Tuesday, June 30, 2015

Cerita Kita



Masih ingat dengan 15/9/1993 dan 3/9/1995? Sungguh. Ada banyak hal yang dapat kuceritakan saat merenungkan dua tanggal lahir ini.

Unik

Pikiranku teringat dengan cerita Ade’ sendiri saat obrolan berlangsung di ponsel. Awalnya tak sampai aku berpikiran seperti ini dan itu.

“Tanggal lahir kita kelihatan unik,” ketus Ade’ menyeka lamunan.

“Maksudnya?!” tanyaku seraya menggerutkan kening. Kaget.

“Itu Bang, kan Abang lahir tanggal 15, sedangkan tahun lahirnya, 1993. Angka 5 dan 3 kalo dibalik akan merujuk pada tanggal lahirku,” jelasnya sedikit memberikan ruang pemahaman.

“I-iya. Aku ngerti. Jadi kalo dibalik jadinya, 3/9/95, kan?” ucapku membenarkan.

“Betul Bang.”

“Terus, untuk angka 1 sebelum angka 5 mengisyaratkan Tuhan. Ya, Tuhan Maha Esa.” Imajinasiku berani merasionalkan angka satu itu. Memang logis dianalogkan dengan sifatNya, wahdaniyah.

“Oyah,” tukasnya terkejut.

“Hemz... apalagi Tuhan itu bersemayam di dalam sir, hati yang paling dalam dibandingkan lapisan-lapisan hati yang lain.”

“Ada-ada saja kamu, Bang,” ucapnya sedikit tak percaya. Aku berhenti sejenak sambil menghirup udara. Senyum mulutku melebar.

Kemudian aku lanjutkan. “Ya Allah... ndak percaya? Kalo sir itu adalah hati yang paling dalam? Aku pernah baca buku Filsafat Pendidikan. Seingatku, hati manusia berlapis tujuh. Di antaranya, ada qalbun, kabidun, dan yang terakhir sir. Nah, di dalam sir ini ada ana yaitu Tuhan.”

Dia diam sekejap mencermati penjelasan itu. Seakan-akan tampak hal mengganjal di dalam pikirannya. “Ya.” Dia akhirnya pro juga.

“Eh, Ade’ tau apa ANA itu?” decakku seakan-akan ada hal penting yang ingin disampaikan.

“Emangnya kenapa dengan kata itu?” tanyanya pening.

“ANA tuh, Abang aNd Ade’,” tafsirku rasional banget. Aku pun ikut bertanya-tanya, “Kok bisa aku tafsirin kata ANA dengan Abang aNd Ade’?” Padahal sejak awal bahas tanggal lahir tak pernah terbersit kata ANA, apalagi sampai menafsirkan. Sungguh imajinasi cemerlang!

“Hihihi.” Dia terkekeh-kekeh. Tafsir yang logis dan romantis lagi.

“Kita bersyukur dong, ANA yang diambil dari bahasa Arab, ana, bermakna “saya” dan maksudnya, Tuhan, moga saja tetap dalam lindunganNya.” Aku menambal.

“Iya, Abang. Aku bangga Abangku bisa nafsirin seperti itu.”

Malam makin kelam. Kira-kira jam 24.00-an ke belakang kita hanya menatap kerlip bintang di langit. Masya Allah, tub bintang buaayyak banget, gumam batinku. Mata terasa kantuk. Tak kuasa menahan. Terpaksa off obrolan. Lanjutkan besok saja. Selain itu, kita takut kesiangan. Apalagi subuhnya dikorbankan. Sebaiknya, kita lanjutkan di dalam mimpi saja.

* * *
Hari berikutnya, obrolan kemarin malam tetap terkenang. Selalu teringat dan terbersit di dalam pikir. Tak kuasa menepis. Memang, kesannya ngarang atau “ada-ada saja” tanpa didasarkan atas referensi yang jelas. Tapi, menafsirkan setiap pembahasan pada obrolan kemarin, hasrat tak pernah mati. Kobaran semangat terus memotivasi.

Nelepon terus-menerus, hingga berjam-jam, dengan langganan paket serbu (cukup pakai pulsa 1.000,-), perasaan mengeluh, “Bosan juga ternyata.” Untuk menepis kegundahan jiwa, dibutuhkan suasana baru atau yang terkesan berbeda. Kubuka Facebook. Tampak teman-teman online dari yang dikenal hingga tidak diketahui siapa pemilik Facebook yang sebenarnya. Karena, banyak pengguna jaringan sosial ini menggunakan nama samaran.

Tulis status. Kometar status milik pengguna jaring sosial yang lain. Konfirmasi permintaan pertemanan. Lihat-lihat beranda atau profil milik sendiri atau orang lain.

Tuk menepis perasaan bosan, kutulis komentar di profil Ade’ dengan nama akun, Naila Aljazilah. “Eh, gimana kalo tanggal lahir Ade’ ditukar dengan milikku?” Sayangnya, tawaran itu tak dijawab langsung. Soalnya, aku online pada waktu yang tidak bersamaan. Tapi, waktu berikutnya, komentar bertandang di bawah. Aku tersenyum-senyum baca kalimat yang ditulis dengan beragam emosi; antara fifty-fifty.

Tak lama, sejak kalimat itu diselipkan di profil Ade’, pada hari yang lain, iseng-iseng kubuka Facebook. Memang, kebiasaanku begitu. Kadang buka fb, kadang chatting melalui SMS atau ponsel langsung. Bisa saja buka Facebook, selain hijrah dari keganjalan pikiran, karena uang lagi menipis. Pulsa pun kosong alias tertulis dilayar Rp. 0 saat dicek *123# dengan kartu XL. Atau di tengah malam karena kehabisan pulsa, sedangkan untuk beli, pengisi pulsanya sedang bobok. Kasihan ganggu. Nurani menghalangiku phone dia. Pokoknya, banyak alasan kenapa aku online di jejaring sosial (social networking).

Teman Facebook-ku demikian. Saat kutanya, “OL?” Jawabnya, “Kadang-kadang karena tidak punya pulsa untuk kirim SMS atau calling.” Pintar juga mengatur keluar-masuk keuangan. Dari pada mati tertumpuk hutang, lebih baik cari alternatif lain. Salah satunya, online di Facebook.

“Nggak... pokoknya aku tak pengen tukaran.” Tulisnya tepat di bawah kalimat tawaran yang aku kirim jauh hari sebelumnya.

“Hehehe kok nggak berani? Katanya, Naila tuh orangnya pemberani? Wkwkwk. Kan nantinya aku panggil “mbak”, sedangkan kamu panggil adik padaku,” balasku iseng-iseng. Benakku yakin dia akan balas komentarku kembali.

“Terserah, pokoknya aku tak ingin tukaran.” Dia tetap atas pendiriannya.

Syukur dia tidak menyetujui. Bagaimana jadinya kalau dia mengiyakan? Pokoknya.... Lucu? Bisa jadi. Pasti aku akan menjadi adik, sedangkan dia jadi mbak. Entahlah. Ini hanya kelakar doang. Tak perlu direspons serius.

When September Ends
Selain tanggal dan tahun lahir, masih ada yang tesisa dari jajaran angka di atas. Itu angka 9. Angka ini mengisyaratkan bulan September sebagai bulan lahir aku dan Ade’. Takdir menyamakan bulan lahir kita. Yakini saja. Tuhan sedang menyisipkan pesan positif. Pesan itu, jika aku tafsiri, tak jauh berbeda saat dengar bulan Rabi’ul Awal. Ada apa dengan Rabi’ul Awal? Begitu pula, ada ada apa dengan September?

Rabiul Awal merupakan bulan Nabi Muhammad lahir. Sejarah juga menyebutkan beliau dilahirkan tepat pada hari Senin tanggal 12 (dua belas). Ada banyak cerita yang tak kunjung pupus dari masa ke masa, terutama sejak memasuki dan mengakhiri bulan Rabi’ul Awal.

Shalawat dilantunkan di penjuru dunia, mulai dari gubuk kecil hingga masjid. Masyarakat berkumpul penuh gembira. Senyuman tersungging mengembang. Mereka kelihatan akur. Seolah-olah nur ilahi dan syafa’at Nabi Muhammad benar-benar menghujani ubun-ubun hingga masuk menelusup ke akar nurani. Dingin rasanya. Tak terasa mereka diam, duduk atau berdiri, seraya malantun syair (shalawat) yang ditulis oleh penyair yang cinta pada beliau.

Shalawat ala klasik hingga ala modern pun terdengar. Kusebut shalawat ala klasik, karena shalawat itu hanya dilantunkan ala kadarnya, tidak seperti shalawat ala modern yang dikemas dengan alat-alat musik. Sebut, terbang, tamtam (gendang), gitar, piano, dan alat musik yang lain. Biasanya, bagi anak-anak muda, shalawat ala modern lebih menarik perhatian dibandingkan shalawat ala klasik. Sedangkan, shalawat ala klasik ini lebih diminati oleh orang-orang tua. Terserah mereka pilih yang mana. Yang terpenting, sejauh hati merasakan kehadiran beliau serta pikiran mengingat kelahirannya, perjugangannya, dan sunah-sunahnya. Tak penting untuk memperdebatkan haram atau tidak pakai alat musik. Toh, ulama fiqh masih terjadi ikhtilaf.

Dari saking cintanya pada Nabi, maulid nabi dirayakan secara bergiliran, terutama di pedesaan. Tetangga dengan tetangga lain saling respons. Sekarang maulid dirayakan di rumah tetangga ini; besoknya dimeriahkan di rumah tetangga itu. Mereka saling mengundang. Terlihat kehidupan masyarakat yang rukun. Tanpa ada sedikit pemusuhan.

Dengan kehidupan yang pas-pasan, apalagi yang ekonominya menengah ke atas, selalu dibuat tersentuh saat memasuki bulan Rabi’ul Awal. Mereka tidak merasa terpaksa. Tidak takut lapar atau kekurangan tuk membiayai keluarga karena tidak punya uang. Takut berkurang harta kekayaannya. Sama sekali tak pernah terlintas. Walau ada sebagian orang, tapi tak sampai merengkut rasa ikhlas mereka untuk menyambut hari lahir beliau. Mungkin. Jasa dan perjuangan beliau, yang banyak disebut di awal pidato atau apalah, bahwa Muhammad adalah nabi yang mampu melepaskan manusia dari kekangan kebodohan menjadi hamba yang dihiasi dengan warna-warni ilmu pengetahuan, benar-benar terasa oleh mereka. Begitu pula mereka sangat mengharap syafa’at beliau di alam Mahsyar nanti. Kerena, hanya syafa’at itu yang mampu mengangkis manusia dari kesedihan yang tak terukur. Manusia kala itu sedang penuh dengan kebingungan.

Menjadi tradisi. Di pedesaan maulid nabi, selain dikemas dengan iringan shalawat untuk memuji-muji Nabi, pun disertai dengan hidangan buah-buhan yang bervariasi. Sebut, nanas, rambutan, apel, manggis, semangka, pisang, dan buah-buahan yang lain. Setahuku tradisi itu sudah mengakar di sana, terutama di desaku. Memang dari dulu-dulunya. Alasan masyarakat pakai buah-buahan, dalam sejarah maulid tak pernah aku temukan hanya saja menyitir celoteh mulut ke mulut, bahwa buah-buahan yang dihidangkan menyimbolkan buah-buahan yang tawar dulu sebelum nabi dilahirkan. Sehingga, ketika beliau lahir, rasa tawar berubah menjadi manis sebagaimana rasa masing-masing buah yang dihidangkan. Kalimat ini bisa dibenarkan. Sebab, setahuku nabi Muhammad disebutkan dalam syair-syair shalawat, anta basyarun la kal basyar. Engkau manusia, tapi tidak seperti manusia ala kadarnya. Beliau makhluk yang dicipta dan memiliki kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Coba baca sejarah beliau. Pasti akan ditemukan keistimiwaan yang mencolok pada diri beliau. Misal, diturunkannya kitab Al-Qur’an yang tak pernah kedaluwarsa; memiliki kelebihan dibandingkan nabi-nabi yang lain; tercatat sebagai pemungkas para nabi; dan yang lainnya. Bahkan Karen Amstrong, orang perempuan kristen, pernah menulis History of Muhammad. Tak lain, karena dia tertarik melihat kepribadian beliau yang memukau.

Itulah respons orang Islam menyambut Maulid Nabi (birthday of Muhammad). Nah, selain berbangga serta mengingat hari lahir beliau, aku (begitu pula Ade’) tak lupa sejak memasuki bulan September. Selain merayakan hari ulang tahun (birthday), disibukkan pula dengan melakukan amal-amal yang shaleh: ngaji, berdoa, tawassul, dan lain sebagainya. Tanggal lahir yang amat dimeriahkan, yaitu tanggal 15/9/1993 dan 3/9/1995. Seluruh alam tahu kalau tanggal 15 adalah tanggal lahirku, sedangkan 3 adalah tanggal lahir Ade’. Semuanya mendoakan. Sayang, doa mereka, tak kudengar. Aku masih lemah memahami bahasa binatang dan tumbuhan. Tidak seperti nabi Sulaiman yang mampu bercakap-cakap dengan iblis dan paham terhadap bahasa binatang.

Banyak cerita yang dapat ditulis. Terasa indah menjelang September. Inginnya semua bulan menjadi bulan September. Tapi, ini hanya sekedar pengandaian semata, yang tak mungkin terjadi. Karena, disepakatilah, dalam setahun ada dua belas bulan dengan sebutan yang berbeda. Sudahlah. Sekalipun bulan September hanya terdiri dari 30 hari, nilainya persis satu tahu atau lebih. Caranya perbanyak amal yang baik.

Waktu ke waktu tak terasa akhir September sudah ada di depan mata. Aku diam. Merenungkan amalku selama jangka waktu yang begitu singkat. Tak dikira alunan lagu When September Ends mengisahkan tangis dan sedih yang tak kunjung pupus. Lagu yang dinyanyikan Sabrina menyita sejarah yang dapat aku tulis dalam surat untuk Ade’ku, Naila. Di dalam diary-ku (Australian Two, 30 September 2013), “Good bye, September,” tulisku.

Di dalam diary itu kutulis surat untuk Ade’. Begini bunyinya.
....
Ade’...
Abang punya lagu dengan judul “When September Ends”. Aku yakin, Ade’ pasti tahu dan hafal liriknya. Kan Ade’ artis? Hehehe boleh aku tulis lirik lagu tersebut. Biar kita dapat menyanyikan bersama.

When September Ends
Summer has come and passed The innocent can never last
wake me up when September ends
Like my fathers come to pass even years has gone so fast
Wake me up when September ends
Here comes the rain again falling from the stars drenched
 In my pain again becoming who we are
As my memory rests but never forgets what I lost wake me up When September ends
Summer has come and passed the innocent can never last
Wake me up when September ends
Ring out the bells again like we did when spring began
Wake me up when September ends
Here comes the rain again falling from the stars
Drenched in my pain again becoming who we are
As my memory rests but never forgets what I lost
Wake me up when September ends
Summer has come and passed The innocent can never last
Wake me up when September ends
Like my father's come to pass twenty years has gone so fast
Wake me up when September ends
wake me up when September ends
wake me up when September ends

Dunia terus berputar. Aku (begitu pula Ade’) hanya menunggu waktu berikutnya. Waktu yang menunjuk pada hari lahir kita.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...