Wednesday, July 15, 2015

Saya dan Shalat Tahajud



Dalam buku yang ditulis Dr. Sholeh yaitu Terapi Shalat Tahajud, suatu hal yang masih saya ingat selain penjelasan bahwa shalat Tahajud yang dikerjakan dengan khusuk dan ikhlas akan menjadi obat yang mampu menyembuhkan penyakit, adalah kronologi (as-bab an-nuzul) surat al-Muzzammil yang berkaitan dengan perintah shalat malam ini terhadap Nabi saw.

Diceritakan dalam surat itu, bahwa saat Nabi saw menghadapi ancaman sengit yaitu rencana kafir Quraisy untuk menghabisi nyawa beliau, Tuhan memerintahkan beliau untuk bangun malam, shalat Tahajud. Ancaman ini tak lepas dari kekontrasan agama beliau, Islam, dengan agama yang mereka elu-elukan. Akhirnya, berkat shalat itu, perasaan panik yang mencekam psikologi beliau dapat diretas.

Ya ayyuha al-muzzammil qum al-layla illa qalilaa (QS. al-Muzzammil: 1-2).  Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) di waktu malam walaupun sebentar.

Kata qum al-layla masih ambigu: bangun dari tidur dan begadang atau bangun kemudian melaksanakan shalat malam (shalat Tahajud). Dalam Tafsir al-Nawawi (Tafsir Marah Labid) Imam Nawawi menafsirkan ayat tersebut dengan “bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat Tahajud.” Begadang di malam hari beraneka macam juga. Jadi, bangun yang bernilai dan utama jika diniatkan ibadah.

Terus, dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adiim yang populer dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir, ayat itu punya kaitan (munasabah) dengan QS. al-Isra’: 79 yaitu “Wa min al-layli fatahajjad bihi nafilatan laka asaa an yab’atsaka rabbuka maqaman mahmudan (Sebagian dari malam hendaknya engkau laksanakan shalat Tahajud (fatahajjad) sebagai ibadah sunnah agar Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqaman mahmudan).

Saya membatin, bagaimana dengan pribadi saya yang setiap waktu masalah datang silih berganti? Satu masalah belum selesai, masalah yang lain datang lagi. Batin saya merintih.

Misalkan, mandeknya prestasi (tak meningkat di atas level Jawa Timur); uang tak kunjung datang, kalau pun perut menjerit; masa depan yang tak menentu; tak mampu mengendalikan emosi; dan lain-lain.

Masalah demi masalah sering saya curhatkan pada Tuhan yang Maha Mendengar (al-sami’) selesai shalat Tahajud atau selesai shalat fardu. Air mata menetes tak terduga. Rasa optimis disertai husn al-dhan, bahwa masalah itu akan kunjung berakhir pula karena Tuhan mendengar setiap bait doa saya.

Beberapa hari, efek shalat itu benar-benar terasa. Perjalanan hidup saya tampak semakin energik dan berkharisma dibandingkan hari-hari sebelumnya. Al-Hamdulillah, saya diminta sebagai guru asisten Kiai Farid Hasan BA, pengasuh PP. Annuqayah daerah Al-Hasan, untuk mengajar bahasa Inggris di Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Putra; sudah tiga kali wali santri memberikan uang sebesar Rp. 50.000,- kepada saya; dan lain-lain.

Beberapa fakta di atas hanya sebagian dampak positif yang saya kira. Sejatinya, banyak efek positif yang dapat saya rasakan dan tak perlu saya tulis di sini. Saya yakin semua ini adalah barakah shalat Tahajud dan bangun di pertengahan malam.

Realitas itu sangat sesuai dengan firman Allah dalam QS. al-Isra’: 79. Kata maqaman mahmudan ditafsirkan oleh Imam Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Al-Nawawi dengan “tempat kemuliaan yang ada di sisi pengamal shalat Tahajud dan di sisi orang lain.” Lebih jelasnya, anda bisa perhatikan antara orang yang mengamalkan ibadah ini dengan orang yang tidak sama sekali. Kira-kira ada atau tidak perbedaan di antara mereka? Yang empiris dan logis lebih dinyakini dari pada yang berbentuk teori.

Saya rasa cerita di atas bukan untuk promosi, melainkan tahadduts bi al-ni’ma (mengurai kenikmatan yang Allah swt berikan kepada saya) saja. Selanjutnya, tergantung anda menilai cerita ini.[]

Gubuk Bahasa Inggris, 04 Maret 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...