Selama dua hari saya dan teman saya, Atho’, berada di
perjalanan dari Pondok Pesantren Annuqayah menuju Universitas Muhammadiyah (UM)
Surabaya. Sebelum berangkat, sempat terbersit di pikiran saya, bahwa kampus berlabel “universitas” tampak megah, indah, dan ramai dengan mahasiswa dibandingkan kampus-kampus yang
berlabel “sekolah tinggi” atau “institut”.
Karena prediksi ini berpijak kuat, semangat menempuh
perjalanan mampu menghapus kekelahan, malahan semakin menambah energi. Anda
tahu? Setelah turun dari bus jurusan kabupaten Sumenep hingga stasiun
Bungurasi, kepala saya sakit, stamina telah banyak terkuras. Sehingga, shalat
Maghrib pun yang sempat jika dilaksanakan di musala dekat Bungurasi, terpaksa di-jama’
takhir (mengumpulkan dan mengakhirkan dua shalat wajib) di rumah famili Atho’ pada waktu shalat Isya’ di pertengahan malam kira-kira jam 02:00.
Besoknya, hari Ahad.
Saya dan Atho’ siap-siap berangkat ke UM
Surabaya. Kita berkemas di rumah famili teman yang letak rumahnya tak jauh dari
stasiun Surabaya itu. Saya bersyukur bisa numpang tidur, shalat, mandi, dan
makan di rumah itu tanpa tarif biaya sepeser pun alias
gratis. Selain itu, di malam harinya (malam Ahad) saya, Atho’, dan Riskon (adik
Rijalirrohim) jalan-jalan, walau hujan mengguyur. “Syukur kita punya famili
dekat-dekat sini. Andai saja tidak, apa jadinya…,” ketus teman saya.
Jalan menuju UM Surabaya lumayan jauh, jika keberangkatannya
melewati jalur stasiun Bungurasi. Jelasnya, naik bus jurusan Parenduan sampai
stasiun Bungurasi; turun bus cari angkot jurusan Bungurasi ke stasiun Joyoboyo;
dan naik angkot jurusan Joyoboyo ke UM Surabaya. Saya sadar kejauhan rute ini
setelah fokus perhatian saya mengarah jam di layar ponsel saya: kira satu
jam-an. Padahal mobil taxi-nya ngebut.
Saya masih ingat masing-masing angkot dari stasiun ke stasiun menarik tarif Rp.
5.000,-.
Turun dari angkot di depan pintu masuk kampus, dua cewek
lewat di depan saya. Sekedar memastikan, saya tanya, benar tidaknya kampus ini
UM Surabaya yang saya maksud.
“Sampean peserta technical meeting ya? Benar ini
kampus UM,” jelas salah seorang dari mereka.
Kemudian kami berdua masuk lewat pintu gerbang yang tampak di
depan mata. Di pagar jalan depan pintu terpampang banner ucapan
selamat datang peserta technical meeting dalam rangka lomba. Prediksi
saya semakin menurun. “Bukankah saya salah masuk?” desis saya.
“Mahasiswanya mana? Sepi!” tanya saya membatin.
“Seberapa luas kampus ini?” Saya semakin tambah penasaran
saja melihat keluasan halaman dan ketinggian gedung.
Selesai naik lantai dua, saya mendaftarkan peserta lomba: 6
orang delegasi English Education Program Pondok Pesantren Annuqayah (EEP-PPA),
salah satu institusi bahasa Inggris pusat yang berada di bawah naungan
pesantren; dan 3 siswi delegasi Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putri. Dan,
kita masuk ruangan dekat tempat pendaftaran untuk mengikuti acara technical
meeting. Tiba di ruangan, rasa tidak kerasan tiba-tiba menghapus sedikit demi sedikit semangat ikut acara. Suatu hal yang bikin saya begini: kursi
kampus yang tak jauh berbeda dengan kampus saya di pondok, INSTIKA (Institut
Ilmu Keislaman Annuqayah), suasana kampus yang agak sepi, dan lain-lain.
Prediksi turun drastis.
“Katanya universitas, kok fasilitasnya biasa-biasa saja?
Nggak semewah Universitas Indonesia (UI),” keluh saya.
Karena acara masih belum dimulai, saya coba lihat halaman
belakang kampus melalui jendela. Nyatanya, yang tampak jemuran pakaian dan
sampah yang berserakan. Melihat lebih jauh, sawah-sawah penuh dengan air kotor
di luar area kampus. Ternyata UM Surabaya tak seperti yang saya
bayangkan. Jadi, fasilitas UM Surabaya masih jauh disejajarkan
dengan fasilitas UI.
Gubuk Bahasa Asing, 17 Februari 2015
No comments:
Post a Comment