Membiasakan diri, aktivitas yang sangat sulit menjadi prinsip
hidup seseorang. Sulit, bukan tidak mungkin. Hanya orang tertentu, yang tekun
dan memiliki semangat yang tinggi, yang dapat menjaga aktivitas ini. Dalam
istilah yang lain, “membiasakan diri” semakna dengan “konsisten” (istiqamah).
Mengingat masa silam, sering abah dan umi mendorong dan
mensugesti saya bangun malam, baik untuk belajar atau shalat Tahajud. Tapi,
saya mengabaikannya karena kantuk, capek dan takut tiada henti membebani saya
bangun. Sehingga, saya bangun dan beranjak dari tempat tidur waktu azan Subuh
sedang atau selesai dikumandangkan. Saat itulah kesempatan shalat Tahajud
kandas. Melihat durasi waktu shalat Tahajud bermulai setelah shalat Isya’ dan
bangun tidur sampai menjelang masuk waktu shalat Subuh.
Motivasi kedua orang tua selalu saya simak, terutama ketika
akan berangkat ke pondok. Hanya saja hati saya keras; yang disampaikan masuk
dari telinga kanan, kemudian keluar ke telinga kiri. Untungnya, saya masih
sadar bahwa hati saya tidak beres, sehingga perlu di-scan atau di-reset.
Kiai Warits tidurnya
tidak terlalu malam, sehingga beliau bangun pas jam 02.00. Keterlambatan beliau
bangun akan berdampak negatif terhadap kesehatan beliau. Beliau bisa jadi sakit
karena bangun terlambat. Saya mencoba
menyimpulkan pernyampaikan kedua orang tua saya, sekalipun saya pribadi tak
tahu langsung keadaan Kiai Warits. Padahal, saya sudah nyantri kepada beliau
sejak 2009.
Disitir dari sumber yang mutawatir tentang kiai Pondok Pesantren
Annuqayah, saya memperoleh statemen seperti ini. “Jika santri Annuqayah bangun
tengah malam, maka baca “Amin”—yang bermakna istajib (kabulkan)—karena kiai Annuqayah, baik yang masih hidup
atau yang telah wafat, mendoakan
santrinya.” Sumber ini dipertegas oleh Kiai Wafi Nuh, alumni PPA. Lubangsa,
waktu menyampaikan kesan alumni pada acara Haflah Nihayah As-Sanah Ad-Dirasiyah
Madrasah Diniyah Tahun Pelajaran 2014-2015.
Dalam sebuah cerita yang lain; kemarin pada bulan Ramadhan
saya iseng-iseng mengunjungi famili saya di Banyuangi. Walau jarak antra
Madura, tempat saya lahir, ke Banyuangi cukup jauh, sedikit pun tak menjadi
aral untuk berangkat. Sampai di Banyuangi, perasaan saya langsung bersahabat
karena rumah famili saya berlatar pedesaan seperti rumah saya. Hanya saja yang
bikin saya tidak kerasan suasana yang sepi; tanpa seorang teman yang setia ngobrol.
Rindu pulang mengalkulasi saya betah di sana selama tiga hari.
Di waktu senggang saya ditemani ngobrol Pak Ajji (begitu saya
memanggil), Mak Ajji, dan Kak Nardha. Kadang-kadang nenek yang saya tak tahu
namanya serta tetangga sekitar ikut nimbrung dan tanya asal saya. Di sela
pembicaraan famili saya, Pak Ajji, mengaku dia tidak sekaya famili-familinya. “Wah,” ucapnya sambil menunjuk ke nenek
saya yang sedang menjemur kopi, “oreng
ta’ andhi’. Kalako’ennah pera’gun cara jeriyah.” Menyimak ucapannya, saya
percaya.
Di waktu kepulangan saya dari Banyuangi, aba cerita bahwa Ji
Mahmud—kakek Mak Ajji—begitu pula Pak Ajji dan sekeluarga, tergolong orang yang
kaya se-Secang, desa di Banyuangi. “Masa’!”
Saya kaget mendengar cerita yang bertolak belakang. “Pom-pong ki’ bedhe engko’, pesse sebede neng Bank kala’, mayu’ ke hajji
sekeluarga,” ummi saya angkat bicara menyampaikan perkataan Ji Mahmud pada
anak, menantu, dan cucunya.
Aba husn al-dhan bahwa
kemakmuran rezeki Ji Mahmud sekeluarga tak lepas dari kebiasaan mereka bangun
tengah malam dan tidak tidur hingga menjelang Subuh. “Jangan tidur terlalu
malam agar mudah bangun dan tidak kesiangan,” tambah abah dengan nada datar.
Mendengar cerita-cerita yang tak henti disodorkan bikin saya
berpikir sejenak. Mungkinkah saya menjadi seperti mereka? Tapi, caranya
bagaimana? Haruskah saya tidur lebih dulu, jam 21.00 atau 22.00? Baca-baca doa
yang dapat membantu-mempermudah bangun pada waktu yang saya inginkan?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sempat terngiyang di dalam
pikiran saya, tapi diri saya sedikit pesimis. Soalnya, pernah saya mencoba,
kadang-kadang tak seperti yang diharapkan. Inginnya bangun pada jam segini,
bangunnya pada jam segitu. Tapi, kegagalan di masa silam tetap dijadikan
evaluasi; mengetahui kekurangan menjadi kesempurnaan.
Memutar ulang ingatan saya kepada sugesti aba, cerita-cerita
di atas logis. Konsisten bangun malam, selain didorong niat yang kuat, juga
dibentengi kesiapan badan untuk bangun. Artinya, badan seseorang yang capek
akan sulit bangun di tengah malam. Bukan Tuhan tidak mendengar doa dan
keinginan hamba-Nya, tapi Dia lebih tahu mana yang terbaik untuk mereka. Bisa
jadi dipaksakan bangun dalam kondisi badan yang capek, misalkan, shalat yang
dilaksanakan tidak maksimal atau mengakibatkan sakit.
Sugesti aba coba dipraktekkan, nyatanya benar; saya dapat
bangun seperti kiai-kiai dan famili saya tadi, sekalipun itu masih dalam tahap try out. Hari ke hari aktivitas bangun
tengah malam semakin bersahabat dengan saya. Saya hanya bisa bersyukur kepada
Allah swt dan berterima kasih atas sugesti kedua orang tua saya. Semoga
kebiasaan baik ini terus berlanjut tanpa terbatas waktu dan tempat.
Di tengah malam kesempatan beribadah sangat tepat. Di tengah
kesunyian kekhusyukan bermunajat dan menghafal tampak berbeda dibandingkan
beraktivitas di siang hari. Kala itu saya sempatkan shalat Tahajud dan belajar.
Kadang saya belajar menulis, menghafal, dll.
Mengabaikan malam sebagai waktu beribadah sungguh benar-benar
merugi. Hanya saja orang yang sadar yang dapat mengambil kesempatan emas ini.[]
Terima kasih atas
motivasi aba dan umi!
No comments:
Post a Comment