Hidup seseorang selalu memikat. Yang satu dengan yang lain saling bahu-membahu. Kala kesulitan membebaninya, minta bantuan tetangga atau siapa pun adalah cara untuk melepaskan beban berat yang tak dapat dipikul sendiri, hingga beban itu menjadi ringan. Kala keberhasilan terwujud, orang sekitar pun ikut bangga.
Aku lahir di pedesaan
agamis amat. Sungguh menjadi isu negatif (negative issue), jika
diketahui dua orang lawan jenis kepergok berduaan di tempat yang sepi, misalkan. Atau, terlihat dua orang
bukan makhram boncengan, kendati sudah berstatus tunangan. Tapi, kondisi ini
bertumpu sebelum tahun 2009-an. Sedangkan, tahun-tahun berikutnya hingga
sekarang kesadaran akan perkembangan zaman dari waktu ke waktu semakin
tersentuh. In fact, sudah kenal teknologi seperti ponsel, komputer dan
lain sebagainya, dan mengerti gelagat pemuda: tak mudah menuding negatif, tapi
memberikan kebebasan untuk menikmati masa muda sebelum beranjak menjadi tua.
Pesan Sayyidina Ali tentang pendidikan tersentuh dalam benaknya, “Didiklah
anakmu sesuai dengan masa anakmu, tapi jangan perbuat anakmu mengikuti
zamanmu.”
Ketaatan mereka dalam
memposisikan ajaran Islam sebagai the way of life dipahami secara teks,
bukan secara konteks, sehingga, fiqh dan tasawuf sebagai dasar-dasar Islam setelah
tauhid sulit membumi. Padahal, dua ajaran itu dari waktu ke waktu tak lepas
dari perkembangan dan perubahan. Permasalahan muncul tak kunjung pupus.
Sehingga, terlihat sulit menjawab tantangan yang menjamah hidup mereka. Problem
yang tidak menemukan titik temunya, terutama kasus yang berkaitan dengan masalah fiqh akhirnya ditangguhkan (mawquf). Keresahan sedikit demi
sedikit mereka rasakan. Karena, Islam
sebagai agama yang dengan ajarannya, fiqh atau apalah, diharapkan dapat
menjembatani setiap inci permasalahan mereka, malahan hanya mengombar janji
palsu. Banyak orang merintih dan meresah karena tidak terpenuhi kebutuhan
hidupnya. Misal, kemiskinan yang tidak dientaskan, perkembangan yang dibungkam,
dan kebebasan yang dijerat.
Belajar ilmu agama lebih
menyentuh benak masyarakat: belajar tauhid, fiqh, dan tasawuf. Bahan bacaannya
berupa kitab-kitab klasik (kitab turats) seperti Ummu al-Barahin, Jawahir
al-Kalam, Fathu al-Qarib, Fathu al-Mu’in, Bidayah al-Hidayah, Maraqi al-Ubudiyah, Sullamu al-Taufiq dan
lain-lain. Ditambah kajian kitab Khalashatu Nuri al-Yaqin (kitab
Tarikh), dan beberapa kitab yang membahas ilmu alat yaitu Nahwu-Sharraf seperti
Awamil, Jurmiyah, Imrithi, Mutammimah, Kailani, Asmawi, al-Fiyah, dan
beberapa kitab lainnya.
Bahan bacaan yang
berbentuk buku sedikit pun tak menjadi daya tarik untuk menemukan setitik makna
di dalammnya seperti Nuansa Fiqh Sosial (karya Sahal Mahfud), Tapak
Sabda, Semesta Sabda, Berpikir seperti Nabi (karya Fauz Noer), Studi
Islam Kontemporer (karya Moh. Asrori,
M.Ag), Berkenalan dengan Filsafat Islam
(karya Sunardi Tiam), Tidak Ada Negara Islam (karya Cak Nur dan Moh. Roem), Ngobrol
dengan Gus Dur di Alam Kubur (karya Argawi Kandinto), Pembaharuan
Pesantren (karya
Abd. A’la), Kapita Selekta Yurisprundensi Islam (karya M. Afif Hasan) dan beberapa buku
yang lain. Padahal, isi buku-buku itu tak jauh berbeda dari yang
disampaikan dalam kitab-kitab klasik tersebut. Mungkin, titik perbedaannya
hanya relevan atau tidaknya. Dapat dipastikan bahwa buku-buku tersebut lebih
relevan dibandingkan kitab-kitab karya ulama terdahulu. Sebab, situasi dan
kondisi di masa kini tidak sama dan persis dengan kondisi di masa silam.
Sehingga, perubahan kondisi (al-ahwal) membutuhkan hukum yang berbeda pula.
La yankuru taghyiru al-ahkami bi taghyiri zamani wa al-ahwal. “No
problem terjadi perubahan hukum karena situasi dan kondisi yang berlainan.”
Masih ingat? Ada perbedaan yang mencolok yang lahir dari satu ulama besar,
yaitu Imam Syafi’ie. Dua qaul yaitu qaul jadid dan qaul qadim yang
populer sebagai pendapatnya yang dihasilkan dari kondisi yang berlainan antara Mesir dengan Irak.
Nah, aku pun begitu.
Di atas kebiasan membaca teks-teks turats, otakku diporsir sedemikian rupa
memahami teks tersebut, sekalipun penuh kesulitan sebab membacanya membutuhkan
kebiasaan dan penguasaan ilmu alat, Nahwu-Sharraf. Kitab-kitab turast itu,
bagiku, terlihat unik karena tak semua orang mampu membacanya dengan fasih dan
benar. Awalnya, aku merasa terpaksa, tapi setelah dijalani dan ada
bintik-bintik pengetahuan yang masuk menyelusup ke dalam memoriku, perasaan
senang semakin tumbuh hingga dibuat menjadi-jadi. Then, para pakar kitab
turast yang hidup di desaku, sempat aku kunjungi dan belajar. Mereka kelihatan
senang melihat kehadiranku. Beragam motivasi tak henti disodorkan. Aku hanya
duduk termangu sembari khusuk mendengarkan setiap kalimat yang mereka katakan. “Perkataan mereka adalah jalan
menuju kesuksesan,” yakinku dalam-dalam.
Di sela kekosongan,
bait-bait Al-Fiyah melantun membentuk irama. Aku kelihatan tertarik
menghafal bait-bait yang ditulis Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy.
Sekalipun, bait tersebut sangat banyak dan sulit. Bayangkan, bait itu berjumlah
seribu nazam seirama dengan judul kitabnya, Al-Fiyah.
Sungguh sangat banyak. Sedikit banyak butuh memeras otak. Tapi, karena abah
terus mendorong disertai cerita tentang perjuangan Kiai Warits yang hafal bait
ini selama sepekan, aku mulai niat baik ini dan terus menghafal hingga akhirnya
hafal secara sempurna. Aku masih ingat kalau Al-Fiyah itu sudah dihafal
mulai awal semester 2 kelas 2 MTs sampai akhir semester 2 kelas 3 MTs sebelum
berangkat ke pondok.
Belajar nulis seperti
artikel, opini, esai, cerpen, puisi, atau nulis di buku harian, masih belum tumbuh
di benakku, apalagi masih belum tahu macam tulisan tersebut. Sedangkan,
tumbuhnya semangat bersama pena, aku rasakan, kira-kira setahun setelah berada
di PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Di sana banyak ditemukan penulis terkenal
seperti M. Faizi dan K. Mustafa dan beberapa santri. Banyak tulisan mereka
nongol di media cetak: mading, buletin, majalah, koran, dan lembaran.
Dipikir-pikir bikin
tulisan seperti itu, apalagi berbahasa Indonesia dikira mudah. Tapi, setelah
pena dan buku diambil, pikiran menjadi blank. Gagasan yang bertandang
sebelumnya tiba-tiba hilang ibarat musafir yang terkapar di tengah jalan karena
tidak menemukan sesuap nasi. “Kenapa aku hanya bisa berbicara, menulis saja
kewalahan?” Secarik pertanyaan terbersit di pikiran.
Finally, aku paksakan menulis, walau hasilnya masih morat-marit. Lalu hasil
tulisan itu, kadang di biarkan tenang di dalam buku, kadang diberikan pada
orang lain untuk diberi komentar. Bagaimana
pun hasilnya,
bagus atau belum, diriku bangga, karena tulisan itu lahir dari tanganku
sendiri.[]
No comments:
Post a Comment