Monday, June 29, 2015

Sekilas tentang Aku



Hidup seseorang selalu memikat. Yang satu dengan yang lain saling bahu-membahu. Kala kesulitan membebaninya, minta bantuan tetangga atau siapa pun adalah cara untuk melepaskan beban berat yang tak dapat dipikul sendiri, hingga beban itu menjadi ringan. Kala keberhasilan terwujud, orang  sekitar pun ikut bangga.

Aku lahir di pedesaan agamis amat. Sungguh menjadi isu negatif (negative issue), jika diketahui dua orang lawan jenis kepergok berduaan di tempat yang sepi, misalkan. Atau, terlihat dua orang bukan makhram boncengan, kendati sudah berstatus tunangan. Tapi, kondisi ini bertumpu sebelum tahun 2009-an. Sedangkan, tahun-tahun berikutnya hingga sekarang kesadaran akan perkembangan zaman dari waktu ke waktu semakin tersentuh. In fact, sudah kenal teknologi seperti ponsel, komputer dan lain sebagainya, dan mengerti gelagat pemuda: tak mudah menuding negatif, tapi memberikan kebebasan untuk menikmati masa muda sebelum beranjak menjadi tua. Pesan Sayyidina Ali tentang pendidikan tersentuh dalam benaknya, “Didiklah anakmu sesuai dengan masa anakmu, tapi jangan perbuat anakmu mengikuti zamanmu.”

Ketaatan mereka dalam memposisikan ajaran Islam sebagai the way of life dipahami secara teks, bukan secara konteks, sehingga, fiqh dan tasawuf sebagai dasar-dasar Islam setelah tauhid sulit membumi. Padahal, dua ajaran itu dari waktu ke waktu tak lepas dari perkembangan dan perubahan. Permasalahan muncul tak kunjung pupus. Sehingga, terlihat sulit menjawab tantangan yang menjamah hidup mereka. Problem yang tidak menemukan titik temunya, terutama kasus yang berkaitan dengan masalah fiqh akhirnya ditangguhkan (mawquf). Keresahan sedikit demi sedikit mereka rasakan. Karena, Islam  sebagai agama yang dengan ajarannya, fiqh atau apalah, diharapkan dapat menjembatani setiap inci permasalahan mereka, malahan hanya mengombar janji palsu. Banyak orang merintih dan meresah karena tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya. Misal, kemiskinan yang tidak dientaskan, perkembangan yang dibungkam, dan kebebasan yang dijerat.

Belajar ilmu agama lebih menyentuh benak masyarakat: belajar tauhid, fiqh, dan tasawuf. Bahan bacaannya berupa kitab-kitab klasik (kitab turats) seperti Ummu al-Barahin, Jawahir al-Kalam, Fathu al-Qarib, Fathu al-Mu’in, Bidayah al-Hidayah,  Maraqi al-Ubudiyah, Sullamu al-Taufiq dan lain-lain. Ditambah kajian kitab Khalashatu Nuri al-Yaqin (kitab Tarikh), dan beberapa kitab yang membahas ilmu alat yaitu Nahwu-Sharraf seperti Awamil, Jurmiyah, Imrithi, Mutammimah, Kailani, Asmawi, al-Fiyah, dan beberapa kitab lainnya.

Bahan bacaan yang berbentuk buku sedikit pun tak menjadi daya tarik untuk menemukan setitik makna di dalammnya seperti Nuansa Fiqh Sosial (karya Sahal Mahfud), Tapak Sabda, Semesta Sabda, Berpikir seperti Nabi (karya Fauz Noer), Studi Islam  Kontemporer (karya Moh. Asrori, M.Ag), Berkenalan dengan Filsafat Islam  (karya Sunardi Tiam), Tidak Ada Negara Islam  (karya Cak Nur dan Moh. Roem), Ngobrol dengan Gus Dur di Alam Kubur (karya Argawi Kandinto), Pembaharuan Pesantren (karya Abd. A’la), Kapita Selekta Yurisprundensi Islam  (karya M. Afif Hasan) dan beberapa buku yang lain. Padahal, isi buku-buku itu tak jauh berbeda dari yang disampaikan dalam kitab-kitab klasik tersebut. Mungkin, titik perbedaannya hanya relevan atau tidaknya. Dapat dipastikan bahwa buku-buku tersebut lebih relevan dibandingkan kitab-kitab karya ulama terdahulu. Sebab, situasi dan kondisi di masa kini tidak sama dan persis dengan kondisi di masa silam. Sehingga, perubahan kondisi (al-ahwal) membutuhkan hukum yang berbeda pula. La yankuru taghyiru al-ahkami bi taghyiri zamani wa al-ahwal. No problem terjadi perubahan hukum karena situasi dan kondisi yang berlainan.” Masih ingat? Ada perbedaan yang mencolok yang lahir dari satu ulama besar, yaitu Imam Syafi’ie. Dua qaul yaitu qaul jadid dan qaul qadim yang populer sebagai pendapatnya yang dihasilkan dari kondisi yang berlainan antara Mesir dengan Irak.

Nah, aku pun begitu. Di atas kebiasan membaca teks-teks turats, otakku diporsir sedemikian rupa memahami teks tersebut, sekalipun penuh kesulitan sebab membacanya membutuhkan kebiasaan dan penguasaan ilmu alat, Nahwu-Sharraf. Kitab-kitab turast itu, bagiku, terlihat unik karena tak semua orang mampu membacanya dengan fasih dan benar. Awalnya, aku merasa terpaksa, tapi setelah dijalani dan ada bintik-bintik pengetahuan yang masuk menyelusup ke dalam memoriku, perasaan senang semakin tumbuh hingga dibuat menjadi-jadi. Then, para pakar kitab turast yang hidup di desaku, sempat aku kunjungi dan belajar. Mereka kelihatan senang melihat kehadiranku. Beragam motivasi tak henti disodorkan. Aku hanya duduk termangu sembari khusuk mendengarkan setiap kalimat yang mereka katakan. “Perkataan mereka adalah jalan menuju kesuksesan,” yakinku dalam-dalam.

Di sela kekosongan, bait-bait Al-Fiyah melantun membentuk irama. Aku kelihatan tertarik menghafal bait-bait yang ditulis Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Andalusy. Sekalipun, bait tersebut sangat banyak dan sulit. Bayangkan, bait itu berjumlah seribu nazam seirama dengan judul kitabnya, Al-Fiyah. Sungguh sangat banyak. Sedikit banyak butuh memeras otak. Tapi, karena abah terus mendorong disertai cerita tentang perjuangan Kiai Warits yang hafal bait ini selama sepekan, aku mulai niat baik ini dan terus menghafal hingga akhirnya hafal secara sempurna. Aku masih ingat kalau Al-Fiyah itu sudah dihafal mulai awal semester 2 kelas 2 MTs sampai akhir semester 2 kelas 3 MTs sebelum berangkat ke pondok.

Belajar nulis seperti artikel, opini, esai, cerpen, puisi, atau nulis di buku harian, masih belum tumbuh di benakku, apalagi masih belum tahu macam tulisan tersebut. Sedangkan, tumbuhnya semangat bersama pena, aku rasakan, kira-kira setahun setelah berada di PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Di sana banyak ditemukan penulis terkenal seperti M. Faizi dan K. Mustafa dan beberapa santri. Banyak tulisan mereka nongol di media cetak: mading, buletin, majalah, koran, dan lembaran.

Dipikir-pikir bikin tulisan seperti itu, apalagi berbahasa Indonesia dikira mudah. Tapi, setelah pena dan buku diambil, pikiran menjadi blank. Gagasan yang bertandang sebelumnya tiba-tiba hilang ibarat musafir yang terkapar di tengah jalan karena tidak menemukan sesuap nasi. “Kenapa aku hanya bisa berbicara, menulis saja kewalahan?” Secarik pertanyaan terbersit di pikiran.

Finally, aku paksakan menulis, walau hasilnya masih morat-marit. Lalu hasil tulisan itu, kadang di biarkan tenang di dalam buku, kadang diberikan pada orang lain untuk diberi komentar. Bagaimana pun hasilnya, bagus atau belum, diriku bangga, karena tulisan itu lahir dari tanganku sendiri.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...