Wednesday, July 8, 2015

Kepemimpinan Kiai Warits dan Kiai Fikri



Suatu organisasi atau lembaga akan berjalan baik, jika di dalamnya dibaiat seorang pemimpin. Pemimpin tidak akan mampu menjalankan amanahnya tanpa bantuan orang lain. Maka, dibentuklah struktur; mulai pihak yang menjabat di tingkat atas hingga pihak di tingkat bawah. Pihak di tingkat atas tentu memiliki kelebihan dibandingkan dengan pihak yang ada di bawahnya, baik pengetahuan (terutama ilmu leadership) atau materi. Dapat dibilang ia lebih kuasa. Kalau pun demikian, tidak selamanya pihak atas sebagai pemimpin bertindak otoriter.

Kiai di pondok pesantren mana pun tak jauh berbeda dengan seorang pemimpin. Beliau secara struktural berada di tingkat teratas. Tentunya otoritas beliau melebihi pihak yang ada di bawahan beliau. Sebut, Drs. KH. A. Warits Ilyas, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa—yang seterusnya saya menyebut PPA. Lubangsa. Sejak dan pasca wafat beliau, pengurus pesantren dan santri kebingungan kepada siapa mereka berpangku. Saat berada dalam situasi seperti ini, mereka semakin ditambah bingung menentukan pilihan antara dua putra beliau yang menurut bacaan banyak pihak layak dijadikan penerus beliau yaitu K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I dan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum. Toh, isunya, kedua putra beliau tidak ada yang bersedia. Hati saya merintih. Ya Allah berikanlah pengganti untuk PPA. Lubangsa sebagai pondok tercinta saya. Jangan biarkan pondok saya berjalan pincang karena tidak punya pemimpin. Akhirnya, Kiai Fikri—nama panggilan K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I—yang maju meneruskan jejak abahnya dan mengelola pesantren ini. Dan, beliau bersedia menjadi imam shalat jamaah setelah diperintah langsung oleh KH. Achmad Basyir AS, pengasuh PPA. Latee.

Alih kepemimpinan dari Kiai Warits kepada Kiai Fikri menyebabkan tatanan pesantren berubah. Di antaranya, pamit santri menjadi alumni kepada pengasuh yang dapat dilaksanakan kapan pun—keputusan ini sempat berjalan sebelum tahun 2015; pelokalisasian bilik santri berdasarkan jenjang pendidikan formal; setting koperasi pesantren sebagai pemasukan kas pesantren dari koperasi tradisional menjadi koperasi mini market; pelaksanaan acara temu wali santri putra pada 14 Oktober 2014 di aula PPA. Lubangsa; kalkulasi tasbih, tahmid, dan takbir yang masing-masing berjumlah 33 dicukupkan melalui hitungan imam, sedangkan makmum cukup mengikuti saja, tanpa disibukkan menghitung pakai tasbih atau ruas jari-jari sendiri; pembenahan sound system masjid Jami’ Annuqayah dari empat buah menjadi lebih, sehingga bunyinya makin nyaring; dan lain sebagainya.

Dinamika pondok pesantren di atas mengisyaratkan semangat pemimpin yang berjiwa progresif. Perkembangan lembaga adalah target yang harus ia capai. Ia pantang mundur. Berbuat tanpa pamrih, tak suka dipuji, dan tanpa tendensi pribadi atau kelompok. Memiliki pemimpin progresif seperti ini tak mudah.

Perbedaan yang kentara antara perjalanan PPA. Lubangsa sejak kepemimpinan Kiai Warits kemudian dilanjutkan putra beliau, Kiai Fikri dapat dilihat dari pola pikir beliau.  Kiai Warits, menurut banyak orang, dikenal sederhana dan tak begitu ideal. Beliau memanfaatkan yang ada, kalau pun terbatas. Yang terpenting bagi beliau adalah niat yang kuat dan kesungguhan yang dapat menyukseskan diri seseorang. Di samping itu, beliau sulit terdeteksi; kadang yang menurut kita baik, tidak bagi beliau. Artinya, beliau mampu mengindera yang tak terindera.

Berbeda dengan putra beliau, Kiai Fikri. Saya dapat membaca beliau sangat ideal dan rasional. Kalau saya boleh bercerita pengalaman saya menghadap beliau waktu maemot surat rekomendasi acara. Keputusan ACC dapat beliau kasih jika saya dapat mempresentasikan surat itu meliputi tujuan, format, dan fungsi acara yang akan dilaksanakan. Kebungkaman dan ketidakjelasan presentasi dapat berakibat tidak di-ACC. Biasanya santri belajar presentasi sebelum menghadap beliau. Mereka mencatat beberapa kemungkinan; pertanyaan beliau dan jawabannya. Saya menyadari bahwa yang dilakukan Kiai Fikri merupakan pendidikan menjadikan manusia yang jelas dan terarah dalam berbuat, sehingga banyak manfaat yang dapat dipetik dan tidak merugi.

Kalau pun komentar masing-masing orang tidak sama, sikap percaya diri Kiai Fikri tak dapat dipertanyakan. Sekali menurut beliau baik, sekalipun menurut orang lain ganjal, tetap beliau jalankan dengan ulet dan sabar. Sosok pemimpin kayak ini benar-benar teguh pendirian, tak mudah terpengaruh dengan sanjungan orang lain.

Alih kepemimpinan Pondok Pesantren Annuqayah, mulai K. Moh. Syarqawi dari Kudus—sekaligus sebagai the fouding father, KH. Moh. Ilyas Syarqawi, Drs. KH. A. Warits Ilyas hingga K. Muhammad Ali Fikri, M.Pd.I hanya berbeda metodelogi, tapi ciri khas Annuqayah, khususnya PPA. Lubangsa, tetap langgeng, sekalipun zaman semakin edan. Di antara ciri khas Annuqayah yang tetap dipertahankan hingga sekarang adalah shalat jama’ah—istilah Pondok Pesantren Annuqayah menyebutnya dengan “hadiran”—yang dipimpin (diimami) langsung oleh kiai sendiri; tradisi baca Al-Qur’an; dan kerukunan antara para kiai di masing-masing daerah, sekalipun beliau berbeda partai.

Kearifan lokal Annuqayah yang kuat sepertinya menjadi dasar kelanggengan pondok pesantren ini berdiri di tengah-tengah tantangan zaman. Annuqayah memang layak menyandang prinsip al-muhafadatu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah (memelihara tradisi klasik yang relevan dan mengadopsi tradisi baru yang lebih relevan). Marilah para santri berbangga hati menjadi/dianggap sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...