Wednesday, July 8, 2015

Menjelang September



Berada di penghujung tanggal Agustus kadangkala terbersit di pikiran, bahwa kita akan mengawali hidup di bulan berikutnya yakni September. Kita akan mengevaluasi sesuatu yang berlalu; mulai cerita senang, sedih, suka, hingga duka. Di bulan berikutnya, kita akan semakin baik. Dosa diminimalisir, perbanyak perbuatan baik seperti bertutur dengan baik, bersikap yang sopan, membantu sesama, dll.

Saya nulis karena September menjadi bulan yang penuh kisah dan sejarah. Saya tertarik menguak misteri di bulan tersebut.

Kekayaan kisah, yang paling saya ingat, menyangkut tanggal lahir saya dan Ade’. Kita lahir di bulan yang sama, September, pun di hari yang sama pula, Ahad. Bedanya hanya tanggal dan tahun lahir.

Secara legal, ijazah pendidikan formal kita mencatat saya lahir pada 15 September 1993, sedangkan Ade’ lahir pada 3 September 1995. Jadi, dekat-dekat ini kita akan berulang tahun (have birthday).

Ulang tahun tak tabu lagi di dalam kehidupan manusia. Di mana pun perayaan itu kentara di depan mata: seorang yang dilempari telur ayam hingga bikin badannya kotor; sambutan lilin disertai nyanyian ala ulang tahun tak terasa terngiang di telinga kita; dan kemasan yang lain. Orang yang dirayakan hari lahirnya girang, walau bermandikan amis telur dan hamburan tepung. Saya terkadang merasa risih melihat kenyataan itu tampak di depan saya. Entah, kerisihan ini karena saya kurang bersahabat dengan kultur ini atau sikap perayaannya yang terlalu jorok karena minus nilai-nilai Islam?

Sekedar cerita, setahun yang lalu saya pernah merayakan hari ulang tahun Ade’ bersama teman-teman di suatu tempat. Walau agenda ulang tahun, kemasan acaranya tak sejorok itu; cukup dengan nyanyian, peniupan lilin yang dikelilingi kue, pembidikan kamera, dan makan bersama. Sedikit pun tak ada makanan yang terhambur-hamburkan. Bukankah menghambur-hamburkan makanan, perbuatan tercela alias haram?

Yang bikin saya sedikit jengkel, toh pada hakikatnya kegirangan, perayaan ulang tahun saya pada tahun silam. Teman-teman bikin saya marah saat rapat di lembaga bahasa Inggris hingga tak mampu kontrol emosi serta pulasan arang wajan dan astro ke bagian wajah tanpa saya duga sebelumnya. Itu yang bikin saya kurang suka. Senangnya, karena mereka masih ingat hari lahir saya. 

Selain itu, ketidaksukaan saya dengan overaction tersebut karena kita masih termasuk santri. Kita setiap hari dididik bersikap sederhana dan beretika baik serta mengamalkan sunah Nabi. Saya pikir tindakan yang berlebihan bukan suatu kebanggaan pesantren, malah menodai nilai-nilai kepesantrenan. Bahkan, mengingat sejarah ulang tahun bukan budaya Islam tulen, melainkan diadopsi dari budaya luar. Sungguh banyak kejanggalan karena sikap kita yang dikuasi nafsu dan abai menyaringnya.

Kalau pun perayaan ulang tahun berasal dari luar, Islam tetap terbuka mengadopsi budaya tersebut. Hanya saja, format perayaannya yang disetting ulang hingga tampak islami. Di atas keterbukaan agama Islam, tak sedikit budaya luar yang masuk ke dalam agama ini. Misal, mihrab sebagai tempat imam dalam shalat jama’ah adalah budaya agama Yahudi; menara yang biasanya dibangun di samping masjid merupakan budaya agama Nasrani; tahlilan tujuh hari usai kematian, budaya agama Budha; dasi yang sering dikenakan di depan dada, salah satu budaya orang Belanda; sepak bola yang banyak digemari orang berawal dari kasus pembunuhan Hasan dan Husen, dua putra Ali bin Abi Thalib, yang kepala mereka ditendang-tendang semisal bola; dan lain-lainnya.

Varian budaya ini, sangat tipis, memunculkan pradoks. Mayoritas muslim mengamini. Walau budaya-budaya tersebut benar-benar diadopsi dari budaya luar Islam, tapi formatnya islami, kesimpulannya “boleh-boleh saja”. Begitu dengan perayaan ulang tahun, “boleh” dan “tidaknya” diukur dari format perayaannya.

Rencana September tahun ini, untuk perayaan ulang tahun saya dan Ade’, inginnya yang sederhana; cukup dengan ngaji Al-Qur’an dan doa. Nurani berkeyakinan dua bentuk ini selain islami, punya dampak positif yang besar demi menjalani hidup dan menyongsong masa depan.[]

Tulisan ini saya buat untuk menyambut Hari Ulang Tahun
Saya dan Ade’. Happy Birthday…! May we be better and better! Amin.

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...