Wednesday, July 15, 2015

Pascawafatnya Kiai Warits



Kepergian Kiai Warits bikin banyak santri Pondok Pesantren Annuqayah tak mampu menyeka lelehan air mata. Seakan-akan pesantren ini tidak siap dengan kepergian beliau. Tapi, kalau Tuhan berkehendak, kita tidak mampu menahan. La mania lima a’thaita wala mu’thiya lima mana’ta.

Setelah wafatnya Kiai Warits banyak cerita yang perlu saya tulis. Di antaranya, penentuan penerus beliau dan wisuda putra beliau.

***

Jum’at kemarin saya mendapat kabar bahwa KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, putra Kiai Warits sendiri, akan diwisuda tahun ini sebagai isyarat kelulusan beliau pada jenjang S2 di Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Kabar ini disitir dari petuah Kiai Wafi Nuch, pengajar dan pembimbing kursus ngaji Al-Qur’an di pondok pesantren ini. Saya dengar langsung petuah tersebut di depan Kantor Madrasah Diniyah PP. Annuqayah daerah Lubangsa.

“Kiai Fikri berangkat ke Jakarta sekarang untuk menyambut wisuda Kiai Mamak (panggilan KH. Shalahuddin A. Warits),” ujar Kiai Wafi.

Saya hanya mengangguk dengan muka sedikit menunduk. “Engki,” jawab saya singkat.

Informasi ini ada sangkut pautnya dengan ngaji Al-Qur’an sebagian santri yang lulus tes seleksi ke Kiai Wafi. Kemudian, dilanjutkan ngaji ke Kiai Ali Fikri. Saya sendiri termasuk peserta dalam tes seleksi ini. Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus.

Tentang wisuda adik Kiai Fikri, saya pernah nguping cerita teman yang bersumber dari salah seorang alumni pondok pesantren ini, bahwa Kiai Mamak menanggalkan wisuda tahun ini. Sebab, dia sengaja tidak menyelesaikan tesis sebagai persyaratan untuk S2. Entah, atas alasan apa persyaratan itu beliau tidak penuhi.

Yang jelas, semua santri mengharap Kiai Mamak cepat-cepat lulus, sehingga dapat mengganti dan meneruskan jejak abanya yang wafat beberapa hari sebelumnya yaitu tanggal 22 Pebruari 2014. Sebab, informasi atau isu yang jelas dan sahih dinyatakan, bahwa penerus aba beliau adalah Kiai Mamak sendiri. Isu ini sudah booming sebelum Kiai Warits wafat.

Tentang Kiai Fikri yang beberapa tahun silam telah menamatkan jenjang pendidikannya hingga S2, para santri tak punya pikiran bahwa beliaulah penggantinya. Diketahui, Kiai Fikri telah membangun dhalem di belakang area pondok putri. Posisi dhalem itu agak berjauhan dengan area pondok pesantren putra.

“Kiai Mamak, penggantinya,” ketus sebagian santri waktu ngobrol.

Keambinguan menentukan penerus kiai bikin pikiran saya mumet. Hingga, saya sendiri ikut investigasi informasi yang lebih sahih, baik dari pembantu dhalem kiai, teman-teman santri, pengurus pesantren, wali santri, sampai umi saya sendiri.

Katanya, penerus kiai adalah Kiai Fikri. Awalnya saya masih ragu. Tapi, setelah informasi itu terdengar dari pengakuan Nyi Nuh, istri Kiai Warits, kayakinan saya naik menjadi 100%.

“Kiai Fikri, katanya Nyi Nuh,” ucap umi saya tandas.

Di suatu acara pelantikan pengurus Madrasah Diniyah, Moh. Khalili, S.PdI, pengurus pesantren, menyebut dua putra Kiai Warits yaitu Kiai Mamak dan Kiai Fikri, sebagai pengasuh. Pikiran saya menyimpulkan, pengasuh PP. Annuqayah daerah Lubangsa ada 2 person.

Dipikir-pikir, tidak jadi soal tentang kuantitas kepengasuhan. Yang terpenting, perkembangan pesantren tidak menyusut. Apalagi ini tentang kepemimpinan manusia, bukan Tuhan yang tidak boleh dua atau lebih. 

* * *

Tadi Subuh (tanggal 1 September 2014) Kiai Fikri baru saja sampai di PP. Annuqayah setelah berada di Jakarta selama 3 hari, kemudian mengimami shalat Subuh. Wisuda Kiai Mamak baru saja selesai. Tapi, saya masih belum melihat Kiai Mamak jalan-jalan di lingkungan pondok.

“Apakah beliau masih menetap di Jakarta?” tanya saya pada diri sendiri.

Walau saya tak dapat menyambut wisuda beliau secara langsung, cukup saya ucapkan, “Selamat atas ketuntasan studi Kiai!

Semoga kehadiran beliau di pondok pesantren ini mampu mengajarkan ilmu beliau dan mendidik santri beliau. Rindu ketemu beliau masih membekas kuat di dalam nurani.

Lubangsa, 1 September 2014

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...