Meledaknya
informasi penangkapan KPK atas Fuad Amin (akrab dipanggil Ra Fuad) pada hari
Selasa kemarin (Jawa Pos, 2/12) karena kasus menerima suap dari Media Karya
Sentosa (MKS), banyak orang, terutama masyarakat Madura, bertanya-tanya. “Kok
bisa orang sekuasa Ra Fuad harus tersungkur di meja KPK?” Seakan-akan mereka
membenarkan atau menyangkal; fifty-fifty. Menyangkal bahwa itu hanya
“dugaan semata”, mengingat Ra Fuad adalah cicit Kiai Cholil Bangkalan yang
dikenal wara’, wali, alim dan kharismatik. Membenarkan ketika memutar kembali
ingatan akan kisah putra Nabi Nuh yaitu Kan’an yang mati mengenaskan karena
tenggelam dilanda banjir besar sebab “tidak patuh” terhadap ajakan sang ayah.
Antara
meng-”iya”-kan dan tidak, banyak orang, terutama orang pesantren, hanya mampu
berdoa saja, “Semoga Allah swt memberikan jawaban yang sebenarnya atas kasus
itu!” Menyitir pernyataan Gus Dur (Abdurrahman Wahid), “Sejarah akan
membuktikan.” Bahkan, dalam Al-Qur’an (QS. Az-Zalzalah: 7-8), Allah swt akan
menjawab kerisuhan ini, Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarahu,
waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarahu. “Maka barang siapa
mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya.”
Masa
Depan Madura
Madura
yang mulai dulu hingga masa kini dikenal dengan semboyan “Ta’ la’nyala’ah,
keng jhe’ lasalaen,” (Tidak senang bikin masalah, tapi jangan disakiti),
tak sedikit orang yang merasa getir dan keder cari gara-gara dengan orang
Madura. Siapa pun, baik berani atau penakut, jika diketahui asal kedatangannya
dari Madura, benar-benar tampak keangkuhannya. Oleh sebab itulah, secara kasat
mata, orang Madura disegani, bahkan Maduranya sediri tampak suci; anti korupsi,
anti kongkalikong, dan anti-anti lainnya.
Namun,
gara-gara seorang, Ra Fuad, orang Madura menjadi bungkam sejuta kata. Mereka
tak mampu mengelak. Selain itu, semboyan tersebut yang telah mengakar kuat
sedikit banyak ternodai. Sehingga, banyak komentar dari mulut ke mulut, “Hanya
gara-gara seorang itu Madura harus tersungkur? Bukankah itu malu-maluin Madura?”
Corengan
nama baik pulau Mudara tak mampu dielakkan, sehingga dari segala lapisan; dari
kiai hingga santrinya; dari dosen hingga mahasiswanya; dari guru hingga
siswanya; dari tokoh masyarakat hingga kaum abangan, bagaimana pun harus
menerima kenyataan dan bersabar akan
takdir (ketentuan) Tuhan ini. Mungkin, saatnya Madura seperti negara Islam yang
mengalami komplik politik dan lain sebagainya, bahkan mamalukan dan mimilukan,
saat ditinggal Nabi Muhammad 14 abab yang lalu. Madura demikian, mengingat
wafatnya kiai atau ulama kharismatik seperti Kiai Cholil Bangkalan, Kiai
Muhammad As-Syarqawi (pendiri Pondok Pesantren Annuqayah), Drs. KH. A. Warits
Ilyas (pengasuh PPA. Lubangsa), Kiai Idris (pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien)
dan ulama-ulama Madura lainnya. Ulama tersebut benar-benar memiliki peran yang
vital dalam penerapan pendidikan dan pengetahuan di Madura seperti berdirinya
pondok pesantren (PP. Annuqayah-Sumenep, PP. Al-Amien-Sumenep, PP.
Bata-Bata-Pamekasan, PP. Banyuanyar-Pamekasan, PP. Syaichona Cholil-Bangkalan,
dan pondok pesantren lainnya) dan sekolah-sekolah formal baik mulai tingkat
dasar hingga perguruan tinggi.
Bagaimana
keadaan Madura nanti? Mampukah Madura bangkit di atas keterpurukan ini?
Menjawab
pertanyaan-pertanyaan itu tak jauh berbeda dengan membaca sejarah perjuangan
nabi agung, Muhammad ibnu Abdillah, yang mampu membabat habis orang sekejam Abu
Lahab dan para kafir Quraish lainnya pada zaman Jahiliyah. Atas perjuangan
gigih beliau, kekejaman dunia mampu dirubah menjadi zaman progressif; penuh
kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran.
Masa
depan Madura, sekarang dan seterusnya, tampak buram. Sebagai pemuda kita
bertanggung jawab mengembalikan Madura seperti semula; mengobati penyakit,
bukan bikin penyakit tambah parah. Bersabar dan tawakal, menurut penulis,
adalah langkah yang tepat untuk Madura hari ini dan berikutnya.
Kasus
Ra Fuad menjadi evaluasi awal dan seterusnya bagi masyarakat Madura dalam
melangkah ke depan lebih hati-hati. Keinginan berkuasa secara otoriter, meraup
harta milik rakyat, dan menindas rakyat, hendaknya ditanggalkan dulu. Nah,
kembali akan jejak-jejak Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin hebat; bersifat
jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), menyampaikan informasi
seadanya (tabligh), dan cerdas (fathanah), sepatutnya digalakkan
kembali.[]
No comments:
Post a Comment