Kembali setelah berlibur menyambut Hari Raya Idhul Adha tahun
2015, kuliah kitab kuning setiap Ahad yang diampuh Kiai Mamak kembali dimulai.
Shalat Jamaah Ashar usai, santri yang siap dengan kitab Ta’lim Mutaallim duduk
berderet di saf depan dan baris patah-patah di belakang dan belakang.
Sedangkan, santri yang lain keluar mengambil kitab di kamar masing-masing.
Sambil menunggu, Kiai Mamak mengurut-ngurut layar ponsel.
Saya mengamati, beliau tak lepas dari ponsel ke manapun beliau pergi, kendati
ke masjid shalat Jum’at atau mengimami shalat jamaah. Saya sekedar husnuddzan:
Cara beliau mengoperasikan ponsel tak seperti saya dan para santri yang lain.
Jika saya banyak ogal-ogalannya, tapi beliau tidak. Beliau lebih pasnya disebut
fail (pengendali) daripada maf’ul (dipengaruhi). Teknologi
dipergunakan semestinya.
Di sela-sela menunggu santri, beliau ngasih jeda sebentar:
kira-kira sepuluh menit untuk persiapan. Saat itu pula saya ditanya beliau
tentang batas akhir maqra’ yang diajarkan sebelum liburan. Saya menoleh
kanan-kiri: kira-kira yang dipanggil beliau, saya atau santri yang lain. Jelas
saya, sayalah yang maju sambil membawa sebagian lembar kertas kitab Ta’lim
Mutaallim sembari menunjukkan ini dan itu.
Seperti yang telah saya jelaskan dalam tulisan saya
sebelumnya, bahwa metode review tak lepas dari karakter Kiai Mamak. Di
antara yang saya tandai; beberapa yang beliau review, [a] Ketahuilah
bahwa sesungguhnya pelajar tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali
dengan menghormat ilmu dan ilmuwan sejati... (hal 16). [b] Dinyatakan,
“Menghormat lebih baik daripada taat.” (hal 16). [c] Sesungguhnya
manusia tidak akan menjadi kafir karena maksiat. Dan, hanyasanya ia menjadi
kafir karena tidak hormat. (hal 16). [d] Siapapun
yang ingin anaknya menjadi alim, seyogyanya ia menghormati dan mengagungkan
para guru, dan memberikan mereka sesuatu. (hal 17). Dan, [e] Burhanuddin,
penulis kitab “Shahib al-Hidayah”, bercerita: “Salah seorang ilmuwan besar di
daerah Bukhara duduk di ruang belajar. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung
beliau berdiri. Mereka tanya tentang peristiwa ini. Beliau jawab: Anak guruku
bermain bersama anak-anak yang lain di jalan. Jika aku melihatnya, maka aku
berdiri karena mengagungkan guruku.”
Beberapa item yang telah tertelan masa selama berlibur
kira-kira sepekan merekah kembali dalam ingatan saya. Ingatan ini menjadi kuat,
benar-benar kuat. Tak lama, Kiai Mamak melanjutkan pada item-item berikutnya.
Imam Az-Zarnuji menuturkan dalam kitabnya: Fahruddin
As-Syabandi adalah pemimpin imam di wilayah Marwa. Beliau mendapat penghormatan
dari para raja. Beliau bilang: Saya mendapatkan kedudukan ini karena menghormat
guru. Saya pernah membantu guruku, Al-Qhady Aba Yazid Ad-Dabbusy. Saya pernah
memasakkannya; tetapi saya tidak memakannya. (hal
17).
Saya membayangkan iklim pelajar sekarang: Masihkah
saya—atau yang lain—mengaplikasikan cara menghormat guru seperti yang diperbuat
As-Sabandi? Kayaknya “Tidak!” Jangankan hormat, taat saja rasanya sulit.
Saya merasa bersalah mengingat keonaran saya saat sekolah dan kuliah dulu. Saya
pernah membikin dosen marah karena saya masih membantah begini dan begitu saat
beliau minta ngasih pemisalan tentang kecintaan kita kepada Al-Qur’an.
Sebagai penutup Kiai Mamak sering menyampaikan beberapa baris
kata yang mudah diingat audiens. Tapi, kali ini beda: beliau menutup dengan
pernyataan Az-Zarnuji langsung.
Al-Hulwany keluar dari daerah Bukhara. Beliau tinggal di
sebagian desa. Beliau dikunjungi murid-murid beliau kecuali Abi Bakar
Az-Zaranjy. Al-Hulwani tanya kepada Az-Zaranjy saat ketemu: “Kenapa kamu tidak
mengunjungiku?” Ia jawab: “Saya sibuk karena membantu ibuku.” Beliau bilang,
“Kamu akan mendapatkan keberkahan umur, tapi bukan mutiara ilmu.” Beberapa waktu setelah itu, yang dikatakan
Al-Hulwany terjadi pada Az-Zaranjy. (hal
17-18).
“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Beliau
melanjutkan dengan salam. Santri berdiri tanda menghormat ala Pondok Pesantren
Annuqayah. Setelah beliau beranjak keluar dan samar-samar dari arah penglihatan
saat beliau jelas-jelas di luar Masjid Jami’ Annuqayah, santri bubar otomatis,
baik masih duduk-duduk di masjid sambil ngobrol, bergegas keluar keburu menuju
kamar mandi, atau merebahkan badan sekedar istirahat sejenak.[]
Annuqayah, 22 November 2015
No comments:
Post a Comment