Thursday, August 20, 2015

Arti Kesehatan saat Sakit



Judul Buku
Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri
Penulis
Dahlan Iskan
Penerbit
PT Elex Media Komputindo
Cetakan
6, April 2012
Tebal
vii + 342 halaman
ISBN
978-602-00-1796-9

Sakit merupakan sunatullah yang tak direncenakan dan tak terduga. Sakit selalu hadir secara tiba-tiba. Tentu, semua orang merasakan sakit.

Sakit yang menjamah seorang wartawan TEMPO, Dahlan Iskan, sakit antara hidup dan mati yaitu sakit liver dan kanker. Tak terduga orang seperti dia harus berbaring di rumah sakit berbulan-bulan. Kaget yang dirasa publik—mulai teman-teman kantor, keluarga, hingga penikmat tulisan-tulisannya—timbul berawal dari kondisi Dahlan Iskan sebelum-sebelumnya yang sehat-sehat saja.

Menjalani operasi mampu bikin banyak orang terisak-isak. Segala doa dipanjatkan. Tapi, Dahlan berdoa dengan sangat lapang dan simpel: Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup hidupkanlah. Selesai. (hal. 18)

Ketahanan Dahlan dalam menjalani operasi di rumah sakit: rasa sakit dan bersabar lama-lama berbaring di kereta rumah sakit, sudah teruji sejak kecil ketika dipukul bapaknya karena usil dan teruji sejak bekerja-mengelola Koran Jawa Pos bertahun-tahun. Ia merasakannya biasa-biasa saja. Senyum tersungging dari bibir manisnya.

Akhirnya proses operasi itu berjalan dengan baik. Dan, Dahlan sembuh dari sakitnya. Karena baru saja sembuh, tentu ia tidak bisa bekerja terlalu keras. Dikhawatirkan operasi itu membengkak. Tapi, hal demikian tak jadi soal, namun yang tetap diinginkan Dahlan diperbolehkannya menulis. Karena ia tidak mendapat larangan dari dokter, maka segala pengalamannya mulai sebelum operasi hingga selesai, ia diskripsikan dalam bentuk tulisan yang diterbitkan di Koran Jawa Pos dengan serial bersambung. Tulisan yang mencapai 32 seri dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku dengan tajuk Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri.

Lahirnya tulisan-tulisan degan ritme berutur dan menggunakan kata-kata ringan dan renyah tak sulit dikonsumsi pembaca, baik pelajar tingkat SD hingga perguruan tinggi. Kekreatifan Dahlan dalam membingkai pegalamannya dalam bentuk tulisan ini adalah poin plus yang membedakan dia dan banyak orang yang hanya mengabaikan pengalaman lapuk ditelan masa.

Nah, dengan hadirnya buku ini kita dapat membaca dan merenungkan tulisan Dahlan sehingga menghasilkan konklusi: betapa pentingnya mensyukuri karunia Allah swt (kesehatan) yang diberikan kepada kita dan sering kita lalai mensyukurinya.

Selain itu, dengan membaca buku ini, kita tidak mudah fatalisme dalam menyimpulkan segala hal yang terjadi. Seolah-olah kita tidak pernah memfungsikan akal sebagai karunia-Nya yang mampu membedakan antara manusia dengan binatang. Tulisan dalam buku ini mengajak kita menjadi orang yang mampu mendiskripsikan pelbagai pengalaman secara ilmiah.

Dahlan menyimpulkan keberhasilan operasi livernya, selain pertolongan Allah swt, juga melibatkan [1] keahlian dan pengalaman dokter; [2] kecanggihan peralatan; [3] kemajuan obat-obatan; [4] kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasi; [5] keberadaan donor yang sangat prima; [6] kondisi badan Dahlan yang masih baik; dan [7] tim intern Dahlan yang canggih (hal 206).

Buku ini tidak hanya bermuat tulisan-tulisan Dahlan, melainkan juga disetai galeri foto Dahlan sebelum, saat, dan setelah selesai menjalani operasi disetai keterangan-keterangannya; tanggapan-tanggapan publik baik lewat e-mail, SMS; dan jawaban Dahlan terhadap tanggapan-tanggapan itu.

Hadirnya buku Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri karya Dahlan ini menjadi cermin bagi yang lain untuk terus semangat berbuat-menggapai kesuksesan, optimis, dan kreatif. Dengan bahasa yang mudah dan diksi yang sesuai buku ini layak mendapat apresiasi. Selamat membaca!

Lubangsa, 30 Juli 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...