Di pinggir jalan dekat sekolah MI An-Nur, senja bertaburan membentuk
kristal. Di ufuk barat matahari tampak dengan sinar kemerah-merahan. Burung
merpati terbang mengitari sinarnya. Petani berjalan tertatih-tatih pulang
dengan menggendong benda berat di pundaknya. Ia bangga menghidupi keluarga
penuh kemandirian.
Suara anak-anak bermain makin sunyi terngiang di telingaku. Mereka pulang
ke rumah masing-masing. Siap-siap bergegas pergi ke musala. Di sanalah kalam
Tuhan dipelajari. Sebentar. Mereka bondong-bondong dengan pakaian serba rapi:
pakai songkok, baju sederhana, dan sarung.
Sore hampir berganti malam. Petang hampir pula menutupi sight. Aku
duduk sambil menatap keheningan senja. Terasa indah mata memandang, hampir satu
jam sudah terlewati. Ponsel masih tetap nyala dalam kepalan tangan. Touch
screen kufungsikan. Cukup setuhan jari beberapa pesan terkirim. Tak
terhitung. SMS antara sent-recieved. Kulihat Kotak Masuk, tak terasa
hampir seratus pesan yang diterima. Begitu pula, pesan yang tertampung di Kotak
Keluar. Masih asyik dalam obrolan.
Wah... sebaiknya, aku pulang tuk siap shalat Maghrib. Bertahan dalam
situasi seperti itu, dirasa merawak rambang. Shalat Maghrib bisa-bisa late,
berakibat fawt[1].
Shalatku tak boleh kandas karena terlena rayuwan teknologi. Gumam batinku tiada
henti hingga menghentikan jari-jari yang tetap menari di atas layar ponsel.
Identitas santri pun kentara di pikiranku. Seorang santri harus rajin beribadah
kepadaNya. Setidaknya, tak sering bolos atau terlambat. Tak baik, kesannya.
“Aku off duluan, kawan. Lanjutin nanti okey.” Pamitku seraya meletakkan ponsel di kantong baju. Lampu layar yang tetap nyala,
akhirnya padam pula. Biar si ponsel taking rest supaya tak stress.
Hari libur menjadi momen terindah bagi santri. Di hari itulah mereka akan
keluar dari keruwetan pikiran menghadapi pelajaran dan aktivitas pondok yang
menumpuk, mulai dari pagi hingga malam. Refresh otak dan pulihkan
stamina dengan relax sungguh dirasakan di hari itu. Tak heran, santri
yang optimis membawa tumpukan buku dari pondok untuk dibaca di rumahnya, al-hasil
tak finis atau ditunda untuk dibaca di pondok saja. Ya, karena pada hari itu
bukan waktu memperkerjakan otak, melainkan waktu berlibur. Apalagi, hari libur sangat
terbatas bagi santri dibanding dengan hari-hari aktif di pondok. Sungguh,
merugi refreshing dan relaxing disia-siakan. Bagiku, orang yang
bijak adalah yang pintar mengatur waktu: kapan waktu harus belajar, makan,
tidur, dan berlibur. Sungguh zalim santri yang sok rajin.
Malam benar-benar tampak gelap. Mata tak kuat memandangi benda sekitar.
Butuh alat penerang. Itulah tanda keadilan Tuhan. Dia ciptakan malam dan siang
supaya tidak jenuh manusia live. Coba renungkan. Andaikan Dia ciptakan
siang berkepanjangan, atau malam tiada berganti, apa akan kita rasakan? Jenuh
bukan? Hidup butuh perubahan. Orang yang duduk terus menerus akan terasa jenuh.
Begitu pula, orang yang tiada henti berjalan akan terasa capek. Nah, kestabilan
menjalani hidup dikira penting. Hidup akan terasa indah karena perbedaan
(perubahan). In fact, manusia tetap senang menjalani hidup, sekalipun
problem datang bertubi-tubi. Mereka bangun rumah, cari nafkah, dan lain-lain.
Di malam itu, sehari pulang dari pondok, pesanku masih belum dibalas.
Apakah Ulfah masih belum kantongi nomor Naila? Entahlah. Kutelepon. Mungkin, ia
sudah tanya ke teman-teman pondoknya. Kan, ia janji akan bantu.
“Aduh, masih belum dapet Mister.” Ucapnya. Aku menarik nafas
dalam-dalam berusaha tombol ponsel dipencet. Tutup panggilan. Pikiranku
menerawang.
“Sebaiknya aku tanya sama siapa?” Aku tanya pada diriku sendiri.
Aku tidak boleh menyerah sampai di sini. Tidak baik berhenti
atau mundur sebelum kesuksesan dicapai. Gemakan ikhtiar sampai detik penghabisan.
Malam semakin tambah larut. Suara tetangga mute. Mereka lagi tidur.
Jam 22.00 bagi mereka sudah malam. Beda dengan santri di pondok, jam 24.00.
Suara santri ngobrol, belajar, atau diskusi masih terdengar jelas. Baru jam
01.00, suara semakin menipis. Tapi, masih ada satu atau dua orang yang bertahan
dalam diskusi atau baca buku.
Mataku melek. Kantuk tak dapat ditepis. Layar ponsel terlihat remang. Aku
sebaiknya tidur. Sejuta mimpi menjadi harapan. Semoga mimpi indah. Mimpi yang
menakutkan: dikejar harimau, ketemu hantu, atau apalah, tak ingin mengotori mimpi
tidurku. “Good night.” Ucapan perpisahan untuk tidur kuucapkan pada
diriku seorang. Artinya, “selamat tidur.”
Usai doa dibacakan, aku merem dengan sendirinya.
* * *
“Ima, punya nomornya Naila?” tulisku lewat SMS setelah ngobrol ngura-ngidul di SMS.
“Punya Mister.” Balasnya serius.
“Kirim aja. Aku butuh.”
Saat pesan nongol di layar ponsel, dibuka, kiriman nomor sudah aku
kantongi. Seketika itu, aku coba panggil nomor itu. Tak lama hanya suara pusat
yang terdengar. Nomor itu tidak aktif. Panggilan diakhiri.
“Kok nggak aktif nomornya?” keluhku.
“Nih, nomor mbak Naila yang lain.” Sambil kutulis nomornya pikiran
bergumam, “Semoga yang satu ini aktif.”
Panggilan sudah merambat dengan nomor yang kedua.
“Halo, siapa ini?” Terdengar suara perempuan memanggil. Nurani menyakini
pasti dia Nay.
“Khalil,” jawabku polos tanpa basa-basi.
“Khalil mana?”
“Anak BPBA English.”
Ia tercekat. Sejenak ia diam. Surely, karena terdengar seorang yang
dikenal sebelumnya, tapi rasa dendam atau benci membungkam, sedangkan saat ini
dia sedang menyahut. Sungguh, tak terpikirkan. Orang yang tak diharapkan
kehadirannya, malah nekat kayak gitu.
Kaget membungkam kestabilan kondisi tubuh. Potongan snack yang
sedang digigit terjatuh. Ia ibarat Nabi Muhammad panik saat pertama kali ketemu
dengan Malaikat Jibril di gua Hira’. Peluh bercucuran.
“Dari mana kamu tau nomorku?” tanyanya easy going amat.
“Aku minta sama Ima.”
“May I speak English with you?” ajaknya bicara bahasa Inggris.
Terasa aneh dan ganjal. “Berani bener ni orang,” gumamku.
“Yah. Up to you.” Jawabku tenang.
Tak lama, panggilan terputus dengan sendirinya. Kita tak sempat
meneruskan. Mungkin, jaringan XL sibuk, atau tak sengaja kepencet
tombol. Semua itu di luar dugaan. Anggapan bukan-bukan pun terlintas. Misal,
operatornya lagi cemburu. Entahlah. Untuk apa menyesali sesuatu yang telah
berlalu? Lebih baik hadapi masa depan yang lebih cerah.
Saat itu aku masih lie down di dalam rumah. No one pun di
sampingku. Hanya saja suasana kurang mendukung. Petang berselimut. Sebab, lampu
tidak dinyalakan. Hingga berinisiatif cari tempat yang dapat menghibur
kerisauan hati dan pikiran yang sedang kalut. Segera bangkit menuju luar rumah.
Secercah sinar dapat aku tangkap. “Di sana saja,” gumam pikiranku sambil menuju
kamar penginapan anak sebelah utara masjid. Di sana sinar mentari masuk
sepenuhnya sehingga tebing-tebing kamar tampak jelas. Dinding yang warna putih
dan langit-langit kamar yang tak punya kepek[2]
pun kentara. Ponsel masih terdekap di tangan kananku. Diam tanpa
diotak-atik. Tangan jadi kaku. Hati berdegup. Lalu, SMS mengalir tanpa celah.
Hal usil di-type. Sent-received. Seingatku, dia kirim SMS, tanya
tanda tangan yang bertandang di bawah pesan yang aku tulis. “Holy_Mr”.
Begitulah ejaan tanda tanganku. Aku tersentak kaget. “Kok bisa ia sampek tanya
tanda tangan segala? Emangnya, ada yang tidak beres dengan tanda itu?” Mataku
berkaca-kaca. SMS itu dieja berulang kali. Khawatir salah baca atau misunderstanding.
Tak ada yang kurang dan tak ada yang lebih, artinya seperti aku pahami awal
kali.
“Ya, itu melambangkan bahwa kata ‘Holy’ adalah namaku. Terus, kata ‘Mr’
tak lain sebutan yang untuk seorang laki-laki.” Tulisku di ponsel dan dikirim.
Aneh, ia respons negatif SMS-ku. “Pasti kamu ingin pamer atau gimana?!”
Sejauh yang aku ingat begitu tulis SMS-nya. Emosiku tetap terkendali. Tidak
baik over sensitif. Setahuku, orang perempuan bersikap demikian. Easy
going. Apalagi, si cowok baru saja dikenal ditambah si cewek ada perasaan
benci.
Chatting ini masih baru
tersambung sejak sekian lama tak ada kabar. Kira-kira tiga tahunan mulai
2011-2013. Soal tahu-menahu tempo dulu menjadi semu, bisa-bisa hampir pudar
karena sinyal putus. Maklumlah, jika dia bersikap begituan.
SMS tetap connect. Kesannya minus karena terjerat tabir SMS.
Lalu, inisiatif phone terketuk di hati hingga refleks bikin jari-jari
pencet tombo yang bergambar ganggang telepon. Panggilan tersambung dan
diangkat.
“Sebenarnya, apa tujuan kamu cari nomor teleponku?” tanyanya cuek. Sulit
tebak plot yang dia pakai, alur maju, mundur atau campuran. Masih kali ini aku
temukan seorang perempuan bersikap cuek dan ideal. Hingga, tanya ke
akar-akarnya.
Aku terdiam sambil melepas imajinasi menjulang setinggi langit untuk
menggapai jawaban right. Bisu, bukan karena penakut, melainkan berusaha
menjadi bijak. Berbicara penuh kharisma, tidak kaku, dan tidak bimbang, fifty-fifty.
“Yaaa, untuk berteman aja.” Jawaban terdengar jujur, sekalipun sedikit
cekatan suara terbentang. Responsnya tak jadi celah, obrolan tetap berlanjut.
Stopwatch lupa tidak
diaktifkan. Tak diketahui berapa menit obrolan berlangsung. Ah... tak penting
dipikir-pikir sampai ideal amat catat durasi waktu bicara. Seingatku, obrolan
masih sekejap. In fact, badan tidak merasa capek atau lesu.
Makin lama aku bertahan dalam chatting, kelemahanku semakin
terkorek. Maybe, ia ingin bikin aku terkapar tak berdaya di hadapannya.
Sedikit pun gelagat begituan malah bikin aku tambah berhasrat mengenal dia
lebih jauh. Bayang-bayang dalam imajinasi membentuk kata, “Antik”. “Bang, bang,
shalat dulu, bang,” sahutnya.
“Kan masih baru azan Dhuhur?” sanggahku memotong.
“Sekarang udah pukul 01.00,” ketusnya bijak.
Aku tak berani membantah kembali. Takut, aku malah dinilai egois. Tak
mengalah dalam suatu hal.
Nah, ngalah, dipikir-pikir, the best solution. Benak sedikit masih
mau komplain. Sadar, situasi seperti itu bukan perdebatan yang pakai akal, tapi
adoration yang menyertakan perasaan.
“Ya. Makasih.” Ucapku lirih.
Aku tetap di dalam kamar. Tak langsung beranjak. Aku merasa tertegun
mengingat sugesti yang ia ucapkan di ponsel. Dipikir-pikir, sugesti itu ada
benarnya juga dari pada selalu terlambat melaksanakan shalat pada waktu hampir kandas. Awal waktu dinilai paling utama.
Stop! Panggilan diakhiri.
Nafas dilepas hingga tak merasa sesak. Ponsel dilempar ke atas bantal yang
tergeletak di sampingku.
Sejenak. Ponselku melengking kembali. Dikiranya dia phone back. Nyatanya,
setelah dilihat di layar ponsel, eh Ulfah manggil.
“Opo Fa?” Sapaku singkat.
“Gimana Mister?” tanyanya polos.
“Ooo, baru saja aku dapet.”
“Dari mana?” Seakan-akan kaget dengarnya.
“Barusan minta sama Ima. Untung dia punya.”
“Udah di-phone?”
“Pastinya.”
“Terus,,,.”
“Maksudnya?”
“Bicara apaan ama mbak Nay?”
“Biasa aja. Ta’arufan.”
“Mister, kalo kamu dapat melunakkan hati mbak Nay untuk tidak jadi berhenti dari Annuqayah,
berarti Mister sukses,” dia bikin sayembara ala film perang di televisi.
“Dan, bersabarlah Mister memahami karakter mbak Nay.” Ujarnya meneruskan.
Kata ‘bersabarlah’ tetap melakat di memoriku. Tak sampai ia jelaskan alasan
kenapa harus bersabar menghadapi mbaknya. Bisa jadi, dia orang yang sulit untuk
ditebak.
“Iya. Insya Allah.” Jawabku singkat. Kesannya so so[3].
Panggilan diakhiri. Kini, waktu munajat di hadapan Tuhan.
Jamaah Dhuhur hampir dilaksanakan. Aba kelihatan sedang menuju masjid
untuk menjadi imam shalat. Adikku ikut di belakangnya dengan langkah pelan. Aku
keluar dari kamar dan menuju masjid kentara di hadapan mata. Tak jauh dari
kamar itu, kira-kira dua langkah.
Tatapan nanar. Antara “ada” dan “tiada”.[]
[1] Fawt
(bahasa Arab): kandas atau habis waktunya.
[2] Kepek
(bahasa Madura): sesuatu yang terbuat dari bambu yang dipelah tipis-tipis.
Kemudian, dirakit hingga menjadi seperti
rakitan tikar. Biasanya, itu diletakkan di bawah genting untuk mencegah kotoran
yang jatuh ke lantai.
[3] So
so (bahasa Inggris): biasa-biasa aja.
No comments:
Post a Comment