Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri
Penulis
Dahlan Iskan
Penerbit
PT Elex Media Komputindo
Cetakan
6, April 2012
Tebal
vii + 342 halaman
ISBN
978-602-00-1796-9
Sakit merupakan sunatullah yang tak direncenakan dan tak
terduga. Sakit selalu hadir secara tiba-tiba. Tentu, semua orang merasakan
sakit.
Sakit yang menjamah seorang wartawan TEMPO, Dahlan
Iskan, sakit antara hidup dan mati yaitu sakit liver dan kanker. Tak terduga
orang seperti dia harus berbaring di rumah sakit berbulan-bulan. Kaget yang
dirasa publik—mulai teman-teman kantor, keluarga, hingga penikmat
tulisan-tulisannya—timbul berawal dari kondisi Dahlan Iskan sebelum-sebelumnya
yang sehat-sehat saja.
Menjalani operasi mampu bikin banyak orang terisak-isak.
Segala doa dipanjatkan. Tapi, Dahlan berdoa dengan sangat lapang dan simpel: Tuhan,
terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati,
matikanlah. Kalau saya harus hidup hidupkanlah. Selesai. (hal. 18)
Ketahanan Dahlan dalam menjalani operasi di rumah sakit: rasa
sakit dan bersabar lama-lama berbaring di kereta rumah sakit, sudah teruji
sejak kecil ketika dipukul bapaknya karena usil dan teruji sejak
bekerja-mengelola Koran Jawa Pos bertahun-tahun. Ia merasakannya
biasa-biasa saja. Senyum tersungging dari bibir manisnya.
Akhirnya proses operasi itu berjalan dengan baik. Dan, Dahlan
sembuh dari sakitnya. Karena baru saja sembuh, tentu ia tidak bisa bekerja
terlalu keras. Dikhawatirkan operasi itu membengkak. Tapi, hal demikian tak
jadi soal, namun yang tetap diinginkan Dahlan diperbolehkannya menulis. Karena
ia tidak mendapat larangan dari dokter, maka segala pengalamannya mulai sebelum
operasi hingga selesai, ia diskripsikan dalam bentuk tulisan yang diterbitkan di
Koran Jawa Pos dengan serial bersambung. Tulisan yang mencapai 32
seri dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku dengan tajuk Ganti Hati;
Tantangan Menjadi Menteri.
Lahirnya tulisan-tulisan degan ritme berutur dan menggunakan
kata-kata ringan dan renyah tak sulit dikonsumsi pembaca, baik pelajar tingkat
SD hingga perguruan tinggi. Kekreatifan Dahlan dalam membingkai pegalamannya
dalam bentuk tulisan ini adalah poin plus yang membedakan dia dan banyak orang
yang hanya mengabaikan pengalaman lapuk ditelan masa.
Nah, dengan hadirnya buku ini kita dapat membaca dan
merenungkan tulisan Dahlan sehingga menghasilkan konklusi: betapa pentingnya
mensyukuri karunia Allah swt (kesehatan) yang diberikan kepada kita dan sering
kita lalai mensyukurinya.
Selain itu, dengan membaca buku ini, kita tidak mudah fatalisme
dalam menyimpulkan segala hal yang terjadi. Seolah-olah kita tidak pernah
memfungsikan akal sebagai karunia-Nya yang mampu membedakan antara manusia
dengan binatang. Tulisan dalam buku ini mengajak kita menjadi orang yang mampu
mendiskripsikan pelbagai pengalaman secara ilmiah.
Dahlan menyimpulkan keberhasilan operasi livernya, selain
pertolongan Allah swt, juga melibatkan [1] keahlian dan pengalaman dokter; [2]
kecanggihan peralatan; [3] kemajuan obat-obatan; [4] kemampuan manajemen rumah
sakit dan tim operasi; [5] keberadaan donor yang sangat prima; [6] kondisi
badan Dahlan yang masih baik; dan [7] tim intern Dahlan yang canggih (hal 206).
Buku ini tidak hanya bermuat tulisan-tulisan Dahlan,
melainkan juga disetai galeri foto Dahlan sebelum, saat, dan setelah selesai
menjalani operasi disetai keterangan-keterangannya; tanggapan-tanggapan publik
baik lewat e-mail, SMS; dan jawaban Dahlan terhadap
tanggapan-tanggapan itu.
Hadirnya buku Ganti Hati; Tantangan Menjadi Menteri
karya Dahlan ini menjadi cermin bagi yang lain untuk terus semangat berbuat-menggapai
kesuksesan, optimis, dan kreatif. Dengan bahasa yang mudah dan diksi yang
sesuai buku ini layak mendapat apresiasi. Selamat membaca!
Lubangsa, 30 Juli 2015

No comments:
Post a Comment