Dua hal yang berlawanan dalam kehidupan musti ada. Ada benci, ada cinta;
ada baik, ada buruk; ada cantik, ada jelek; dan pemisalan yang serupa.
Kadang anda dipuji bahwa anda cantik atau diejek bermuka jelek. Kadang
kala anda merasa benci sama seseorang, padahal orang itu tidak punya kasus atau
masalah dengan diri anda atau tiba-tiba anda kagum, hingga tumbuh perasaan cinta.
Nah, semua itu tak lepas dari gejolak atau perdebatan pikiran dan psikologi
seseorang sebagai manusia yang terpaut dengan nafsu.
Tahun 2010 hingga 2014 awal, jiwa saya dibikin terombang-ambing dalam
menentukan masa depan. Padahal sejak kecil, saya masih belum merasakan hidup
se-njelimet itu. Sebab, yang saya tahu hanya butuh ilmu. Soal asmara tak
penting untuk dipersoalkan. Biarkan itu datang dengan sendiri, pada saatnya
saya jemput. Nurani saya meyakini.
Kegalauan pikiran mampu terobati dengan melepas hidup yang serba terikat.
Dari yang anti-perempuan seperti ngobrol, apel, dan yang lainya, berubah menjadi
mabuk cewek. Ponsel yang tampaknya asing berubah menjadi teman yang setiap hari
menyertai, entah di mana dan kapan pun. Saya terdorong koleksi nomor-nomor
perempuan, hingga ngobrol berjam-jam atau kirim SMS.
Mengenal mereka tak lain untuk bikin rasa galau sedikit demi sedikit
terkurangi. Dua perempuan yang saya kenal, hingga bikin hati terpikat dan
terjalin dalam hubungan asmara. Perempuan yang pertama berkharakter agamis
tulen. Tampaknya anti menyelam dalam ikatan asrama (hubungan cinta). Saya tahu
saat membaca raut wajahnya dan cara dia bersikap. Selain itu, background
pendidikanya yang dimulai dari pedesaan serta jauh dari pergaulan bebas, bahkan
selektif dalam berteman. Dia berkometmen tidak ingin punya hubungan asmara
dengan lelaki karena troma yang membebani jiwa. Akhirnya, cinta saya diterima
setelah berbagai upaya saya perbuat. Tak lama, kira-kira hampir setahun, kita
sudah putus.
Terus, sakit hati menjamah jiwa saya. Pikiran bingung menemukan
penggantinya. Saya masih belum puas menempuh perjalanan ini. Sehingga, saya
terus melangkah. Entahlah, bagaimana hasilnya.
Di tengah jalan saya kenal dengan seorang perempuan yang dekat dengan
famili saya di pondok, bahkan mereka satu kamar. Mendengar cerita dan sepak
terjang pendidikannya serta support Mbak saya, saya semakin optimis
melangkah. Jalan sedang terbentang di hadapan mata, tinggal menjalani.
Mengingat cerita-cerita sepupu saya, dialah orang yang membenci
habis-habisan diri saya. Padahal, sejauh yang saya ingat, saya tak punya salah.
Aneh, bukan?
Kebenciannya dan support Mbak yang bikin saya terdorong melangkah. Pada
waktu liburan pondok saya coba komunikasi lewat telepon. Awalnya cuek banget,
tapi, akhirnya, semakin dekat. Kemudian, tukaran buku harian. Sungguh langkah
yang strategis untuk mengetahui isi hati seseorang.
Pada tahun 2013 buku harian itu sama dikembalikan. Milik saya yang telah
penuh dengan catatan hariannya dan miliknya yang saya pegang saling diserahkan
di Pakong. Pertemuan berlangsung berjam-jam. Tak terasa hati dibikin terpikat dan
terjatuh. Awal semua itu dari pertemuan ini. Hari berikutnya, Ahad, detik-detik
dia berada di pulau Madura, nafas cinta yang baru saja bersemi terpaksa bertaut
dalam jarak yang berjauhan di antara beda pulau sampai sekarang.
Hantaman badai selalu kita temukan. Terkadang kita hampir
terombang-ambing. Syukur, kita masih bisa bertahan. Sebab, badai merupakan
ujian dalam berproses hingga finis.
Entah kenapa kobaran semangat menyelam lebih dalam di samudera yang kaya
dengan permata-permata asmara, sedikit-sedikit tertelan masa yang semakin lama menjadi
ambruk. Saya sendiri bertanya-tanya. Apakah saya kecewa karenanya; kesan ibunya
yang sinis; jarak yang berjauhan; atau yang lainnya?
Saya butuh refleksi lebih jauh. Biarkan, nurani yang menjawabnya. Sebab, hanya
nuranilah, hati terdalam yang tak mungkin bersikap dusta.
“Karena kurang tulus,” nurani menjawab.[]
No comments:
Post a Comment