Pelantikan pengurus PP. Annuqayah daerah Lubangsa masa bakti
2015-2017 M. telah selesai Malam Sabtu (14/8) di Aula Lubangsa. Beberapa santri
yang terpilih sebagai pungurus dan terlantik secara legal-formal sah
merencanakan kerja dan menjalankan renca mereka.
Seperti biasa pelantikan melewati jembatan ikrar sumpah
kepada Allah swt; sifat hianat—salah satu tipe orang munafik—semestinya dikubur
sedalam mungkin. Kerja keras disesuaikan dengan kemampuan guna memajukan pondok
pesantren, bagi mereka, salah satu pengabdian kepada Allah swt.
Pelantik adalah K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I, pengasuh PP.
Annuqayah daerah Lubangsa. Kehadiran beliau dalam acara ini—secara tidak
langsung—memberikan contoh/teladan; bertanggung jawab dan semangat beliau dalam
mengayomi santri. Semangat yang terpancar, tafsir saya, tak jauh dari moto
hidup beliau yang memukau, “Kami adalah pekerja keras yang selalu tersenyum
karena kerja kami adalah pengabdian. Dan, pengabdian adalah jalan ibadah kami.”
Yang bikin saya terkejut menghadiri pelantikan ini—karena
saya termasuk salah satu pengurus PP. Annuqayah daerah Lubangsa yang diundang
dan akan dilantik—adalah periode/masa bakti kepengurusan yang tampak berbeda
dari masa-masa sebelumnya. Jika sebelumnya periode kepengurusan hanya berkisar
kurang lebih satu tahun, maka periode kepengurusan sekarang berkisar kurang
lebih dua tahun. Perubahan ini—sebagaimana disampaikan Kiai Fikri—terjadi karena
perjalanan masa bakti kepengurusan satu tahun yang terkesan rumit; ketika akhir
periode selalu disibukkan dengan pemilihan dan pelantikan kepengurusan,
sehingga kegiatan-kegiatan banyak yang molor.
Selanjutnya, Ali Hisyam, S.Ud menyapaikan sambutan. Dari
sekian sambutan yang panjang lebar, petikan menarik kalimat-kalimatnya yang
dapat saya sitir dan segar dalam pikiran saya: //Belajar bersabar, sekalipun
sukar//Rencanakan kerjamu dan kerjakan rencanamu//. Hati saya benar-benar
tersentuh mengingat saya menjalani proses yang tak luput dari tantangan hingga
saya terkadang merengek dan mengeluh.
Selesai. Kiai Fikri menyampaikan sambutan, sekaligus
tausyiyah. Sekian tausyiah yang masih saya ingat: [a] Perubahan format struktur
kepengurusan. Dalam struktur ini, kepengurusan ditambah dengan Seksi Badan Konseling—seksi
ini bertugas mengatasi santri-santri yang melanggar—dan Waka HUMAS yang menjadi
media komunikasi dengan masyarakat, lebih-lebih wali santri; [b] Cara mengatasi
santri yang melanggar. Mental adalah satu-satunya yang menjadi penggerak santri
bertindak baik atau brutal. Jadi, siapapun, termasuk santri, yang melanggar
semestinya yang diatasi atau disentuh adalah mentalnya seperti diajak bicara,
diberi tausyiyah, dll. Menindak dengan cara kekerasan seperti dipukul, ditempeleng,
dsb, yang teratasi bukan mentalnya, melainkan jasadnya yang mengalami kefatalan
seperti trauma dan stress; [c] Kreatif berpikir dan responsif terhadap
masalah. Kiai tidak suka santri yang rewel dan lembek. Sedikit-sedikit punya
masalah, tanpa dikaji, direnungkan dan dicari solusinya, langsung mengadu
kepada beliau. Sebab, tipe orang seperti ini tidak kreatif; [d] Mengajari cara
berbisnis yang baik. Pengurus KPL (Kebersihan dan Pelestarian Lingkungan) punya
peluang membuka lahan bisnis seperti menanam aneka macam bunga dan dipasarkan
dengan biaya yang ditentukan, dll; [e] Rencana membeli mobil pick up untuk
kepentingan pesantren. Di antaranya, membuang sampah, mengantarkan
barang-barang koperasi, dsb; [f] Rencana penggunaan Wi-Fi untuk
kepentingan pesantren dan men-certer-kan semua komputer lembaga unit
sehingga beliau mudah mengontrol pengoperasiannya dan hunting data; [g] Follow
up rencana penerapan A’mal al-Yaum—buku pandungan PP. Annuqayah
daerah Lubangsa meliputi doa-doa, tahlil, dll—berdasarkan jenjang pendidikan
formal. Rencanan ini adalah tugas pengurus P2PK (Pendidikan, Pengajaran, dan
Pengembangan Keilmuan). Indikatornya, santri minimal hafal doa-doa setelah
shalat fardu, bisa menjadi imam, dsb; [h] Respons positif beliau atas rencana
saya dan teman saya, Ach. Fairosi, untuk mendirikan Darul Alfiyah Lubangsa
(DAL). Lembaga ini menjadi media santri yang berkeinginan belajar dan
mengembangkan kitab kuning serta menghafalkan nazam Alfiyah-nya Muhammad
bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Suatu rencana, respons beliau, yang harus
didukung guna memajukan Lubangsa Putra karena tanpa disadari Lubangsa Putra
tertinggal dibandingkan Lubangsa Putri yang sedari tahun-tahun silam berdiri
lembaga kitab yakni JTK; dan [i] Harapan beliau: pengurus PK (Pribadatan dan
Kepesantrenan) menerapkan hataman Al-Qur’an setiap Maghrib dengan membentuk
lingkaran, dan tidak menjadi munafik/menyepelekan tanggung jawab.
Tentang munafik, suatu kisah disampaikan Kiai Fikri mengenai
pasukan perang Badar yang berpura-pura setia kepada Nabi Muhammad saw, namun
akhirnya mereka ingkar alias munafik. Kira-kira 300% munafik dari 100% pasukan
muslim. “Jika pada masa Nabi orang munafik mencapai 300%, kira-kira berapa
persen orang munafik sekarang ini?” kata beliau.
Pembahasan munafik menjadi penutup di antara sekian sub-sub
pembahasan yang disampaikan dalam tausyiyah itu. Munafik—menyitir ungkapan Kiai
Fikri—adalah musuh dalam selimut. “Jangan ada dusta di antara kita,” harap
beliau.
So, mari kita sama-sama berbaris
melangkah guna beribadah kepada Allah swt melalui perantara mengabdi kepada
pesantren! Hilangkan sifat ‘sok’ atau ‘keakuan’, karena yang menang di
pesantren bukan mereka yang kuasa tapi mereka yang ikhlas.[]
Lubangsa, 16 Agustus 2015
No comments:
Post a Comment