Wednesday, July 8, 2015

Dari Menanam hingga Panen; Kaitan “Takdir” dengan “Usaha” dan “Doa”



Kemarin sore saya bertemu dengan teman kamar tempo dulu dan diminta menulis cerita proses saya hingga menjadi sang juara dalam kompetisi tingkat JATIM. Awalnya fifty-fifty. Antara mengiyakan atau menolak. Soalnya, saya malu mengurai cerita ini karena banyak teman saya yang berprestasi di atas level prestasi saya. Tapi, akhirnya saya mengiyakan juga melihat raut muka teman saya tadi yang coraknya memelas.

Masa Menanam
Di rumah ada sebuah surau yang ditempati anak-anak ngaji atau belajar. Mereka mengaji Al-Qur’an serta belajar kitab kuning kepada Aba saya. Tepat belajar kitab, baik di waktu pagi hari dan malam hari, Aba sering ­mereview materi yang disampaikan. Materi yang berlangsung di pagi hari direview di malam harinya, begitu pula materi yang disuguhkan di malam hari diulang kembali di pagi harinya.

Dalam review itu, Aba sering menyertakan pertanyaan-pertanyaan. Nyatanya, banyak anak-anak yang lupa terhadap poin-poin yang telah disampaikan. Biasanya, meteri yang direview adalah Nahwu dan Sharraf. Misal, ditanya “mubtada’ dan khabar”, “fiil dan fail”, dan lain semacamnya, anak-anak masih mikir tujuh keliling. Akhirnya pertanyaan itu tak terjawab.

Sehingga, Aba berinisiatif membaca doa yang diperoleh dari Kyai Warits sejak mondok di Annuqayah silam. Mungkin atau tentu saja, ingatan yang tumpul mereka disebabkan banyak melakukan maksiat. “Maksiat” di kampung saya sering diartikan dengan melakukan dosa karena cuci mata. Saya sebagai putra dan muridnya, mengakui kalau maksiat itu termasuk virus yang dapat menghapus hafalan yang tersimpan di memori.

Tapi, saya melihat lebih jauh penyebab yang tampak di mata dan rasional adalah malas dalam belajar. Faktanya, anak-anak hanya rajin belajar saat di forum saja, tapi di luar mereka membiarkan kitab itu tergeletak di lemari. Mereka lebih senang keluyuran atau bermain.

Saya yang diperhatikan betul oleh orang tua, sedikit pun, dilarang bermain dengan teman-teman. Aba, begitu pula Umi lebih menginginkan anaknya terlihat membaca buku atau kitab. Sebagai anak-anak keinginan bergurau dan berbaur seperti mereka terngiang. Namun, kondisi yang membatasi ruang gerak saya. Dengan terpaksa saya harus menatap kitab turats yang njelimet minta ampun. Awalnya hati saya menggerutu. “Abah jahat. Ummi jahat.” Teman-teman saya tak ada yang tahu kalau saya sedang merintih, selain saya dan Tuhan.

Hari demi hari rutinitas belajar bertambah akrab dalam diri saya. Sedikit-sedikit ghirah belajar kitab tumbuh sendiri, hingga menjadi konsumsi favorit. Tak heran, jika koleksi kitab yang saya baca, baik sebagian atau sampai finis, tersusun di rak buku. Misal, Fath al-Qarib, Sullam al-Taufiq, Maraq al-Ubudiyah, Riyad al-Shalihin, Tafsir Jalalain, Mukhtashar Jiddan, Asmawi, Kailany, Alfiyah ibnu Aqil, Alfiyah ibnu Malik, Kawakib, dll.

Membaca buku-buku selain meteri pelajaran sekolah sedikit pun tak punya daya tarik, kendatipun saya jadi pustakawan saat itu. Maklum, jika saya ditanya peminjam waktu itu tentang judul buku yang ada di deretan rak, saya jadi mumet.

Dari sekian bidang pengetahuan yang tertulis dalam kitab, yang paling saya sukai, materi Nahwu dan Sharraf. Meteri itu, menurut saya, cocok dipelajari pemula pelajar kitab. Sebab, membaca kitab tak semudah membaca buku-buku yang berbahasa Indonesia, melainkan membutuhkan kemampuan tatabahasa dan bahasa Arab yang baik.

Atas dasar senang saja, buku Matan Jurmiyah yang disusun santri pondok pesantren Annuqayah—menurut sebagian santri Pondok Pesantren Annuqayah, kitab itu karya Bapak Sirri, santri PPA. Latee—dapat saya hafal mulai dari bab “kalam” sampai “makhfudhat al-as’ma’.” Bermodalkan hafalan, ghirah membaca kitab semakin tumbuh hingga mendorong saya mencari guru belajar terhadap alumni pondok pesantren, baik salaf atau semi-salaf. Di antaranya, Bapak Sarbini, alumni Pondok Pesantren Karai; Bapak Wakid, alumni Pondok Pesantren Kediri; Bapak Raqib, alumni PPA. Lubangsa; Kyai Amiruddin; dan Aba saya sendiri.

Sejak belajar di kelas 1 MTs Al-Furqan-Keles, Aba dan sebagian guru tahu kalau saya suka meteri Nahwu dan Sharraf. Popularitas itu booming berawal dari tanya-jawab antara saya dan Kyai Amiruddin di ajang kompetesi Tahfid Amtsilaty hingga menghabiskan waktu yang lama. Dan, atas takdir Tuhan, saya meraih juara 1.

Pada saat santai, Aba mengimbau saya menghafal nadham Alfiyah karya Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Seperti tajuk kitabnya, jumlah nadham tersebut terhitung sebanyak 1000 bait. Saya manarik nafas dalam-dalam. Kaget. Tampak perasaan pesimis di raut muka saya. “­Alfiyah...!!!” desis saya.

Mencoba, bagi saya, lebih baik dari pada tidak sama sekali. Tujuh bait nadham mampu teredam dalam memori. Tapi, seiring perjalanan waktu semangat menghafal jadi “kempis.” Jadinya, berhenti.

Tampak ada yang ganjal, Aba tanya pada saya tentang hafalan Alfiyah. Ya, saya jawab apa adanya; saya tidak sempat menghafal. Tidak langsung memarahi, Aba memotivasi saya dengan sebuah cerita Kiai Warits yang hafal Alfiyah selama satu minggu setelah ditegur oleh Abanya, Kiai Ilyas karena tidak naik kelas.

Hingga, saya mampu bangkit dari keterpurukan ini. Tanpa ada target setiap hari, beberapa bait nadham Alfiyah sedikit demi sedikit dihafal disertai pemahaman maksud nadhamnya. Saya masih ingat kalau hafalan itu bermula dari pertengahan tahun semester 2 kelas 2 MTs sampai akhir tahun semester 2 kelas 3 MTs. Kira-kira 1 tahun setengah.

Tahun 2009 saya melanjutkan studi di Pondok Pesantren Annuqayah. Banyak orang bilang selamat. “Selamat belajar!” Sejak itu masa saya menanam sambil menunggu masa penen.

Masa Panen
Di Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, saya dipasrahkan kepada kiai. Pengasuh pesantren saat itu Kiai Warits. Di sana, seperti kesukaan saya, membaca kitab kuning tak dapat tergantikan. Bisik-bisik teman pondok dapat saya dengar. “Eh, tu orang seneng kitab,” desisnya. Tapi, saya tak mengubris. Saya bertanya-tanya, “Dari mana mereka tahu?! Apa karena saya sering baca kitab?”

Tepat bulan Sa’ban, Markaz Bahasa Arab mengadakan acara yang disebut “Sya’baniyah.” Acara kompetesi ini hanya diperuntukkan untuk santri Pondok Pesantren Annuqayah, baik putra atau putri. Tak dikira, nama saya tercantum dalam daftar lomba. Saya kaget. Setelah ditelusuri ternyata yang mendaftarkan saya adalah Bapak Amirul Khatib. Tapi, saya masih belum mengenalnya.

Melihat kenyataan itu, saya berusaha mengurungkan diri tidak ikut, tapi Pak Khatib tetap memaksa. Sebuah kata terlontar dari mulut saya, “Saya ke pondok pesantren ini hanya untuk belajar, bukan berlomba.” Tolakan ini seakan-akan tak berefek sedikit pun, sebab nama saya sudah tercantum di daftar lomba. Tidak boleh tidak saya harus maju, kendati pun tidak siap.

Selesai berlomba, nurani saya yakin kemenangan ada di pahak saya. Tapi... di acara penutupan nama saya tak disebut-sebut sama sekali. Gejolak jiwa bercampur aduk, kecewa dan optimis.

Selang tahun berikutnya, acara yang sama digelar kembali, saya coba ikut sebagai delegasi PPA. Lubangsa. Persiapan dimatangkan disertai rasa percaya diri yang kuat, akhirnya proses yang berbulan-bulan membuahkan hasil. Saya dinobatkan sebagai juara 1 dalam lomba  Qira’atul Kutub Fathul Mu’ien dan Tahfid Alfiyah. Saya bersyukur melihat nikmat Tuhan yang tak terkira, tapi nurani masih ingat semua ini tak seberapa karena di atas langit masih ada langit sampai seterusnya.

Pada kesempatan yang lain, saya didelegasikan pada acara Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Sejawa Timur di PP. Kediri dalam bidang Tahfid Al-Fiyah. Pengalaman pertama saya ikut lomba dalam level Jatim. Al-hasil, walau usaha dan doa yang membaur menjadi satu, saya terjatuh. Di atas kegagalan ini, hakikatnya kesuksesan yang tertunda.

Jawaban itu dapat saya petik ketika MQK ke-3 Se-Jatim di PP. Nurul Qadhim-Paiton; saya meraih juara 3 bidang Nahwu-Ulya (Tahfid Alfiyah) dan MQK ke-4 Se-Jatim di PP. Syaikhona Cholil Bangkalan; saya pun dinobatkan sebagai juara 2 bidang Nahwu-Ulya (Tahfid Alfiyah).

Itulah, masa panen setelah masa menanam. Saya sadar, bahwa peran “takdir” tanpa menafikan “usaha” dan “doa,” baik doa kedua orang tua, guru, teman-teman, dan yang lain.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...