Kepergian Kiai Warits bikin banyak santri Pondok Pesantren
Annuqayah tak mampu menyeka lelehan air mata. Seakan-akan pesantren ini tidak
siap dengan kepergian beliau.
Tapi, kalau Tuhan berkehendak, kita tidak mampu menahan. La mania lima a’thaita wala mu’thiya lima mana’ta.
Setelah wafatnya Kiai Warits banyak cerita yang perlu saya
tulis. Di antaranya, penentuan penerus beliau dan wisuda putra beliau.
***
Jum’at kemarin saya mendapat kabar bahwa KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, putra
Kiai Warits sendiri, akan diwisuda tahun ini sebagai isyarat kelulusan beliau pada jenjang S2
di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Kabar ini disitir dari petuah Kiai Wafi
Nuch, pengajar dan pembimbing kursus ngaji Al-Qur’an di pondok pesantren ini. Saya dengar langsung petuah tersebut di
depan Kantor Madrasah Diniyah PP. Annuqayah
daerah Lubangsa.
“Kiai Fikri berangkat ke Jakarta sekarang untuk menyambut
wisuda Kiai Mamak (panggilan KH. Shalahuddin A. Warits),” ujar Kiai Wafi.
Saya hanya mengangguk dengan muka sedikit menunduk. “Engki,”
jawab saya
singkat.
Informasi ini ada sangkut pautnya dengan ngaji Al-Qur’an sebagian santri yang lulus tes
seleksi ke Kiai Wafi. Kemudian, dilanjutkan ngaji ke Kiai Ali Fikri. Saya sendiri termasuk peserta dalam tes seleksi ini. Alhamdulillah,
saya dinyatakan lulus.
Tentang wisuda adik Kiai Fikri, saya pernah nguping
cerita teman yang bersumber dari salah seorang alumni pondok pesantren ini,
bahwa Kiai Mamak menanggalkan wisuda tahun ini. Sebab, dia sengaja tidak
menyelesaikan tesis sebagai persyaratan untuk S2. Entah, atas alasan apa
persyaratan itu beliau tidak penuhi.
Yang jelas, semua santri mengharap Kiai Mamak cepat-cepat lulus,
sehingga dapat mengganti dan meneruskan jejak abanya yang wafat beberapa hari sebelumnya yaitu tanggal 22 Pebruari 2014. Sebab, informasi atau isu yang
jelas dan sahih dinyatakan, bahwa penerus aba beliau adalah Kiai Mamak sendiri.
Isu ini sudah booming sebelum Kiai Warits wafat.
Tentang Kiai Fikri yang beberapa tahun silam telah menamatkan
jenjang pendidikannya hingga S2, para santri tak punya pikiran bahwa beliaulah
penggantinya. Diketahui, Kiai Fikri telah membangun dhalem di belakang
area pondok putri. Posisi dhalem itu agak berjauhan dengan area pondok
pesantren putra.
“Kiai Mamak, penggantinya,” ketus sebagian santri waktu
ngobrol.
Keambinguan menentukan penerus kiai bikin pikiran saya mumet. Hingga, saya
sendiri ikut investigasi informasi yang lebih sahih, baik dari pembantu dhalem kiai, teman-teman
santri, pengurus pesantren, wali santri, sampai umi saya sendiri.
Katanya, penerus kiai adalah Kiai Fikri. Awalnya saya masih
ragu. Tapi, setelah informasi itu terdengar dari pengakuan Nyi Nuh, istri Kiai
Warits, kayakinan saya naik menjadi 100%.
“Kiai Fikri, katanya Nyi Nuh,” ucap umi saya tandas.
Di suatu acara pelantikan pengurus Madrasah Diniyah, Moh.
Khalili, S.PdI, pengurus pesantren, menyebut dua putra Kiai Warits yaitu Kiai
Mamak dan Kiai Fikri, sebagai pengasuh. Pikiran saya menyimpulkan, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa ada 2 person.
Dipikir-pikir, tidak jadi soal tentang kuantitas kepengasuhan. Yang terpenting, perkembangan pesantren
tidak menyusut. Apalagi ini tentang kepemimpinan manusia, bukan Tuhan yang
tidak boleh dua atau lebih.
* * *
Tadi Subuh (tanggal 1 September 2014) Kiai Fikri baru saja sampai di PP. Annuqayah setelah
berada di Jakarta selama 3 hari, kemudian mengimami shalat Subuh. Wisuda Kiai Mamak baru saja selesai. Tapi, saya
masih belum melihat Kiai Mamak jalan-jalan di lingkungan pondok.
“Apakah beliau masih menetap di Jakarta?” tanya saya pada
diri sendiri.
Walau saya tak dapat menyambut wisuda beliau secara langsung,
cukup saya ucapkan, “Selamat atas ketuntasan studi Kiai!”
Semoga kehadiran beliau di pondok pesantren ini mampu
mengajarkan ilmu beliau dan mendidik santri beliau. Rindu ketemu beliau masih
membekas kuat di dalam nurani.
Lubangsa, 1 September 2014
No comments:
Post a Comment