Tuesday, June 30, 2015

Awal Kali Panggil Ade’



Saat ditanya tentang komunikasiku dengan Naila, dijawablah, “Sekedar taaruf.” Sependek phrase yang kukirim lewat ponsel, dimengerti, tapi belum sempurna (minus subjek sebagai prasyarat sentence). Seandainya aku adalah dia, jawaban itu kutanyakan kembali. Taaruf, perkenalan awal kali tahu atau ketemu, sedangkan, kita (aku dan dia) Jauh sebelum itu sudah tahu-menahu.

Dia tidak menggojlok, hanya dehem yang terpelanting dari lisannya. “Hem”. Kata itu, yakinku, bukan batuk karena sakit, tapi batuk yang dibuat-buat karena timbul suatu keganjalan. Ganjal di antara dua orang –lawan jenis- yang terpikat asmara. Bisa jadi, dia curiga akan komunikasi itu. Curiga kalo aku dengannya mulai having relation. Kepribadiannya sulit ditebak. Diakui, pandai cari kelemahan seseorang. Jika diketahui seseorang  having relation, tak henti-henti gojlokan muntah bergelinding, hingga yang digojlok kapok. Be careful. Jika aku ketahuan, kemanakah untuk menghela. Repot.

“Jangan takut kawan.” Aku sok bijak memberikan semangat pada diriku sendiri. Lucu, aku seorang lelaki akan kapok karena politik sepupuku. Apalagi perempuan lagi. Seorang laki-laki harus lebih kuat agar tak mudah diperdaya. Nah, segala strategi di-list secara sistematik. Bicara tak boleh over. Pintar-pintar cari tema lain waktu ngobrol, atau panggil ditutu: pura-pura jaringan sibuk, pulsa kepepet, atau kepencet tombol. Pembicaran yang mengarah pada hal-hal yang aku tidak inginkan, tak jadi dibahas.

Di atas strategi perasaan hidden di hati sehingga sulit terbaca orang lain, sedikit pun tidak membuatku getir. Melangkah dengan niat yang tulus tetap ditanam di dalam hati yang terdalam. Kukedapankan ikhtiar untuk mencapai tujuan. Sadar, ikhtiar termasuk wujud kesetian seorang hamba dalam membumikan cinta. Sulit, bisa-bisa mustahil, mengharap atau memetik buah pepohonan, tanpa menanam lebih dulu. Ikhtiarmenanam’ termasuk wujud dari ketulusan merengkuh takdir yang logis. Kesabaran pun akan terlatih dengan sendirinya.

Percakapan bertandang kembali di ponsel. Sore tampak dengan sinar samsu yang menguning di ufuk barat. Dekapan ponsel di tangan, semangat menjunjung sifatNya, al-Wadud alias Masa Pencinta. Kata yang terucap semakin terdengar halus dibandingkan sejak awal kali phone. Keakraban tampak terlihat. Easy going, tak lagi diekspresikan. PetunjukNya menyelusup hati hingga jadi lunak. Aku paham karakter seorang perempuan. Sayangnya, dia selalu tanya tentangku, benar atau tidak. “Ini benar ya, Mr. Khalil?” Kelihatan sebersit keraguan bertandang di pikirannya.

“Iya.” Singkat jawabanku.

Satu hal, mungkin, yang membuat tanda tanya, kata-kataku yang alay. Dikiranya dulu aku adalah orang alim dan anti-perempuan. In fact, tak sairama dengan dugaannya. Aku welcome amat. Problem.

Tapi, ia kelihatan kikuk dikit. Pikiranku pun bingung, “Kok bisa tanya itu?!” Bisa jadi aku terlalu blak-blakan berbicara. Semestinya, menjaga etika yang tidak layak dipakai dalam pergaulan, apalagi aku masih baru kenal sama dia. Itu pun lewat ponsel.

“Maghrib?” ucapku menyeka ngobrol yang kelihatan asyik. Azan terdengar jelas di loudspeaker.

“Sampean tak mau shalat dulu?” Pertanyaan bernada perhatian.

“Nih, masih nunggu Aba,” ucapku basa-basi, “Mau pesan doa, mbak?” Panggilan ‘mbak’ menggelinding. Aku tahu secara usia, dia lebih mudah dibandingkan aku. Aku berumur 20 tahun, sedangkan dia masih berusia 18 tahun.

“Panggil apa tadi?” tanyanya penasaran. Seakan-akan terdengar ganjal dipendengarannya. Dia kira aku berucap serius. Padahal...

“Ade’ Naila.” Aku ucapkan dengan muka malu.

Sejarah mencatat sejak itu, aku kali pertama panggil dia “Ade’”.

“Iya, Abang....” Balasnya tulus.

“Telepon nanti lagi ya?”

“Udah sana, shalat dulu.”

Suara tak terngiang usai panggilan ditutup. Lampu di masjid nyala menerangi ruangan dan lingkungan sekitar. Orang shalat sedang menanti kehadiran imam.

Allahu akbar, akbar....” Ikamah dikumandangkan.

Aku bangkit dari duduk menuju masjid untuk jamaah shalat Maghrib.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...