Sejak jalan-jalan menuju kantin seorang teman menyodorkan
surat undangan dan permohonan jadi calon ketua English Education Program (EEP)
Pondok Pesantren Annuqayah. Kali pertama menerima surat tersebut, ambisi
menjadi ketua masih fifty-fifty. Labil.
Tapi, setelah dipikir-pikir menjadi ketua memiliki poin plus;
belajar mengayomi, menghargai, menjadi dewasa, dan meningkatkan popularitas,
walau mengemban amanah ini sangat berat, ambisi saya semakin naik.
Ada tiga orang yang dicalonkan sebagai ketua di acara pemilihan
pada malam Sabtu (29/08), yaitu Shofiyullah, Taufiqurrahman, dan saya sendiri.
Satu calon pertama adalah santri didikan klub English Area of Latee (EAL) PPA.
Latee. Sedangkan, dua calon berikutnya diangkat dari pengurus Biro Pengembangan Bahasa Asing
(BPBA) Bidang Bahasa Inggris PPA. Lubangsa.
Mengingat sejarah, kedua klub bahasa Inggris ini memiliki
popularitas yang tinggi di Pondok Pesantren Annuqayah. Tak ayal, jamak santri
menjadikan kedua klub ini sebagai kiblat dan cermin dalam belajar dan
mengembangkan bahasa Inggris di lingkungan pesantren. Dan, klub tersebut
berdiri atas dasar visi-misi yang jelas, sehingga laju perjalanannya dari hari
ke hari progresif. Menjadi yang terbaik adalah target. Adalah keminusan suatu
klub tersebut jika ketua bahasa Inggris pusat, EEP,
dipegang salah satu klub
itu. Tidak boleh tidak tongkat estapet ini direbut. Siapa yang
cepat, dia yang dapat. Siapa yang kuasa, dialah yang menang.
Entah, gejolak itu dimaknai
politik atau tidak, saya sendiri masih bingung. Yang jelas, pemilihan bentuk
apa pun, dari pemilihan kepala desa hingga presiden, tak lepas dari suntikan politik.
Anda tahu bahwa kelincahan bermain-main di panggung politik sangat menentukan
terhadap kemenangan calon.
Sebelum berangkat ke tempat undangan, kantor Yayasan
Annuqayah, teman-teman saya merencakan bahwa saya yang terpilih sebagai ketua.
Tapi, saya masih ragu, sekalipun ada tiga orang yang
mendukung saya kerena jumlah pendukung tersebut masih dibilang tipis menuju
puncak kemenangan.
Taufiqurrahman, calon nomor dua, bisik-bisik di telinga saya
kalau dia tidak berambisi jadi ketua. Sebab, dia merasa sibuk dengan organisasi
lain seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) INSTIKA, PMII, BPBA Bidang bahasa
Inggris, IKSAPUTRA, dan lain-lain. Sehingga, dapat dipastikan bahwa yang
diusung secara murni dalam pemilihan ini hanya ada dua orang yaitu saya dan
Shofiyullah.
* * *
Saat acara dimulai dengan agenda acara yang dibacakan
Master of Ceremony (MC), sampailah agenda sosialisasi kriteria calon. Saat
kriteria selesai dibacakan, sebagian panitia memberikan kesempatan kepada
peserta rapat untuk memberikan komentar. Beberapa detik kita diam sejenak.
Teman saya, Ibnu Athoillah, mengajungkan tangan dan menyampaikan opsi,
“Sebaiknya, masing-masing calon menyampaikan visi-visinya. Sebab, itu
menentukan terhadap perjalanan EEP ke depan.”
Usulan itu disetujui peserta rapat yang lain. Kemudian,
panitia yang membacakan kriteria tersebut, Mr. Lutfi, menyimpulkan serta
memutuskan bahwa masing-masing calon cukup menyampaikan harapan-harapannya
saja.
Sungguh beragam dan jelas harapan yang disampaikan dua calon
selain saya. Saya tulis harapan-harapan untuk EEP di atas kertas dalam bentuk
poin per-poin. Ada tiga harapan yang saya inginkan untuk EEP: rasa bertanggung
jawab, menjaga nama baik EEP, dan pembenahan administrasi. Ketiga harapan ini
saya buat mengingat perjalanan EEP pada periode sebelumnya yang masih belum
tersentuh ketiga item tersebut.
* * *
Pimilihan berlangsung beberapa menit kemudian. Dan,
penghitungan suara berlangsung setelah itu. Berdasarkan hasil keputusan bahwa
Shofiyullah mendapatkan suara sebanyak 7 suara; Taufiqurrahman punya suara
sebanyak 3 suara; dan saya menghimpun sebanyak 8 suara. Tampaklah bahwa sayalah
yang meraih kemenangan di pemilihan ini dan diputuskanlah bahwa sayalah ketua
EEP untuk periode 2014-2015.
Agenda acara dilanjutkan yaitu sambutan ketua terpilih. Saya
maju ke depan publik. Isi sambutan, tak jauh dari orasi
kemimpinan yang disampaikan sebelumnya. Hanya saja ada beberapa tambahan.
Misal, ucapan terima kasih terhadap peserta rapat atas kepercayaannya;
permohonan maaf atas keterbatasan kemampuan saya jika nanti selama perjalanan
EEP tidak memuaskan; dan pesan saya, “EEP bukan milik saya, bukan milik anda,
tapi EPP milik kita semua. Maka, peganglah EEP secara bersama-sama.”
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ibnu Hajar
sebagai staf Biro Pengembangan Bahasa (BPB) Pondok Pesantren Annuqayah. Peserta
beranjak dan keluar dari ruang acara.
Selamat! Selamat!
Selamat! Ucap teman-teman, lebih Mr. Lutfi,
penasehat EEP periode 2012-2013. “Terima Kasih,” jawab saya pelan.
Saat itu saya merasa bangga dan berat. Bangga, saya mendapat
kepercayaan yang tak ternilai harganya. Berat, karena ini adalah amanat Tuhan
secara tidak langsung diberikan kepada saya. “Semoga EEP semakin maju!” doa
saya.[]
Lubangsa, 31 Agustus 2014
No comments:
Post a Comment