Saya kirim surat ini untuk wakil rakyat yang terhormat.
“Menjadi pemimpin yang amanah tidak mudah. Jika demikian,
kenapa banyak orang berambisi menjadi pemimpin? Sungguh pertanyaan yang sering
terlupakan dan dibiarkan terlantar.”
“Walau berat mengemban amanah, bukannya kita menyerah dan
angkat tangan untuk menjadi pemimpin. Sebab, suatu negara dengan pemimpin yang
bejat jauh lebih baik dari pada negara yang tidak memiliki pemimpin.”
“Untuk seorang pemimpin yang bijak dikira penting mencontoh
tokoh-tokoh pendahulu kita yang dipandang baik di mata rakyat. Misalkan, Drs.
KH. A. Warits Ilyas. Sejarah disertai cerita-cerita yang disitir dari sumber
yang sahih menggolongkan beliau sebagai pemimppin yang amanah; istiqamah,
bijak, dan anti-korupsi. Citra positif ini dapat dibuktikan saat beliau
memimpin Sumenep sebagai DRP selama dua periode. Jarang atau tidak ada tindakan
kongkalikong yang beliau perbuat. Bahkan, beliau diminta untuk duduk kembali
yang ketiga kalinya. Sayang, kondisi fisik beliau yang tidak mendukung.
Sehingga, beliau harus banyak istirahat. Bagi beliau, setiap pemimpin akan
diminta pertanggungjawabannnya, baik di dunia atau di akhirat kelak.”
“Untuk Sumenep, sekarang dan ke depan, tak butuh pemimpin
yang pintar (mengumbar janji palsu di depan publik), tapi menginginkan pemimpin
yang “mengerti” terhadap kondisi rakyat. Dan, dia mampu mengaplikasikan atau
membuktikan bahwa dia benar-benar pemimpin yang bisa membawa Sumenep menuju
gerbang kemajuan; pendidikan, ekonomi, dan budaya.”
“Saya kira itu langkah-langkah menjadi pemimpin yang
didambakan banyak rakyat. Cukup sederhana!”[]
No comments:
Post a Comment