Wednesday, July 15, 2015

Munafikkah Saya?



Kira-kira tanggal 23 Maret 2015 saya baru saja pulang dari Universitas Muhammadiyah Surabaya dan perdebatan antara saya dan Elvin, santri PP. Sukorejo Situbondo memanas di jejaring internet yaitu facebook. Main point perbedatan ini adalah sikap “diam” saya walau Naila kirim pesan ke inbox fb saya jauh hari sebelum itu; pesan itu berisi tanya kabar saya karena saya lama tak ngasih kabar, baik lewat telepon atau facebook.

Kalau pun saya tak kenal Elvin lebih jauh, tapi saya tahu dia adalah teman dekat Naila di pondoknya. Selain itu, Elvin pernah mondok di Pondok Pesantren Annuqayah, tempat saya menimba ilmu sejak 2009 hingga sekarang.

Karena status pertemanan, Elvin banyak tahu tentang hubungan saya dan Naila. Kalau pun awalnya saya percaya bahwa dia orang asing yang tak banyak tahu tentang yang private ini, akhirnya dia kirim pesan di inbox fb saya, bahwa mereka berdua pernah saling share dan baca-baca buku karya saya, Kado Cerita untuk Ade’ku, buku yang membahas tentang perjalanan saya dan Naila.

Saya kaget.
                                                                                         
Perdebatan ini mampu mengetuk hati saya untuk menyadari bahwa saya masih butuh seorang Naila di sana, walau berbulan-bulan saya berusaha membencinya. “Iya, saya janji untuk phone dia,” tulis saya memastikan setelah Elvin memohon saya baikan seperti dulu, tak menjadikan jarak.

Elvin merasa bangga membaca jawaban itu.

***

Selesai online saya coba calling Naila di pondoknya. Karena pakai telepon rumah, waiting-nya lumayan lama. Kira-kira setengah jam-an. Akhirnya masuk dan diterima. Setelah saya minta penjaga wartel panggilkan Naila Aljazilah alamat pondok Nyai Mukarramah no. 1 Asrama Bahasa.

Kira-kira 15 minit Naila sudah datang.

“Ade’, ya? Ini Abang. Maaf baru phone sekarang,” ucap saya mencerocos.

Perasaan rindu yang meletup-letup membuat arah pembicaraan saya tak terkontrol. Tak terpikirkan, saya tiba-tiba berucap, “Ade’, Abang minta maaf tak dapat ngasih sesuatu di hari ulang tahun Ade’ kemarin.”

“Sebagai gantinya, saya minta sesuatu,” ujar Ade’ tandas.

Sesuatu apa?!” tanya saya sedikit penasaran.

“Saya kan senang ngaji….”

“Ooo minta Al-Qur’an?” potong saya menebak.

“Benar, Abang. Kalau beli di sini, Al-Qur’an saya sering hilang karena banyak Al-Qur’an yang mirip,” jelasnya.

“Jadi, Al-Qur’an yang saya kasih berbeda gitu?!”

“Bisa jadi. Dan, jika Al-Qur’an itu diberi Abang, saya dapat khususan kepada Aba dan Umi saya, dan kepada Aba dan Umi Abang,” jelasnya.

“Insya Allah, saya kirimkan. Tapi saya nggak janji kiriman ini sampai dekat-dekat ini. Soalnya, kalau pun posnya bermerek express, kiriman itu biasanya oleh pak pos dikasih sama pengurus pesantren. Jadi, nyampeknya agak kelamaan,” jelas saya.

***

Percakapan antara saya dan Naila masih jelas dalam ingatan saya. Saya terlanjur berjanji. Namun, sampai detik ini saya belum mampu memenuhi janji itu. Kendala molor pengiriman ini, bukan karena financial tapi dorongan hati nurani untuk berkorban atas Naila waktu-waktu ini semakin kendor. Sehingga, perasaan berat menjerat hati untuk berbuat dengan tulus atau ikhlas. Saya khawatir dipaksakan mengirim mushaf itu, sedangkan hati tidak ikhlas, hasilnya sia-sia saja. Sebaiknya, di-cancle.

Banyak hal melihat perubahan yang tampak pada diri saya: pertama, respons atas kekecewaan saya karena Naila telah menyia-nyiakan kepercayaan saya. Kedua, kehendak saya untuk menjadi single sangat kuat untuk menyokong mindset dan kata hati saya. Karena saya sadar, perempuan bukan jalan segala-galanya untuk meraih kesuksesan. Kesepian, kurang gentleman atau apalah, sedikit pun tidak memberatkan saya hingga bikin saya galau. Ketiga, kehendak orang tua, bahwa saya direncakan akan dijodohkan dengan famili saya di Banyuangi. Isu ini hari ke hari semakin booming.

Ikatan percintaan, disadari atau tidak, benar-benar menjerat “hakikat kebebasan” seseorang. Kita sebagai manusia, inginnya keluar dari “belenggu” menuju “kebebasan.” Oleh karena itulah, saya tak mood mengeposkan mushaf Al-Qur’an ke pondok Naila, bisa-bisa di-cancel. Walau keputusan ini belum final, sebuah pertanyaan bertandang di pikiran saya, “Munafikkah saya?”[]

Gubuk Bahasa Inggris, 5 Maret 2015

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...