Tuesday, June 30, 2015

Bertanya pada Nurani



Dua hal yang berlawanan dalam kehidupan musti ada. Ada benci, ada cinta; ada baik, ada buruk; ada cantik, ada jelek; dan pemisalan yang serupa.

Kadang anda dipuji bahwa anda cantik atau diejek bermuka jelek. Kadang kala anda merasa benci sama seseorang, padahal orang itu tidak punya kasus atau masalah dengan diri anda atau tiba-tiba anda kagum, hingga tumbuh perasaan cinta. Nah, semua itu tak lepas dari gejolak atau perdebatan pikiran dan psikologi seseorang sebagai manusia yang terpaut dengan nafsu.

Tahun 2010 hingga 2014 awal, jiwa saya dibikin terombang-ambing dalam menentukan masa depan. Padahal sejak kecil, saya masih belum merasakan hidup se-njelimet itu. Sebab, yang saya tahu hanya butuh ilmu. Soal asmara tak penting untuk dipersoalkan. Biarkan itu datang dengan sendiri, pada saatnya saya jemput. Nurani saya meyakini.

Kegalauan pikiran mampu terobati dengan melepas hidup yang serba terikat. Dari yang anti-perempuan seperti ngobrol, apel, dan yang lainya, berubah menjadi mabuk cewek. Ponsel yang tampaknya asing berubah menjadi teman yang setiap hari menyertai, entah di mana dan kapan pun. Saya terdorong koleksi nomor-nomor perempuan, hingga ngobrol berjam-jam atau kirim SMS.

Mengenal mereka tak lain untuk bikin rasa galau sedikit demi sedikit terkurangi. Dua perempuan yang saya kenal, hingga bikin hati terpikat dan terjalin dalam hubungan asmara. Perempuan yang pertama berkharakter agamis tulen. Tampaknya anti menyelam dalam ikatan asrama (hubungan cinta). Saya tahu saat membaca raut wajahnya dan cara dia bersikap. Selain itu, background pendidikanya yang dimulai dari pedesaan serta jauh dari pergaulan bebas, bahkan selektif dalam berteman. Dia berkometmen tidak ingin punya hubungan asmara dengan lelaki karena troma yang membebani jiwa. Akhirnya, cinta saya diterima setelah berbagai upaya saya perbuat. Tak lama, kira-kira hampir setahun, kita sudah putus.

Terus, sakit hati menjamah jiwa saya. Pikiran bingung menemukan penggantinya. Saya masih belum puas menempuh perjalanan ini. Sehingga, saya terus melangkah. Entahlah, bagaimana hasilnya.

Di tengah jalan saya kenal dengan seorang perempuan yang dekat dengan famili saya di pondok, bahkan mereka satu kamar. Mendengar cerita dan sepak terjang pendidikannya serta support Mbak saya, saya semakin optimis melangkah. Jalan sedang terbentang di hadapan mata, tinggal menjalani.

Mengingat cerita-cerita sepupu saya, dialah orang yang membenci habis-habisan diri saya. Padahal, sejauh yang saya ingat, saya tak punya salah. Aneh, bukan?

Kebenciannya dan support Mbak yang bikin saya terdorong melangkah. Pada waktu liburan pondok saya coba komunikasi lewat telepon. Awalnya cuek banget, tapi, akhirnya, semakin dekat. Kemudian, tukaran buku harian. Sungguh langkah yang strategis untuk mengetahui isi hati seseorang.

Pada tahun 2013 buku harian itu sama dikembalikan. Milik saya yang telah penuh dengan catatan hariannya dan miliknya yang saya pegang saling diserahkan di Pakong. Pertemuan berlangsung berjam-jam. Tak terasa hati dibikin terpikat dan terjatuh. Awal semua itu dari pertemuan ini. Hari berikutnya, Ahad, detik-detik dia berada di pulau Madura, nafas cinta yang baru saja bersemi terpaksa bertaut dalam jarak yang berjauhan di antara beda pulau sampai sekarang.

Hantaman badai selalu kita temukan. Terkadang kita hampir terombang-ambing. Syukur, kita masih bisa bertahan. Sebab, badai merupakan ujian dalam berproses hingga finis.

Entah kenapa kobaran semangat menyelam lebih dalam di samudera yang kaya dengan permata-permata asmara, sedikit-sedikit tertelan masa yang semakin lama menjadi ambruk. Saya sendiri bertanya-tanya. Apakah saya kecewa karenanya; kesan ibunya yang sinis; jarak yang berjauhan; atau yang lainnya?

Saya butuh refleksi lebih jauh. Biarkan, nurani yang menjawabnya. Sebab, hanya nuranilah, hati terdalam yang tak mungkin bersikap dusta.

“Karena kurang tulus,” nurani menjawab.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...