Tuesday, June 30, 2015

7 Juli 2013



Saat aku tanya pada umi, “Hari apa saya lahir, Mi?” Dia menjawab tanpa sekikit bimbang. “Hari Ahad.”

Pernah jawaban itu aku bantah karena kalender tahun 1993 mencatat hari kelahiranku tanggal 15 September tepat pada “hari Rabu”. “Lho, kok beda?” gumamku. Tapi, hari Ahadlah, bagi umi, sebagai hari kelahiranku. Titik. Data dan referensi dari mana pun diperoleh, akhir-akhirnya nihil. Kosong. Hambar. Umi memang setia dengan keyakinan nuraninya.

Entahlah. Tak perlu pening dan ruwet di atas perbedaan yang mencolok. “Wahai umi, hanya pendapatmulah yang saya percayai dan yakini. Bukankah engkau, umi, lebih tahu kapan aku dilahirkan?” Aku menyimpulkan la raiba fihi (bahasa Tuhan dalam QS. al-Baqarah:2). Biar pun “Rabu” yang tercatat di kalender Masehi, tapi perkataan umilah the best bagiku.

Hari kelahirkan itu mengingatkanku sejak pertama kali menangis karena baru saja menyaksikan dunia yang fana. Tangis menjerit, seakan-akan ada sesuatu yang diratapi. Orang-orang di sampingku sunggingkan senyum, menyambut kelahiranku. Seluruh alam berdoa. Kehadiran bayi ini akan menjadi khalifah yang mampu menegakkan amanahNya.

Jika kali pertama aku menangis karena aku dilahirkan, akankah aku menangis karena kepergian seseorang dari pulau ini, Madura? Kalau nyata aku menangis, apakah orang lain tidak akan mengira kalau aku terlalu cenging? Kalau biasa-biasa saja, apalagi tersenyum tanpa perasaan berat sedikit pun, bukankah hatiku mengira nuraniku sudah mati?

Semua pertanyaan itu, tak perlu direnungkan terlalu bertele-tele. Karena, saat hari terakhir dia berada di Madura, saat itu pula perasaan berat tak dapat dikubur. Hati tidak menerima dia pergi. Andaikan mungkin, ingin mengikatnya. Biar dia terpenjara dari pada sakit terus menjamah. Egois!

Hari Ahad. Semestinya kuucapkan selamat jalan! Bye bye. Semoga perkenalan dan pertemuan itu bukanlah yang terakhir dalam hidup ini! Ya, tak ada bekal yang aku berikan untukmu, selain kenangan tulisan yang ada di diary itu.

Ponselku melengking. Satu SMS diterima.

“Mbak Nay masih belum balik,” tulisnya.

“Lho, katanya mau pulang sekarang?” balasku.

“Diundur. Karena ada agenda. Menghadiri acara pertunangan.”

“Jadi, baliknya besok? Hari Senin ya?”

“Iya.”

Pulang saja diundur. Kesel tiba-tiba bangkit menguasai pikiran. Aku yang mulai tadi susah serta bersedih kerena kepergiannya, kenyataannya masih besok. Biarlah. Kok selalu ngurus orang. Uruslah dirinya sendiri. Tak baik. Itu hak otoritas orang lain. Apalagi dia memiliki keputusan sendiri. Mau pulang atau tetap di Madura. It’s her business.

Jika ego tetap berpacu pada dirinya. Tinggalkan Madura merupakan pilihan yang terbaik. Kenapa pulau ini ia dibiarkan hambar tanpa senyumnya? Madura itu jelek? Desa banget? Tak seperti di Situbondo yang berlatar kota?

Entah seperti apa jawaban sebenarnya. Aku tidak tahu-menahu. Sejauh pikiran mengingat percakapan di ponsel kala ditanya, “Kenapa tidak meneruskan di Instika saja?” Dengan tegas dia jawab, “Di kampus itu tak menyediakan jurusan yang aku minati. Aku ingin masuk sastra Inggris.” Memang, di Instika tak menyediakan jurusan sastra Inggris. Hanya saja jurusan Tafsir Hadits, Akhlak Tasawuf (Fakultas Usuluddin), Ekonomi Syari’ah, Muamalah (Fakultas Syariah), Pendidikan Agama Islam, dan Pendidikan Bahasa Arab (Fakultas Tarbiyah).

Dikira, logis dan mengenak alasan yang disampaikan. Membantahnya sangat sulit. Apalagi yang mau kuliah bukan aku, melainkan dia. Jadi, dialah yang berhak menentukan pilihan. Selain itu, Annuqayah telah mendidiknya kira-kira enam tahun. Lumayan lama menatap alam pondok ini. Dia menginginkan suasa baru, sehingga mampu memberikan pengalaman dan keilmuan yang lebih.

Imam Syafi’ie bilang bahwa anak panah tidak akan pernah mengenahi sasaran (objek) jika tidak dilepas. Logis banget pernyataan beliau. Tak jauh berbeda jika aku bandingkan dengan seseorang yang berapi-api mencari ilmu Tuhan. Berkutat di dierahnya sendiri, akan terasa kurang atau minim dari segalanya. Dunia ini sangat luas. Tak sesempit kita melihat ruangan yang luas. Dunia melebihi dari itu semua.

Pada hari Ahad sunyi mengisi kekosongan. Tak ada sepatah kata pun yang dapat diucap. Karena dia tidak pegang ponsel. Bisanya kirim pakai ponsel Lay. Rasanya ngerepotin jika aku ajak dia chatting. Takut ganggu orang lain, apalagi sedang sibuk dengan aktivitasnya. Udahlah....

Di malam yang petang, yaitu malam Senin, aku sedang duduk serambi masjid sambil menatap sisa senja buta di ufuk timur. Seakan ada sesuatu yang direnungkan ibarat sang filsuf, tapi kenyataannya tidak juga. Hanya saja iseng-iseng ngisi-ngisi liburan dengan santai dan refreshing segala kepenakan. Itu saja.

Ponsel berdering. Satu SMS diterima. Dibuka.

“Mister... Mbak Nay  pingsan,” tulisnya bikin aku kaget bener waktu baca SMS itu.

“Kok bisa?!” tanyaku beribu-ribu penasaran.

“Dia jatuh dari sepeda tadi waktu pergi ke acara pertunangan.”

“Terus....”

“Ya, terserah Mister. Kalo Mister masih kasihan sama mbak Nay, jenguk aja ke sini.” Baca SMS ini aku semakin pening. Bagaimana mau lihat-lihat dia ke sana. Kecamatan Ambunten ke Pakong, lumayan jauh. Apalagi sekarang waktu Isya’. Malam hari. Bukan mustahil tuk pergi, tapi sulit. Musti ditanyain oleh umi dan abah, kecuali perginya izin sebelumnya. Bisa jadi, kalau aku nekat dan ketahuan, mereka mengomeliku habis-habisan. Varian pertanyaan banjir tak dapat dibendung.

“Nailanya ada di mana sekarang?” tanyaku penasaran.

“Di rumah.”

“Aduh, jangan buatku panik.” Aku tulis penuh sensasi.

“Bukan bilang “panik”, tapi khawatir,” tegurnya.

Tanpa menggubris, aku langsung telepon.

“Halo,” sapaku tergesa-gesa.

“Ya,” jawab seorang perempuan yang aku kenal betul suaranya seraya tertawa.

Pikiranku langsung berkesimpulan mereka sedang ngerjain aku. “Katanya Naila pingsan? Ini Naila ya?” tanyaku fifty-fifty. Percaya dan tidak.

“Iya.”

“Katanya kamu pingsan?” Dia terkekeh-kekeh. Bikin aku tambah yakin kalau mereka lagi ngerjain aku.

Nah, panggilan ditutup. Kita teruskan lewat SMS saja. Tarif pulsa jauh lebih murah.

Kata alay diselip-selipkan sebagai bumbu di SMS itu. Dia merasakan sesuatu yang aneh hidden di dalam benakku. “I am sure you save something for me.” Begitu kalimat yang masih aku ingat. Pikiran menerawang. Seakan-akan dia memberikan jalan untuk mencurahkan isi hati yang jauh sebelumnya dibungkam. Aku yakin dan seyakin-yakinya. Mustahil dia kirim pesan begitu kalau tidak.... Batinku mencerocos. Memberikan semangat merespons. 

I like you,” balasku polos pakai kalimat sederhana dan populer dipakai banyak orang. Tidak menggunakan I love you “terlalu” biasa. Sehingga, takut-takut terkesan hanya main-main saja, tak serius.

“Bukannya “suka” itu sama dengan dengan aku “suka” sama orang lain sebagai adikku?” Dia tepis pesanku hingga hambar kedengarannya.

Aku tetap tegar. Tak pernah pupus. Kucari kalimat lain yang berbahasa Inggris agar tidak terlalu blak-blakan. Malu. “I adore you,” susulku. Aku cinta kamu, maksudku.

“Apa makna ‘adore’?” tanyanya penasaran.

Adore is love.”

“Haaa kok bisa kamu bilang gitu?!” Dia kelihatan tersentak.

“Karena aku suka kamu.” Tulisku blak-blakan.

“Terkadang kalimat SMS bohong.” Dia ragu.

Aku langsung telepon. Diangkat. “Eeem, I adore you,” ucapku jujur.

So, what will I do?” Dia merasa kebingungan untuk menentukan langkah.

You answer, “yes” or “no”. Do you receive it or not?” Aku jelaskan tanpa perasaan malu.

“Kalau aku jawab “ia”, gimana?”

“Aku bersyukur. Ternyata masih ada orang yang menyukaiku–”

“Kalau aku jawab “tidak”, gimana?” tanyanya memotong.

“Aku akan menerima, sekalipun dengan berat hati.”

Tanpa langsung menjawab dia cerita. “Saat aku digojlokin dengan sampean di pondok, aku sangat benci, benci banget dan muak. Hingga, aku cari cara untuk menghindar dari ini semua. Tapi, saat sampean digojlokin dengan dik Ima, perasaan merasa tidak menerima.”

Sejenak tak ada suara. Sepertinya dia berpikir. “I-iya, aku sangat sayang sama Abang.”

Mendengar pengakuan kalimat yang terakhir, sepertinya kebahagian turun dari atas langit. Aku bersyukur, ternyata perasaan yang dipendam berlama-lama, sekarang ini menemukan muaranya. Memetik buahnya.

Diary mencatat kisah ini tepat pada hari Ahad (malam Senin) tanggal 7 Juli 2013. Selain hari itu seirama dengan hari kelahiranku dan Ade’, juga senada dengan kata “ahad pada ayat 1 surat al-Ikhlas: Qul huwa Allahu ahad. Perintah Tuhan pada Nabi Muhammad untuk mengesakanNya. Tulus dalam bertuhan. Tak mendua. Begitu pula tulus dalam menjaga “cinta.”[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...