Setiap kita munajat (berzikir, berdoa, atau tahlil) sering
berjumpa dengan versi bacaan yang berbeda. Misalkan, lafal “subhanallah wa
bi hamdih” yang dipakai dalam tahlil untuk orang yang meninggal tanpa lafal “subhana
Allahi al-adim”,
sedangkan, versi lain
memakai kedua lafal tasbih tersebut.
Tentang versi munajat, saya teringat dengan penjelasan KH.
Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum, putra
Drs. KH. A. Warits Ilyas (alm.), pada kegiatan rutin ajian
kitab karya Az-Zarnuji, Ta’lim Muta’allim, bahwa beragam versi bacaan
tak lepas dari rujukan yang diyakini mashur dan
sahih. Perbedaan itu sering ditemukan saat
saya bandingkan versi bacaan yang dipakai antara pesantren ini dengan pesantren
itu. Saya bukan ingin menghakimi yang ini benar dan yang itu salah. Sekali
lagi, tidak. Tapi, saya ingin menggarisbawahi versi-versi tersebut.
Kesahihan dan kemutawatiran sanad
sangat menentukan kesahihan bacaan seseorang bermunajat. Hemat saya, versi yang
sahih tentu disitir dari seorang guru yang bersambung hingga Nabi Muhammad saw.
Keterikatan sanad ini yang menjadi tolak ukur kualitas bacaan; berbeda versi
bacaan yang sering kita temukan di beberapa buku-buku yang dijajankan di pasar
karena banyak penjual yang tidak bertanggung jawab atas kualitas barang,
lebih-lebih isi atau substansinya. Yang terpenting laku. Pemberian ijazah
(tanda izin) sama sekali jarang ditemukan di sana.
Sekarang keyakinan-keyakinan semacam itu tak ngefek lagi. Mayoritas pelajar cenderung mendahulukan akal
dari pada hati. Padahal, disadari atau tidak bahwa kekuatan akal sangat
terbatas. Akal yang erat kaitannya dengan kecerdasan intelektual dinilai nisbi.
Sedangkan, hati yang menjadi media kecerdasan spiritual diakui menempati kedudukan
tertinggi
di antara kecerdasan yang lain. Tak heran, jika Al-Ghazali dalam pengembaraannya mencari kebenaran sejati bermulai dari ilmu adab, ilmu kalam,
ilmu filsafat, sama sekali belum menggapai
impiannya. Nah, ia raih kepuasan itu saat ketemu seorang guru yang ikhlas mengajarkan ilmunya yaitu ilmu tasawuf.
Kemarin (18/1) selesai shalat Maghrib saya tadarus bersama
teman-teman pondok. Selesai tadarus sambil duduk menunggu azan shalat Isya’,
salah satu
teman saya tanya tentang Surat Yasin yang terpopuler dan digemari banyak
pencinta ibadah dibandingkan surat-surat Al-Qur’an yang lain. Dia cerita, “Kata
seorang tetangga saya yang dikenal alim, Surat Yasin, isinya, untuk mohon mati
kepada Tuhan.” Pernyataan ini saya pikir biasa. Yang bikin saya kaget lanjutan ceritanya, “Kata si bapak itu, kita hendaknya berhenti membaca Surat Yasin.”
Mengingat penggemar Surat Yasin yang tak terhitung jumlahnya,
adalah hal yang tabu mendengar larangan tegas
tadi. Sebab, membaca keutamaan Surat Yasin merujuk terhadap
beragam referensi kitab klasik seperti Tafsir
Surat Yasin,
Surat Yasin jika dibacakan terhadap orang yang meninggal, dosanya sewaktu masih
hidup dapat terhapus; Surat Yasin jika dibaca untuk memohon terkabulnya
cita-cita hidup, maka dipastikan akan tercapai; dan lain-lain. Kita
pasti membayangkan betapa dahsyatnya pengaruh Surat Yasin itu.
Tetap dalam cerita teman tadarus saya, dijawab bahwa versi
pemikiran dan keyakinan yang melekat dalam diri setiap orang tak luput dari rujukan atau guru yang
membimbingnya. Karena, guru (mursyid) yang mengkonsep dan menjalankannya. Tak semua guru
mengajarkan ilmu yang sahih, ada juga guru yang mengajarkan kesesatan.
Terkadang murid tidak sadar. Saat detik-detik ini ingatlah bahwa memilih guru
adalah suatu keharusan sebelum belajar. Ada tiga tipe guru—menurut Al-Zarnuji
dalam kitab Ta’lim Muta’allim—yang
layak diberi apresiasi yaitu lebih senior, alim, dan
wara’.
Sebagai santri Pondok Pesantren
Annuqayah, saya tak perlu repot-repot dan pusing; mengikuti jejak kiai-kiai
pondok pesantren ini—sebut, Kiai Moh. Syarqawi dari Kudus, Kiai Ilyas, Kiai
Warits, dan cucu-cucu beliau—terjamin keselamatannya. Beliau dikenal alim dan
wara’. Setiap ilmu yang diperoleh dan diterapkan beliau, sudah dikaji dan dipertimbangkan
sebelumnya.
Kembali pada sejarah, perbedaan sering dijumpai tempo dulu, bahkan perbedaan antara guru dan
murid. Misal, perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i, Plato dan
Aristoteles, dll. Kini perbedaan itu semakin meledak dari yang moderat hingga
yang ekstrim. Kalau yang moderat, tak jadi soal. Yang bikin masalah adalah
perbedaan yang estrim seperti Wahabi, Front Pembela Islam
(FPI) hingga Islamic State of Irak and Syiria (ISIS). Ketiga kelompok ini benar-benar kalap dan keras dalam berjihad.
Perang adalah aktivitas favorit mereka. Sehingga, tahun 2015 manusia semakin
getir dan goncang psikologinya saat melihat saudara-saudara kita di negara lain
ditindas karena menghindar dari kelompok keras ini. Naudzubillah!
Islam memang terbuka; melihat
perbedaan bukan sebagai petaka, melainkan sebagai rahmat. Tak ayal, Allah swt
berfirman: “Wama arsalnaka illa rahmatan
lil alamin” (Kami tidak mengutus kamu (Nabi Muhammad saw) melainkan sebagai
penebar kasih sayang bagi semesta alam). Silahkan berbeda, tapi yang tetap kita
pegang adalah perbedaan itu bukan makin menambah rumit, melainkan menjadi jalan
keluar dari masalah yang pelik. Sehingga, visi Islam (yaitu rahmatan alamin) tercapai. []
No comments:
Post a Comment