Sunday, January 3, 2016

Karena Berani Bermimpi



Judul Buku
Sang Pemimpi
Penulis
Andrea Hirata
Penerbit
PT Bentang Pustaka
Cetakan
32, Maret 2015
Tebal
247 halaman
ISBN
979-3062-92-4

Setelah Laskar Pelangi diluncurkan dan booming, terbitlah novel Andrea Hirata selanjutnya yang berjudul Sang Pemimpi. Jika Laskar Pelangi berkisah tentang sepak terjang hidup Andrea: belajar bersama para Laskar Pelangi, berguru kepada Bu Muslimah dan Pak Harfan di Sekolah Muhammadiyah Belitong, dan pengalaman cintanya bersama A Ling, Sang Pemimpi—buku kedua tetralogi Laskar Pelangi—berkisah tentang perjalanan Andrea berikutnya, baik dalam menempuh pendidikan maupun kisah cintanya.

Dalam novel ini Andrea mengisahkan perjalanan hidupnya, tidak bersama dua guru favorit di Sekolah Muhammadiyah dan para Laskar Pelangi, tetapi diceritakannya ia bersama teman barunya yakni Arai dan Jimbron. Secara genetik, Arai dan Jimbron berbeda. Arai adalah sepupu Ikal yang jauh, sedangkan Jimbron teman dekat tanpa ikatan famili.

Kedekatan Ikal dengan Arai mencipta hikmah yang dapat dipetik. Ikal dapat belajar tentang arti penting kemandirian. Disadari mandiri adalah kunci seseorang menjadi dewasa. Arai terbiasa mencari akar banar untuk dijual di pasar. Akar itu dapat dipergunakan untuk menusuk-nusuk insang ikan agar mudah ditenteng pembeli. Dan, ia terbiasa mengambil akar purun, perdu yang tumbuh di rawa-rawa. Akar ini dapat ia jual kepada pedagang kelontong untuk mengikat bungkus terasi. Dialah Arai. Tak terbayang kalo Arai dapat menjadi guru yang mengajari Ikal menjadi orang yang mandiri pula, sekalipun mereka sefamili dan saling berteman.

Perjalanan hidup Jimbron tak kalah mulus. Kendati ia menjadi yatim dan patuh atas agamanya yakni Islam, ia ditakdirkan Tuhan diasuh seorang pendeta agama Katolik yang telaten dan penuh perhatian. Disadari, membudayakan hidup rukun bukanlah berdiri dalam “persamaan”: seagama, sesuku, seras, dan seetnis. Dalam perbedaan pun, manusia diperintahkan—untuk tidak mengatakan “diwajibkan”—hidup saling rukun. Menghindari sikap saling mencela, mencemooh, menindas, dst.

Sikap hidup rukun ini juga diaplikasikan Pendeta Geovanny yang beragama katolik saat mengasuh Jimbron yang jelas-jelas memeluk agama Islam. Pendeta berdarah Italia itu tak sedikitpun bermaksud mengubah keyakinan Jimbron. Dia malah tak pernah telat jika mengantarkan Jimbron mengaji ke masjid. (hal 49).

Ikal, Arai, dan Jimbron punya pengalaman yang sama sejak belajar di SMA Negeri Tanjong Pandan: mereka sama-sama usil hingga bikin Pak Mustar, guru di sekolah tersebut, geram dan marah. Bedanya, mereka tidak semuanya cerdas dan berprestasi. Hanya Ikal dan Arai yang selalu mendapat nilai terbaik di kelas: Ikal berada di peringkat 3 dan Arai ada di peringkat 5. Tapi, Jimbron berada di peringkat dua puluh ke belakang.

Kesamaan yang lain, Ikal, Arai dan Jimbron sama-sama punya mimpi melangit untuk masa depan. Pada saat itulah, aku (Ikal), Arai, dan  Jimbron, mengikrarkan suatu harapan yang ambisius: kami ingin dan harus sekolah ke Prancis! Ingin menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajah Eropa sampai ke Afrika. Begitu tinggi cita-cita itu. Mengingat keadaan kami yang amat terbatas, semua tak lebih dari impian saja. Tapi, di depan tokoh karismatik seperti Pak Balia, semuanya seakan mungkin! (hal 62).

Arai tergeletak di atas selembar tikar purun, dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dipakai untuk sekolah dan bekerja. Dia bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan. Dia, seperti aku dan Jimbron, tak punya “kemewahan” untuk memperhatikan diri sendiri. Yang tersisa untuk Arai, untuk kami, memang hanya semangat dan mimpi-mimpi. (hal 160). Keterbatasan ini yang mengajarkan mereka punya komitmen hidup melalui fatwa guru mereka.

Guru, merujuk pada penafsiran sebagian orang berarti “digugu dan ditiru”. Setiap perkataan dan perbuatannya menjadi cermin bagi anak didiknya. Makanya, ia tidak boleh tampil dengan contoh yang amoral, sehingga berakibat fatal terhadap sikap anak didiknya. Didik dan ajari mereka yang baik agar masa depan mereka terarah dan menjadi genarasi ulama atau ilmuwan sejati.

Jangan fatahkan semangat mereka, sehingga mereka jadi pesimis. Motivasi mereka dengan mimpi-mimpi pasti demi kecemerlangan masa depan. Coba Anda lihat bagaimana Pak Balia menyampaikan dengan berapi-api di dapan Ikal dan Arai. Sekalipun yang perkataan itu adalah mimpi-mimpi muskil. “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban.” (hal 61).

Keseriusan mereka bertiga dalam kemandirian sedikitpun tak mengurangi sikap jujur akan kata nurani mereka. Mereka juga terlena dengan kemegahan cinta. Ikal sejak dari dulu terbius kecantikan A Ling. Nah, Arai pun mabuk meneguk telaga seorang gadis rupawan, yakni Nurmala. Dan, Jimbron yang lugu terketuk hatinya dengan paras Laksmi yang memukau.

Sehingga, pengorbanan meraih cinta semakin membakar semangat jihad mereka. Sebagai misal, Arai yang tanpa perhitungan meluangkan waktunya untuk belajar jampi-jampi menghadirkan cinta kepada seorang musisi hebat, Bang Zaitun.

“Jika bisa memanfaatkannya secara baik, gitar sesungguhnya adalah benda yang besar pengaruhnya dalam kesuksesan romansa ... hihihi ....” (hal 179). Jelas Bang Zaitun kepada Arai dan Ikal sambil cekikikan.

Tak banyak omong, jampi-jampi yang diajari Bang Zaitun adalah kepandaian memetik gitar. Ya, memetik gitar. Teori ini terbukti kepada Bang Zaitun sendiri; tak sedikit cewek yang nempel sama Bang Zaitun. Seakan-akan ia seperti gula yang dikerubuni semut-semut karena manis.

Mistik mimpi yang seakan-akan absurd bukanlah omong kosong. Di situ ada kekuatan metafisika dan magis sehingga mimpi itu mencipta kenyataan. Demikian mimpi Ikal dan Arai yang terinspirasi dari fatuwah Bak Balia tempo dulu. Mereka lulus beasiswa kuliah di Universite de Paris, Sorbonne, Prancis di antara ribuan pelamar. Almamater altar suci Sorbonne dan menara Eiffel sebagai jantung Paris bukan bayang-bayang lagi bagi mereka. Nyata, benar-benar nyata.

Sang pemimpi bukanlah sang penghayal yang kosong akan makna. Disitulah mimpi-mimpi mereka dipeluk, didengar, dan dilihat Tuhan. Saat mimpi jadi nyata, tanpa terasa mereka berdecak, “Masya Allah!” Silahkan tenunlah sejuta mimpi dari sekarang![]

Annuqayah, 20 November 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...