Tuesday, June 30, 2015

Mbak Kayla!


Dilihatlah Mbak Kayla, begitu dia memanggilnya, ucapkan ‘good bye’ di pondok ini. Lubangsa Putri. Diam. Tanpa sepatah kata pun. Pelukan terasa hangat di antara mereka berdua. Tetesan air mata tak terasa jatuh. Ia baru sadar bahwa ia sedang menangis. Subhana Allah!

Bertahun-tahun, pertemuan itu mengisahkan senyum. Belajar bersama. Kebodohan yang awal kali memikat, berhasil dilepas karena jasa si mbak bersabar ajarkan ilmu yang dimiliki. Tawa tersungging di mulutnya karena suatu hal yang lucu. Cek-cok berkali-kali karena kontroversi. Tidur bersama. Mimpi indah menjadi cerita. Ngobro pun bareng. Segala cerita saling digadai. Satu pun celah tak terlihat. Hidup bersama terasa sempurna. “Mbak Kayla seperti familiku tau,” ucapnya ketus.

Dialah Youpa, murid sekaligus teman dekat Kayla saat masih belajar di Annuqayah. Kedekatan mereka berdua, dirasakan saat perpisahan sedang berada di depan mata. Jauh hari sebelum itu, kedekatan mereka belum tergambar, apakah mereka termasuk teman dekat (closer friend). Tapi, tangis itu yang mengisyaratkan rasa dekat yang sulit terpisahkan. Aci-aci jari telunjuk dan jari tengah yang dijadikan perumpamaan dalam hadits Nabi untuk menggambarkan kedekatan antara beliau dengan anak yatim. Sulit dipisahkan kedua jari itu.

“Saat aku hendak tinggalkan Annuqayah, Dik Youpa panggil aku, ‘Mbak Kayla...’, tanpa kata apa-apa dia langsung peluk aku dan menangis,” ceritanya.

Jantungku terketuk mendengar cerita itu, seakan-akan aku menjadi salah satu di antara mereka. Rasa iba ternyata benar-benar terbersit di benak. Kenapa aku akhirnya ikut tidak menerima dia tinggalkan pondok ini? Itu hanya menjadi pertanyaan yang kosong alias non-sense. Ia telah pamit pada kiai untuk menjadi alumni. Sungguh terlambat kehadiranku menjadi hero. Aci-aci dulu, pondok itu akan tetap menjadi bumi dan tempat segala curhat ia sampaikan. Udahlah, sia-sia mengharap sesuatu yang mustahil. Yakinlah bahwa ia pergi dari sesuatu yang baik, menuju sesuatu yang paling baik.

Tuhan masih adil. Dia kuatkan mereka berdua mengakhiri pertemuan ini dengan hapusan air mata. Jangan menangis ya.... Tapi, air mata itu terus mengalir, karena tak ada ungkapan yang pantas untuk diucapkan selain isyarat tetesan air itu. Makanya, ia pilih diam saja.

Kini, dia diberi pengganti olehNya dengan sepupu Mbak Kayla yang berwajah mirip. Bedanya dikit. Rasa pesimis kembali ke pondok dengan kesahnya, “Tak mood mau kembali ke pondok karena tidak ada Mbak Kayla,” sedikit terobati. Dengan kemiripan wajah yang dimiliki hambaNya segala rindu dapat dipantulkan. Ia temukan pengganti. Senyum sedikit-sedikit semakin mengembang.

Sedangkan, cerita dan segala kenangan tetap membekas di dalam hati. Secuil pun tak terlupakan. Seakan-akan semua itu menjadi kenangan sepanjang masa.

Banyak cerita tentang mbaknya yang kudengar. Seorang juru dongeng telah menjelma menjadi dirinya. Asyik menyelami cerita-cerita yang dipetik dari pengalaman di masa silam. Dia cerita sewaktu masih berada di pondok: belajar, shalat, tidur, makan, ngobrol, dan aktivitas yang lain. Tak sampai ditanyakan, ditulis atau tidak cerita itu, pokoknya dia pengagumnya. Tak henti-henti menyanjung seseorang yang dikagumi. Dia baik, berjasa, toh sering ngusilin. Hehehe.

Semakin dia asyik dalam cerita, begitu juga denganku. Terasa nikmat menyitir cerita-ceritanya sehingga dapat kutulis. Ya, kutulis. Mungkin, tulisanlah yang dapat aku perbuat lebih dibandingkan sepupuku. Okey dia jago cerita, aku tak kalah untuk nulis. Tak ada pilihan lain untuk mengabadikan cerita-cerita yang terkesan menarik, melainkan dengan sebuah tulisan supaya tak mudah hilang karena bergantinya waktu, atau ter-detele karena lupa.

Tetesan air mata sungguh menjadi cerita. Cerita yang membuat hati orang di sampingnya ikut terisak-isak. Tak berani ia berucap hanya panggilan, “Mbak Kayla!”[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...