Sunday, January 3, 2016

Sang Ilmuwan Sejati



Kembali setelah berlibur menyambut Hari Raya Idhul Adha tahun 2015, kuliah kitab kuning setiap Ahad yang diampuh Kiai Mamak kembali dimulai. Shalat Jamaah Ashar usai, santri yang siap dengan kitab Ta’lim Mutaallim duduk berderet di saf depan dan baris patah-patah di belakang dan belakang. Sedangkan, santri yang lain keluar mengambil kitab di kamar masing-masing.

Sambil menunggu, Kiai Mamak mengurut-ngurut layar ponsel. Saya mengamati, beliau tak lepas dari ponsel ke manapun beliau pergi, kendati ke masjid shalat Jum’at atau mengimami shalat jamaah. Saya sekedar husnuddzan: Cara beliau mengoperasikan ponsel tak seperti saya dan para santri yang lain. Jika saya banyak ogal-ogalannya, tapi beliau tidak. Beliau lebih pasnya disebut fail (pengendali) daripada maf’ul (dipengaruhi). Teknologi dipergunakan semestinya.

Di sela-sela menunggu santri, beliau ngasih jeda sebentar: kira-kira sepuluh menit untuk persiapan. Saat itu pula saya ditanya beliau tentang batas akhir maqra’ yang diajarkan sebelum liburan. Saya menoleh kanan-kiri: kira-kira yang dipanggil beliau, saya atau santri yang lain. Jelas saya, sayalah yang maju sambil membawa sebagian lembar kertas kitab Ta’lim Mutaallim sembari menunjukkan ini dan itu.

Seperti yang telah saya jelaskan dalam tulisan saya sebelumnya, bahwa metode review tak lepas dari karakter Kiai Mamak. Di antara yang saya tandai; beberapa yang beliau review, [a] Ketahuilah bahwa sesungguhnya pelajar tidak akan mendapatkan ilmu dan manfaat ilmu kecuali dengan menghormat ilmu dan ilmuwan sejati... (hal 16). [b] Dinyatakan, “Menghormat lebih baik daripada taat.” (hal 16). [c] Sesungguhnya manusia tidak akan menjadi kafir karena maksiat. Dan, hanyasanya ia menjadi kafir karena tidak hormat. (hal 16). [d] Siapapun yang ingin anaknya menjadi alim, seyogyanya ia menghormati dan mengagungkan para guru, dan memberikan mereka sesuatu. (hal 17). Dan, [e] Burhanuddin, penulis kitab “Shahib al-Hidayah”, bercerita: “Salah seorang ilmuwan besar di daerah Bukhara duduk di ruang belajar. Di tengah-tengah pelajaran berlangsung beliau berdiri. Mereka tanya tentang peristiwa ini. Beliau jawab: Anak guruku bermain bersama anak-anak yang lain di jalan. Jika aku melihatnya, maka aku berdiri karena mengagungkan guruku.”

Beberapa item yang telah tertelan masa selama berlibur kira-kira sepekan merekah kembali dalam ingatan saya. Ingatan ini menjadi kuat, benar-benar kuat. Tak lama, Kiai Mamak melanjutkan pada item-item berikutnya.

Imam Az-Zarnuji menuturkan dalam kitabnya: Fahruddin As-Syabandi adalah pemimpin imam di wilayah Marwa. Beliau mendapat penghormatan dari para raja. Beliau bilang: Saya mendapatkan kedudukan ini karena menghormat guru. Saya pernah membantu guruku, Al-Qhady Aba Yazid Ad-Dabbusy. Saya pernah memasakkannya; tetapi saya tidak memakannya. (hal 17).

Saya membayangkan iklim pelajar sekarang: Masihkah saya—atau yang lain—mengaplikasikan cara menghormat guru seperti yang diperbuat As-Sabandi? Kayaknya “Tidak!” Jangankan hormat, taat saja rasanya sulit. Saya merasa bersalah mengingat keonaran saya saat sekolah dan kuliah dulu. Saya pernah membikin dosen marah karena saya masih membantah begini dan begitu saat beliau minta ngasih pemisalan tentang kecintaan kita kepada Al-Qur’an.

Sebagai penutup Kiai Mamak sering menyampaikan beberapa baris kata yang mudah diingat audiens. Tapi, kali ini beda: beliau menutup dengan pernyataan Az-Zarnuji langsung.

Al-Hulwany keluar dari daerah Bukhara. Beliau tinggal di sebagian desa. Beliau dikunjungi murid-murid beliau kecuali Abi Bakar Az-Zaranjy. Al-Hulwani tanya kepada Az-Zaranjy saat ketemu: “Kenapa kamu tidak mengunjungiku?” Ia jawab: “Saya sibuk karena membantu ibuku.” Beliau bilang, “Kamu akan mendapatkan keberkahan umur, tapi bukan mutiara ilmu.” Beberapa waktu setelah itu, yang dikatakan Al-Hulwany terjadi pada Az-Zaranjy. (hal 17-18).

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” Beliau melanjutkan dengan salam. Santri berdiri tanda menghormat ala Pondok Pesantren Annuqayah. Setelah beliau beranjak keluar dan samar-samar dari arah penglihatan saat beliau jelas-jelas di luar Masjid Jami’ Annuqayah, santri bubar otomatis, baik masih duduk-duduk di masjid sambil ngobrol, bergegas keluar keburu menuju kamar mandi, atau merebahkan badan sekedar istirahat sejenak.[]   

Annuqayah, 22 November 2015     

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...