Kemarin
sore saya bertemu dengan teman kamar tempo dulu dan diminta menulis cerita
proses saya hingga menjadi sang juara dalam kompetisi tingkat JATIM. Awalnya fifty-fifty.
Antara mengiyakan atau menolak. Soalnya, saya malu mengurai cerita ini
karena banyak teman saya yang berprestasi di atas level prestasi saya. Tapi,
akhirnya saya mengiyakan juga melihat raut muka teman saya tadi yang coraknya
memelas.
Masa
Menanam
Di
rumah ada sebuah surau yang ditempati anak-anak ngaji atau belajar. Mereka
mengaji Al-Qur’an serta belajar kitab kuning kepada Aba saya. Tepat belajar
kitab, baik di waktu pagi hari dan malam hari, Aba sering mereview materi
yang disampaikan. Materi yang berlangsung di pagi hari direview di malam
harinya, begitu pula materi yang disuguhkan di malam hari diulang kembali di
pagi harinya.
Dalam
review itu, Aba sering menyertakan pertanyaan-pertanyaan. Nyatanya, banyak
anak-anak yang lupa terhadap poin-poin yang telah disampaikan. Biasanya, meteri
yang direview adalah Nahwu dan Sharraf. Misal, ditanya “mubtada’ dan khabar”, “fiil dan fail”, dan lain semacamnya, anak-anak masih mikir tujuh keliling.
Akhirnya pertanyaan itu tak terjawab.
Sehingga,
Aba berinisiatif membaca doa yang diperoleh dari Kyai Warits sejak mondok di
Annuqayah silam. Mungkin atau tentu saja, ingatan yang tumpul mereka disebabkan
banyak melakukan maksiat. “Maksiat” di kampung saya sering diartikan dengan
melakukan dosa karena cuci mata. Saya sebagai putra dan muridnya, mengakui
kalau maksiat itu termasuk virus yang dapat menghapus hafalan yang
tersimpan di memori.
Tapi,
saya melihat lebih jauh penyebab yang tampak di mata dan rasional adalah malas
dalam belajar. Faktanya, anak-anak hanya rajin belajar saat di forum saja, tapi
di luar mereka membiarkan kitab itu tergeletak di lemari. Mereka lebih senang
keluyuran atau bermain.
Saya
yang diperhatikan betul oleh orang tua, sedikit pun, dilarang bermain dengan
teman-teman. Aba, begitu pula Umi lebih menginginkan anaknya terlihat membaca
buku atau kitab. Sebagai anak-anak keinginan bergurau dan berbaur seperti
mereka terngiang. Namun, kondisi yang membatasi ruang gerak saya. Dengan
terpaksa saya harus menatap kitab turats yang njelimet minta ampun. Awalnya hati saya
menggerutu. “Abah jahat. Ummi jahat.” Teman-teman saya tak ada yang tahu kalau
saya sedang merintih, selain saya dan Tuhan.
Hari
demi hari rutinitas belajar bertambah akrab dalam diri saya. Sedikit-sedikit
ghirah belajar kitab tumbuh sendiri, hingga menjadi konsumsi favorit. Tak
heran, jika koleksi kitab yang saya baca, baik sebagian atau sampai finis,
tersusun di rak buku. Misal, Fath al-Qarib, Sullam al-Taufiq, Maraq
al-Ubudiyah, Riyad al-Shalihin, Tafsir Jalalain, Mukhtashar Jiddan, Asmawi,
Kailany, Alfiyah ibnu Aqil, Alfiyah ibnu Malik, Kawakib, dll.
Membaca
buku-buku selain meteri pelajaran sekolah sedikit pun tak punya daya tarik,
kendatipun saya jadi pustakawan saat itu. Maklum, jika saya ditanya peminjam
waktu itu tentang judul buku yang ada di deretan rak, saya jadi mumet.
Dari
sekian bidang pengetahuan yang tertulis dalam kitab, yang paling saya sukai,
materi Nahwu dan Sharraf. Meteri itu, menurut saya, cocok dipelajari pemula
pelajar kitab. Sebab, membaca kitab tak semudah membaca buku-buku yang berbahasa
Indonesia, melainkan membutuhkan kemampuan tatabahasa dan bahasa Arab yang
baik.
Atas
dasar senang saja, buku Matan Jurmiyah yang disusun santri pondok
pesantren Annuqayah—menurut sebagian santri Pondok Pesantren Annuqayah, kitab
itu karya Bapak Sirri, santri PPA. Latee—dapat saya hafal mulai dari bab “kalam”
sampai “makhfudhat al-as’ma’.” Bermodalkan hafalan, ghirah
membaca kitab semakin tumbuh hingga mendorong saya mencari guru belajar
terhadap alumni pondok pesantren, baik salaf atau semi-salaf. Di antaranya,
Bapak Sarbini, alumni Pondok Pesantren Karai; Bapak Wakid, alumni Pondok
Pesantren Kediri; Bapak Raqib, alumni PPA. Lubangsa; Kyai Amiruddin; dan Aba
saya sendiri.
Sejak
belajar di kelas 1 MTs Al-Furqan-Keles, Aba dan sebagian guru tahu kalau saya
suka meteri Nahwu dan Sharraf. Popularitas itu booming berawal dari tanya-jawab antara saya dan Kyai Amiruddin di
ajang kompetesi Tahfid Amtsilaty hingga menghabiskan waktu yang lama.
Dan, atas takdir Tuhan, saya meraih juara 1.
Pada
saat santai, Aba mengimbau saya menghafal nadham Alfiyah karya Muhammad
bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Seperti tajuk kitabnya, jumlah nadham
tersebut terhitung sebanyak 1000 bait. Saya manarik nafas dalam-dalam. Kaget.
Tampak perasaan pesimis di raut muka saya. “Alfiyah...!!!” desis saya.
Mencoba,
bagi saya, lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tujuh bait nadham mampu
teredam dalam memori. Tapi, seiring perjalanan waktu semangat menghafal jadi
“kempis.” Jadinya, berhenti.
Tampak
ada yang ganjal, Aba tanya pada saya tentang hafalan Alfiyah. Ya, saya
jawab apa adanya; saya tidak sempat menghafal. Tidak langsung memarahi, Aba
memotivasi saya dengan sebuah cerita Kiai Warits yang hafal Alfiyah selama
satu minggu setelah ditegur oleh Abanya, Kiai Ilyas karena tidak naik kelas.
Hingga,
saya mampu bangkit dari keterpurukan ini. Tanpa ada target setiap hari,
beberapa bait nadham Alfiyah sedikit demi sedikit dihafal disertai
pemahaman maksud nadhamnya. Saya masih ingat kalau hafalan itu bermula dari
pertengahan tahun semester 2 kelas 2 MTs sampai akhir tahun semester 2 kelas 3
MTs. Kira-kira 1 tahun setengah.
Tahun
2009 saya melanjutkan studi di Pondok Pesantren Annuqayah. Banyak orang bilang
selamat. “Selamat belajar!” Sejak itu masa saya menanam sambil menunggu
masa penen.
Masa
Panen
Di Pondok
Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, saya dipasrahkan kepada kiai. Pengasuh
pesantren saat itu Kiai Warits. Di sana, seperti kesukaan saya, membaca kitab
kuning tak dapat tergantikan. Bisik-bisik teman pondok dapat saya dengar. “Eh, tu orang seneng kitab,” desisnya. Tapi, saya tak mengubris. Saya
bertanya-tanya, “Dari mana mereka tahu?! Apa karena saya sering baca kitab?”
Tepat
bulan Sa’ban, Markaz Bahasa Arab mengadakan acara yang disebut “Sya’baniyah.”
Acara kompetesi ini hanya diperuntukkan untuk santri Pondok Pesantren
Annuqayah, baik putra atau putri. Tak dikira, nama saya tercantum dalam daftar
lomba. Saya kaget. Setelah ditelusuri ternyata yang mendaftarkan saya adalah
Bapak Amirul Khatib. Tapi, saya masih belum mengenalnya.
Melihat
kenyataan itu, saya berusaha mengurungkan diri tidak ikut, tapi Pak Khatib
tetap memaksa. Sebuah kata terlontar dari mulut saya, “Saya ke pondok pesantren
ini hanya untuk belajar, bukan berlomba.” Tolakan ini seakan-akan tak berefek
sedikit pun, sebab nama saya sudah tercantum di daftar lomba. Tidak boleh tidak
saya harus maju, kendati pun tidak siap.
Selesai
berlomba, nurani saya yakin kemenangan ada di pahak saya. Tapi... di acara
penutupan nama saya tak disebut-sebut sama sekali. Gejolak jiwa bercampur aduk,
kecewa dan optimis.
Selang
tahun berikutnya, acara yang sama digelar kembali, saya coba ikut sebagai
delegasi PPA. Lubangsa. Persiapan dimatangkan disertai rasa percaya diri yang
kuat, akhirnya proses yang berbulan-bulan membuahkan hasil. Saya dinobatkan
sebagai juara 1 dalam lomba Qira’atul
Kutub Fathul Mu’ien dan Tahfid Alfiyah. Saya bersyukur melihat
nikmat Tuhan yang tak terkira, tapi nurani masih ingat semua ini tak seberapa
karena di atas langit masih ada langit sampai seterusnya.
Pada
kesempatan yang lain, saya didelegasikan pada acara Musabaqah Qira’atil Kutub
(MQK) Sejawa Timur di PP. Kediri dalam bidang Tahfid Al-Fiyah. Pengalaman
pertama saya ikut lomba dalam level Jatim. Al-hasil, walau usaha dan doa yang
membaur menjadi satu, saya terjatuh. Di atas kegagalan ini, hakikatnya
kesuksesan yang tertunda.
Jawaban
itu dapat saya petik ketika MQK ke-3 Se-Jatim di PP. Nurul Qadhim-Paiton; saya
meraih juara 3 bidang Nahwu-Ulya (Tahfid Alfiyah) dan MQK ke-4 Se-Jatim
di PP. Syaikhona Cholil Bangkalan; saya pun dinobatkan sebagai juara 2 bidang
Nahwu-Ulya (Tahfid Alfiyah).
Itulah,
masa panen setelah masa menanam. Saya sadar, bahwa peran “takdir” tanpa
menafikan “usaha” dan “doa,” baik doa kedua orang tua, guru, teman-teman, dan
yang lain.[]
No comments:
Post a Comment