Temanku menjawab
dengan sebuah pertanyaan saat ngobrol tentang kisah cintanya dengan seorang
gadis yang baru ia kenal waktu ikut kursus bahasa Inggris. “Bukankah cemburu
itu timbul karena cinta?” ucapnya.
Ucapan itu
sebagai jawaban kritik atas kalimat yang aku ucapkan. “Kenapa kamu mencintai si
dia, padahal masih banyak lho perempuan lain yang jauh lebih sempurna;
lebih cantik, pintar, dan akhlaknya baik?” tanyaku sinis.
Pertanyaan yang
terdengar mengejek sedikit terhapus dengan jawaban tadi. Lalu, ia menlanjutkan ceritanya
hingga tak terasa duduk kelamaan. Kata-katanya yang halus ditopang dengan
pengalaman pribadi seakan-akan sulit orang lain menepis atau refuse. Ceritanya
gini.
Ramadlan yang
menurut ulama semua syetan diikat. Kesannya si syetan tak mampu tebarkan aroma
virus yang mampu bikin orang bertekuk lutut. Tapi, semua kesan itu hanya
menjadi sebuah lamunan yang membedai kenyataan. Ternyata masih banyak orang
yang mabuk terjun ke dalam kemaksiatan: tidak puasa, rame-rame kampanye
kemaksiatan, korupsi besar-besaran, dan lain sebagainya. Sadarkah kalau itu
adalah tipu daya syetan?
Cinta. Kata
yang terbangun dengan lima huruf hingga menimbulkan multi-tafsir dan hati
terpikat karenanya. Apakah cinta adalah negatif? Kalo kujawab ‘tidak’, kenapa
masih banyak orang bilang cinta dapat membutakan hati? Tragisnya lagi,
dikecamlah dan ditudinglah habis-habisan orang yang mabuk karena cinta. “Dosa
tau. Kamu telah melanggar ajaran Islam. Maksiat.” Segala kecaman muntah tak
dapat dibendung. Kasihan!
Bagi temanku,
cinta tidak membutakan seseorang. Justru kerenanya, hati semakin bertambah
lembut hingga membias menjadi perbuatan yang elok dipandang mata. Aku pun
merasakan hal yang berbeda saat melihat seorang teman tadi. Awalnya dia keras
kepala, tapi sekarang ia menjadi penyabar dan mendadak jadi pujangga.
“Awalnya aku
tidak tau kalau dia sudah punya tunangan. Aku tak begitu refleks untuk
bertingkah. Entah kenapa, setelah informasi itu didengar, hatiku merasa sakit.
Cemburu. Aku merasakan diriku telah jatuh cinta padanya. Karenanya, tak mungkin
seseorang dibuat cemburu, kalo bukan karena ada perasaan cinta,” ceritanya
panjang lebar.
“Terus, kenapa
teruskan cinta itu, padahal sudah ada orang lain yang lebih dulu darimu?”
tanyaku terus.
“Aku akui kalo aku berada pada posisi yang salah,
tapi...,” ucapnya seakan-akan tak dapat meneruskan kata-katanya.
“Tapi gimana?”
“Salahkan aku
curahkan kata hatiku? Tapi, kenapa dia nerima?”
Kalimat
terakhir bikin aku tak berani meneruskan perbincangan itu. Seakan-akan, aku
kalah andaikan itu adalah pertandingan di kompetisi debat. Sudahlah, tak perlu
memikirkan ‘menang’ atau ‘kalah’, kebenaran adalah yang terpenting bagiku.
Sebab, perbincangan ini hanya untuk menghasilkan kesimpulan yang benar.
Sungguh menarik
ceritanya. Ia bercerita dengan serius. Tergambar di pelipisnya arti cinta yang
tertanam di dalam hatinya. Ia mencintai bukan karena nafsu. Karena, ia tahu
bahwa cinta itu suci, sedangkan nafsu itu jelek. Jika cinta karena nafsu, bukan
cinta, namanya. Tapi, itu hawa yang dapat menjerumuskan pengidapnya pada
hal-hal yang negatif: hianat, menyakiti, dusta, bermuka dua (munafik), dan
berperilaku jelek.
Bahas cinta,
aku teringat kalimat yang tertulis di dalam surat seorang gadis padaku. “Cinta
itu tanpa lawan. Kebencian adalah cinta yang ternodai,” tulisnya pada paragraf
terakhir. Aku paham, bahkan masih ingat jelas akan kalimat itu. Bahwa tak ada
lawan untuk kata ‘cinta’ karena cinta itu adalah sesuatu yang suci. Setitik
debu kotor tak pernah hinggap di sana. Sedangkan, kata ‘kebencian’ yang kesannya
adalah lawan dari kata ‘cinta’, pada hakikatnya spesies cinta itu sendiri yang
telah ternodai. Aku sadar usai baca surat itu. Bahwa kebencian datang setelah
cinta itu dibaur dengan perilaku kotor. Ibarat air yang bersumber dari muara
yang bersih akan terlihat murni. Terus, aliran air itu melewati parit-parit
yang penuh dengan kotoran, tak dapat dielakkan air itu akan berubah menjadi
kotor karena lumuran kotoran tersebut. Cinta yang suci merupakan manifestasi (tajalliyat)
Tuhan ala Ibnu Arabi, benar-benar terjaga.
Teringat dengan
pembahasan nafsu yang pernah disampaikan oleh ustaz tempo dulu. “Nafsu adalah
musuh yang dicinta.” Begitulah kalimat yang tertulis di dalam kitab Minhaj al-Bidin karya
Al-Ghazali. Sebuah pertanyaan bertandang di pikiran saya, “Kalau memang nafsu
itu jelek, kenapa di dalam al-Qur’an Tuhan memuji-muji nafsu mutmainnah?” Dalam
sebuah ayat tertulis, Ya ayyatuha al-nafsu al-mutmainnah irji’i ila rabbiki
radiyatan mardiyah. Sungguh, beruntung nafsu mutmainnah itu mendapat seruan
Tuhan untuk kembali ke sisiNya dengan radiyatan mardiyah, rida (tanpa
paksaan) dan diridai (disambut dengan penuh hormat). Beruntung!
Sebenarnya,
al-Ghazali telah menyisipkan kata as-su’ setelah kata an-nafsu alias
an-nafsu as-su’ pada kitab tersebut. Jadi, tak semua nafsu itu jelek,
tapi masih ada nafsu mutmainnah yang menyeru pada kebaikan.
Kebencian yang
menjadi virus cinta, termasuk nafsu yang jelek (an-nafsu as-su’).
Penting bagi pemuja cinta menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan sikap
benci. Bagunlah sikap yang baik: tulus, jujur, tidak munafik dan berperilaku
baik, agar perahu cinta berlayar penuh tujuan. Sehingga, ketemu dengan mutiara
cinta. Sungguh, beruntung orang yang merengkuh mutiara itu. Dia terlihat sabar,
berbuat tanpa paksaan, sejuk dalam pandangan (qurratu a’yun), dan
tawakal.
Nah, cemburu
yang menjangkit para pencinta, menjadi isyarat kuatnya cinta dalam diri
seseorang. Bukankah cinta itu punah bersamaan dengan hilangnya rasa cemburu?[]
No comments:
Post a Comment