmu guna mencapai kesahihan dan kualitas ilmu
sangat menunjang masa depan seseorang. Tak ayal, semakin ke depan aneka
ilmu—mulai yang benar hingga yang sesat—tanpa terasa berkeliaran di sekitar
Anda. Menimba ilmu tanpa diketahui sumbernya sangat rentan terjerembab dalam
jurang sesat-menyesatkan.
Melalui sanad guru-guru—pun kiai—Annuqayah yang bersambung
dengan guru-guru beliau dan seterusnya, batin saya menyakini saya tak akan
mudah tersesat atau disesatkan. Saat saya nanti—menyitir penjelasan Kiai
Mamak—dihadapkan dengan kerancuan dan kesesatan ideologi, sangat mudah bagi
saya reset dan install kembali melalui kearifan lokal Annuqayah;
salah satunya keistikamahan.
Terima kasih, Kiai! Saya dapat banyak hal tentang Kiai dan
kiai-kiai sepuh.[]
Lubangsa, 5 Agustus 2015
No comments:
Post a Comment