Seperti biasa. Angin bertiup dengan pelan. Sinar samsu tampak di ufuk timur. Suara santri bergemuruh. Mereka bergegas ke kamar mandi dengan peralatan bersiram: gayung, sabun, sikat gigi, sampu, dan kreok. Siap-siap ayunkan kaki. Pergi ke majlis ilmu, sekolah atau semacamnya. Tak terasa sengatan panas mencubit-cubit tiada henti kala samsu pas di atas tugu khatulistiwa. Lurus di atas kepala. Sambil suara azan bersahutan dari masjid sekitar, terutama masjid Jami’ Annuqayah. Alunannya menghiasi gerak langkahku. Semangat ikut shalat berjamaah.
Tak terasa pagi telah berganti siang. Aktivitas di waktu ini sedang
menunggu. Tidurkah? Belajarkah? Atau pergi ke astah belajar menulis?
Terserah. Yang penting aktivitas belajar tidak berkurang atau tidak lebih banyak tidurnya.
Kan nggak baik juga? Tapi, siang ini menulis adalah my special
activity, tak bisa ditolelir. Artinya menulis menjadi hal wajib (fardu
ain). Entah alasan apa; capek, ada aktivitas lain, masuk kampus, ada teman,
atau apalah, tetap menulis. Kalau nakal menjamah, aktivitas wajib ini di-qada’
pada waktu-waktu lain: malam harinya atau lebih parah lagi jika sampai
molor berhari-hari. Kebolosan ini tak bukan menjadi watak, hanya sekali atau sometimes.
Seharusnya, sikap tidak baik ini di-breaking habit[1]
sebelum menjalar pada organ tubuh yang lain. Bahaya!
Menulis. Satu tulisan kira-kira 600 kata sudah aku kantongi. Aku bersyukur
dapat berijtihad dengan pena yang pahalanya lebih besar dari pada berperang
melawan orang-orang kafir di medan pertempuran. Darah tumpah. Nyawa taruhannya.
Kudengar keutamaan ini saat Kiai Tsabit, salah satu tutor ajian kitab Tanbihul
Ghafilin di PP. Annuqayah daerah Lubangsa. Sungguh menggugah. Pikiran
menerawang. Benakku men-support memilih dan bercita-cita menjadi penulis
adalah pilihan yang mulia. Benak meyakini, pilihan jadi penulis tidak salah
dalam menyongsong masa depan yang tak jelas. Thus, banyak orang yang
tetap hidup sekalipun ruh dan raganya sudah terpisah. Mereka para penulis.
Keutamaan ini, bisa jadi, seirama dengan firmanNya, “Wal qalam” (demi
pena). Sumpah Tuhan tentang miracle menulis. Si ulil albab bertanya,
“Kenapa pena?” Itu rahasiaNya yang belum dibeberkan di depan mata telanjang
manusia. Hanya orang yang menanam yang akan merasakan dan melihat miracle tersebut.
Sebentar. Azan Ashar terdengar melantun dari arah sana. Menulisku
hendaknya dipercepat jika masih belum finish. Takut hadiran[2]ku
kandas. Bergegas aku pulang dari astah seraya berucap, “Al-Hamdulillah”
(segala puji bagi Allah) sebelum beranjak. Kaki melangkah semakin cepat.
Kelihatan seperti dikejar anjing. Aku harus lebih dulu atau menunggu kehadiran
kiai. Begitulah kometmenku. Aku kagum memahami kepribadian kiai yang rajin
menghadiri masjid sekedar menjadi imam setiap waktu kecuali ada halangan; meos[3],
ada tamu, atau songkan[4].
Aku harus meniru jejak beliau menjadi kiai yang karismatik dan alim. Kan, aku
santrinya beliau.
Tentang hadiran Aba dan Umi selalu memberikan sugesti lebih.
“Jangan lupa hadirannya.” Aku hanya berdiri mematung di hadapannya dengan
anggukan kepala tanda mengiakan. Seingatku, mereka berujar bahwa hadiran di
pondok menjadi cikal bakal santri dalam meraih kesuksesan. Tarakat[5]
di pondok ini memang penting. “Tidak usah berpuasa atau apalah jika di
Guluk-Guluk dhelem bere’. Hadir (shalat jamaah) saja cukup,”
Pamanku menimpali.
Awalnya hadir dikira mudah tak sesulit berpuasa yang dijadikan tarakat-an
oleh banyak orang atau santri di pondok-pondok. Faktanya, sulitnya tak
kebayang. Bukan tidak bisa hadir. Tapi, untuk tetap istiqamah itulah
yang sulit. Memang, seperti itu untuk menggapai what we want. Imam
Syafi’i pun bilang dengan irama yang sama. “Berpayah-payahlan dulu baru
mencicipi hasilnya.” Seirama dengan kata bijak, “Bersusah-susah dulu,
bersenang-senang kemudian.”
Bagi orang yang memiliki mimpi yang tinggi dan berhasrat untuk menjadikan
mimpi itu kenyataan (try to make it happens), segala kesulitan menjadi
tantangan. Sehingga, tak mudah mengeluh, apalagi merengek dan pesimis.
Kharakter negatif ini hendaknya dikubur sedalam mungkin supaya tidak mendarah
dan mendaging. Itu bukan sikap yang baik. Agama pun melarang manusia bersikap
seperti itu. Karena kesuksesan agama Islam berada pada orang muslim yang kuat.
Bukankah begitu?
“Muslim yang kuat lebih baik dari pada muslim yang lemah.” Sebut Nabi
dalam salah satu hadits.
Usai shalat berjamaah jarum jam berpijak pada angka 4. Sinar matahari tak
sepanas waktu siang tadi. Sinarnya semakin menguning bercampur kemerah-merahan
di barat. Senja bertaburan membentuk kristal. Memandangnya terasa indah.
Sentuhan keindahan yang merasuk tanpa paksa bikin hambaMu terdorong mensyukuri
ciptaanNya. Mata terbelalak memandangi santri berduyun-duyun menuju ke masjid
sambil merengkuh kitab kuning. Ajian beru saja dimulai. Sebagian kecil tak ikut,
tapi mendampingi santri belajar bahasa asing: bahasa Inggris dan bahasa Arab di
asrama. Seperti “aku” awal kali, sering ngaji kitab di masjid, baik pagi dan
sore, akhir-akhir ini tidak lagi. “Aku” semakin disibukkan dengan tanggung
jawab sebagai manager di BPBA English di waktu sore dan Bimbingan Khusus
(BIMSUS) Kitab Kuning (Nahwu-Sharraf) untuk santri baru di Madrasah Diniyah di
waktu pagi. Sepintas aku kecolongan mendengar penjelasan sang guru, tapi
setelah dipikir-pikir tidak juga. Sebab, mengajari mereka termasuk belajar
pula, teaching while studying, dan
salah satu pengabdian di pondok ini.
Mengabdi. Tarakat ini tidak hanya menjadi pengurus pondok dan
bekerja giat di pondok, misalkan, tapi yang terpenting memberikan yang terbaik
untuk keberlangsungan pondok pesantren. Menjaga nama baiknya. Hal semacam itu
adalah suatu penghargaan yang yang sangat besar nilainya. Sekedar nurani
berharap, “Semoga yang diperbuat oleh raga menjadi nilai baik untuk melangkah ke
depan. Kegagalan akan menjadi sukses. Kesulitan akan menjadi mudah. Kemelaratan
akan menjadi kekayaan, dan begitu seterusnya.” Bukankah dengan itu hidup akan
menjadi as-sa’adah fi dunya wal akhirah?
Di hari libur pesantren, adalah waktu khusus santri olahraga, pagi atau
sore. Aktivitas untuk memulihakan stamina.
Kadang, aku ikut lari atau taking walk pada jam olahraga; hari
Selasa pagi kira-kira jam 06-00 hingga 07.00, Selasa sore kira jam 03.00 hingga
05.00, hari Kamis sore, hari Jum’at pagi dan sore. Aku tak begitu intens lari
di hari olahraga pesantren. Pasalnya, tak terbiasa. Di rumah pun jarang lari
kayak gini. Tak salah kalau kebiasaan di rumah membias hingga sampai di pondok
ini. Aktivitas di hari-hari ini, selain ngaji kitab di PPA. Lubsel (kitab Riyadu
al-Shalihin) dan di PPA. Latee 2 Putra (kitab Fathu al-Mu’in),
baca-baca buku atau main catur.
Banyak santri beraktivitas segini untuk menghilangkan kepenakan. Berdekap
dan berdiam diri di pondok, kesehatan badan tidak baik juga, pikiran kurang fresh,
begitu pula membikin imajinasi jadi tumpul sehingga kehabisan nafas untuk
menelurkan ide cemerlang dalam menulis. Itulah manusia. Butuh perubahan. Duduk,
berdiri, berdiam diri, dan pergi ke tempat yang penuh dengan keramaian.
Keindahan di sekitar pondok sungguh menyegarkan pandangan. Pikiran kusut dan
galau bisa-bisa jadi fresh. Perasaan tidak kerasan tinggal di pondok, step
by step mampu diobati.
Olahragaku tak kelamaan. Sebab, masih ada akitvitas pondok yang lebih
penting setelah itu. Hadiran shalat Maghrib. Hadiran ini menjadi peraturan
wajib di pondok. Santri yang kandas hadirannya akan dikenahi sanksi: ngaji
Al-Qur’an berjam-jam di depan kantor atau yang lain. Untuk ikut hadir, butuh
bersiram, walau tidak menjadi persyaratan. Tanpa membersihkan badan, peluh
bercucuran duduk di dalam masjid yang sesak dengan beratus-ratus santri. Hawa
panas terasa ketika itu. Hanya dengan lipatan kertas tebal atau yang sejenis
dapat dikipas-kipaskan untuk meredam hawa panas. Bahkan, dengan mandi
sebelumnya, panasnya masih tetap terasa, tapi low. Maklum, di dalam
masjid tak disediakan kipas angin atau AC.
Badan terasa fresh usai olahraga. Semua urat-urat tubuh kembali
segar. Stamina pulih kembali. Healthy.
Istirahat sejenak sambil menghilangkan nafas yang ngos-ngosan. Peluh
bercucuran di jidat dan sekujur tubuh. Beberapa peralatan mandi; gayung, sabun,
pasta gigi, odol, dan sampu, dipersiapkan. Tinggal go.
Suara Muammar melantun dari loadspeaker Masjid Jami’ Annuqayah.
Alunannya terasa menghiasi suasana sore. Petikan ayatnya dengan suara yang bagus menyejukkan
nurani. Hasrat menyimak kata perkata, tetap terdorong. Sehingga, sadar bahwa
kalam Tuhan jauh lebih interesting dibandingkan syair-syair yang dibikin
para penyair. Satu syair atau puisi tak ada yang mampu mengungguli ketinggian
sastra Al-Qur’an.
Sebentar. Mengingat tentang pesantren, apa pun yang diajarkan di sana,
terkesan great. Pesantren mengajarkan kesederhaan, ketulusan, dan
kemandirian. Hidup tanpa penyertaan orang tua sungguh cikal bakal santri
menjadi orang tak mudah membebek (mandiri). Dengan lokasi yang tak begitu mewah
serta pakaian dan peralatan lain sekedar mencukupi kebutuhannya, adalah edukasi terhadap mereka supaya hidup
sederhana. Setiap hari siraman rohani atau pidato disampaikan kiai atau asatidz
tertentu. Hati yang keras jadi lunak. Sikap dan tutur kata yang amoral
ditinggalkan, berganti etika yang baik. Akhlaqul mahmudah. Nah, ketika
hati suci dari jeratan dosa, maka ketulusan menjalankan ibadah di hadapanNya
terkesan mudah. Tanpa ada rasa keterpaksaan. Hadir di hadapannya penuh
kerelaan.
Mandi sudah berlalu. Pakaian: kopyah, baju, dan sarung dikenakan. Tak
butuh mewah. Yang penting, suci, menutupi aurat, dan sederhana. Bukankah nabi
Muhammad mengutamakan kesederhaan?
Para santri berbondong-bondong menuju masjid. Azan Maghrib dikumandangkan.
Sebagian pengurus pesantren berdiri di depan pintu masjid sambil memperhatikan
gelagat santri masuk masjid. Terkadang masih ada santri yang gaduh. Buat gaduh
di masjid dilarang. Karena, masjid bukan pasar sebagai tempat transaksi jual beli yang penuh dengan gemuruh suara penjual dan pembeli. Thus,
kiai pun sangat tidak berkenaan. Ia menginginkan santri disibukkan dengan
membaca Al-Qur’an dan berdzikir. Diskusi, apalagi obrolan basa-basi di-mute.
Hadiran tiba. Bel mendengking. Terlihat kiai menuju masjid. Semua santri
bergegas berdiri dari duduk lama. Diam membungkam mulut mereka. Sinar senter
ditebarkan ke tebing-tebing masjid.
Tanda kiai sudah rabu[6]
dan suara atau bunyi-bunyi di-mute. Ia melangkah memasuki area
masjid bagian dalam seraya menuju mihrab. Santri berebutan mengisi saf yang
kosong serta meluruskannya. Karena, kelurusan saf termasuk dari keutamaan
shalat jamaah pula. Bukankah imam sering memerintahkan makmum dengan kalimat
imperatif, “Luruskan shaf atau barisan?”
Shalat dimulai dengan isyarat bacaan takbir. “Allahu akbar”. Para
santri meniru setelahnya. Di tengah-tengah menghadap Tuhan, seingatku, tak pernah khusuk tersentuh pada diriku. Kalau
para ustad bilang bahwa khusuk ingat kepada Tuhan kaffatan, tapi kenapa
banyangan-banyangan selainNya yang selalu datang terkatung-katung di pikiranku.
Usahakan pejamkan mata, tapi yang terlihat hanya kegelapan. Kepala ditundukkan
seraya memandang tempat sujud, tapi ambal atau lantai yang terlihat datar. Tak
ada wajah-wajah Tuhan yang menyertai shalatku. Aku merasa bahwa ibadahku masih
jauh dari tingkat orang-orang sufi. Dialah merasa bahwa setiap shalat wajib
yang dikerjakan bukanlah kewajiban, tapi kebutuhan. Tidak ada rasa
keterpaksaan. Khusuk tetap tidak terasa di dalam shalatku. Begitu pun sampai
shalat finis.
“Assalamu’alaikum warahmatullah”. Kiai mengakhiri shalatnya. Sambil
saling berjabatan tangan santri dengan teman-teman santri yang ada di
sampingnya, duduk tetap seperti duduk pada tahiyat akhir atau duduk dirubah
menjadi duduk bersila. Dikir begin. Al-hamdulillah. Sebagian
santri mengipas-ngipaskan selembar kertas tebal untuk menghilangkan hawa panas
yang membuat tubuh berpeluh.
Usai bacaan tasbih, tahlil, dan takbir yang masing-masing berjumlah 33
kali, “subhanallah-al-hamdulillah-allahu akbar”, doa usai shalat maktubah
dibacakan. Mereka berucap, “Amien.” Kata itu merupakan isim fiil[7]
yang bermakna istajib (kabulkan). Artinya, minta kepada Tuhan untuk
dikabulkan atau diterima doa yang mereka panjatkan. Mereka sadar bahwa keberadaan mereka di muka bumi bukan tergolong ateis, orang yang
anti-Tuhan. Si ateis merasa kuasa dan tak butuh bantuanNya. Biasanya ateisme
dianut oleh orang mabuk filsafat seperti Nietzshe dan beberapa filsuf yang
lain.
Kiai baru saja meninggalkan mihrab. Ia kembali ke dhalem[8].
Sebagian santri shalat sunah Rawatib ba’diyah. Selain mereka telah
merengkuh pahala shalat jemaah sebanyak 27, mereka masih haus menambah pahala dengan shalat
sunah setelah shalat maktubah. Ini semua tak lepas dari didikan
pesantren agar nanti di masyarakat menjadi orang giat membumikan ajaran Islam.
Sehingga, kehadirannya menjadi mutiara yang ditunggu-tunggu masyarakatnya.
Mereka meneruskan aktivitas belajar membaca Al-Qur’an yang dibagi menjadi
beberapa kelompok dari beratus-ratus santri. Santri senior yang diketahui
memiliki kemampuan dan bagus baca Al-Qur’an di beri mandat sebagai pembimbing
atau ustad membimbing santri junior. Belajar kalam Tuhan kira-kira berdurasi
setengah jam atau lebih. Pokoknya, sampai azan Isya’ dikumandangkan. Aktivitas
ini kontinu setiap malam selain malam Selasa dan Jum’at. Biasanya, pada dua
malam ini diganti dengan membaca shalawat Nariyah dan surat Yasin bersama
sambil dipandu oleh pengurus PK (Peribadatan dan Kepesantrenan) lewat sound
system yang menyeruak.
Banyak yang dipelajari saat ngumpul membaca Al-Qur’an. Ada yang belajar
membaca secara bergiliran dengan sistem tadarusan, sedangkan yang lain
(yang tidak membaca) memperhatikan bacaan temannya. Ada belajar dengan sistem
ceramah dan peraktek: guru membaca dengan bacaan yang benar dan fasih disertai
lagu bacaan yang indah, sedangkan murid mendengarkan dan meniru ayat yang
dibaca gurunya secara bergantian. Ada dengan sistem lain: dibaca dulu baru
bahas masing-masing kata berdasarkan ilmu tajwid dan makharijul huruf.
Setahuku membaca Al-Qur’an dengan format seperti ini tak lepas dari
semangat pengurus pesantren, lebih-lebih pengasuh untuk membumikan dan
melestarikan Al-Qur’an sebagai warisan para pendahulu-pendahulu pondok
pesantren ini. Annuqayah pada mulanya dikenal sebagai pesantren yang baik
bacaan Al-Qur’an-nya. Baik, artinya, benar dan fasih. Banyak santri atau orang
bisa membaca, tapi secara kefasihan dan kelancaran membaca masih dalam tanda
tanya. Nah, kekurangan seperti ini perlu mendapat penanganan supaya tidak terkesan
membiasakan sesuatu yang keliru.
Begitu azan Isya’ terdengar dan menyesaki ruangan masjid, santri
menghentikan bacaan Al-Qur’an, terkadang kaki dijulurkan. Mereka kelihatan
capek. Mulai dari pagi sampai jam segini disibukkan dengan aktivitas pondok
yang menumpuk, apalagi tugas sekolah atau kampus belum selesai. Kehidupan di
pondok jauh berbeda sewaktu masih berada di rumah. Di rumah peraturan tak
seketat di pondok: boleh nonton televisi, pergi ke mana pun tanpa
idzin, dan mengoperasikan internet. Larangan ini sebenarnya bukan membungkam
santri dari perkembangan zaman, tapi suatu perhatian pesantren dalam menjaga
mereka dari sentuhan budaya luar yang kurang baik dikonsumsi seperti nonton
video porno dan lain-lain. Karena, ketika ada kesempatan, biasanya banyak
pelanggaran.
Tak jauh berbeda aktivitas yang mereka kerjakan saat hendak shalat Isya’.
Mereka tetap baca-baca Al-Qur’an atau dikir seraya menunggu bel dibunyikan
alias hadiran Isya’ akan segera dilaksanakan. Tapi, bedanya hanya bacaan
Al-Qur’an bareng usai hadiran. Mereka membaca surat Al-Waqi’ah disertai
doa. Ayat ini dibaca setiap malam selain malam Jum’at (di malam Jum’at bacaan
surat Al-Waqi’ah diganti dengan tahlil bersama). Katanya, faedah membaca surat
ini dapat mempermudah rizki, baik kita sendiri, maupun orang tua di rumah.
Faedah-faedah ini disitir tidak hanya dari satu orang saja, melainkan banyak orang: ayahku, guruku, dan pengurus PK. Awalnya tak
terpikirkan, alasan ditradisikannya bacaan surat ini. Tapi, mengingat
keterangan dari beragam sumber, pikiran menyadari dan mendapat kesimpulan.
Menjadi alim dan kaya adalah cikal bakal seorang muslim. Karena, Islam
tanpa muslim yang cerdas dan kaya, akan mudah diinjak-injak dan diperbudak.
Islam mencapai masa keemasannya pada masa Nabi Muhammad karena beliau cerdas (fathanah)
dalam mengatur tatanan negara serta memiliki harta untuk menjembatani kepentingan
kala itu. Bukankah beliau adalah suami perempuan saudagar kaya, Sitti Khadijah? Beliau tidak
miskin, melainkan kaya.
Selain itu, kaya perlu ditanamkan dalam hati orang muslim. Sejak masih
duduk di tingkat Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah, guruku, bapak Wawan
(begitulah banyak murid memanggil beliau) bilang, “Muslim harus kaya. Karena,
muslim yang miskin tidak sempurna Islamnya. Dia tidak dapat melaksanakan rukun
Islam nomor empat dan nomor lima: membayar zakat dan naik haji.” Aku
terperanjak mendengar kata beliau. Ditambah support hadits bahwa
Rasulullah tidak menyukai orang yang mengemis-ngemis. “Yadu al-ulya awla min
yadu al-sufla.” Tangan di atas lebih utama dari pada tangan di bawah.
Artinya, memberi lebih baik dari pada meminta-minta.
Selesai surat al-Waqi’ah dibacakan, santri keluar berebutan dari dalam
masjid. Ada yang masih duduk di pelataran masjid sambil menghirup udara malam
dengan tatapan tajam ke ufuk timur. Kabut berselimut di langit. Ada yang
langsung keluar dan menuju ke kamar masing-masing. Hanya istirahat sejenak,
lalu berangkat ke Madrasah Diniyah kecuali santri berstatus mahasiswa. Mereka
bebas sekolah Diniyah. Sekolah informal ini masuk kira-kira setengah jam, hingga jam 21.00 WIB.
Kebelakang jam ini, mereka dapat istirahat atau mengerjakan aktivitas
lain: rapat, ngumpul bareng, diskusi, membimbing anak-anak belajar (pengurus
BPBA English dan lain-lain), dan makan-makan.
Begitulah gambaran aktivitas santri (dan aku) di pondok. Kalau baca cerita
di atas, bisa jadi kita bilang tidak sanggup untuk tenggelam di dalamnya. Tapi,
jika sudah terlanjur tersedak di dalamnya, kesannya jadi biasa-biasa saja. Awal
kali memang seperti itu, tapi akhirnya berbeda. Pradoks. Begitu yang aku rasakan.
* * *
Mmm, tentang nama unik itu masih membekas dikit. Ingin aku tahu dan mengenal orangnya. Tapi, peraturan pesantren menjadi tirai sulit disingkap. Bukan waktunya memaksakan kehendak yang meletup-letup. Sebaiknya, menunggu saat-saat yang tepat takdir berpijak. Tuhan Maha Tahu.
Kini patuhi peraturan pondok saja. Sekalipun, bagai meneguk air laut yang
amat asin. “Ah... masak aku memikirkan orang yang belum kenal baik denganku?
Kan aku tahu saja? Apalagi tahunya di telepon.” Ketusku tiba-tiba menyeka lamunan
yang kepanjangan.
Kometmen awal memang seperti itu, tapi orang itu selalu hadir tanpa
diundang, kalau tidak dalam lamunan, ya dalam mimpi tidur nyenyakku. Apalagi
aku dengar-dengar dia orangnya dikenal pintar, tidak hanya bahasa Inggris,
begitu pula ilmu-ilmu yang lain seperti fisika, matematika dan lain sebagainya.
Banyak prestasi bergensi dia raih. What a great woman! Sedikit kaget,
walau informasi itu tak kudengar dari dia directly, melainkan melalui
orang lain, seperti sepupuku atau teman-temannya.
Di atas lamunan semu aku pasrah pada takdir saja. Apakah Tuhan akan
mempertemukan aku dengan dia kelak? Aku tidak bisa menjawab. Di pikiranku
terbayang tanda baca “titik atau koma.” The end (titik)? Atau besambung
(koma)? Hati terdalamku mengharapkan cerita ini berlanjut. Jawabannya, ada pada
restuMu.
[1] Breaking
habit (memberhentikan kebiasaan) meminjam bahasa Linking Park pada judul
lagu dalam phrase yang sama.
[2] Hadiran:
istilah lain Shalat Jama’ah yang digunakan di PP. Annuqayah.
[3] Meos
(bahasa Madura): bepergian keluar rumah.
[4] Songkan
(bahasa Madura): sakit atau tidak enak badan.
[5] Tarakat (bahasa
Madura): mengerjakan ibadah secara kontinu sebagai jembatan mencapai tujuan
seperti shalat jama’ah, berpuasa, menyepi, atau lain-lain.
[6] Rabu
(bahasa Madura): datang
[7] Isim
Fiil adalah isim yang mengganti makna dan amal fiil.
[8] Dhalem:
kediaman kyai atau pengasuh.
No comments:
Post a Comment