Suatu pagi mendorongku beranjak dari duduk lama berserta buku bacaan tak kunjung selesai-selesai. Asyik mengeja kata perkata rasanya tidak ingin berhenti menyelami kalimat yang kaya dengan makna. Jeratan kebodohan sedikit terkelupas karena pesan Al-Qur’an ini, iqra’. Membaca. Seakan-akan pikiran menemukan referensi. Tak gugup dan takut dihadapkan dengan varian kasus.
“Udah pukul berapa?” gumam pikiranku menyetop konsentrasi membaca.
Berhenti sebentar. Buku bacaan ditutup dan aku keluar lihat jam. Ternyata...
jam dinding menunjuk kira-kira pukul 10.30.
Aku baru sadar kalau sekarang ada UAS jam 3. Setahuku jam 3 adalah pukul
11.15. Begitulah aturan jam yang digunakan untuk jam masuk kampus di INSTIKA
(Institut Ilmu Keislaman Annuqayah).
“Ada UAS jam 3?” tanyaku pada seorang teman yang kebetulan juga mahasiswa
di kampus tersebut.
“Ada.” Ia jawab dengan singkat.
“Kok belum siap-siap?”
“Lho, emangnya pukul berapa masuk?”
“Pukul 11.15.”
“Pukul 13.00 tau.”
Pikiranku bertanya-tanya. Ingin lihat jadwal UAS, sayang aku tidak nyatat.
Hanya saja lihat di papan pengumuman.
“Kamu jangan bercanda?!”
“Ya udah kalau tidak percaya. Temanku yang kebetulan UASnya jam 3
berangkat jam 13.00.”
“Tunggu. Aku tanya dulu sama teman sejurusan.” Aku memotong pembicarannya.
Kemudian, aku beranjak cari teman-teman. Dikunjungi ke kamar masing-masing,
sayang mereka tidak ada. Kata teman kamar mereka mereka lagi keluar. Tapi,
mereka tidak tahu ke mana mereka pergi.
“Aduh....” Pikiranku morat-marit, “Mungkin... dia berangkat ke kampus.”
Tanpa banyak perhitungan aku kembali ke kamar seraya mengambil peci
nasional, baju, celana, dan jas almamater kampus. Terus, aku berangkat dalam
keadaan tidak bersiram. Kondisi tubuh sedikit terasa tidak fit. Berangkat
sendiri. Celoteh teman-teman tak mengusik gendang telinga.
Tiba di kampus dalam keadaan ngos-ngosan. Pandangan diedarkan ke
sela-sela kampus tak ada gelagat mahasiswa, begitu pula teman-teman sejurusan. Suasana tak
seramai biasanya. Waktu masuk kuliah atau ada UAS.
“Lho, dia kan...?!” gumam batinku dengan mata terbelalak. Dilihatlah
Basit, salah satu teman sejurusan.
“Uuui udah masuk?” panggilku lantang seraya melambaikan tangan.
“Kok ndak ada teman-teman sama sekali?” jawabnya bingung.
Kita sama-sama dalam kebingungan. Yang benar yang mana? UAS untuk jam
3, sekarang, atau nanti pukul 13.00-an? Debat batinku. Tanpa berlama-lama,
kubalikkan badan dan lari menuju papan pengumuman di belakangku
berdiri seraya panggil temanku tadi.
Kubuka mata lebar-lebar. Dicarilah jadwal UAS Jurusan Tafsir Hadits.
Sebentar ditemukan. Benar jam 3 untuk materi Fiqh 3, tepat pukul 13.00. “Masih
nanti.” Batinku membenarkan.
Ini akibat tidak nulis jadwal. Tapi, batinku masih belum yakin seratus
persen. Seorang Staf kampus mondar-mandir lewat di sampingku.
“Bapak,” panggilku lirih.
“Ada apa?” jawabnya santun.
“Jam 3 UAS, pukul 13.00 ya pak?” tanyaku sambil menatap wajah si bapak.
“Ea dik.”
“Makasih pak.”
Sejak itulah kucatat jadwal UAS lengkap dengan jamnya. Pikiran sial dan misunderstanding
tidak terjadi kembali. Udah dicatat. Pulanglah. Sambil menyusuri jalan, sepeda motor lewat dengan letupan bunyi kenalpot.
Pikiran menerawang seketika. Diraihlah imajinasi menarik hingga sampai di
pondok, rasanya asyik menyelam di dalamnya. Sejatinya, imajinasi itu tak lain
dan tak bukan rencana kunjunganku ke rumah Ade’ di bulan Ramadlan nanti. Begini
ceritanya.
Sejak baru aku nyampek di Situbondo beserta temanku yang mengantarkan aku
nyampek di sini, ponsel diaktifkan.
“Ade’ aku udah nyampek di Situbondo,” ucapku dengan ponsel ditempelkan di
telinga kanan.
“Apa bang?!” sahutnya terkejut. Tak dikira seorang laki-laki yang menjadi
tangkai hatinya sudah ada kabar nyampek dekat rumahnya. Betapa tidak membuncah
dan tumpah perasaan rindu yang dipendam berbulan-bulan usai pertemuan di
kecamatan Pakong dekat masjid. Wajah yang terlihat anggun, dan sejuk dalam
pandangan tak tampak kembali. Hanya saja sekedar hadir dalam imajinasi, dan
mimpi. Selain itu, hanya komunikasi lewat telepon, Facebook, atau surat
yang diposkan.
“Abang ndak bohong kan?” tanyanya seakan-akan tidak percaya. Tak terbayang
jarak yang amat jauh, dari Madura ke Situbondo, dapat ditempuh
karena dorongan cinta yang kuat.
“Ya Allah Ade’, kenapa Abang harus bohong ama Ade’. Abang udah nyampek di
Situbondo. Kata temaku, Abang berdiri tak jauh dari rumah Ade’,” sanggahku
serius.
“Tunggu dulu Abang, aku mau ngambil sepeda motor untuk jemput Abang.
Sekarang Abang ada di mana? Maksudku, dekat rumahku bagian mana?” tanyanya
terus.
“Depan rumahnya,” sahut temanku yang mulai tadi berdiri dan mendengarkan
obrolanku.
“Depan rumah Ade’.”
Tak lama seorang perempuan dengan pakai kerudung, baju, dan rok yang serba
purple keluar dari pekarangan rumahnya sambil mengendarahi sepada Meo.
Batinku berkutik dia pasti Ade’. Ya, Ade’ Naila. Mataku terbelalak. Tak
berkedip. “Ade’...,” sahut batinku.
Dia kelihatan tambah cantik, imut, anggun, dan manis lagi.
“Ade’...,” panggilku dengan suara melengking.
“Abang...,” balasnya usai melihatku dengan muka menoleh. Kemudian, dia
membelokkan sepeda yang dinaiki dan menuju tempak aku berdiri.
Sampai di depanku, dia menghetikan sepedanya. Terus, dia turun dan peluk
tubuhku erat-erat. Seakan-akan tak ingin ia lepas. Tetesan air mata tak
henti-hentinya menetes membasahi muka dan pundakku.
“Abang...,” ucapnya terbata-bata. Seluruh rasa rindu berteduh dengan sempurna.
“Ade’ udah dulu. Tak enak dilihat orang,” ujarku kemudian. Pelukan dilepas
dengan pelan-pelan. Deraian air mata tetap menetes.
“Abang...,” panggilnya seraya menangis.
Tak kuasa melihat isak tangis yang membungkam. Inginnya air mataku
memuncrat. Tapi, aku menahannya. Aku harus kuat. Sapu tangan yang berlipat rapi
di kantong baju, kuambil dan kusapukan ke muka Ade’ yang sembab dengan tetesan
air mata.
“Ade’, udah dulu tangisnya. Abang ingin lihat Ade’ tersenyum. Karena Ade’
semakin cantik, jika Ade’ tersenyum. Sungguh.”
Deraian air mata yang membasahi muka, udah tiada, karena usapan sapu
tangan. Sapu tangan itu sedang dalam genggaman telapak tangan. Tangan merasakan
isapan air mata yang penuh dengan ketulusan.
“Abang.... Terima kasih ya, Bang,” ucapnya sedikit terbata-bata karena sisa
tangis. Dia semakin kelihatan kembali seperti semula. Senyuman tersungging
dikit-dikit.
“Tu kan, kalau Ade’ senyum kayak gini pasti orang di seluruh dunia bilang
kalau Naila makin tambah cantik, apalagi Abangnya,” komentarku bernada alay.
Temanku hanya berdiri mematung di samping kita. Dia pura-pura pijat-pijat
ponsel. Padahal, mulai tadi sedang melihat-lihat gelagat kita berdua. Udahlah.
“Bang, dia siapa?” tanyanya sambil mengarahkan telunjuknya ke temanku.
“Dia temanku, Halim, yang mengantarkanku ke sini.”
“Kok bisa tahu?”
“Satu tahu sebelumnya, dia pernah cerita kalau Halim punya famili di sini.
Kebetulan dia tahu rumah Ade’ kalau hanya sekitaran kabupaten Situbondo. Terus,
dia selalu ngajak Abang untuk main ke rumah Ade’. Abang hanya bilang, isya
Allah tahun mendatang jika ada kesempatan. Ya, al-hamdulillah Tuhan menakdirkan
Abang nyampek di rumah Ade’,” jelasku.
“Bang, mari ke rumah dulu. Umi dan abah udah nunggu,” ajak Ade’ dan
mengangkatkan kakinya menghampiri sepeda Meo yang diam sejak tadi.
“Tunggu. Bentar dulu,” cegahku memberhentikan langkahnya, “Kok bisa mereka nunggu kita?”
“Abang, Naila udah cerita pada abah dan umi, kalau Naila punya Abang yang
baik dan perhatian di Madura. Awalnya, orang tuaku tidak percaya, terutama
umiku sendiri yang teroma banget ama orang Madura. Tapi, setiap mereka ngirim
Naila di pondok, Naila selalu ceritakan tentang Abang ke abah dan umi.
Akhirnya, mereka merasa ingin tahu seperti siapa sebenarnya orang yang selalu
diceritakan oleh Naila?” Dia jelaskan panjang-lebar.
“Mari bang. Ayo dik!” ajaknya lagi kepadaku dan Halim.
“Sir[1],
aku malu,” sahutnya menarik legan tanganku.
“Lim, kalau kamu malu, justru aku lebih malu dari kamu. Kan kamu orang
sini?” sanggahku lirih.
“Mari Abang,” ajaknya ketiga kalinya.
Akhirnya kami langkahkan kaki seraya menuju rumah yang kelihatan sederhana
sejauh mata memandang. Di depannya dihias dengan pohon bongsai, dan bunga-bunga
indah. Sedangkan, Ade’ mengendarahi sepeda dan parkir sopeda itu persis di
halaman depan rumah.
“Abah, umi, Ini Abang Khalil yang sering Naila ceritakan,” panggil Ade’
tergepoh-gepoh menuju ke arah abahnya yang sedang berdiri mematung di
hadapanku.
Aku sampai di halaman depan rumah itu dengan gendongan ransel yang berisi pakaian dan bungkasan kado untuk Ade’.
“Assalamu’alaikum,” sapaku pelan.
“Waalaikum salam,” balas mereka ramah.
“Silahkan duduk dulu, nduk,” ujar abah Ade’ mempersilahkan aku duduk di
kursi yang tersedia. Aku tahu, itu tempat tamu ala Jawa.
“Silahkan Bang,” ajak Ade’ memaksa seakan-akan dia menarik tanganku, tapi
kelakuan tak boleh itu dapat dihindari.
Engki, balasku lirih.
Sandal dilepas di halaman kemudian menuju tempat duduk yang tersedia dan
tertata rapi. Kesannya kehadiranku mendapat sambutan hangat dan hormat. Aku dan
Halim duduk. Begitu pula abah Ade’ duduk di depanku. Tatapan mukanya tampak
lurus pada mukaku yang tak kuasa mendongak. Mulut hanya bungkam. Sepatah kata
pun tak mampu diucap. Ade’ dan uminya sedang ke dalam. Tak tahu mereka sedang
ngerjakan apa.
“Nduk ini siapa?” tanya abah padaku.
“Khalil abah,” jawabku lirih.
“Sampean?” tanyanya pada temanku. Pandangan mukanya dialihkan ke arah
Halim.
“H-halim.”
“Sejak pukul berapa berangkat dari Madura?” Aku terkejut dengar pulau
Madura disebut-sebut. Kok bisa tahu kalau kita dari Madura? Pasti, Ade’
sudah bilang sama abah dan uminya sebelum kita tiba di sini.
“Kira-kira pukul 8.00 pagi kemarin.”
“Jauh benar. Saya juga dari Madura. Tapi, saya tinggal di sini karena saya
bangun rumah tangga di Situbondo.” Abah itu mulai bercerita.
“Madura mana abah?”
Kepalaku semakin ditatapkan pada
wajah abah. Raut wajah tampak mata memandangnya.
“Kecamatan Pakong.” Pakong.... Batinku berdesis.
“Jarang pulang ke sana engki abah?”
“Ya begitulah. Inginnya, kunjung ke rumah serta sowan ke kiai di Madura,
tapi di sini saya sibuk.... Ada banyak tugas yang belum terselesaikan. Ngajar.
Bimbing siswa SD. Apalagi dari sini ke sana sangat jauh. Hanya saja hari raya
atau ada acara penting di sana. Itu pun tak pasti. Hanya kadang-kadang.”
Kemudian disusul dengan Ade’ membawa cangkir yang berisi teh atau kopi.
Dia menuju tempat kita duduk. Tiga cangkir disodorkan di depanku, Halim dan
abahnya.
“Silahkan diminum dulu tehnya,” suruhnya. Dia letakkan talam sebagai
tempat dibawanya cangkir yang tersentuh panas teh yang mengepul. Kemudian, dia
duduk dekat abahnya.
“Sejak kapan nduk kenal sama mereka?” tanya si abah menyeka
keheningan.
“Abah... Naila kenal Abang sudah lama. Sejak dia mondok di Annuqayah,
kira-kira tahun 2009, dia pernah phone saya lewat telepon pesantran
karena ada kepentingan organisasi. Terus saya tanya sama teman-teman pondok,
ternyata dia punya ikatan famili dengan mbak yang saaaangat saya kasengkai. Namanya
mbak Uuk. Terus, dia lagi punya adik sepupu. Aku panggil dik Ulfah.
Dik Ulfah itu abah sangat dekat sama Naila. Kalau Naila boleh jujur abah, saya
sama dik Ulfah persis seperti kakak dan adik. Pokoknya dekat, begitu abah,”
ceritanya membikin abahnya termangu.
“Silahkan diminum dulu tehnya,” perintah si abah kemudian.
Ya, teh yang hangat kuku diseruput. Hangat terasa di mulut dan kepulan asapnya
menyeruak masuk lubang hidung. Rasa manis sedikit menghilangkah rasa dahaga.
Karena, dari tadi turun dari bus, sedikit pun mulut tak menyentuh air.
“Al-Hamdulillah,” ucap kita bergiliran.
Tak lama, hidangan nasi sudah siap. “Ila...,” panggil uminya dari dalam.
Aku yakin dia sedang ada di kamar makan sedang mempersiapkan sesuatu.
“Iya Umi....” Ade’ beranjak menunjung arah panggilan itu.
“Suruh mereka makan dulu,” ujarnya memerintah.
“Iya Umi.”
Ade’ kembali ke tempat kita tadi.
“Abah, hidangannya udah siap. Kata umi disuruh makan dulu,” ujar Ade’ pada
abahnya dengan suara lirih.
“Mari makan dulu,” ajak si abah.
Kemudian kita beranjak bersama menuju tempat makan. Makan ala Jawa tak
jauh berbeda dari makanan ala Madura. Hanya saja perbedaannya sedikit.
Di tempat itulah, kita makan bersama: abah, aku, dan Halim. Ade’ sedang
menemani uminya di dapur. Kelihatannya mereka sedang sibuk.
Tak lama makannya, dibasuhlah tangan yang berlumuran minyak, ikan goreng,
dan semacamnya.
“Kok udah berhenti?” tanya abah
“Udah kenyang.” Aku kira makanku tidak begitu banyak. Tidak seperti makan
sewaktu ada di rumah atau di pondok. Makan sepuasnya. Tapi, aku merasa sungkan
tuk ngabisin makanan sepiring penuh.
Tak lama, mereka menyusul. Berhenti makan. Kemudian abah keluar. Tak tahu
dia pergi ke mana. Tiba-tiba Ade’ beserta uminya menghampiri kita yang masih
tetap diam di ruang makan.
“Kok cepat makannya?” tanya umi.
“Sudah cukup Umi. Makasih.” Sahutku.
“Eeem, kalian temannya Ila ya?” sambar umi dengan menyebut-nyebut ‘Ila’.
Aku tahu sebutan itu tak lain adalah panggilan untuk Ade’ di sana. Dia pernah
cerita setahun sebelumnya.
“I-iya umi,” jawabku dengan muka menunduk. Aku tak berani mengumbar
kata-kata, apalagi nyebut-nyebut nama Madura. Toh, Ade’ tadi cerita
kalau abah dan uminya sudah tak membenci orang Madura kembali, benakku masih
bimbang. Pun aku panggil dia umi begitu pula panggil ayah Ade’ dengan sebutan
abah, karena dua sebutan itu tak jauh berbeda dengan cara aku panggil ayah dan
ibuku dengan sebutan abah dan umi juga. Aku pikir sebutan abah dan umi adalah
sebutan yang sopan.
“Dari Madura ya?” tanya umi nyebut-nyebut nama Madura. Hatiku gemetar.
Dag-dig-dug. Diriku khawatir dia memarahiku.
“I-y-a u-m-i,” ucapku terbata-bata.
“Lho, kok gugup gitu, Ila?” tanyanya pada Naila.
“Gini umi, dulu Ila pernah cerita kalo umi amat membenci orang Madura.
Abang itu ketakutan ama umi,” jelas Ade’ kemudian.
Umi tersenyum mendengar perjelasan putri sulungnya. “Nduk... jangan
takut lagi ya ama umi. Apalagi umi ini bukan harimau yang akan menerkam kalian,
nduk,” ujarnya menenangkan. Apalagi umi panggil aku “nduk”. Aku
tahu itu panggilan untuk anak. Kepala sedikit mendongak. Tatapan wajah umi
mampu aku raih. Muka yang anggun tak jauh dari muka Sitti Khadijah yang mampu
menaklukkan hati Nabi Muhammad. Mulut sedikit menggembang. Senyuman
tersungging.
Aku tidak mengira orang Jawa sebaik itu. Cepat akrab dengan seseorang. Aku
teringat sejak pertama kali Ade’ mengenalku dulu. Dia panggil aku sebutan
“Abang” apalagi teman-teman yang kenal dengannya dipanggil “kakak” dan “adik”.
Panggilan seperti itu di Madura tak mudah disisipkan pada nama seseorang,
kecuali memang betul-betul jelas memiliki ikatan famili. Sebab, panggil ‘adik’
atau ‘kakak’, sedangkan di antara dua orang tidak punya ikatan famili yang
jelas, bisa jadi akan berakibat pada ikatan asmara. Begitu sejoli memanggil.
Dirasakan panggilan itu terdengar romantis dan memperjelas status ikatan asmara
di antara mereka.
“Makasih umi. Umi amat baik sama kita.”
“Sudahlah. Jangan diungkit-ungkit. Hanya ini adanya.”
“Mi, teman Abang punya famili dekat sini,” sahut Ade’ menyela obrolan.
“Tuh dia orangnya,” ucapnya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Halim
duduk.
“Iya.”
“Siapa namanya, Ila?” tanyanya. Mungkin umi agak sungkan jika tanya
langsung.
“Halim umi.”
“Halim,” ucapnya mengulangi, “nduk dari Madura juga ya?”
“Iya.”
“Madura mana?”
“Dekat Guluk. Di Lenteng.”
Pikiran umi menerawang kelamaan. “Udah umi. Umi ndak bakalan tahu
kecamatan Lenteng itu. Soalnya, umi jarang ke Madura,” cegat Ade’ menghentikan
lamunan umi.
“Kata Ila, nduk punya famili di sini. Jika umi boleh tahu di mana
ya?” Umi menyodorkan pertanyaan yang lain.
“Dekat sini umi. Jalan kaki lima menitan insya Allah nyampek,” ucap
Halim sambil mengarahkan ibu jarinya ke arah kanan.
Kini baru selesai azan Dhuhur. Jam menunjuk pukul 13.00-an. “Umi gimana
kalo Abang ama Halim shalat dulu? Setelah ini Ila pengin ajak mereka
jalan-jalan sekitar sini,” usul Ade’.
“Bagus tuh. Ila temani mereka ya. Soalnya, umi mau nemenin Agis....”
Kemudian aku beranjak dari ruang makan dan menuju ke musala dekat rumah.
Sedang abah sudah nunggu mulai tadi. Dia sudah duduk di atas sejadah seraya
memutar tasbih menghadap ke arah kiblat.
* * *
Usai shalat kita duduk santai sambil menghirup udara agak panas karena sinar matahari membakar pelataran rumah. Kukipaskan kopyah yang aku kenakan untuk menghapus keringat yang bercucuran.
“Abang mau mandi dulu?” tanya Ade’ melihatku iba.
“Nanti aja. Abang hanya berkeringat dikit. Tadi aku udah selesai mandi
sebelum tiba di sini.”
“Beneran Bang?”
“Gimana Abang tidak mandi, wong Abang mau ketemu sama Ade’? Nanti
ndak jadi tampan. Hihihi....”
“Hemz,” sahut Halim dari arah belakang.
“Ah, Abang alay terus. Tak di telepon. Tak di depan Naila.”
“De’....”
“Apa?! Mau jalan-jalan?” potongnya menghentikan perkataanku.
“Iya gitu lah.”
“Let’s go! We are ready.[2]”
Kita langkahkan kaki bersama. Sedangkan, Ade’ ada di depanku seakan-akan
dia mengomandu ke mana arah jalan yang dituju. Soalnya, dia seorang yang banyak
tahu lingkungan Situbondo ini.
Di jalan transportasi, baik mobil, sepeda motor, becak, truk, bis, odong-odong
dan semacamnya, lalu lalang. Anak-anak bersiul melihat laki-laki dan perempuan
jalan-jalan bersamaan. Mereka menaruh curiga. “Uy pulang. Jangan main-main di
pinggir jalan,” suruh Ade’ dengan suara mengeras.
“Siapa mereka?” tanyaku.
“Dua anak itu adalah adikku, sedangkan yang lain adalah teman sekolahnya.”
Dia jelaskan sambil menunjukkan tangannya mengarah pada anak kecil tadi.
“Lucu si adik kecil itu,” celotehku memuji. Kemudian aku bertanya, “Siapa
namanya?”
“Dia Agis.”
Dilihatlah taman-taman indah di sekitar sana. Taman itu laiknya teman
rekreasi yang pernah aku kunjungi dulu waktu ikut studi komparatif. Ya Allah.
Sungguh Maha Kuasa Dzat yang menciptakan segalanya. Masya Allah. Gumam
batinku.
Tak berlama-lama di sana, Ade’ mengajak kunjung Sekolah Dasar (SD) milik
abahnya. Sekolah yang tak jauh dari rumah Ade’ terlihat megah mata memandang.
“Cocok kalau kamu sir jadi penerus di sini,” bisik Halim dekat telinga.
“Puih, apa-apaan. Settttt.”
“Pasti Ade’ jadi penerusnya nanti,” tebakku asal-asalan.
“Ndak mungkin, wong aku perempuan. Abah mesti berikan ini semua pada
adik-adikku.”
“Jangan kecil hati gitu dong. Apa bedanya laki-laki dan perempuan?”
“Bukankah perempuan selalu termarjinalkan?”
“Kata siapa? Itu dulu sejak masa perbudakan berlaku. Sekarang tidak lagi.
Tuhan pun menilai diri seseorang bukan karena jenis kelaminnya, tapi karena
ketakwaannya.”
“Iya itu secara ketuhanan. Tapi secara kemanusiaan?”
“Percayalah. Perempuan bukan menjadi tulang punggung orang laki-laki saja.
Bukan hanya berkutat di dapur, di kasur, dan di sumur. Tapi, perempuan memiliki
kesempatan untuk mewujudkan mimpinya jika dia mau berusaha dan optimis. Tahukah Ade’ dengan Megawati? Seorang perempuan yang mampu meraih
tampuk kekuasaan sebagai presiden menggantikan Gus Dur.”
“Itu kan hanya satu. Abang tahu satu itu minoritas atau dapat dibilang
langka.” Dia masih berani menyanggah.
“Kata siapa sedikit? Coba Ade’ lihat orang perempuan yang sukses.
Misalkan, Fatin pernah menjadi juara 1 di ajang X-Factor Indonesia; dan
Britney Spear mampu menjadi terbaik
sebagai penyanyi internasional seperti Avril Lavigne, Rihanna, dan beberapa
penyanyi lainnya.”
Ade’ sejenak berhenti. “Makasih Abang... Naila sadar bahwa orang perempuan
masih bisa untuk bergerak menjadi yang terbaik.”
“Nah, gitu namanya Naila yang Abang kenal. Tak mudah menyerah. Tak gampang
putus asa. Tetap semangat,” motivasiku.
Terasa asyik duduk di halaman sekolah yang bersih. Tak ingin jalan-jalan
di trotoar sambil lihat-lihat pemandangan yang indah. Di sanalah kita ngobrol
agak kelamaan, hingga berjam-jam. Azan Asyar pun dikumandangkan. “Sir... tak
pengin pulang?” sahut Halim menyeka keasyikan ngobrol.
“Jam berapa?” tanyaku menoleh ke arah Halim.
“Jam 16.00. Kita akan kemalaman nyampek di Madura. Pasti bermalam
di atas bus,” ujar Halim menggerutu.
“Udah Abang nginap aja di sini. Di rumah ada kamar yang kosong dan Abang
tempati,” usul Ade’ kelihatan tak kuasa akan mendengar kita pamit pulang.
Seakan pertemuan ini akan berlangsung selamanya.
Diriku merasa tidak nyaman jika nginap di sana. Bayangkan kita laki-laki
semua. Takut terjadi isu-isu negatif. “Aku mau pamit aja sama abah dan umi
Ade’,” pintaku terkesan memaksa.
Kita kembali ke rumah yang dikunjungi tadi. Nyampek di sana
dipanggilah abah dan uminya. “Mereka mau pamit pulang umi,” ujarnya.
Abah dan umi keluar. Aku menunggu di luar. Setelah mereka terlihat tampak
di depanku. Kuraih tangan kanan abah, begitu pula Halim. “Abah... umi... kami
mau pamit pulang.” Mereka hanya diam. “I-y-a,” ucap abah terbata-bata.
“Ass.”
“Abang...,” panggilnya seraya menangis. Cucuran air mata kembali menetes
seperti aku lihat waktu tiba di sini karena terharu. Mungkin, tetasan air mata
yang aku lihat kini karena tidak menerima lihat aku pergi.
Dia lari mendekatiku. Inginnya air mata ini kuseka, tapi aku takut ama
abah dan uminya. “Ade’, Abang ingin lihat Ade’ tidak menangis. Pokoknya Abang
tidak akan pulang dan tetap akan berdiri di sini jika Ade’ tetap menangis,”
ujarku.
“Biarin Abang berdiri di sini agar bersama Naila,” sanggahnya sedih.
Uminya menghampiri putri sulungnya merasa iba melihat tetesan air mata
yang terus menetes. “Ila, yang tabah ya sayang. Apakah Ila tidak kasihan sama
Abangmu kalau dibiarin tetap berdiri di sini?” ujar umi sambil
mengelus-heluskan telapak tangannya ke atas kepala.
“Tapi, umi....”
“Dokan saja Abangmu agar pulang dan nyampek di Madura dengan
selamat.”
“Umi,” panggilku sambil mengambil bungkusan kado di dalam tasku. Aku lupa
tidak berikan sejak awal kali ketemu atau saat asyik menyusuri jalan-jalan
perkotaan.
“Iya nduk.” Umi menyahut dan pandangan di arahkan ke mukaku.
“Ini ada sesuatu untuk Ade’. Lupa tidak diberikan tadi.”
“Apa ini?”
“Sesuatu umi. Moga aja Ade’ beserta abah dan umi berkenan.”
Bungkasan itu diterima dibarengi dengan senyuman sang ibu yang penuh
dengan aura cinta. Putri sulungnya masih mendekap erat di dada uminya. Dia tak kuasa teteskan air mata dan tak
menatap mukaku kembali. Barangkali dia sebel, kecewa, atau kesel.
“Ila, hapus dulu air matamu. Masa orang perempuan seperti Ila yang sudah
dewasa, masih tetap nangis. Nih ada sesuatu surprise dari Abangmu,” Umi
berusaha mengobati rasa sedih yang sedang menjangkit putri kesayangannya.
“Nduk, udah dulu nangisnya. Kalau nduk tetap begini terus,
pasti Abangmu tak akan ke sini lagi,” bujuk abah dari belakang.
“Makasih abah. Makasih umi. Ila sayang kalian. Terima kasih,” ucapnya saat
sadar dengar kata-kata abah dan uminya. Kemudian, dia mengangkat dekapan
kepalanya dan mengalihkan pandangannya pada Abang yang dirasa jadi tangkai
hatinya.
“Ni ada sesuatu dari Abangmu.” Umi memberikan bungkusan itu dan diterima
dengan hangat.
“Apa ini Mi?” tanyanya penasaran.
“Ucap terima kasih dulu, Ila, ama Abangmu. Bungkusan ini hadiah dari Abangmu.”
“A-a-abang, teterima kasih yang banyak ya Abang.”
Kepalaku hanya mengangguk. “Sama-sama Ade’.”
Halim tetap berdiri mematung di dekatku melihat isak tangis baru saja
mereda. “Abang mau pulang ya? Jangan lupa telepon Ade’ ya Abang.”
“Insya Allah Ade’. Abang pasti ingat Ade’.”
“Hati-hati di jalan. Kalau udah nyampek kasih kabar sama Naila ya Bang.”
“Iya Ade’.”
“Abah, umi, Ade’, kami ingin pamit. Assalamu’alaikum,” ucapku
lirih.
“Wassalamu’alaikum.” Jawab mereka serentak. Hati-hati!
Badan dibalikkan dan kaki melangkah menuju luar halaman sambil menanti bus
jurusan Surabaya lewat. Truuut. Bunyi klakson bus melengking keras. Kulambaikan
tanganku. Serentak bus berhenti persis di depanku dan Halim. Kemudian, kita
melangkah menuju dan masuk ke dalam bus. Di dalam sudah terisi penumpang yang
duduk dengan tenang.
* * *
Hemz, aku baru sadar kalau aku sedang mendongeng dalam imajinasi. Inginnya khayalan itu ditepis. Sayang, pikiran tak mampu menghapus. Batinku selalu bergumam, “Tulislah dongeng itu. Menarik.”[]
No comments:
Post a Comment