Sudah
menjadi sunnatullah, setiap kali nafas bertandang dalam diri manusia, di situlah
cinta bersemi, entah cinta itu pada sesamanya (maskulin atau feminin) atau
terhadap lainnya. Jadi, musnahlah jiwa manusia, bisa-bisa berakibat hancurnya
alam atau kiamat karena ketidakadaan cinta.
Manusia
berstatus khalifah fil ardhi adalah
anugerah Tuhan. Sebab, tak semua makhluk menyandang status mulia itu. Satu alasan,
kenapa status tersebut Dia nobatkan kepada manusia? “manusia diketahui sebagai
makhluk yang kreatif.” Kreatif. Kekreatifan, kata Jens Forster, seorang
psikolog dari Universitas of Amsterdam, tumbuh karena atas dasar cinta.
Kekreatifan
manusia tentang cinta banyak ditemukan dalam karya-karya monumental, baik
tulisan atau lagu. Misalkan, Everytime (lirik
Britney Spears) yang mengisahkan ketidakberdayaan seorang gadis tanpa seorang baby (kekasih); Be with You (lirik Akon) yang menceritakan kesatuan jiwa antara dua
sejoli. No one knows that I’m into you; Innocence
(lirik Avril Lavigne) tentang seorang gadis yang tidak ingin berpisah
dengan kekasihnya. I need you now; As
long as you love me (lirik Justin Bieber) tentang ukuran cinta seseorang
terhadap kekasihnya; dan lain sebagainya.
Begitu
pun tulisan yang membahas tentang cinta. Sebut saja, karya-karya Habiburrahman
El-Shirazy: Ayat-Ayat Cinta, Pudarnya
Pesona Kleopatra, Ketika Cinta Bertasbih, Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana,
Bumi Cinta. Atau juga Hamka dengan Di
Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya
Kapal Van Der Wicjk-nya, serta beberapa karya penulis lainnya.
Sungguh
cinta bikin orang kreatif!
Cinta
yang menuai berjuta-juta sanjungan dan pujian, ternyata masih banyak pula yang
menuding negatif. Dikecamlah, “Cinta itu buta.” Sungguh hati para pemuja cinta
bagai disayat pisau tajam mendapat tudingan amoral. Perih. Tapi, kerena cinta
timbul bukan atas unsur keterpaksaan, bersemi penuh kearifan, tangan
dielus-eluskan di dadanya sambil berucap, “Be
patient!” Sabar. Sehingga, segala cobaan dan kecaman tak mudah membuat
lentur dan ambruk.
Tundingan
negatif, sering ditemukan di pesantren, sebuah institusi Islam yang akut dengan
pengetahuan keagamaan. Suatu kefatalan jika ada seorang santri diketahui
memiliki hubungan dengan lawan jenis demi untuk memosisikan cinta pada jalan
yang benar (shirathal mustaqim),
dibandingkan diobral (israf) pada sesama
jenis seperti yang terjadi pada kaum Luth. Akibatnya, banyak santri tidak
kerasan, sehingga mengakibatkan terhadap matinya semangat belajar demi
menyongsong masa depan. Tragis!
Jika
cinta negatif, kenapa Nabi Adam jadi tidak kerasan berdiam sendirian di Surga
yang panoramanya melebihi panorama di muka bumi? Cinta telah bikin manusia jadi
kreatif dan cerdas. Sudikah dua sifat baik itu membusuk karena tanpa dorongan
cinta? Lalu, siapakah pengganti manusia sebagai khalifah fil ardhi yang dikenal kreatif? Malaikat? Hewan? atau
tumbuh-tumbuhan?
Nah,
dikira penting adanya regulasi khusus untuk memediasi rasa cinta dalam diri
santri agar figur dan kader ulama sebagai waratsatul
anbiya’ tetap terjaga. Hal yang sangat dominan untuk menjembatani
keberlangsungan cinta, penulisan buku diary.
Catatan harian yang diisi suara hati penulis akan menjadi teman curhat
setiap waktu naluri manusia bertandang: bahagia, sedih, galau, dan lain
sebagainya. Mencurahkan cinta secara face
to face di pesantren adalah suatu kemungkinan yang sulit. Tatapan setiap
kali bertemu atau berpapasan yang dibingkai dengan kedipan mata merupakan
kesempatan yang tak setiap hari terjadi. Beda hal, dengan buku diary yang free dibawa ke mana-mana dan romantis dalam dekapan.
Bingkai
cinta di atas diary adalah langkah
awal manusia memulihkan kreatifitasnya menjadi seorang penulis. Sering
ditemukan, penulis yang dimulai dari menulis diary. Dalam Jalan Terjal
Santri Menjadi Penulis, rata-rata penulis diawali dengan menulis diary seperti Rijal Mumazziq Zionis,
penulis asal Jember; Noviana Herliyanti, penulis asal Batang-Batang; Muhammad
Suhaidi RB, penulis asal Sumenep; Ach. Syaiful A’la, penulis asal Desa Candi
Kecamatan Dungkek; dan para penulis yang lain.
Pembingkaian
cinta dengan kelakuan yang amoral, seperti wet
kiss, dry kiss, peluk-pelukan, apalagi menjurus pada perzinahan, sungguh
telah menodai kesucian cinta. Cinta yang menjadi sifat Tuhan, al-wadud, yang dimanifestasikan terhadap
manusia sejatinya diposisikan pada tempat yang benar supaya kemurnian cinta
tidak buram karena jeratan hawa nafsu yang mengotorinya.
Thus, dampak positif
dilegalkannya diary sebagai media
curhat pemuja cinta, menjadi kebanggaan bergengsi seorang santri hingga mampu
membikin tulisannya tembus di jurnal atau media lokal hingga internasional
seperti Horison, Jawa Pos, Kompas, Tempo,
dan lain sebagainya.
Selain
itu, cinta ala santri setidaknya dibingkai dengan doa-doa atas orang yang
menjadi tangkai hatinya. Karena, tak ada hadiah yang paling indah kecuali doa.
Dalam sebuah adagium arab, al-Dua shilah
al-mu’minin. Doa senjata orang mukmin.
Terapi
buat hati terpikat, doa. Di dalam doa ada muatan yang mampu menyambung hati
yang satu dengan hati yang lain. Kaitan antara cinta dan hati bagai dua jari
telunjuk dan jari tengah yang dijadikan perumpamaan kedekatan antara Rasulullah
saw dan anak yatim dalam sebuah hadits. Cinta bukan kata yang mudah diucapkan,
tapi cinta itu adalah kata hati yang hanya dirasakan. Makanya, satukan cinta
dengan hati, melalui syair-syair doa supaya kesucian cinta tetap terpelihara.
Tanamkan
cinta yang sehat agar hidup penuh dengan hudan.
Hanya orang pencintalah, yang akan merengkuh medali kesuksesan.[]
Tulisan ini dimuat di Majalah Mu’jizat
Edisi V Rubrik Opini
No comments:
Post a Comment