Saat ditanya tentang komunikasiku dengan Naila, dijawablah, “Sekedar taaruf.” Sependek phrase yang kukirim lewat ponsel, dimengerti, tapi belum sempurna (minus subjek sebagai prasyarat sentence). Seandainya aku adalah dia, jawaban itu kutanyakan kembali. Taaruf, perkenalan awal kali tahu atau ketemu, sedangkan, kita (aku dan dia) Jauh sebelum itu sudah tahu-menahu.
Dia tidak menggojlok, hanya dehem yang terpelanting dari lisannya. “Hem”.
Kata itu, yakinku, bukan batuk karena sakit, tapi batuk yang dibuat-buat karena
timbul suatu keganjalan. Ganjal di antara dua orang –lawan jenis- yang terpikat
asmara. Bisa jadi, dia curiga akan komunikasi itu. Curiga kalo aku dengannya mulai having relation. Kepribadiannya
sulit ditebak. Diakui, pandai cari kelemahan seseorang. Jika diketahui
seseorang having relation, tak
henti-henti gojlokan muntah bergelinding, hingga yang digojlok kapok. Be
careful. Jika aku ketahuan, kemanakah untuk menghela. Repot.
“Jangan takut kawan.” Aku sok bijak memberikan semangat pada diriku
sendiri. Lucu, aku seorang lelaki akan kapok karena politik sepupuku. Apalagi
perempuan lagi. Seorang laki-laki harus lebih kuat agar tak mudah diperdaya.
Nah, segala strategi di-list secara sistematik. Bicara tak boleh over.
Pintar-pintar cari tema lain waktu ngobrol, atau panggil ditutu: pura-pura
jaringan sibuk, pulsa kepepet, atau kepencet tombol. Pembicaran yang mengarah
pada hal-hal yang aku tidak inginkan, tak jadi dibahas.
Di atas strategi perasaan hidden di hati sehingga sulit terbaca
orang lain, sedikit pun tidak membuatku getir. Melangkah dengan niat yang tulus
tetap ditanam di dalam hati yang terdalam. Kukedapankan ikhtiar untuk
mencapai tujuan. Sadar, ikhtiar termasuk wujud kesetian seorang hamba
dalam membumikan cinta. Sulit, bisa-bisa mustahil, mengharap atau memetik buah
pepohonan, tanpa menanam lebih dulu. Ikhtiar ‘menanam’ termasuk wujud
dari ketulusan merengkuh takdir yang logis. Kesabaran pun akan terlatih dengan
sendirinya.
Percakapan bertandang kembali di ponsel. Sore tampak dengan sinar samsu
yang menguning di ufuk barat. Dekapan ponsel di tangan, semangat menjunjung
sifatNya, al-Wadud alias Masa Pencinta. Kata yang terucap semakin
terdengar halus dibandingkan sejak awal kali phone. Keakraban tampak
terlihat. Easy going, tak lagi diekspresikan. PetunjukNya menyelusup
hati hingga jadi lunak. Aku paham karakter seorang perempuan. Sayangnya, dia
selalu tanya tentangku, benar atau tidak. “Ini benar ya, Mr. Khalil?” Kelihatan
sebersit keraguan bertandang di pikirannya.
“Iya.” Singkat jawabanku.
Satu hal, mungkin, yang membuat tanda tanya, kata-kataku yang alay. Dikiranya
dulu aku adalah orang alim dan anti-perempuan. In fact, tak sairama
dengan dugaannya. Aku welcome amat. Problem.
Tapi, ia kelihatan kikuk dikit. Pikiranku pun bingung, “Kok bisa tanya
itu?!” Bisa jadi aku terlalu blak-blakan berbicara. Semestinya, menjaga etika
yang tidak layak dipakai dalam pergaulan, apalagi aku masih baru kenal sama
dia. Itu pun lewat ponsel.
“Maghrib?” ucapku menyeka ngobrol yang kelihatan asyik. Azan terdengar
jelas di loudspeaker.
“Sampean tak mau shalat dulu?” Pertanyaan bernada perhatian.
“Nih, masih nunggu Aba,” ucapku basa-basi, “Mau pesan doa, mbak?”
Panggilan ‘mbak’ menggelinding. Aku tahu secara usia, dia lebih mudah
dibandingkan aku. Aku berumur 20 tahun, sedangkan dia masih berusia 18 tahun.
“Panggil apa tadi?” tanyanya penasaran. Seakan-akan terdengar ganjal
dipendengarannya. Dia kira aku berucap serius. Padahal...
“Ade’ Naila.” Aku ucapkan dengan muka malu.
Sejarah mencatat sejak itu, aku kali pertama panggil dia “Ade’”.
“Iya, Abang....” Balasnya tulus.
“Telepon nanti lagi ya?”
“Udah sana, shalat dulu.”
Suara tak terngiang usai panggilan ditutup. Lampu di masjid nyala
menerangi ruangan dan lingkungan sekitar. Orang shalat sedang menanti kehadiran
imam.
“Allahu akbar, akbar....” Ikamah dikumandangkan.
Aku bangkit dari duduk menuju masjid untuk jamaah shalat Maghrib.[]
No comments:
Post a Comment