Wednesday, July 8, 2015

Melihat Keberagaman



Setiap kita munajat (berzikir, berdoa, atau tahlil) sering berjumpa dengan versi bacaan yang berbeda. Misalkan, lafal “subhanallah wa bi hamdih” yang dipakai dalam tahlil untuk orang yang meninggal tanpa lafal “subhana Allahi al-adim, sedangkan, versi lain memakai kedua lafal tasbih tersebut.

Tentang versi munajat, saya teringat dengan penjelasan KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum, putra Drs. KH. A. Warits Ilyas (alm.), pada kegiatan rutin ajian kitab karya Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim, bahwa beragam versi bacaan tak lepas dari rujukan yang diyakini mashur dan sahih. Perbedaan itu sering ditemukan saat saya bandingkan versi bacaan yang dipakai antara pesantren ini dengan pesantren itu. Saya bukan ingin menghakimi yang ini benar dan yang itu salah. Sekali lagi, tidak. Tapi, saya ingin menggarisbawahi versi-versi tersebut.

Kesahihan dan kemutawatiran sanad sangat menentukan kesahihan bacaan seseorang bermunajat. Hemat saya, versi yang sahih tentu disitir dari seorang guru yang bersambung hingga Nabi Muhammad saw. Keterikatan sanad ini yang menjadi tolak ukur kualitas bacaan; berbeda versi bacaan yang sering kita temukan di beberapa buku-buku yang dijajankan di pasar karena banyak penjual yang tidak bertanggung jawab atas kualitas barang, lebih-lebih isi atau substansinya. Yang terpenting laku. Pemberian ijazah (tanda izin) sama sekali jarang ditemukan di sana.

Sekarang keyakinan-keyakinan semacam itu tak ngefek lagi. Mayoritas pelajar cenderung mendahulukan akal dari pada hati. Padahal, disadari atau tidak bahwa kekuatan akal sangat terbatas. Akal yang erat kaitannya dengan kecerdasan intelektual dinilai nisbi. Sedangkan, hati yang menjadi media kecerdasan spiritual diakui menempati kedudukan tertinggi di antara kecerdasan yang lain. Tak heran, jika Al-Ghazali dalam pengembaraannya mencari kebenaran sejati bermulai dari ilmu adab, ilmu kalam, ilmu filsafat, sama sekali belum menggapai impiannya. Nah, ia raih kepuasan itu saat ketemu seorang guru yang ikhlas mengajarkan ilmunya yaitu ilmu tasawuf.

Kemarin (18/1) selesai shalat Maghrib saya tadarus bersama teman-teman pondok. Selesai tadarus sambil duduk menunggu azan shalat Isya’, salah satu teman saya tanya tentang Surat Yasin yang terpopuler dan digemari banyak pencinta ibadah dibandingkan surat-surat Al-Qur’an yang lain. Dia cerita, “Kata seorang tetangga saya yang dikenal alim, Surat Yasin, isinya, untuk mohon mati kepada Tuhan.” Pernyataan ini saya pikir biasa. Yang bikin saya kaget lanjutan ceritanya, “Kata si bapak itu, kita hendaknya berhenti membaca Surat Yasin.”

Mengingat penggemar Surat Yasin yang tak terhitung jumlahnya, adalah hal yang tabu mendengar larangan tegas tadi. Sebab, membaca keutamaan Surat Yasin merujuk terhadap beragam referensi kitab klasik seperti Tafsir Surat Yasin, Surat Yasin jika dibacakan terhadap orang yang meninggal, dosanya sewaktu masih hidup dapat terhapus; Surat Yasin jika dibaca untuk memohon terkabulnya cita-cita hidup, maka dipastikan akan tercapai; dan lain-lain. Kita pasti membayangkan betapa dahsyatnya pengaruh Surat Yasin itu.

Tetap dalam cerita teman tadarus saya, dijawab bahwa versi pemikiran dan keyakinan yang melekat dalam diri setiap orang tak luput dari rujukan atau guru yang membimbingnya. Karena, guru (mursyid) yang mengkonsep dan menjalankannya. Tak semua guru mengajarkan ilmu yang sahih, ada juga guru yang mengajarkan kesesatan. Terkadang murid tidak sadar. Saat detik-detik ini ingatlah bahwa memilih guru adalah suatu keharusan sebelum belajar. Ada tiga tipe guru—menurut Al-Zarnuji dalam kitab Ta’lim Muta’allim—yang layak diberi apresiasi yaitu lebih senior, alim, dan wara’.

Sebagai santri Pondok Pesantren Annuqayah, saya tak perlu repot-repot dan pusing; mengikuti jejak kiai-kiai pondok pesantren ini—sebut, Kiai Moh. Syarqawi dari Kudus, Kiai Ilyas, Kiai Warits, dan cucu-cucu beliau—terjamin keselamatannya. Beliau dikenal alim dan wara’. Setiap ilmu yang diperoleh dan diterapkan beliau, sudah dikaji dan dipertimbangkan sebelumnya.

Kembali pada sejarah, perbedaan sering dijumpai tempo dulu, bahkan perbedaan antara guru dan murid. Misal, perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i, Plato dan Aristoteles, dll. Kini perbedaan itu semakin meledak dari yang moderat hingga yang ekstrim. Kalau yang moderat, tak jadi soal. Yang bikin masalah adalah perbedaan yang estrim seperti Wahabi, Front Pembela Islam (FPI) hingga Islamic State of Irak and Syiria (ISIS). Ketiga kelompok ini benar-benar kalap dan keras dalam berjihad. Perang adalah aktivitas favorit mereka. Sehingga, tahun 2015 manusia semakin getir dan goncang psikologinya saat melihat saudara-saudara kita di negara lain ditindas karena menghindar dari kelompok keras ini. Naudzubillah!

Islam memang terbuka; melihat perbedaan bukan sebagai petaka, melainkan sebagai rahmat. Tak ayal, Allah swt berfirman: “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (Kami tidak mengutus kamu (Nabi Muhammad saw) melainkan sebagai penebar kasih sayang bagi semesta alam). Silahkan berbeda, tapi yang tetap kita pegang adalah perbedaan itu bukan makin menambah rumit, melainkan menjadi jalan keluar dari masalah yang pelik. Sehingga, visi Islam (yaitu rahmatan alamin) tercapai. []

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...