Pikiran bingung untuk memulai menulis di atas kertas ini.
Bingung mencari ide. Mungkin, beban pikiran karena perasaan tidak kerasan saat
kembali dari liburan pondok yang sangat sebentar (satu minggu). Tapi,
kebingungan itu bukan alasan tidak menulis. Tidak menulis bagiku adalah suatu
kelalaian. Lalai adalah perbuatan yang seharusnya dikubur dalam-dalam.
Ada banyak hal yang tetap membekas di dalam hatiku selama
berlibur di rumah. Di antaranya pesan yang nongol di Facebookku yang dikirim
oleh Naila Aljazilah. Sebenarnya, ada dua item yang masih aku ingat. Isinya
begini. Pertama, ucapan selamat
padaku atas prestasi (Tahfid Al-Fiyah) yang aku raih di MQK ke-IV
Bangkalan pada beberapa minggu yang lalu; tanya kabarku, baik-baik atau tidak—al-Hamdulillah baik-baik dan masih tetap dalam lindungan
Allah SWT; pemberitahuan kalau dia dapat online hanya di akun fbnya
yaitu Tangkai Hati Nayla doang,
sedangkan di Naila Aljazilah tidak; permohonan add Naila Aljazilah di
Tangkai Hati Naila; ucapan terima kasih atas surprise ulang tahunnya;
dan ucapan selamat ulang tahun bagiku (Happy Birthday in September, Have
a nice twenty).
Kedua,
ucapan terima kasih yang tak terkira terhadapku dan anak-anak
BPBA English atas surprise ulang tahunnya—Happy Birthday in
September, have a nice eighteenth; minta tolong padaku untuk menyampaikan
salam terhadap anak-anak BPBA English—aku sudah sampaikan pada mereka. Mereka
sangat bangga atas respons positifnya, “SEDERHANA TAPI MENGGUGAH”; dan
informasi padaku untuk nelepon dia di pondoknya, PP Sukorejo, tapi, teleponnya,
katanya, menggunakan telepon rumah sehingga membutuhkan tarif biaya yang agak
mahal—menurutku, mahalnya biaya bukan suatu problem bagiku. Kalo, itu baik dan
penting kenapa tidak...?
Itulah sekelumit pesan yang isinya sempat diingat dan ditulis
di diaryku. Aku ingin jadikan pesan itu sebuah kenangan yang abadi karena pesan
itu ditulis dengan memakai kata-kata yang halus dan serius, sehingga, membuat
hatiku tersentuh. Dan, satu pesan yang juga sempat aku ingat, “Yang sabar
yaaa!” Sungguh pesan yang mulia. Aku tahu, sabar adalah kunci meraih kesuksesan
saat terdampar dalam kegagalan. Bahkan, Allah berfirman, “Inna Allaha ma’a
al-shabiriin (Sesungguhnya Allah beserta orang yang sabar).”
Selain itu, silaturrahim adalah sunnah Nabi. Beliau tak
henti-henti mendorong para sahabatnya melaksanakan sunah tersebut. Karena
silaturrahim itu, kita akan menjumpai karunia Tuhan yang sulit dibaca oleh
akal. Misalkan, dapat mempererat tali persaudaraan, menambah pengetahuan, dan
memperpanjang umur. Karena silaturrahim, aku dapat memahami diri Naila semakin
jauh. Naila orangnya suka nyanyi bahasa Inggris, ngusilin orang, suka sesuatu
(benda) yang berwarna merah muda, suka makan coklat, dan memiliki cita-cita
pergi ke Sidney. Aku bersyukur dapat mengetahui kepribadiannya. Karena,
memberikan sesuatu tanpa membahagiakan si penerimanya, maka pahalanya sedikit.
Itulah statemen yang masih aku ingat dari beberapa ustadz saat mengajarku.
Aku yakin dia (Naila) seperti itu. Aku bangga atas kepribadiannya
yang menurutku sangat sederhana dan memiliki tekad yang kuat (bercita-cita
pergi ke Sidney). Bayangkan, pergi ke tempat itu tak semua orang bisa, hanya
orang yang semangat, selalu berdoa serta memiliki skill yang mumpuni, salah
satunya mampu berbahasa Inggris. Tempat yang megah itu terletak di Australia.
Australia. Sungguh amat jauh diukur dari mana dia belajar sekarang. Tapi,
jangan patah semangat. Terus berproses sampai Tuhan mengetokkan palu
(menentukan takdir). Terus, Aku hanya mengajungkan jempol sembari berucap,
“Semoga cita-cita itu menjadi kenyataan! Amin.”
Cokelat, buku berwarna merah muda, bolpoin dengan bekas
tulisan “Naila Abang”, dan sebuah kantungan yang bertuliskan tak jauh berbeda
dengan bolpoin yang dikirimkan lewat post itu adalah hadiah untuknya. Hadiah
yang dapat dibilang syukuran atas prestasiku, Juara 2 Tahfidz Alfiyah pada MQK
ke-4 di Bangkalan kemarin. Sungguh, hadiah itu sangat sedikit. Hanya itulah yang
aku mampu. Semoga bermanfaat! Amin.
So, semoga cerita ini menjadi sejarah yang tak terlupakan.
Karena, setiap kejadian mengandung makna yang dapat dipetik. Tinggal manusia
merenungkannya. Gimana?[]
No comments:
Post a Comment