Wednesday, July 8, 2015

Ra Fuad dan Masa Depan Madura



Meledaknya informasi penangkapan KPK atas Fuad Amin (akrab dipanggil Ra Fuad) pada hari Selasa kemarin (Jawa Pos, 2/12) karena kasus menerima suap dari Media Karya Sentosa (MKS), banyak orang, terutama masyarakat Madura, bertanya-tanya. “Kok bisa orang sekuasa Ra Fuad harus tersungkur di meja KPK?” Seakan-akan mereka membenarkan atau menyangkal; fifty-fifty. Menyangkal bahwa itu hanya “dugaan semata”, mengingat Ra Fuad adalah cicit Kiai Cholil Bangkalan yang dikenal wara’, wali, alim dan kharismatik. Membenarkan ketika memutar kembali ingatan akan kisah putra Nabi Nuh yaitu Kan’an yang mati mengenaskan karena tenggelam dilanda banjir besar sebab “tidak patuh” terhadap ajakan sang ayah.

Antara meng-”iya”-kan dan tidak, banyak orang, terutama orang pesantren, hanya mampu berdoa saja, “Semoga Allah swt memberikan jawaban yang sebenarnya atas kasus itu!” Menyitir pernyataan Gus Dur (Abdurrahman Wahid), “Sejarah akan membuktikan.” Bahkan, dalam Al-Qur’an (QS. Az-Zalzalah: 7-8), Allah swt akan menjawab kerisuhan ini, Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarahu, waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarahu. “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan, barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”   

Masa Depan Madura
Madura yang mulai dulu hingga masa kini dikenal dengan semboyan “Ta’ la’nyala’ah, keng jhe’ lasalaen,” (Tidak senang bikin masalah, tapi jangan disakiti), tak sedikit orang yang merasa getir dan keder cari gara-gara dengan orang Madura. Siapa pun, baik berani atau penakut, jika diketahui asal kedatangannya dari Madura, benar-benar tampak keangkuhannya. Oleh sebab itulah, secara kasat mata, orang Madura disegani, bahkan Maduranya sediri tampak suci; anti korupsi, anti kongkalikong, dan anti-anti lainnya.

Namun, gara-gara seorang, Ra Fuad, orang Madura menjadi bungkam sejuta kata. Mereka tak mampu mengelak. Selain itu, semboyan tersebut yang telah mengakar kuat sedikit banyak ternodai. Sehingga, banyak komentar dari mulut ke mulut, “Hanya gara-gara seorang itu Madura harus tersungkur? Bukankah itu malu-maluin Madura?”

Corengan nama baik pulau Mudara tak mampu dielakkan, sehingga dari segala lapisan; dari kiai hingga santrinya; dari dosen hingga mahasiswanya; dari guru hingga siswanya; dari tokoh masyarakat hingga kaum abangan, bagaimana pun harus menerima kenyataan  dan bersabar akan takdir (ketentuan) Tuhan ini. Mungkin, saatnya Madura seperti negara Islam yang mengalami komplik politik dan lain sebagainya, bahkan mamalukan dan mimilukan, saat ditinggal Nabi Muhammad 14 abab yang lalu. Madura demikian, mengingat wafatnya kiai atau ulama kharismatik seperti Kiai Cholil Bangkalan, Kiai Muhammad As-Syarqawi (pendiri Pondok Pesantren Annuqayah), Drs. KH. A. Warits Ilyas (pengasuh PPA. Lubangsa), Kiai Idris (pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien) dan ulama-ulama Madura lainnya. Ulama tersebut benar-benar memiliki peran yang vital dalam penerapan pendidikan dan pengetahuan di Madura seperti berdirinya pondok pesantren (PP. Annuqayah-Sumenep, PP. Al-Amien-Sumenep, PP. Bata-Bata-Pamekasan, PP. Banyuanyar-Pamekasan, PP. Syaichona Cholil-Bangkalan, dan pondok pesantren lainnya) dan sekolah-sekolah formal baik mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Bagaimana keadaan Madura nanti? Mampukah Madura bangkit di atas keterpurukan ini?

Menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tak jauh berbeda dengan membaca sejarah perjuangan nabi agung, Muhammad ibnu Abdillah, yang mampu membabat habis orang sekejam Abu Lahab dan para kafir Quraish lainnya pada zaman Jahiliyah. Atas perjuangan gigih beliau, kekejaman dunia mampu dirubah menjadi zaman progressif; penuh kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran.

Masa depan Madura, sekarang dan seterusnya, tampak buram. Sebagai pemuda kita bertanggung jawab mengembalikan Madura seperti semula; mengobati penyakit, bukan bikin penyakit tambah parah. Bersabar dan tawakal, menurut penulis, adalah langkah yang tepat untuk Madura hari ini dan berikutnya.

Kasus Ra Fuad menjadi evaluasi awal dan seterusnya bagi masyarakat Madura dalam melangkah ke depan lebih hati-hati. Keinginan berkuasa secara otoriter, meraup harta milik rakyat, dan menindas rakyat, hendaknya ditanggalkan dulu. Nah, kembali akan jejak-jejak Nabi Muhammad saw sebagai pemimpin hebat; bersifat jujur (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), menyampaikan informasi seadanya (tabligh), dan cerdas (fathanah), sepatutnya digalakkan kembali.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...