Masih ingat dengan 15/9/1993 dan 3/9/1995? Sungguh. Ada
banyak hal yang dapat kuceritakan saat merenungkan dua tanggal lahir ini.
Unik
Pikiranku teringat dengan cerita Ade’ sendiri saat obrolan
berlangsung di ponsel. Awalnya tak sampai aku berpikiran seperti ini dan itu.
“Tanggal lahir kita kelihatan unik,” ketus Ade’ menyeka
lamunan.
“Maksudnya?!” tanyaku seraya menggerutkan kening. Kaget.
“Itu Bang, kan Abang lahir tanggal 15, sedangkan tahun
lahirnya, 1993. Angka 5 dan 3 kalo dibalik akan merujuk pada tanggal lahirku,”
jelasnya sedikit memberikan ruang pemahaman.
“I-iya. Aku ngerti. Jadi kalo dibalik jadinya, 3/9/95, kan?” ucapku membenarkan.
“Betul Bang.”
“Terus, untuk angka 1 sebelum angka 5 mengisyaratkan Tuhan.
Ya, Tuhan Maha Esa.” Imajinasiku berani merasionalkan angka satu itu. Memang
logis dianalogkan dengan sifatNya, wahdaniyah.
“Oyah,” tukasnya terkejut.
“Hemz... apalagi Tuhan itu bersemayam di dalam sir, hati
yang paling dalam dibandingkan lapisan-lapisan hati yang lain.”
“Ada-ada saja kamu, Bang,” ucapnya sedikit tak percaya. Aku
berhenti sejenak sambil menghirup udara. Senyum mulutku melebar.
Kemudian aku lanjutkan. “Ya Allah... ndak percaya? Kalo sir
itu adalah hati yang paling dalam? Aku pernah baca buku Filsafat
Pendidikan. Seingatku, hati manusia berlapis tujuh. Di antaranya, ada qalbun,
kabidun, dan yang terakhir sir. Nah, di dalam sir ini ada ana
yaitu Tuhan.”
Dia diam sekejap mencermati penjelasan itu. Seakan-akan
tampak hal mengganjal di dalam pikirannya. “Ya.” Dia akhirnya pro juga.
“Eh, Ade’ tau apa ANA itu?” decakku seakan-akan ada hal
penting yang ingin disampaikan.
“Emangnya kenapa dengan kata itu?” tanyanya pening.
“ANA tuh, Abang aNd Ade’,” tafsirku rasional banget. Aku pun
ikut bertanya-tanya, “Kok bisa aku tafsirin kata ANA dengan Abang aNd Ade’?”
Padahal sejak awal bahas tanggal lahir tak pernah terbersit kata ANA, apalagi
sampai menafsirkan. Sungguh imajinasi cemerlang!
“Hihihi.” Dia terkekeh-kekeh. Tafsir yang logis dan romantis
lagi.
“Kita bersyukur dong, ANA yang diambil dari bahasa
Arab, ana, bermakna “saya” dan maksudnya, Tuhan, moga saja tetap dalam
lindunganNya.” Aku menambal.
“Iya, Abang. Aku bangga Abangku bisa nafsirin seperti itu.”
Malam makin kelam. Kira-kira jam 24.00-an ke belakang kita
hanya menatap kerlip bintang di langit. Masya Allah, tub bintang buaayyak
banget, gumam batinku. Mata terasa kantuk. Tak kuasa menahan. Terpaksa off
obrolan. Lanjutkan besok saja. Selain itu, kita takut kesiangan.
Apalagi subuhnya dikorbankan. Sebaiknya, kita lanjutkan di dalam mimpi saja.
* * *
Hari berikutnya, obrolan kemarin malam tetap terkenang.
Selalu teringat dan terbersit di dalam pikir. Tak kuasa menepis. Memang,
kesannya ngarang atau “ada-ada saja” tanpa didasarkan atas referensi yang
jelas. Tapi, menafsirkan setiap pembahasan pada obrolan kemarin, hasrat tak
pernah mati. Kobaran semangat terus memotivasi.
Nelepon terus-menerus, hingga berjam-jam, dengan langganan
paket serbu (cukup pakai pulsa 1.000,-), perasaan mengeluh, “Bosan juga
ternyata.” Untuk menepis kegundahan jiwa, dibutuhkan suasana baru atau yang
terkesan berbeda. Kubuka Facebook. Tampak teman-teman online dari
yang dikenal hingga tidak diketahui siapa pemilik Facebook yang
sebenarnya. Karena, banyak pengguna jaringan sosial ini menggunakan nama
samaran.
Tulis status. Kometar status milik pengguna jaring sosial
yang lain. Konfirmasi permintaan pertemanan. Lihat-lihat beranda atau profil
milik sendiri atau orang lain.
Tuk menepis perasaan bosan, kutulis komentar di profil Ade’
dengan nama akun, Naila Aljazilah. “Eh, gimana kalo tanggal lahir Ade’
ditukar dengan milikku?” Sayangnya, tawaran itu tak dijawab langsung. Soalnya,
aku online pada waktu yang tidak bersamaan. Tapi, waktu berikutnya,
komentar bertandang di bawah. Aku tersenyum-senyum baca kalimat yang ditulis
dengan beragam emosi; antara fifty-fifty.
Tak lama, sejak kalimat itu diselipkan di profil Ade’, pada
hari yang lain, iseng-iseng kubuka Facebook. Memang, kebiasaanku begitu. Kadang
buka fb, kadang chatting melalui SMS atau ponsel langsung. Bisa saja
buka Facebook, selain hijrah dari keganjalan pikiran, karena uang lagi
menipis. Pulsa pun kosong alias tertulis dilayar Rp. 0 saat dicek *123# dengan
kartu XL. Atau di tengah malam karena kehabisan pulsa, sedangkan untuk beli,
pengisi pulsanya sedang bobok. Kasihan ganggu. Nurani menghalangiku phone dia.
Pokoknya, banyak alasan kenapa aku online di jejaring sosial (social
networking).
Teman Facebook-ku demikian. Saat kutanya, “OL?” Jawabnya,
“Kadang-kadang karena tidak punya pulsa untuk kirim SMS atau calling.” Pintar
juga mengatur keluar-masuk keuangan. Dari pada mati tertumpuk hutang, lebih baik cari alternatif lain. Salah
satunya, online di Facebook.
“Nggak... pokoknya aku tak pengen tukaran.” Tulisnya tepat di
bawah kalimat tawaran yang aku kirim jauh hari sebelumnya.
“Hehehe kok nggak berani? Katanya, Naila tuh orangnya
pemberani? Wkwkwk. Kan nantinya aku panggil “mbak”, sedangkan kamu panggil adik
padaku,” balasku iseng-iseng. Benakku yakin dia akan balas komentarku kembali.
“Terserah, pokoknya aku tak ingin tukaran.” Dia tetap atas
pendiriannya.
Syukur dia tidak menyetujui. Bagaimana jadinya kalau dia
mengiyakan? Pokoknya.... Lucu? Bisa jadi. Pasti aku akan menjadi adik,
sedangkan dia jadi mbak. Entahlah. Ini hanya kelakar doang. Tak perlu direspons
serius.
When September Ends
Selain tanggal dan tahun lahir, masih ada yang tesisa dari
jajaran angka di atas. Itu angka 9. Angka ini mengisyaratkan bulan September
sebagai bulan lahir aku dan Ade’. Takdir menyamakan bulan lahir kita. Yakini
saja. Tuhan sedang menyisipkan pesan positif. Pesan itu, jika aku tafsiri, tak
jauh berbeda saat dengar bulan Rabi’ul Awal. Ada apa dengan Rabi’ul Awal?
Begitu pula, ada ada apa dengan September?
Rabiul Awal merupakan bulan Nabi Muhammad lahir. Sejarah juga
menyebutkan beliau dilahirkan tepat pada hari Senin tanggal 12 (dua belas). Ada
banyak cerita yang tak kunjung pupus dari masa ke masa, terutama sejak memasuki
dan mengakhiri bulan Rabi’ul Awal.
Shalawat dilantunkan di penjuru dunia, mulai dari gubuk kecil
hingga masjid. Masyarakat berkumpul penuh gembira. Senyuman tersungging
mengembang. Mereka kelihatan akur. Seolah-olah nur ilahi dan syafa’at Nabi
Muhammad benar-benar menghujani ubun-ubun hingga masuk menelusup ke akar
nurani. Dingin rasanya. Tak terasa mereka diam, duduk atau berdiri, seraya
malantun syair (shalawat) yang ditulis oleh penyair yang cinta pada beliau.
Shalawat ala klasik hingga ala modern pun terdengar. Kusebut
shalawat ala klasik, karena shalawat itu hanya dilantunkan ala kadarnya, tidak
seperti shalawat ala modern yang dikemas dengan alat-alat musik. Sebut, terbang, tamtam (gendang), gitar, piano,
dan alat musik yang lain. Biasanya, bagi anak-anak muda, shalawat ala modern
lebih menarik perhatian dibandingkan shalawat ala klasik. Sedangkan, shalawat
ala klasik ini lebih diminati oleh orang-orang tua. Terserah mereka pilih yang
mana. Yang terpenting, sejauh hati merasakan kehadiran beliau serta pikiran
mengingat kelahirannya, perjugangannya, dan sunah-sunahnya. Tak penting untuk
memperdebatkan haram atau tidak pakai alat musik. Toh, ulama fiqh masih
terjadi ikhtilaf.
Dari saking cintanya pada Nabi, maulid nabi dirayakan secara
bergiliran, terutama di pedesaan. Tetangga dengan tetangga lain saling respons.
Sekarang maulid dirayakan di rumah tetangga ini; besoknya dimeriahkan di rumah
tetangga itu. Mereka saling mengundang. Terlihat kehidupan masyarakat yang
rukun. Tanpa ada sedikit pemusuhan.
Dengan kehidupan yang pas-pasan, apalagi yang ekonominya
menengah ke atas, selalu dibuat tersentuh saat memasuki bulan Rabi’ul Awal.
Mereka tidak merasa terpaksa. Tidak takut lapar atau kekurangan tuk membiayai
keluarga karena tidak punya uang. Takut berkurang harta kekayaannya. Sama
sekali tak pernah terlintas. Walau ada sebagian orang, tapi tak sampai
merengkut rasa ikhlas mereka untuk menyambut hari lahir beliau. Mungkin. Jasa
dan perjuangan beliau, yang banyak disebut di awal pidato atau apalah, bahwa
Muhammad adalah nabi yang mampu melepaskan manusia dari kekangan kebodohan
menjadi hamba yang dihiasi dengan warna-warni ilmu pengetahuan, benar-benar
terasa oleh mereka. Begitu pula mereka sangat mengharap syafa’at beliau di alam
Mahsyar nanti. Kerena, hanya syafa’at itu yang mampu mengangkis manusia dari
kesedihan yang tak terukur. Manusia kala itu sedang penuh dengan kebingungan.
Menjadi tradisi. Di pedesaan maulid nabi, selain dikemas
dengan iringan shalawat untuk memuji-muji Nabi, pun disertai dengan hidangan
buah-buhan yang bervariasi. Sebut, nanas, rambutan, apel, manggis, semangka, pisang, dan buah-buahan yang lain. Setahuku
tradisi itu sudah mengakar di sana, terutama di desaku. Memang dari
dulu-dulunya. Alasan masyarakat pakai buah-buahan, dalam sejarah maulid tak
pernah aku temukan hanya saja menyitir celoteh mulut ke mulut, bahwa
buah-buahan yang dihidangkan menyimbolkan buah-buahan yang tawar dulu sebelum
nabi dilahirkan. Sehingga, ketika beliau lahir, rasa tawar berubah menjadi
manis sebagaimana rasa masing-masing buah yang dihidangkan. Kalimat ini bisa
dibenarkan. Sebab, setahuku nabi Muhammad disebutkan dalam syair-syair
shalawat, anta basyarun la kal basyar. Engkau manusia, tapi tidak
seperti manusia ala kadarnya. Beliau makhluk yang dicipta dan memiliki
kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Coba baca sejarah beliau.
Pasti akan ditemukan keistimiwaan yang mencolok pada diri beliau. Misal,
diturunkannya kitab Al-Qur’an yang tak pernah kedaluwarsa; memiliki kelebihan
dibandingkan nabi-nabi yang lain; tercatat sebagai pemungkas para nabi; dan
yang lainnya. Bahkan Karen Amstrong, orang perempuan kristen, pernah menulis History
of Muhammad. Tak lain, karena dia tertarik melihat kepribadian beliau yang
memukau.
Itulah respons orang Islam menyambut Maulid Nabi (birthday
of Muhammad). Nah, selain berbangga serta mengingat hari lahir beliau, aku
(begitu pula Ade’) tak lupa sejak memasuki bulan September. Selain merayakan
hari ulang tahun (birthday), disibukkan pula dengan melakukan amal-amal
yang shaleh: ngaji, berdoa, tawassul, dan lain sebagainya. Tanggal lahir yang
amat dimeriahkan, yaitu tanggal 15/9/1993 dan 3/9/1995. Seluruh alam tahu kalau
tanggal 15 adalah tanggal lahirku, sedangkan 3 adalah tanggal lahir Ade’.
Semuanya mendoakan. Sayang, doa mereka, tak kudengar. Aku masih lemah memahami
bahasa binatang dan tumbuhan. Tidak seperti nabi Sulaiman yang mampu
bercakap-cakap dengan iblis dan paham terhadap bahasa binatang.
Banyak cerita yang dapat ditulis. Terasa indah menjelang
September. Inginnya semua bulan menjadi bulan September. Tapi, ini hanya
sekedar pengandaian semata, yang tak mungkin terjadi. Karena, disepakatilah,
dalam setahun ada dua belas bulan dengan sebutan yang berbeda. Sudahlah.
Sekalipun bulan September hanya terdiri dari 30 hari, nilainya persis satu tahu
atau lebih. Caranya perbanyak amal yang baik.
Waktu ke waktu tak terasa akhir September sudah ada di depan
mata. Aku diam. Merenungkan amalku selama jangka waktu yang begitu singkat. Tak
dikira alunan lagu When September Ends mengisahkan tangis dan sedih yang
tak kunjung pupus. Lagu yang dinyanyikan Sabrina menyita sejarah yang dapat aku
tulis dalam surat untuk Ade’ku, Naila. Di dalam diary-ku (Australian
Two, 30 September 2013), “Good bye, September,” tulisku.
Di dalam diary itu kutulis surat untuk Ade’. Begini
bunyinya.
....
Ade’...
Abang punya lagu dengan judul
“When September Ends”. Aku yakin, Ade’ pasti tahu dan hafal liriknya. Kan Ade’
artis? Hehehe boleh aku tulis lirik lagu tersebut. Biar kita dapat menyanyikan
bersama.
When September Ends
Summer has come and passed The
innocent can never last
wake me up when September ends
Like my fathers come to pass
even years has gone so fast
Wake me up when September ends
Here comes the rain again
falling from the stars drenched
In my pain again becoming who we are
As my memory rests but never
forgets what I lost wake me up When September ends
Summer has come and passed the
innocent can never last
Wake me up when September ends
Ring out the bells again like
we did when spring began
Wake me up when September ends
Here comes the rain again
falling from the stars
Drenched in my pain again
becoming who we are
As my memory rests but never
forgets what I lost
Wake me up when September ends
Summer has come and passed The
innocent can never last
Wake me up when September ends
Like my father's come to pass
twenty years has gone so fast
Wake me up when September ends
wake me up when September ends
wake me up when September ends
Dunia terus berputar. Aku (begitu pula Ade’) hanya menunggu
waktu berikutnya. Waktu yang menunjuk pada hari lahir kita.[]
No comments:
Post a Comment