Tuesday, June 30, 2015

Antara Cemburu dan Cinta



Temanku menjawab dengan sebuah pertanyaan saat ngobrol tentang kisah cintanya dengan seorang gadis yang baru ia kenal waktu ikut kursus bahasa Inggris. “Bukankah cemburu itu timbul karena cinta?” ucapnya.

Ucapan itu sebagai jawaban kritik atas kalimat yang aku ucapkan. “Kenapa kamu mencintai si dia, padahal masih banyak lho perempuan lain yang jauh lebih sempurna; lebih cantik, pintar, dan akhlaknya baik?” tanyaku sinis.

Pertanyaan yang terdengar mengejek sedikit terhapus dengan jawaban tadi. Lalu, ia menlanjutkan ceritanya hingga tak terasa duduk kelamaan. Kata-katanya yang halus ditopang dengan pengalaman pribadi seakan-akan sulit orang lain menepis atau refuse. Ceritanya gini.

Ramadlan yang menurut ulama semua syetan diikat. Kesannya si syetan tak mampu tebarkan aroma virus yang mampu bikin orang bertekuk lutut. Tapi, semua kesan itu hanya menjadi sebuah lamunan yang membedai kenyataan. Ternyata masih banyak orang yang mabuk terjun ke dalam kemaksiatan: tidak puasa, rame-rame kampanye kemaksiatan, korupsi besar-besaran, dan lain sebagainya. Sadarkah kalau itu adalah tipu daya syetan?

Cinta. Kata yang terbangun dengan lima huruf hingga menimbulkan multi-tafsir dan hati terpikat karenanya. Apakah cinta adalah negatif? Kalo kujawab ‘tidak’, kenapa masih banyak orang bilang cinta dapat membutakan hati? Tragisnya lagi, dikecamlah dan ditudinglah habis-habisan orang yang mabuk karena cinta. “Dosa tau. Kamu telah melanggar ajaran Islam. Maksiat.” Segala kecaman muntah tak dapat dibendung. Kasihan!

Bagi temanku, cinta tidak membutakan seseorang. Justru kerenanya, hati semakin bertambah lembut hingga membias menjadi perbuatan yang elok dipandang mata. Aku pun merasakan hal yang berbeda saat melihat seorang teman tadi. Awalnya dia keras kepala, tapi sekarang ia menjadi penyabar dan mendadak jadi pujangga.

“Awalnya aku tidak tau kalau dia sudah punya tunangan. Aku tak begitu refleks untuk bertingkah. Entah kenapa, setelah informasi itu didengar, hatiku merasa sakit. Cemburu. Aku merasakan diriku telah jatuh cinta padanya. Karenanya, tak mungkin seseorang dibuat cemburu, kalo bukan karena ada perasaan cinta,” ceritanya panjang lebar.

“Terus, kenapa teruskan cinta itu, padahal sudah ada orang lain yang lebih dulu darimu?” tanyaku terus.

“Aku akui kalo aku berada pada posisi yang salah, tapi...,” ucapnya seakan-akan tak dapat meneruskan kata-katanya.

“Tapi gimana?”

“Salahkan aku curahkan kata hatiku? Tapi, kenapa dia nerima?”

Kalimat terakhir bikin aku tak berani meneruskan perbincangan itu. Seakan-akan, aku kalah andaikan itu adalah pertandingan di kompetisi debat. Sudahlah, tak perlu memikirkan ‘menang’ atau ‘kalah’, kebenaran adalah yang terpenting bagiku. Sebab, perbincangan ini hanya untuk menghasilkan kesimpulan yang benar.

Sungguh menarik ceritanya. Ia bercerita dengan serius. Tergambar di pelipisnya arti cinta yang tertanam di dalam hatinya. Ia mencintai bukan karena nafsu. Karena, ia tahu bahwa cinta itu suci, sedangkan nafsu itu jelek. Jika cinta karena nafsu, bukan cinta, namanya. Tapi, itu hawa yang dapat menjerumuskan pengidapnya pada hal-hal yang negatif: hianat, menyakiti, dusta, bermuka dua (munafik), dan berperilaku jelek.

Bahas cinta, aku teringat kalimat yang tertulis di dalam surat seorang gadis padaku. “Cinta itu tanpa lawan. Kebencian adalah cinta yang ternodai,” tulisnya pada paragraf terakhir. Aku paham, bahkan masih ingat jelas akan kalimat itu. Bahwa tak ada lawan untuk kata ‘cinta’ karena cinta itu adalah sesuatu yang suci. Setitik debu kotor tak pernah hinggap di sana. Sedangkan, kata ‘kebencian’ yang kesannya adalah lawan dari kata ‘cinta’, pada hakikatnya spesies cinta itu sendiri yang telah ternodai. Aku sadar usai baca surat itu. Bahwa kebencian datang setelah cinta itu dibaur dengan perilaku kotor. Ibarat air yang bersumber dari muara yang bersih akan terlihat murni. Terus, aliran air itu melewati parit-parit yang penuh dengan kotoran, tak dapat dielakkan air itu akan berubah menjadi kotor karena lumuran kotoran tersebut. Cinta yang suci merupakan manifestasi (tajalliyat) Tuhan ala Ibnu Arabi, benar-benar terjaga.

Teringat dengan pembahasan nafsu yang pernah disampaikan oleh ustaz tempo dulu. “Nafsu adalah musuh yang dicinta.” Begitulah kalimat yang tertulis di dalam kitab Minhaj al-Bidin karya Al-Ghazali. Sebuah pertanyaan bertandang di pikiran saya, “Kalau memang nafsu itu jelek, kenapa di dalam al-Qur’an Tuhan memuji-muji nafsu mutmainnah?” Dalam sebuah ayat tertulis, Ya ayyatuha al-nafsu al-mutmainnah irji’i ila rabbiki radiyatan mardiyah. Sungguh, beruntung nafsu mutmainnah itu mendapat seruan Tuhan untuk kembali ke sisiNya dengan radiyatan mardiyah, rida (tanpa paksaan) dan diridai (disambut dengan penuh hormat). Beruntung!

Sebenarnya, al-Ghazali telah menyisipkan kata as-su’ setelah kata an-nafsu alias an-nafsu as-su’ pada kitab tersebut. Jadi, tak semua nafsu itu jelek, tapi masih ada nafsu mutmainnah yang menyeru pada kebaikan.

Kebencian yang menjadi virus cinta, termasuk nafsu yang jelek (an-nafsu as-su’). Penting bagi pemuja cinta menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan sikap benci. Bagunlah sikap yang baik: tulus, jujur, tidak munafik dan berperilaku baik, agar perahu cinta berlayar penuh tujuan. Sehingga, ketemu dengan mutiara cinta. Sungguh, beruntung orang yang merengkuh mutiara itu. Dia terlihat sabar, berbuat tanpa paksaan, sejuk dalam pandangan (qurratu a’yun), dan tawakal.

Nah, cemburu yang menjangkit para pencinta, menjadi isyarat kuatnya cinta dalam diri seseorang. Bukankah cinta itu punah bersamaan dengan hilangnya rasa cemburu?[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...