Thursday, August 20, 2015

Aneka Tanya tentang Surah Al-Infitar



Semenjak Kiai Fikri—sapaan Kiai Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I—meneruskan kepemimpinan ayahnya, Kiai Warits, salah satu kebiasaan kiai Annuqayah yang tetap saya perhatikan adalah bacaan surah-surah setelah surah Al-Fatihah pada shalat fardu yang sifatnya jahr (bacaan surah-surahnya pada rakaat 1 dan 2 dinyaringkan) yakni Shalat Maghrib, Shalat Isya’ dan Shalat Subuh. Kebiasaan ini merupakan kearifan lokal PP. Annuqayah daerah Lubangsa yang dikerjakan secara kontinu dari generasi ke genarasi—dari kiai senior/kiai sepuh ke kiai muda.

Di antara surah-surah yang dibaca meliputi [a] surah ke-110 (An-Nasr) untuk rakaat pertama Shalat Maghrib dan surah ke-112 (Al-Ikhlas) untuk rakaat keduanya; [b] surah ke-95 (At-Tin) untuk rakaat pertama Shalat Isya’ dan surah ke-97 (Al-Qadr) untuk rakaat keduanya; dan [c] surat ke-94 (Asy-Syarh) untuk rakaat pertama Shalat Subuh dan surah ke-105 (Al-Fil) untuk rakaat keduanya.

Tadi sejak saya mengikuti shalat jamaah—istilah Pondok Pesantren Annuqayah: hadiran—Shalat Maghrib yang dipimpin/diimami Kiai Fikri, saya dibikin kaget menyimak bacaan surah pendek yang biasa dibaca beliau. Di rakaat pertama beliau membaca surah ke-82 (Al-Infitar) yang berjumlah 19 ayat. Semestinya, yang dibaca surah An-Nasr.

Saya membatin. Kefokusan pikiran buyar. Pelbagai pertanyaan terbayang dalam pikir. Apakah Kiai Fikri lupa membaca surah Al-Infitar? Sekilas saya membuka surah Al-Infitar dibandingkan dengan surah An-Nasr sedikit ada kemiripan: penulisan kata idza diawal ayat. Barangkali beliau punya rujukan lain, baik dinukil dari kitab kuning dan atau disitir dari sesepuh-sesepuh beliau seperti Kiai Warits, dsb? Mungkin saatnya surah Al-Infitar yang menjelaskan ‘celaan terhadap manusia yang durhaka kepada Allah swt’ dan ‘catatan dan balasan perbuatan manusia’ dibaca di depan beratus-ratus santri karena melihat jamaknya manusia sekarang yang semakin lupa Allah swt sehingga mereka terlena dengan kemegahan harta, perempuan, dll? Atau beliau berkeinginan menyampaikan pesan tersurat bahwa keistikamahan tidak harus fokus pada suatu objek, melainkan fokus pada niat beramal?

Saya sendiri tidak berani menjawab pasti, melainkan memprediksi saja karena surah Al-Infitar—setahu saya sedari Kiai Fikri menjadi imam hingga sekarang selain liburan Ramadlan tahun 2015 kemarin—masih pertama kali dibaca waktu bershalat Maghrib (5/8). Biasanya suatu hal diketahui keputusannya jika terjadi berulang-ulang.  

Di balik semuanya penting investigasi: konsultasi langsung kepada Kiai Fikri, baca sejarah Annuqayah berkenaan dengan kebiasaan kiai-kiai sepuh—baik yang telah wafat maupun yang masih hidup—atau baca literatur yang lain. Jawaban yang sebenarnya akan diketahui.

Sejujurnya, uraian-uraian tentang kepribadian Kiai Fikri tersebut adalah semangat saya menimba ilmu tulen dari guru-guru Pondok Pesantren Annuqayah, khususnya daerah Lubangsa, sehingga dapat diamalkan sendiri dan diajarkan kepada orang lain nanti. Bukannya saya terlalu fanatik, tapi menyertakan sanad dalam mencari ilmu guna mencapai kesahihan dan kualitas ilmu sangat menunjang masa depan seseorang. Tak ayal, semakin ke depan aneka ilmu—mulai yang benar hingga yang sesat—tanpa terasa berkeliaran di sekitar Anda. Menimba ilmu tanpa diketahui sumbernya sangat rentan terjerembab dalam jurang sesat-menyesatkan.

Melalui sanad guru-guru—pun kiai—Annuqayah yang bersambung dengan guru-guru beliau dan seterusnya, batin saya menyakini saya tak akan mudah tersesat atau disesatkan. Saat saya nanti—menyitir penjelasan Kiai Mamak—dihadapkan dengan kerancuan dan kesesatan ideologi, sangat mudah bagi saya reset dan install kembali melalui kearifan lokal Annuqayah; salah satunya keistikamahan.

Terima kasih, Kiai! Saya dapat banyak hal tentang Kiai dan kiai-kiai sepuh.[]

Lubangsa, 5 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...