Wednesday, July 8, 2015

Pernak-Pernik Pemilihan EEP



Sejak jalan-jalan menuju kantin seorang teman menyodorkan surat undangan dan permohonan jadi calon ketua English Education Program (EEP) Pondok Pesantren Annuqayah. Kali pertama menerima surat tersebut, ambisi menjadi ketua masih fifty-fifty. Labil. Tapi, setelah dipikir-pikir menjadi ketua memiliki poin plus; belajar mengayomi, menghargai, menjadi dewasa, dan meningkatkan popularitas, walau mengemban amanah ini sangat berat, ambisi saya semakin naik.

Ada tiga orang yang dicalonkan sebagai ketua di acara pemilihan pada malam Sabtu (29/08), yaitu Shofiyullah, Taufiqurrahman, dan saya sendiri. Satu calon pertama adalah santri didikan klub English Area of Latee (EAL) PPA. Latee. Sedangkan, dua calon berikutnya diangkat dari pengurus Biro Pengembangan Bahasa Asing (BPBA) Bidang Bahasa Inggris PPA. Lubangsa.

Mengingat sejarah, kedua klub bahasa Inggris ini memiliki popularitas yang tinggi di Pondok Pesantren Annuqayah. Tak ayal, jamak santri menjadikan kedua klub ini sebagai kiblat dan cermin dalam belajar dan mengembangkan bahasa Inggris di lingkungan pesantren. Dan, klub tersebut berdiri atas dasar visi-misi yang jelas, sehingga laju perjalanannya dari hari ke hari progresif. Menjadi yang terbaik adalah target. Adalah keminusan suatu klub tersebut jika ketua bahasa Inggris pusat, EEP, dipegang salah satu klub itu. Tidak boleh tidak tongkat estapet ini direbut. Siapa yang cepat, dia yang dapat. Siapa yang kuasa, dialah yang menang.

Entah, gejolak itu dimaknai politik atau tidak, saya sendiri masih bingung. Yang jelas, pemilihan bentuk apa pun, dari pemilihan kepala desa hingga presiden, tak lepas dari suntikan politik. Anda tahu bahwa kelincahan bermain-main di panggung politik sangat menentukan terhadap kemenangan calon.

Sebelum berangkat ke tempat undangan, kantor Yayasan Annuqayah, teman-teman saya merencakan bahwa saya yang terpilih sebagai ketua. Tapi, saya masih ragu, sekalipun ada tiga orang yang mendukung saya kerena jumlah pendukung tersebut masih dibilang tipis menuju puncak kemenangan.

Taufiqurrahman, calon nomor dua, bisik-bisik di telinga saya kalau dia tidak berambisi jadi ketua. Sebab, dia merasa sibuk dengan organisasi lain seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) INSTIKA, PMII, BPBA Bidang bahasa Inggris, IKSAPUTRA, dan lain-lain. Sehingga, dapat dipastikan bahwa yang diusung secara murni dalam pemilihan ini hanya ada dua orang yaitu saya dan Shofiyullah.

* * *

Saat acara dimulai dengan agenda acara yang dibacakan Master of Ceremony (MC), sampailah agenda sosialisasi kriteria calon. Saat kriteria selesai dibacakan, sebagian panitia memberikan kesempatan kepada peserta rapat untuk memberikan komentar. Beberapa detik kita diam sejenak. Teman saya, Ibnu Athoillah, mengajungkan tangan dan menyampaikan opsi, “Sebaiknya, masing-masing calon menyampaikan visi-visinya. Sebab, itu menentukan terhadap perjalanan EEP ke depan.”

Usulan itu disetujui peserta rapat yang lain. Kemudian, panitia yang membacakan kriteria tersebut, Mr. Lutfi, menyimpulkan serta memutuskan bahwa masing-masing calon cukup menyampaikan harapan-harapannya saja.

Sungguh beragam dan jelas harapan yang disampaikan dua calon selain saya. Saya tulis harapan-harapan untuk EEP di atas kertas dalam bentuk poin per-poin. Ada tiga harapan yang saya inginkan untuk EEP: rasa bertanggung jawab, menjaga nama baik EEP, dan pembenahan administrasi. Ketiga harapan ini saya buat mengingat perjalanan EEP pada periode sebelumnya yang masih belum tersentuh ketiga item tersebut.

* * *

Pimilihan berlangsung beberapa menit kemudian. Dan, penghitungan suara berlangsung setelah itu. Berdasarkan hasil keputusan bahwa Shofiyullah mendapatkan suara sebanyak 7 suara; Taufiqurrahman punya suara sebanyak 3 suara; dan saya menghimpun sebanyak 8 suara. Tampaklah bahwa sayalah yang meraih kemenangan di pemilihan ini dan diputuskanlah bahwa sayalah ketua EEP untuk periode 2014-2015.

Agenda acara dilanjutkan yaitu sambutan ketua terpilih. Saya maju ke depan publik. Isi sambutan, tak jauh dari orasi kemimpinan yang disampaikan sebelumnya. Hanya saja ada beberapa tambahan. Misal, ucapan terima kasih terhadap peserta rapat atas kepercayaannya; permohonan maaf atas keterbatasan kemampuan saya jika nanti selama perjalanan EEP tidak memuaskan; dan pesan saya, “EEP bukan milik saya, bukan milik anda, tapi EPP milik kita semua. Maka, peganglah EEP secara bersama-sama.” 

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ibnu Hajar sebagai staf Biro Pengembangan Bahasa (BPB) Pondok Pesantren Annuqayah. Peserta beranjak dan keluar dari ruang acara.

Selamat! Selamat! Selamat! Ucap teman-teman, lebih Mr. Lutfi, penasehat EEP periode 2012-2013. “Terima Kasih,” jawab saya pelan.

Saat itu saya merasa bangga dan berat. Bangga, saya mendapat kepercayaan yang tak ternilai harganya. Berat, karena ini adalah amanat Tuhan secara tidak langsung diberikan kepada saya. “Semoga EEP semakin maju!” doa saya.[]

Lubangsa, 31 Agustus 2014

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...