Thursday, August 20, 2015

Belajar Mengabdi; Jalan Beribadah



Pelantikan pengurus PP. Annuqayah daerah Lubangsa masa bakti 2015-2017 M. telah selesai Malam Sabtu (14/8) di Aula Lubangsa. Beberapa santri yang terpilih sebagai pungurus dan terlantik secara legal-formal sah merencanakan kerja dan menjalankan renca mereka.

Seperti biasa pelantikan melewati jembatan ikrar sumpah kepada Allah swt; sifat hianat—salah satu tipe orang munafik—semestinya dikubur sedalam mungkin. Kerja keras disesuaikan dengan kemampuan guna memajukan pondok pesantren, bagi mereka, salah satu pengabdian kepada Allah swt.

Pelantik adalah K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Kehadiran beliau dalam acara ini—secara tidak langsung—memberikan contoh/teladan; bertanggung jawab dan semangat beliau dalam mengayomi santri. Semangat yang terpancar, tafsir saya, tak jauh dari moto hidup beliau yang memukau, “Kami adalah pekerja keras yang selalu tersenyum karena kerja kami adalah pengabdian. Dan, pengabdian adalah jalan ibadah kami.”

Yang bikin saya terkejut menghadiri pelantikan ini—karena saya termasuk salah satu pengurus PP. Annuqayah daerah Lubangsa yang diundang dan akan dilantik—adalah periode/masa bakti kepengurusan yang tampak berbeda dari masa-masa sebelumnya. Jika sebelumnya periode kepengurusan hanya berkisar kurang lebih satu tahun, maka periode kepengurusan sekarang berkisar kurang lebih dua tahun. Perubahan ini—sebagaimana disampaikan Kiai Fikri—terjadi karena perjalanan masa bakti kepengurusan satu tahun yang terkesan rumit; ketika akhir periode selalu disibukkan dengan pemilihan dan pelantikan kepengurusan, sehingga kegiatan-kegiatan banyak yang molor.

Selanjutnya, Ali Hisyam, S.Ud menyapaikan sambutan. Dari sekian sambutan yang panjang lebar, petikan menarik kalimat-kalimatnya yang dapat saya sitir dan segar dalam pikiran saya: //Belajar bersabar, sekalipun sukar//Rencanakan kerjamu dan kerjakan rencanamu//. Hati saya benar-benar tersentuh mengingat saya menjalani proses yang tak luput dari tantangan hingga saya terkadang merengek dan mengeluh.

Selesai. Kiai Fikri menyampaikan sambutan, sekaligus tausyiyah. Sekian tausyiah yang masih saya ingat: [a] Perubahan format struktur kepengurusan. Dalam struktur ini, kepengurusan ditambah dengan Seksi Badan Konseling—seksi ini bertugas mengatasi santri-santri yang melanggar—dan Waka HUMAS yang menjadi media komunikasi dengan masyarakat, lebih-lebih wali santri; [b] Cara mengatasi santri yang melanggar. Mental adalah satu-satunya yang menjadi penggerak santri bertindak baik atau brutal. Jadi, siapapun, termasuk santri, yang melanggar semestinya yang diatasi atau disentuh adalah mentalnya seperti diajak bicara, diberi tausyiyah, dll. Menindak dengan cara kekerasan seperti dipukul, ditempeleng, dsb, yang teratasi bukan mentalnya, melainkan jasadnya yang mengalami kefatalan seperti trauma dan stress; [c] Kreatif berpikir dan responsif terhadap masalah. Kiai tidak suka santri yang rewel dan lembek. Sedikit-sedikit punya masalah, tanpa dikaji, direnungkan dan dicari solusinya, langsung mengadu kepada beliau. Sebab, tipe orang seperti ini tidak kreatif; [d] Mengajari cara berbisnis yang baik. Pengurus KPL (Kebersihan dan Pelestarian Lingkungan) punya peluang membuka lahan bisnis seperti menanam aneka macam bunga dan dipasarkan dengan biaya yang ditentukan, dll; [e] Rencana membeli mobil pick up untuk kepentingan pesantren. Di antaranya, membuang sampah, mengantarkan barang-barang koperasi, dsb; [f] Rencana penggunaan Wi-Fi untuk kepentingan pesantren dan men-certer-kan semua komputer lembaga unit sehingga beliau mudah mengontrol pengoperasiannya dan hunting data; [g] Follow up rencana penerapan A’mal al-Yaum—buku pandungan PP. Annuqayah daerah Lubangsa meliputi doa-doa, tahlil, dll—berdasarkan jenjang pendidikan formal. Rencanan ini adalah tugas pengurus P2PK (Pendidikan, Pengajaran, dan Pengembangan Keilmuan). Indikatornya, santri minimal hafal doa-doa setelah shalat fardu, bisa menjadi imam, dsb; [h] Respons positif beliau atas rencana saya dan teman saya, Ach. Fairosi, untuk mendirikan Darul Alfiyah Lubangsa (DAL). Lembaga ini menjadi media santri yang berkeinginan belajar dan mengembangkan kitab kuning serta menghafalkan nazam Alfiyah-nya Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Suatu rencana, respons beliau, yang harus didukung guna memajukan Lubangsa Putra karena tanpa disadari Lubangsa Putra tertinggal dibandingkan Lubangsa Putri yang sedari tahun-tahun silam berdiri lembaga kitab yakni JTK; dan [i] Harapan beliau: pengurus PK (Pribadatan dan Kepesantrenan) menerapkan hataman Al-Qur’an setiap Maghrib dengan membentuk lingkaran, dan tidak menjadi munafik/menyepelekan tanggung jawab.

Tentang munafik, suatu kisah disampaikan Kiai Fikri mengenai pasukan perang Badar yang berpura-pura setia kepada Nabi Muhammad saw, namun akhirnya mereka ingkar alias munafik. Kira-kira 300% munafik dari 100% pasukan muslim. “Jika pada masa Nabi orang munafik mencapai 300%, kira-kira berapa persen orang munafik sekarang ini?” kata beliau.

Pembahasan munafik menjadi penutup di antara sekian sub-sub pembahasan yang disampaikan dalam tausyiyah itu. Munafik—menyitir ungkapan Kiai Fikri—adalah musuh dalam selimut. “Jangan ada dusta di antara kita,” harap beliau.

So, mari kita sama-sama berbaris melangkah guna beribadah kepada Allah swt melalui perantara mengabdi kepada pesantren! Hilangkan sifat ‘sok’ atau ‘keakuan’, karena yang menang di pesantren bukan mereka yang kuasa tapi mereka yang ikhlas.[]

Lubangsa, 16 Agustus 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...