Berada di penghujung tanggal Agustus kadangkala terbersit di
pikiran, bahwa kita akan mengawali hidup di bulan berikutnya yakni September.
Kita akan mengevaluasi sesuatu yang berlalu; mulai cerita senang, sedih, suka,
hingga duka. Di bulan berikutnya, kita akan semakin baik. Dosa diminimalisir,
perbanyak perbuatan baik seperti bertutur dengan baik, bersikap yang sopan,
membantu sesama, dll.
Saya nulis karena September menjadi bulan yang penuh kisah
dan sejarah. Saya tertarik menguak misteri di bulan tersebut.
Kekayaan kisah, yang paling saya ingat, menyangkut tanggal
lahir saya dan Ade’. Kita lahir di bulan yang sama, September, pun di hari yang
sama pula, Ahad. Bedanya hanya tanggal dan tahun lahir.
Secara legal, ijazah pendidikan formal kita mencatat saya
lahir pada 15 September 1993, sedangkan Ade’ lahir pada 3 September 1995. Jadi,
dekat-dekat ini kita akan berulang tahun (have
birthday).
Ulang tahun tak tabu lagi di dalam kehidupan manusia. Di mana
pun perayaan itu kentara di depan mata: seorang yang dilempari telur ayam
hingga bikin badannya kotor; sambutan lilin disertai nyanyian ala ulang tahun
tak terasa terngiang di telinga kita; dan kemasan yang lain. Orang yang
dirayakan hari lahirnya girang, walau bermandikan amis telur dan hamburan
tepung. Saya terkadang merasa risih melihat kenyataan itu tampak di depan saya.
Entah, kerisihan ini karena saya kurang bersahabat dengan kultur ini atau sikap
perayaannya yang terlalu jorok karena minus nilai-nilai Islam?
Sekedar cerita, setahun yang lalu saya pernah merayakan hari
ulang tahun Ade’ bersama teman-teman di suatu tempat. Walau agenda ulang tahun,
kemasan acaranya tak sejorok itu; cukup dengan nyanyian, peniupan lilin yang
dikelilingi kue, pembidikan kamera, dan makan bersama. Sedikit pun tak ada
makanan yang terhambur-hamburkan. Bukankah menghambur-hamburkan makanan,
perbuatan tercela alias haram?
Yang bikin saya sedikit jengkel, toh pada hakikatnya
kegirangan, perayaan ulang tahun saya pada tahun silam. Teman-teman bikin saya
marah saat rapat di lembaga bahasa Inggris hingga tak mampu kontrol emosi serta
pulasan arang wajan dan astro ke bagian wajah tanpa saya duga sebelumnya. Itu
yang bikin saya kurang suka. Senangnya, karena mereka masih ingat hari lahir
saya.
Selain itu, ketidaksukaan saya dengan overaction
tersebut karena kita masih termasuk santri. Kita setiap hari dididik bersikap
sederhana dan beretika baik serta mengamalkan sunah Nabi. Saya pikir tindakan
yang berlebihan bukan suatu kebanggaan pesantren, malah menodai nilai-nilai
kepesantrenan. Bahkan, mengingat sejarah ulang tahun bukan budaya Islam tulen,
melainkan diadopsi dari budaya luar. Sungguh banyak kejanggalan karena sikap
kita yang dikuasi nafsu dan abai menyaringnya.
Kalau pun perayaan ulang tahun berasal dari luar, Islam tetap
terbuka mengadopsi budaya tersebut. Hanya saja, format perayaannya yang
disetting ulang hingga tampak islami. Di atas keterbukaan agama Islam, tak
sedikit budaya luar yang masuk ke dalam agama ini. Misal, mihrab sebagai tempat
imam dalam shalat jama’ah adalah budaya agama Yahudi; menara yang biasanya
dibangun di samping masjid merupakan budaya agama Nasrani; tahlilan tujuh hari
usai kematian, budaya agama Budha; dasi yang sering dikenakan di depan dada,
salah satu budaya orang Belanda; sepak bola yang banyak digemari orang berawal
dari kasus pembunuhan Hasan dan Husen, dua putra Ali bin Abi Thalib, yang
kepala mereka ditendang-tendang semisal bola; dan lain-lainnya.
Varian budaya ini, sangat tipis, memunculkan pradoks.
Mayoritas muslim mengamini. Walau budaya-budaya tersebut benar-benar diadopsi
dari budaya luar Islam, tapi formatnya islami, kesimpulannya “boleh-boleh
saja”. Begitu dengan perayaan ulang tahun, “boleh” dan “tidaknya” diukur dari
format perayaannya.
Rencana September tahun ini, untuk perayaan ulang tahun saya
dan Ade’, inginnya yang sederhana; cukup dengan ngaji Al-Qur’an dan doa. Nurani
berkeyakinan dua bentuk ini selain islami, punya dampak positif yang besar demi
menjalani hidup dan menyongsong masa depan.[]
Tulisan ini saya buat untuk menyambut Hari Ulang Tahun
Saya dan Ade’. Happy Birthday…! May we be better and better! Amin.
No comments:
Post a Comment