Dalam buku yang ditulis Dr. Sholeh yaitu Terapi Shalat
Tahajud, suatu hal yang masih saya ingat selain penjelasan bahwa shalat
Tahajud yang dikerjakan dengan khusuk dan ikhlas akan menjadi obat yang mampu
menyembuhkan penyakit,
adalah kronologi (as-bab an-nuzul) surat al-Muzzammil yang berkaitan
dengan perintah shalat malam ini terhadap Nabi saw.
Diceritakan dalam surat itu, bahwa saat Nabi saw menghadapi
ancaman sengit yaitu rencana kafir Quraisy untuk menghabisi nyawa beliau, Tuhan
memerintahkan beliau untuk bangun malam, shalat Tahajud. Ancaman ini tak lepas
dari kekontrasan agama beliau, Islam, dengan agama yang mereka elu-elukan. Akhirnya, berkat shalat itu,
perasaan panik yang mencekam psikologi beliau dapat diretas.
Ya ayyuha al-muzzammil qum al-layla illa qalilaa (QS. al-Muzzammil: 1-2). Wahai
orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) di waktu malam walaupun
sebentar.
Kata qum al-layla masih ambigu: bangun dari tidur dan
begadang atau bangun kemudian melaksanakan shalat malam (shalat Tahajud). Dalam
Tafsir al-Nawawi (Tafsir Marah Labid) Imam Nawawi menafsirkan ayat
tersebut dengan “bangun di tengah malam untuk melaksanakan shalat Tahajud.”
Begadang di malam hari beraneka macam juga.
Jadi, bangun yang bernilai dan utama jika diniatkan ibadah.
Terus, dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adiim yang
populer dengan sebutan Tafsir Ibnu Katsir, ayat itu punya kaitan (munasabah) dengan QS. al-Isra’: 79 yaitu “Wa min al-layli fatahajjad bihi
nafilatan laka asaa
an yab’atsaka
rabbuka maqaman mahmudan (Sebagian dari malam hendaknya engkau
laksanakan shalat Tahajud (fatahajjad) sebagai ibadah sunnah agar
Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji (maqaman mahmudan).
Saya membatin, bagaimana dengan pribadi
saya yang setiap waktu masalah datang silih berganti? Satu masalah belum
selesai, masalah yang lain datang lagi. Batin saya merintih.
Misalkan, mandeknya prestasi (tak meningkat di atas level
Jawa Timur); uang tak kunjung datang, kalau pun perut menjerit; masa depan yang
tak menentu; tak mampu mengendalikan emosi; dan lain-lain.
Masalah demi masalah sering saya curhatkan pada Tuhan yang
Maha Mendengar (al-sami’) selesai shalat Tahajud atau selesai shalat
fardu. Air mata menetes tak terduga. Rasa optimis disertai husn al-dhan, bahwa
masalah itu akan kunjung berakhir pula karena Tuhan mendengar setiap bait doa
saya.
Beberapa hari, efek shalat itu benar-benar terasa. Perjalanan
hidup saya tampak semakin energik dan berkharisma dibandingkan hari-hari
sebelumnya. Al-Hamdulillah, saya diminta sebagai guru asisten Kiai Farid Hasan BA, pengasuh PP. Annuqayah daerah Al-Hasan, untuk mengajar bahasa Inggris di Madrasah
Aliyah 1 Annuqayah Putra; sudah tiga kali wali santri memberikan uang sebesar
Rp. 50.000,- kepada saya; dan lain-lain.
Beberapa fakta di atas hanya sebagian dampak positif yang saya kira. Sejatinya, banyak
efek positif yang dapat saya rasakan dan tak perlu saya tulis di sini. Saya
yakin semua ini adalah barakah shalat Tahajud dan bangun di pertengahan malam.
Realitas itu sangat sesuai dengan firman Allah dalam QS.
al-Isra’: 79. Kata maqaman mahmudan ditafsirkan oleh Imam Nawawi
al-Bantani dalam Tafsir Al-Nawawi dengan “tempat kemuliaan yang ada di
sisi pengamal shalat Tahajud dan di sisi orang lain.” Lebih jelasnya, anda bisa
perhatikan antara orang yang mengamalkan ibadah ini dengan orang yang tidak
sama sekali. Kira-kira ada atau tidak perbedaan di antara mereka? Yang empiris dan logis lebih dinyakini
dari pada yang berbentuk teori.
Saya rasa cerita di atas bukan untuk promosi, melainkan tahadduts
bi al-ni’ma (mengurai kenikmatan yang Allah swt berikan kepada saya) saja. Selanjutnya, tergantung anda
menilai cerita ini.[]
Gubuk Bahasa Inggris, 04
Maret 2015
No comments:
Post a Comment