Wednesday, July 8, 2015

Tahajud



Membiasakan diri, aktivitas yang sangat sulit menjadi prinsip hidup seseorang. Sulit, bukan tidak mungkin. Hanya orang tertentu, yang tekun dan memiliki semangat yang tinggi, yang dapat menjaga aktivitas ini. Dalam istilah yang lain, “membiasakan diri” semakna dengan “konsisten” (istiqamah).

Mengingat masa silam, sering abah dan umi mendorong dan mensugesti saya bangun malam, baik untuk belajar atau shalat Tahajud. Tapi, saya mengabaikannya karena kantuk, capek dan takut tiada henti membebani saya bangun. Sehingga, saya bangun dan beranjak dari tempat tidur waktu azan Subuh sedang atau selesai dikumandangkan. Saat itulah kesempatan shalat Tahajud kandas. Melihat durasi waktu shalat Tahajud bermulai setelah shalat Isya’ dan bangun tidur sampai menjelang masuk waktu shalat Subuh.

Motivasi kedua orang tua selalu saya simak, terutama ketika akan berangkat ke pondok. Hanya saja hati saya keras; yang disampaikan masuk dari telinga kanan, kemudian keluar ke telinga kiri. Untungnya, saya masih sadar bahwa hati saya tidak beres, sehingga perlu di-scan atau di-reset.

Kiai Warits tidurnya tidak terlalu malam, sehingga beliau bangun pas jam 02.00. Keterlambatan beliau bangun akan berdampak negatif terhadap kesehatan beliau. Beliau bisa jadi sakit karena bangun terlambat. Saya mencoba menyimpulkan pernyampaikan kedua orang tua saya, sekalipun saya pribadi tak tahu langsung keadaan Kiai Warits. Padahal, saya sudah nyantri kepada beliau sejak 2009.

Disitir dari sumber yang mutawatir tentang kiai Pondok Pesantren Annuqayah, saya memperoleh statemen seperti ini. “Jika santri Annuqayah bangun tengah malam, maka baca “Amin”—yang bermakna istajib (kabulkan)—karena kiai Annuqayah, baik yang masih hidup atau yang telah wafat,  mendoakan santrinya.” Sumber ini dipertegas oleh Kiai Wafi Nuh, alumni PPA. Lubangsa, waktu menyampaikan kesan alumni pada acara Haflah Nihayah As-Sanah Ad-Dirasiyah Madrasah Diniyah Tahun Pelajaran 2014-2015.

Dalam sebuah cerita yang lain; kemarin pada bulan Ramadhan saya iseng-iseng mengunjungi famili saya di Banyuangi. Walau jarak antra Madura, tempat saya lahir, ke Banyuangi cukup jauh, sedikit pun tak menjadi aral untuk berangkat. Sampai di Banyuangi, perasaan saya langsung bersahabat karena rumah famili saya berlatar pedesaan seperti rumah saya. Hanya saja yang bikin saya tidak kerasan suasana yang sepi; tanpa seorang teman yang setia ngobrol. Rindu pulang mengalkulasi saya betah di sana selama tiga hari.

Di waktu senggang saya ditemani ngobrol Pak Ajji (begitu saya memanggil), Mak Ajji, dan Kak Nardha. Kadang-kadang nenek yang saya tak tahu namanya serta tetangga sekitar ikut nimbrung dan tanya asal saya. Di sela pembicaraan famili saya, Pak Ajji, mengaku dia tidak sekaya famili-familinya. “Wah,” ucapnya sambil menunjuk ke nenek saya yang sedang menjemur kopi, “oreng ta’ andhi’. Kalako’ennah pera’gun cara jeriyah.” Menyimak ucapannya, saya percaya.

Di waktu kepulangan saya dari Banyuangi, aba cerita bahwa Ji Mahmud—kakek Mak Ajji—begitu pula Pak Ajji dan sekeluarga, tergolong orang yang kaya se-Secang, desa di Banyuangi. “Masa’!” Saya kaget mendengar cerita yang bertolak belakang. “Pom-pong ki’ bedhe engko’, pesse sebede neng Bank kala’, mayu’ ke hajji sekeluarga,” ummi saya angkat bicara menyampaikan perkataan Ji Mahmud pada anak, menantu, dan cucunya.

Aba husn al-dhan bahwa kemakmuran rezeki Ji Mahmud sekeluarga tak lepas dari kebiasaan mereka bangun tengah malam dan tidak tidur hingga menjelang Subuh. “Jangan tidur terlalu malam agar mudah bangun dan tidak kesiangan,” tambah abah dengan nada datar.

Mendengar cerita-cerita yang tak henti disodorkan bikin saya berpikir sejenak. Mungkinkah saya menjadi seperti mereka? Tapi, caranya bagaimana? Haruskah saya tidur lebih dulu, jam 21.00 atau 22.00? Baca-baca doa yang dapat membantu-mempermudah bangun pada waktu yang saya inginkan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sempat terngiyang di dalam pikiran saya, tapi diri saya sedikit pesimis. Soalnya, pernah saya mencoba, kadang-kadang tak seperti yang diharapkan. Inginnya bangun pada jam segini, bangunnya pada jam segitu. Tapi, kegagalan di masa silam tetap dijadikan evaluasi; mengetahui kekurangan menjadi kesempurnaan.

Memutar ulang ingatan saya kepada sugesti aba, cerita-cerita di atas logis. Konsisten bangun malam, selain didorong niat yang kuat, juga dibentengi kesiapan badan untuk bangun. Artinya, badan seseorang yang capek akan sulit bangun di tengah malam. Bukan Tuhan tidak mendengar doa dan keinginan hamba-Nya, tapi Dia lebih tahu mana yang terbaik untuk mereka. Bisa jadi dipaksakan bangun dalam kondisi badan yang capek, misalkan, shalat yang dilaksanakan tidak maksimal atau mengakibatkan sakit.

Sugesti aba coba dipraktekkan, nyatanya benar; saya dapat bangun seperti kiai-kiai dan famili saya tadi, sekalipun itu masih dalam tahap try out. Hari ke hari aktivitas bangun tengah malam semakin bersahabat dengan saya. Saya hanya bisa bersyukur kepada Allah swt dan berterima kasih atas sugesti kedua orang tua saya. Semoga kebiasaan baik ini terus berlanjut tanpa terbatas waktu dan tempat.

Di tengah malam kesempatan beribadah sangat tepat. Di tengah kesunyian kekhusyukan bermunajat dan menghafal tampak berbeda dibandingkan beraktivitas di siang hari. Kala itu saya sempatkan shalat Tahajud dan belajar. Kadang saya belajar menulis, menghafal, dll.

Mengabaikan malam sebagai waktu beribadah sungguh benar-benar merugi. Hanya saja orang yang sadar yang dapat mengambil kesempatan emas ini.[]

Terima kasih atas motivasi aba dan umi!

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...