Di
bulan Agustus kali ini, saya coba kalkulasi nafas saya di Pondok Pesantren Annuqayah.
Tak terasa saya belajar di sana berkisar 5 tahunan hingga sekarang. Ingat kalau
saya masuk pesantren ini sejak tahun 2009. Entahlah tanggal dan bulan apa, saya
sudah lupa, yang pasti tahun masuknya masih saya ingat.
Baru
saja selesai her-registrasi di kampus untuk jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
(IQT), secara formal saya mendapat legalitas melanjutkan pendidikan ke jenjang
studi semester 5. Her-registrasi dengan bayar separuh, yaitu Rp. 250.000,-
dirasa lumayan dan cukup meneguk pengetahun di bangku kuliah satu semester
alias setengah tahun.
Bahkan,
SPP pesantren yang beberapa hari yang lalu sempat saya akan bayar, tapi
sebagian pengurus menangguhkan untuk dibayar lain kali. Artinya, SPP saya masih
belum selesai. Soalnya, pribadi saya masih perlu dipertimbangkan menyangkut
posisi saya di lembaga Madrasah Diniyah PPA. Lubangsa. Kali ini saya diberi
amanah menjabat Waka. Kurikulum. Makanya, belum jelas nominal SPP pesantren
saya; apakah bayar keseluruhan atau bayar separuh. Anda tahu, SPP pesantren
tahun ajaran 2014-2015 sebesar Rp. 300.000,-. Nominal sebesar itu, menurut
saya, termasuk murah dibandingkan biaya hotel per-hari. Uang sebesar itu tak cukup
dibayar selama setahun. Pesantren diakui murah dan bermutu.
* * *
Sadar
atau tidak, setiap hal butuh uang. Coba anda ingat-ingat ketika melakukan
perjalanan atau tour, sedangkan anda kebelet, pengen kencing, atau mandi.
Biasanya di sana tersedia kamar mandi dan toilet yang di depannya ada bacaan
“Kencing, Rp. 1.000,-/mandi atau berak Rp. 2.000,-”. Begitu pula, anda mau
masuk tempat wisata seperti WOTER PARK, JATIM PARK, KEN PARK, KEBUN BINATANG
dan yang lainnya, tidak boleh tidak harus bayar. Karena wisata semisal itu
semua,terkategori wisata yang popularitasnya tinggi, karcis masuk biasanya
mahal.
Begitu
juga dengan herrigistrasi kampus dan SPP pesantren di atas. Melunasi dua
pembayaran tersebut adalah suatu keharusan. Saya bilang keharusan kerena
orientasi keduanya sungguh berbeda dengan wisata dan tempat kotor itu. Kampus
dan pesantren adalah dua media yang fokus mendidik dan mengajarkan ilmu.
Jasanya lebih tampak dan lebih menyentuh.
Terus,
uang sebagai wasilah diakui sangat penting demi menunjang hidup manusia, walau
uang bukan Tuhan yang Maha Segalanya. Hidup tanpa sepeser uang, akan terasa
kering seperti orang yang hampa. Segala rencana bisa jadi gagal karena ekonomi
yang tidak mendukung. Anda terpaksa menunda rencana yang telah tampak di depan
mata kerena tak punya uang.
Setiap
kali anda akan memulai pelajaran di sekolah, biasanya siswa baca doa. “Rabbi
zidni ilma war zuqni fahma.” Tambahkanlah ilmu dan berikanlan rizki. Dunia,
lebih-lebih akhirat kelak, membutuhkan orang yang berilmu dan orang yang kaya,
benarkah?
Zuhud
yang sering dengungkan saat belajar Tasawuf, jangan diartikan secara kolot.
Fahami dan kajilah sedalam mungkin zuhud dalam persepektif era kekinian. Zuhud
yang bermakna “menjauh” atau “anti”, bukan diartikan “menjauh dari harta”,
melainkan “menjauh dari hal-hal yang tidak jelas statusnya (syubhat).”
* * *
Bergerak
butuh uang. Sekarang waktunya anda merenung untuk menemukan cara memanfaatkan
uang tersebut sebaik mungkin. Her-registrasi dan SPP jika tidak disikapi dengan
baik oleh saya, bisa jadi saya tergolong orang yang merugi. Dalam Al-Qur’an
Allah menuding manusia yang tak sadar telah terjerembab ke jurang kenistaan,
sehingga mereka menjadi merugi sebab tidak dapat menggunakan waktu 24 jam
sehari semalam sebaik mungkin. “Inna al-insana lafi khusrin,”
firman-Nya.
Sungguh
rugi dan gagal, manusia yang hidupnya tanpa intropeksi diri, bolos belajar dan
sungkan mengerjakan amal yang baik. Bukankah begitu? Belajar, beramal yang baik
ditambah dengan etika yang sopan, bagi saya, dirasa cukup untuk menambal
pengeluaran uang. Jadi, waktunya saya, anda, dan kita menambal pengeluaran
tersebut.[]
No comments:
Post a Comment