Diri saya gundah untuk mencari pendapatan kali ini. Dirasa
sulit adanya pendapatan tanpa berbisnis. Saya sadar bahwa tinggal di pesantren,
bukan untuk bekerja (berbisnis), melainkan belajar. Bebisnis bisa diterapkan di
luar pesantren. Tapi, tak kenapa santri yang kreatif mengembangkan bakatnya,
sehingga melahirkan uang sebagai pendapatan.
Sekarang, saya punya rencana mengembangan uang dengan menjual
buku panduan BIMSUS seharga sekian dan labanya sekian pula. Secara tidak
langsung sudah terkalkulasi harga jual dan labanya. Jadi, dapat dibilang saya
akan punya pendapatan segini. Semoga rencana tersebut ber-ending baik!
Menariknya, mengingat-ingat bisnis buku panduan kursus bahasa
Inggris di lembaga pengembangan bahasa asing di pondok. Bisnis ini berawal dari
keterbatasan kas lembaga untuk perjalanan kursus serta beragam kegiatan yang
membutuhkan dana selama satu periode. Disadari lembaga tersebut tidak punya
modal sepeser pun kala itu, walau sekecil seratus rupiah. Bermodalkan berani
dan optimis saya pinjam uang sebagai modal awal ke bendahara pesantren, Pak
Wahid.
Faktanya, buku yang dicetak menjadi 150 eksamplar menuai
hasil sebanyak Rp. 500.000,- lebih. Sungguh mengejutkan dengan laba sebanyak
itu. Optimis, kegiatan lembaga akan terlaksana.
Begitu pula, bisnis studi komparatif dengan membuka
pendaftaran peserta kira-kira 61 orang dengan tarif per-orang sebesar Rp.
150.000,-. Dikalkulasi, tarif bus dua hari tiga malam diperkirakan kurang lebih
Rp. 8.000.000,-. Jadi, dengan peserta yang lumayan banyak dipastikan nanti akan
menghasilkan laba kurang lebih Rp. 2.000.000,-. Kas lembaga yang sebelumnya
berkisar kira-kira satu juta, nanti usai acara diperkirakan hampir tiga jutaan.
“Sungguh pemasukan yang lumayan makmur!” decak mulut saya.
Pengalaman bisnis yang saya ingat tak hanya itu saja, masih
banyak yang lain. Saya rasa tak penting diurai dalam tulisan ini. Yang
terpenting berdasarkan uraian singkat di atas dapat menggambar kegirangan saya
belajar berbisnis, walau semua itu tak ada sangkut pautnya dengan jurusan saya
di bangku kuliah, Ilmu Al-Qur’an dan Hadits (IQT). Saya pikir tak kenapa. Siapa
pun orangnya tak ada larangan jadi pembisnis. Tak harus jurusan Ekonomi, yang
patut duduk di dunia bisnis. Sebab, menyongsong masa depan, bagi saya,
sepenuhnya tak cukup mendewakan jurusan, melainkan perlu mengikutsertakan
bidang pengetahuan yang lain.
Hidup berbisnis yang sehat dirasa perlu dan sangat dianjurkan
dalam Islam. Mengingat sepak terjang kehidupan Nabi Muhammad sejak usia dewasa
hingga menjadi nabi, hidup beliau diwarnai dengan bisnis seperti berdagang
kambing milik Siti Khodijah. Sehingga, usahanya membuahkan hasil yang melimpah.
Akhirnya, beliau nikah dengan Siti Khodijah.
“Berbisnis” merupakan ciri-ciri orang yang mandiri. Dia hidup
dengan penghasilan tangannya sendiri, bukan meminta-minta. Saya ingat hadits
nabi tentang kemuliaan orang yang memberi (al-yad
al-ulyaa)dari pada orang yang meminta-minta (al-yad al-suflaa). Bahkan, Islam melarang pemeluknya meminta-minta.
Sebab, perkembangan Islam, salah satunya, ada di tangan muslim yang kuat (orang
yang bermodal).
* * *
Selain pengalaman yang telah berlalu, saya punya cerita
manarik. Cerita itu tumbuh tanpa direncanakan.
Kemarin (25/06), kira-kira jam 05.00 saya pulang dari Kantor
Yayasan Annuqayah menuju asrama bahasa Inggris. Tampak di depan mata seorang
bapak duduk di depan asrama. Saya kira dia wali santri yang sedang menunggu
putranya. Dengan muka cuek saya lewat di depannya tanpa menyapa dan masuk ke
ruang asrama.
“Barusan ada yang butuh sama sampean,” ujar seorang teman
yang sedang asyik otak-atik komputer.
“Siapa?!” tanya saya keheranan.
“Kalo nggak salah, orangnya ada di luar sana,” jelasnya
sambil menunjuk ke depan beranda asrama.
Entah kenapa pikiran tiba-tiba tertuju sama si bapak tadi.
“Bukankah si bapak tadi itu?” desis saya.
Serempak saya keluar kamar. Si bapak itu masih tetap duduk
seperti semula. Seorang teman kasih tahu waktu saya berdiri tepat di
belakangnya. Dia beranjak dan membalikkan badan sambil menuju arah saya yang
sedang diam mematung. Serentak dia menjabat tangan saya sambil menyodorkan uang
sebanyak Rp. 50.000,-. “Wah… lima puluh ribu!” desis saya dalam-dalam.
“Saya bapaknya Lukman,” ucapnya duluan.
Nama santri yang disebut tadi, saya ingat, ada ikatan famili
dengan Pak Tibyanto yang kemarin minta saya membina kitab kuning sama
familinya. Ngobrol tak terlalu lama karena si bapak keburu pulang.
“Terima kasih, Pak,” kata saya.
Cerita di atas di bangun dari fakta-fakta pradoks; peristiwa
yang terencana dan peristiwa yang tidak terencana. Semua itu terjadi tak lepas
dari peran Tuhan. Saya hanya saja bisa menebak yang nyata dan yang
terencana.[]
Lubangsa, 25 Agustus 2014 M.
No comments:
Post a Comment