Suatu organisasi atau lembaga akan berjalan baik, jika di
dalamnya dibaiat seorang pemimpin. Pemimpin tidak akan mampu menjalankan
amanahnya tanpa bantuan orang lain. Maka, dibentuklah struktur; mulai pihak
yang menjabat di tingkat atas hingga pihak di tingkat bawah. Pihak di tingkat
atas tentu memiliki kelebihan dibandingkan dengan pihak yang ada di bawahnya,
baik pengetahuan (terutama ilmu leadership)
atau materi. Dapat dibilang ia lebih kuasa. Kalau pun demikian, tidak selamanya
pihak atas sebagai pemimpin bertindak otoriter.
Kiai di pondok pesantren mana pun tak jauh berbeda dengan
seorang pemimpin. Beliau secara struktural berada di tingkat teratas. Tentunya
otoritas beliau melebihi pihak yang ada di bawahan beliau. Sebut, Drs. KH. A.
Warits Ilyas, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa—yang seterusnya saya
menyebut PPA. Lubangsa. Sejak dan pasca wafat beliau, pengurus pesantren dan
santri kebingungan kepada siapa mereka berpangku. Saat berada dalam situasi
seperti ini, mereka semakin ditambah bingung menentukan pilihan antara dua
putra beliau yang menurut bacaan banyak pihak layak dijadikan penerus beliau
yaitu K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I dan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits,
M.Hum. Toh, isunya, kedua putra
beliau tidak ada yang bersedia. Hati saya merintih. Ya Allah berikanlah pengganti untuk PPA. Lubangsa sebagai pondok
tercinta saya. Jangan biarkan pondok saya berjalan pincang karena tidak punya
pemimpin. Akhirnya, Kiai Fikri—nama panggilan K. Muhammad Ali Fikri,
M.Pd.I—yang maju meneruskan jejak abahnya dan mengelola pesantren ini. Dan,
beliau bersedia menjadi imam shalat
jamaah setelah diperintah langsung oleh
KH. Achmad Basyir AS, pengasuh PPA. Latee.
Alih kepemimpinan dari Kiai Warits kepada Kiai Fikri
menyebabkan tatanan pesantren berubah. Di antaranya, pamit santri menjadi
alumni kepada pengasuh yang dapat dilaksanakan kapan pun—keputusan ini sempat berjalan
sebelum tahun 2015; pelokalisasian bilik santri berdasarkan jenjang pendidikan
formal; setting koperasi pesantren
sebagai pemasukan kas pesantren dari koperasi tradisional menjadi koperasi mini
market; pelaksanaan acara temu wali santri putra pada 14 Oktober 2014 di aula
PPA. Lubangsa; kalkulasi tasbih, tahmid, dan takbir yang masing-masing
berjumlah 33 dicukupkan melalui hitungan imam, sedangkan makmum cukup mengikuti
saja, tanpa disibukkan menghitung pakai tasbih atau ruas jari-jari sendiri; pembenahan
sound system masjid Jami’ Annuqayah dari empat buah menjadi lebih,
sehingga bunyinya makin nyaring; dan lain sebagainya.
Dinamika pondok pesantren di atas mengisyaratkan semangat
pemimpin yang berjiwa progresif. Perkembangan lembaga adalah target yang harus
ia capai. Ia pantang mundur. Berbuat tanpa pamrih, tak suka dipuji, dan tanpa
tendensi pribadi atau kelompok. Memiliki pemimpin progresif seperti ini tak
mudah.
Perbedaan yang kentara antara perjalanan PPA. Lubangsa sejak
kepemimpinan Kiai Warits kemudian dilanjutkan putra beliau, Kiai Fikri dapat
dilihat dari pola pikir beliau. Kiai
Warits, menurut banyak orang, dikenal sederhana dan tak begitu ideal. Beliau
memanfaatkan yang ada, kalau pun terbatas. Yang terpenting bagi beliau adalah
niat yang kuat dan kesungguhan yang dapat menyukseskan diri seseorang. Di
samping itu, beliau sulit terdeteksi; kadang yang menurut kita baik, tidak bagi
beliau. Artinya, beliau mampu mengindera yang tak terindera.
Berbeda dengan putra beliau, Kiai Fikri. Saya dapat membaca
beliau sangat ideal dan rasional. Kalau saya boleh bercerita pengalaman saya
menghadap beliau waktu maemot surat
rekomendasi acara. Keputusan ACC dapat beliau kasih jika saya dapat
mempresentasikan surat itu meliputi tujuan, format, dan fungsi acara yang akan dilaksanakan.
Kebungkaman dan ketidakjelasan presentasi dapat berakibat tidak di-ACC.
Biasanya santri belajar presentasi sebelum menghadap beliau. Mereka mencatat
beberapa kemungkinan; pertanyaan beliau dan jawabannya. Saya menyadari bahwa
yang dilakukan Kiai Fikri merupakan pendidikan menjadikan manusia yang jelas
dan terarah dalam berbuat, sehingga banyak manfaat yang dapat dipetik dan tidak
merugi.
Kalau pun komentar masing-masing orang tidak sama, sikap
percaya diri Kiai Fikri tak dapat dipertanyakan. Sekali menurut beliau baik,
sekalipun menurut orang lain ganjal, tetap beliau jalankan dengan ulet dan
sabar. Sosok pemimpin kayak ini benar-benar teguh pendirian, tak mudah
terpengaruh dengan sanjungan orang lain.
Alih kepemimpinan Pondok Pesantren Annuqayah, mulai K. Moh.
Syarqawi dari Kudus—sekaligus sebagai the
fouding father, KH. Moh. Ilyas Syarqawi, Drs. KH. A. Warits Ilyas hingga K.
Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I hanya berbeda metodelogi, tapi ciri khas Annuqayah,
khususnya PPA. Lubangsa, tetap langgeng, sekalipun zaman semakin edan. Di
antara ciri khas Annuqayah yang tetap dipertahankan hingga sekarang adalah
shalat jama’ah—istilah Pondok Pesantren Annuqayah menyebutnya dengan
“hadiran”—yang dipimpin (diimami) langsung oleh kiai sendiri; tradisi baca
Al-Qur’an; dan kerukunan antara para kiai di masing-masing daerah, sekalipun
beliau berbeda partai.
Kearifan lokal Annuqayah yang kuat sepertinya menjadi dasar
kelanggengan pondok pesantren ini berdiri di tengah-tengah tantangan zaman. Annuqayah
memang layak menyandang prinsip al-muhafadatu
ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah (memelihara
tradisi klasik yang relevan dan mengadopsi tradisi baru yang lebih relevan).
Marilah para santri berbangga hati menjadi/dianggap sebagai santri Pondok
Pesantren Annuqayah.[]
No comments:
Post a Comment