Menjadi momen yang sulit terlupakan saat saya membaca kisah kehidupan makhluk Allah (malaikat, setan, dan Adam) yang dihias dengan karakter yang berbeda-beda di surga. Malaikat, makhluk-Nya yang tidak dikarunai nafsu, sehingga jejak hidupnya selalu positif (bertasbih kepada Allah); setan, makhluk-Nya yang diciptakan setelah penciptaan malaikat dan dianugerahi nafsu. Sayangnya, dia tidak mampu menjinakkan nafsunya, sehingga dia, dalam Al-Qur’an, berani membangkang terhadap perintah-Nya (sujud terhadap Adam). Tragisnya, Allah melaknat setan menjadi ciptaan-Nya yang terus-menerus durhaka, bahkan sampai hari kiamat nanti; dan Adam, ciptaan-Nya yang terakhir. Selain dia punya nafsu, dia dikaruniahi akal sebagai media berpikir.
Sebab nafsu dan akal, manusia, sejak Adam hingga sekarang,
terhias dengan beragam karakter: penyayang, jujur, pembohong, pemberani,
penakut dan lain-lain. Macam-macam karakter ini jika dipilah tentu menjadi karakter
baik dan karakter buruk. Penyayang, jujur, dan pemberani termasuk karakter baik
yang mampu menghias kepribadian manusia tampak karismatik di mata banyak orang.
Sebaliknya, pembohong, penakut, sampai penipu, merupakan karakter buruk yang
bisa-bisa mengakibatkan dampak negatif, baik terhadap sipelaku sendiri atau
orang lain.
Anehnya, karakter buruk yang disadari jelek di mata manusia
(lebih-lebih di hadapan Tuhan), bahkan semua agama melarangnya, tak henti-henti
bersemayam dan menguasai pikiran dan hati manusia. Tak heran, berjuta-juta
manusia berani korupsi, berbohong dan menipu orang lain. Anda tahu, perbuatan serupa
pernah terjadi saat Rasulullah Saw dan sahabatnya menyebarkan agama Islam.
Biasanya pelakunya bermuka manis dan suka menggadai janji-janji palsu di depan
orang Islam. Dalam Al-Qur’an, orang semacam itu dikenal dengan “orang munafik,”
sedangkan, sekarang populer dengan sebutan PHP (Pemberi Harapan Palsu).
Allah Swt mengungkap orang itu dalam QS. Al-Baqarah: 14: Wa
idza laqu al-ladzi amanuu qaluu amannaa, wa idza khalau ila syayathinihim qaluu
innaa maakum innama nahnu mustahzi’un. Apabila mereka (orang kafir)
berjumpa dengan orang mukmin, mereka berkata, “Kami beriman.” Tapi, apabila
mereka kembali kepada golongan mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami tetap
bersamamu. Hanya saja kami mengolok-olok mereka (orang mukmin).”
Dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim (populer dengan
sebutan Tafsir Ibnu Katsir), Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut
dengan tipe-tipe orang munafik (al-munafiqun). Bahwa orang munafik, jika
bertemu dengan orang mukmin, selalu mengaku dirinya mukmin, sok akrab,
dan berjabat tangan. Sebenarnya, mereka berbohong.
Pun, Muhammad Ali Al-Shabuny menyebutkan dalam tafsirnya, Shafwat
al-Tafasir, bahwa tipe orang yang digambarkan Allah dalam QS. Al-Baqarah di
atas adalah orang munafiq. Oleh sebab itulah, orang mukmin wajib mengurangi
bergaul dengan tipe orang seperti itu.
Gambaran di atas hanya sebagian misal yang diungkap
Allah agar orang mukmin berhati-hati dalam memilih teman, lebih-lebih pasangan
hidup (suami atau istri).
Mengetahui kemunafikan atau ke-PHP-an lawan bicara kita tidak
mudah. Sebab, orang yang seperti itu, dalam hadits Nabi, bermuka dua: baik dan
buruk. Secara lahir tampak baik, namun hatinya bermaksud lain. Hati, bersifat
tersembunyi dan samar. Hanya Allah yang mengetahui maksud hati manusia.
Jadi, perbedaan istilah “PHP” dan “munafik” berdasarkan
uraian di atas hanya berkutat terhadap perkembangan zaman semata (dari zaman klasik
hingga zaman modern), sedangkan arti kedua kata tersebut sama. Bukankah “memberi
harapan palsu” adalah “omong kosong” atau “perkataan dusta” yang menjadi
ciri-ciri orang munafik?
Nabi Muhammad menyebutkan: “Ciri-ciri orang munafik ada tiga:
pertama, apabila berbicara, ia berdusta. Kedua, apabila berjanji,
ia ingkar. Ketiga, apabila dipercaya, ia berkhianat.”
Di lain sisi, sebutan “PHP” lebih populer dan mengarah
terhadap hubungan asmara (love affair). Misalkan, janji-janji palsu
laki-laki (boy) yang sering digadai terhadap ceweknya (girl-friend),
bahwa silelaki berjanji akan meminang dan mengawininya sebagai bentuk
keseriusan dan kesetian atas cinta yang dijalani. Tapi, karena itu hanya omong
kosong alias PHP saja, kenyataan tak seindah kata-katanya. Sebelum yang
dijanjikan menjadi kenyataan, sicewek dibiarkan terlantar dan broken heart.
Tragisnya, silelaki itu move on terhadap perempuan lain. Naudzubillah!
Nah, hindailah PHP dan orang munafik. Jangan sampai ia
menjadi teman, lebih-lebih pasangan hidup anda. Karena, PHP dan munafik berakar
dalam satu arti, “omong kosong.”[]
Tulisan
ini dimuat di Majalah Infitah Edisi Spesial XXV April 2015.
No comments:
Post a Comment