“Mister, brosur kursusan AEC yang diletakkan di tembok belakang blok F
sekarang tidak ada,” ucapnya.
“Kok bisa!” Aku kaget.
“Disobek.”
“Disobek?! Siapa–”
“Mbak Nay. Dia cerita padaku.”
“Terus....”
“Dia benci sama Mister. Apalagi lihat brosur itu.”
Cerita itu mengingatkanku akan kisah kalut di BPBA English. Distribusi
buku BPBA English Grammar Book 3 yang tidak laku. Suatu
keganjilan. Bisa-bisa jadi pertanyaan besar. English Club (EC) salah lokasi
pemasaran terlaris se Annuqayah, baru kali ini terjadi penyusutan. Buku itu
setelah ditarik kembali ternyata laku satu. Setelah ditanya, yang beli hanya
mbak Malih. Teman-teman (pengurus BPBA English), pun aku, bertanya-tanya.
Anggapan tidak-tidak digadai. “Pasti ini ada ketimpangan. Bisa saja sala satu
dari kita punya masalah dengan mereka.”
“Bisa jadi ketuanya,” salah seorang teman menudingku tajam, “Bisa jadi ada orang EC yang merasa tersakiti atas
perlakuannya.”
Respons tidak sehat ini tak langsung aku save di memori, cukup
disisipkan di dalam catatan harianku. Bukan didengar dari telinga kanan dan
keluar ke telinga kiri alias sia-sia, tapi kucari data atau informasi yang
valid tentang semuanya. Benarkah aku dibalik permasalahan ini? Atau selain aku?
* * *
Diceritakan dari Ulfah saat aku pulang beserta Halim dan spent the night di rumah kakek. Kebetulan, dia di rumahnya karena sedang mengendap sakit panas. Di sela-sela kepulanganku, dikira waktu tepat kunjung dan tanya alasan tidak berlakunya buku tata bahasa itu. Aku berkunjung ke rumahnya.
“Kalo mendistribusikan buku, jangan diberikan ama mbak Ima. Dia kurang
lincah dalam dunia marketing. Coba berikan ke mbak Nay. Pasti buku itu
dijamin laris. Mbak Ima kurang terbuka. Mister tau sendiri kan?” ceritanya.
Sebentar. Cerita itu memberikan kesimpulan bahwa dibalik semua itu bukan
aku. Jadi tudingan teman-teman salah. Ketidakberlakuan buku karena
pendistributor yang kurang cakap.
Cerita itu adalah benar menurutku. Toh, hasil rekaan sepupuku bisa
jadi fifty-fifty; benar atau salah dalam satu sisi. Karena rekaan tak
jauh berbeda dengan hasil imajinasi atau anggapan semu. Tak perlu ditelusuri
lebih dalam, cerita yang aku dengar cukup dijadikan referensi meninjau ulang
kelakar mereka.
Sementara aku selamat dan tuduhan tak jelas dicabut. Aku merdeka seperti
sedia kala. Hingga, teman-teman berasumsi buku itu dikirimkan kembali ke Ade’
Naila. Tapi, akhirnya... tak jadi juga.
Di kesempatan yang lain, cerita Ulfah salah pula. Suatu keputusan sahih
diperoleh dari cerita Ade’ seorang. Ketidaklakuan buku itu karena pengaruh kuat
Ade’ pada anggota-anggota. Dia mencegah mati-matian buku itu tidak terjual
dengan pakai cara yang rasional. Sehingga mereka mengamini. Menarik ceritanya.
Waktu buku grammar Book Three diluncurkan, mayoritas anggota EC
mengeluh. “Kok aku tidak ngerti isi buku ini?” tanyanya bingung.
“Kalo, ingin ngerti isinya harus belajar sama penyusun buku tersebut. Ya,
kamu belajar langsung sama Khalil.” Ade’ sedikit mempengaruhi pola pikir
mereka.
“Terus gimana Mbak?”
“Lebih baik buku itu dikembalikan saja. Kan ada buku lain yang
lebih mudah,” sarannya. Mereka mengangguk.
Karena dia sebagai tutor sekaligus manager, setiap kalimat yang
disampaikan penuh karismatik. Sekali berkata, banyak orang mengamini. Akhirnya,
buku itu dikembalikan. Tak jadi beli.
Pun, semua itu terjadi, mulai disobeknya brousur, hingga mandeknya distribusi
buku, tak lepas dari perasaan benci terhadap seseorang Khalil. Hate so much.
Apa pun yang di dalam tertera nama Khalil, verbal atau non-verbal, baginya,
sangat menjijikkan. Dia merasa terganggu.
Kebencian itu menjamur. Seakan tak dapat dibersihkan. Dia cerita, “Pernah
aku menerima sertifikat karena karyaku dimuat di Prestigious. Sayangnya,
sertifikat itu telah kuberikan pada temanku. Untuk apa memelihara sertifikat
itu, pas di situ ada nama Abang.” Abang itu adalah aku, Khalil.
Aku hanya termangu menyimak cerita itu. Anehnya, sejak dia membeciku,
sedikit pun tak ada hasrat membalas. Membeci pula. Malah, aku semakin
tertantang untuk mengetahui orang tersebut lebih jauh. Kenapa segitunya? Apakah
karena dia iri padaku? Kalau jawabanya iri, misalkan, karena I can speak
English as she does, menurutku tidak patut. Sebab, aku masih jauh dari apa
yang dia bayangkan. Sungguh, aku masih bodoh, sehingga perlu banyak belajar.
Masih banyak poin-poin yang belum diketahui, terutama bahasa Inggris sendiri.
Bukankah ilmu Tuhan tidak terbatas? Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: “Qul
laukana al-bahru midadan likalimati rabbi lanafida al-bahru qabla an tanfada
kalimatu rabbihi walau ji’na bimitslihi madada.” Katakanlah Muhammad bahwa
andaikan laut dijadikan tinta untuk menulis ilmu-ilmu Allah, niscaya air laut
itu akan habis terlebih dahulu sebelum ilmu-ilmuNya habis, sekalipun
didatangkan kembali. Begitu luasnya ilmu Allah SWT!
Iri dalam pengetahuan, baik. Teman kita pintar, kita iri ingin menjadi
seperti dia, misalkan, no problem. Sugesti yang bernada motivasi ini aku
dengar saat ngaji pada Abah di masjid. Katanya, kalimat tersebut disitir dari
pernyataan Imam Syafi’ie.
Hingga benci itu menjadi B-E-N-C-I (Benar-Benar Cinta).[]
No comments:
Post a Comment