Wednesday, July 8, 2015

Menambal Pengeluaran



Di bulan Agustus kali ini, saya coba kalkulasi nafas saya di Pondok Pesantren Annuqayah. Tak terasa saya belajar di sana berkisar 5 tahunan hingga sekarang. Ingat kalau saya masuk pesantren ini sejak tahun 2009. Entahlah tanggal dan bulan apa, saya sudah lupa, yang pasti tahun masuknya masih saya ingat.

Baru saja selesai her-registrasi di kampus untuk jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), secara formal saya mendapat legalitas melanjutkan pendidikan ke jenjang studi semester 5. Her-registrasi dengan bayar separuh, yaitu Rp. 250.000,- dirasa lumayan dan cukup meneguk pengetahun di bangku kuliah satu semester alias setengah tahun.

Bahkan, SPP pesantren yang beberapa hari yang lalu sempat saya akan bayar, tapi sebagian pengurus menangguhkan untuk dibayar lain kali. Artinya, SPP saya masih belum selesai. Soalnya, pribadi saya masih perlu dipertimbangkan menyangkut posisi saya di lembaga Madrasah Diniyah PPA. Lubangsa. Kali ini saya diberi amanah menjabat Waka. Kurikulum. Makanya, belum jelas nominal SPP pesantren saya; apakah bayar keseluruhan atau bayar separuh. Anda tahu, SPP pesantren tahun ajaran 2014-2015 sebesar Rp. 300.000,-. Nominal sebesar itu, menurut saya, termasuk murah dibandingkan biaya hotel per-hari. Uang sebesar itu tak cukup dibayar selama setahun. Pesantren diakui murah dan bermutu.

* * *

Sadar atau tidak, setiap hal butuh uang. Coba anda ingat-ingat ketika melakukan perjalanan atau tour, sedangkan anda kebelet, pengen kencing, atau mandi. Biasanya di sana tersedia kamar mandi dan toilet yang di depannya ada bacaan “Kencing, Rp. 1.000,-/mandi atau berak Rp. 2.000,-”. Begitu pula, anda mau masuk tempat wisata seperti WOTER PARK, JATIM PARK, KEN PARK, KEBUN BINATANG dan yang lainnya, tidak boleh tidak harus bayar. Karena wisata semisal itu semua,terkategori wisata yang popularitasnya tinggi, karcis masuk biasanya mahal.

Begitu juga dengan herrigistrasi kampus dan SPP pesantren di atas. Melunasi dua pembayaran tersebut adalah suatu keharusan. Saya bilang keharusan kerena orientasi keduanya sungguh berbeda dengan wisata dan tempat kotor itu. Kampus dan pesantren adalah dua media yang fokus mendidik dan mengajarkan ilmu. Jasanya lebih tampak dan lebih menyentuh.

Terus, uang sebagai wasilah diakui sangat penting demi menunjang hidup manusia, walau uang bukan Tuhan yang Maha Segalanya. Hidup tanpa sepeser uang, akan terasa kering seperti orang yang hampa. Segala rencana bisa jadi gagal karena ekonomi yang tidak mendukung. Anda terpaksa menunda rencana yang telah tampak di depan mata kerena tak punya uang.

Setiap kali anda akan memulai pelajaran di sekolah, biasanya siswa baca doa. “Rabbi zidni ilma war zuqni fahma.” Tambahkanlah ilmu dan berikanlan rizki. Dunia, lebih-lebih akhirat kelak, membutuhkan orang yang berilmu dan orang yang kaya, benarkah?

Zuhud yang sering dengungkan saat belajar Tasawuf, jangan diartikan secara kolot. Fahami dan kajilah sedalam mungkin zuhud dalam persepektif era kekinian. Zuhud yang bermakna “menjauh” atau “anti”, bukan diartikan “menjauh dari harta”, melainkan “menjauh dari hal-hal yang tidak jelas statusnya (syubhat).”

* * *

Bergerak butuh uang. Sekarang waktunya anda merenung untuk menemukan cara memanfaatkan uang tersebut sebaik mungkin. Her-registrasi dan SPP jika tidak disikapi dengan baik oleh saya, bisa jadi saya tergolong orang yang merugi. Dalam Al-Qur’an Allah menuding manusia yang tak sadar telah terjerembab ke jurang kenistaan, sehingga mereka menjadi merugi sebab tidak dapat menggunakan waktu 24 jam sehari semalam sebaik mungkin. “Inna al-insana lafi khusrin,” firman-Nya.

Sungguh rugi dan gagal, manusia yang hidupnya tanpa intropeksi diri, bolos belajar dan sungkan mengerjakan amal yang baik. Bukankah begitu? Belajar, beramal yang baik ditambah dengan etika yang sopan, bagi saya, dirasa cukup untuk menambal pengeluaran uang. Jadi, waktunya saya, anda, dan kita menambal pengeluaran tersebut.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...