Kira-kira tanggal 23 Maret 2015 saya baru saja pulang dari Universitas
Muhammadiyah Surabaya dan perdebatan antara saya dan Elvin, santri PP. Sukorejo
Situbondo memanas di jejaring internet yaitu facebook. Main point perbedatan
ini adalah sikap “diam” saya walau Naila kirim pesan ke inbox fb saya jauh
hari sebelum itu; pesan itu berisi tanya kabar saya karena saya lama tak ngasih
kabar, baik lewat telepon atau facebook.
Kalau pun saya tak kenal Elvin lebih jauh, tapi saya tahu dia
adalah teman dekat Naila di pondoknya. Selain itu, Elvin pernah mondok di
Pondok Pesantren Annuqayah, tempat saya menimba ilmu sejak 2009 hingga sekarang.
Karena status pertemanan, Elvin banyak tahu tentang hubungan
saya dan Naila. Kalau pun awalnya saya percaya bahwa dia orang asing yang tak
banyak tahu tentang yang private ini, akhirnya dia kirim pesan di inbox
fb saya, bahwa mereka berdua pernah saling share dan baca-baca buku karya saya, Kado Cerita untuk Ade’ku, buku
yang membahas tentang perjalanan saya dan Naila.
Saya kaget.
Perdebatan ini mampu mengetuk hati saya untuk menyadari bahwa saya masih butuh seorang Naila di sana, walau berbulan-bulan
saya berusaha membencinya. “Iya, saya janji untuk phone dia,” tulis saya
memastikan setelah Elvin memohon saya baikan seperti dulu, tak menjadikan jarak.
Elvin merasa bangga membaca jawaban itu.
***
Selesai online saya coba calling
Naila di pondoknya. Karena pakai telepon rumah, waiting-nya lumayan
lama. Kira-kira setengah jam-an. Akhirnya masuk dan diterima. Setelah saya
minta penjaga wartel panggilkan Naila Aljazilah alamat pondok Nyai Mukarramah no. 1 Asrama Bahasa.
Kira-kira 15 minit Naila sudah datang.
“Ade’, ya? Ini Abang. Maaf baru phone sekarang,” ucap
saya mencerocos.
Perasaan rindu yang meletup-letup membuat arah pembicaraan saya tak terkontrol. Tak terpikirkan, saya
tiba-tiba berucap, “Ade’, Abang minta maaf tak dapat ngasih sesuatu di hari
ulang tahun Ade’ kemarin.”
“Sebagai gantinya, saya minta sesuatu,” ujar Ade’ tandas.
“Sesuatu
apa?!” tanya saya sedikit penasaran.
“Saya kan senang ngaji….”
“Ooo minta Al-Qur’an?” potong saya menebak.
“Benar, Abang. Kalau beli di sini, Al-Qur’an saya sering
hilang karena banyak Al-Qur’an yang mirip,” jelasnya.
“Jadi, Al-Qur’an yang saya kasih berbeda gitu?!”
“Bisa jadi. Dan, jika Al-Qur’an itu diberi Abang, saya dapat khususan
kepada Aba dan Umi saya, dan kepada Aba dan Umi Abang,” jelasnya.
“Insya Allah, saya kirimkan. Tapi saya nggak janji kiriman ini
sampai dekat-dekat ini. Soalnya, kalau pun posnya bermerek express, kiriman
itu biasanya oleh pak pos dikasih sama pengurus pesantren. Jadi, nyampeknya
agak kelamaan,” jelas saya.
***
Percakapan antara saya dan Naila masih jelas dalam ingatan
saya. Saya terlanjur berjanji. Namun, sampai detik ini saya belum mampu
memenuhi janji itu. Kendala molor pengiriman ini, bukan karena financial tapi
dorongan hati nurani untuk berkorban atas Naila waktu-waktu ini semakin kendor. Sehingga, perasaan
berat menjerat hati untuk berbuat dengan tulus atau ikhlas. Saya khawatir
dipaksakan mengirim mushaf itu, sedangkan hati tidak ikhlas, hasilnya sia-sia
saja. Sebaiknya, di-cancle.
Banyak hal melihat perubahan yang tampak pada diri saya: pertama,
respons atas kekecewaan saya karena Naila telah menyia-nyiakan
kepercayaan saya. Kedua, kehendak saya untuk menjadi single sangat
kuat untuk menyokong mindset dan kata hati saya. Karena saya sadar,
perempuan bukan jalan segala-galanya untuk meraih kesuksesan. Kesepian, kurang gentleman
atau apalah, sedikit pun tidak memberatkan saya hingga bikin saya
galau. Ketiga, kehendak orang tua, bahwa saya direncakan akan dijodohkan
dengan famili saya di Banyuangi. Isu ini hari ke hari semakin booming.
Ikatan percintaan, disadari atau tidak, benar-benar menjerat
“hakikat kebebasan” seseorang. Kita sebagai manusia, inginnya keluar dari
“belenggu” menuju “kebebasan.” Oleh karena itulah, saya tak mood mengeposkan
mushaf Al-Qur’an ke pondok Naila, bisa-bisa di-cancel. Walau keputusan ini belum
final, sebuah pertanyaan bertandang di pikiran saya, “Munafikkah saya?”[]
Gubuk Bahasa Inggris, 5
Maret 2015
No comments:
Post a Comment