Dilihatlah Mbak Kayla, begitu dia memanggilnya, ucapkan ‘good bye’ di pondok ini. Lubangsa Putri. Diam. Tanpa sepatah kata pun. Pelukan terasa hangat di antara mereka berdua. Tetesan air mata tak terasa jatuh. Ia baru sadar bahwa ia sedang menangis. Subhana Allah!
Bertahun-tahun, pertemuan itu
mengisahkan senyum. Belajar bersama. Kebodohan yang awal kali memikat, berhasil
dilepas karena jasa si mbak bersabar ajarkan ilmu yang dimiliki. Tawa
tersungging di mulutnya karena suatu hal yang lucu. Cek-cok
berkali-kali karena kontroversi. Tidur bersama. Mimpi
indah menjadi cerita. Ngobro
pun bareng. Segala cerita saling digadai. Satu pun celah tak
terlihat. Hidup bersama terasa sempurna. “Mbak Kayla seperti familiku tau,” ucapnya ketus.
Dialah Youpa, murid sekaligus teman
dekat Kayla saat masih belajar di Annuqayah. Kedekatan mereka berdua, dirasakan
saat perpisahan sedang berada di depan mata. Jauh hari sebelum itu, kedekatan
mereka belum tergambar, apakah mereka termasuk teman dekat (closer friend).
Tapi, tangis itu yang mengisyaratkan rasa dekat yang sulit terpisahkan. Aci-aci
jari telunjuk dan jari tengah yang dijadikan perumpamaan dalam hadits Nabi
untuk menggambarkan kedekatan antara beliau dengan anak yatim. Sulit dipisahkan
kedua jari itu.
“Saat aku hendak tinggalkan Annuqayah,
Dik Youpa panggil aku, ‘Mbak Kayla...’, tanpa kata apa-apa dia langsung peluk aku
dan menangis,” ceritanya.
Jantungku terketuk mendengar cerita
itu, seakan-akan aku menjadi salah satu di antara mereka. Rasa iba ternyata
benar-benar terbersit di benak. Kenapa aku akhirnya ikut tidak menerima dia
tinggalkan pondok ini? Itu hanya menjadi pertanyaan yang kosong alias non-sense.
Ia telah pamit pada kiai untuk menjadi alumni. Sungguh terlambat kehadiranku
menjadi hero. Aci-aci dulu, pondok itu akan tetap menjadi bumi dan
tempat segala curhat ia sampaikan. Udahlah, sia-sia mengharap sesuatu yang
mustahil. Yakinlah bahwa ia pergi dari sesuatu yang baik, menuju sesuatu yang
paling baik.
Tuhan masih adil. Dia kuatkan mereka
berdua mengakhiri pertemuan ini dengan hapusan air mata. Jangan menangis ya....
Tapi, air mata itu terus mengalir, karena tak ada ungkapan yang pantas untuk
diucapkan selain isyarat tetesan air itu. Makanya, ia pilih diam saja.
Kini, dia diberi pengganti olehNya
dengan sepupu Mbak Kayla yang berwajah mirip. Bedanya dikit. Rasa pesimis kembali
ke pondok dengan kesahnya, “Tak mood mau kembali ke pondok karena tidak
ada Mbak Kayla,” sedikit terobati. Dengan kemiripan wajah yang dimiliki hambaNya
segala rindu dapat dipantulkan. Ia temukan pengganti. Senyum sedikit-sedikit
semakin mengembang.
Sedangkan, cerita dan segala kenangan
tetap membekas di dalam hati. Secuil pun tak terlupakan. Seakan-akan semua itu
menjadi kenangan sepanjang masa.
Banyak cerita tentang mbaknya yang
kudengar. Seorang juru dongeng telah menjelma menjadi dirinya. Asyik menyelami
cerita-cerita yang dipetik dari pengalaman di masa silam. Dia cerita sewaktu
masih berada di pondok: belajar, shalat, tidur, makan, ngobrol, dan aktivitas
yang lain. Tak sampai ditanyakan, ditulis atau tidak cerita itu, pokoknya dia
pengagumnya. Tak henti-henti menyanjung seseorang yang dikagumi. Dia baik,
berjasa, toh sering ngusilin. Hehehe.
Semakin dia asyik dalam cerita, begitu
juga denganku. Terasa nikmat menyitir cerita-ceritanya sehingga dapat kutulis.
Ya, kutulis. Mungkin, tulisanlah yang dapat aku perbuat lebih dibandingkan
sepupuku. Okey dia jago cerita, aku tak kalah untuk nulis. Tak ada pilihan lain
untuk mengabadikan cerita-cerita yang terkesan menarik, melainkan dengan sebuah
tulisan supaya tak mudah hilang karena bergantinya waktu, atau ter-detele karena
lupa.
Tetesan air mata sungguh menjadi
cerita. Cerita yang membuat hati orang di sampingnya ikut terisak-isak. Tak
berani ia berucap hanya panggilan, “Mbak Kayla!”[]
No comments:
Post a Comment