Belajar menulis semakin tumbuh sekalipun tak sedikit kritik pedas menjamahku. Teman-teman yang membaca tulisan-tulisanku selalu komentar. “Tulisanmu agak kekitab-kitaban.” Aku merasa jijik mendengar kritikan dengan menyebut ‘kekitab-kitaban’. Karena, kitab menurut padangan mereka terkesan klasik dan kuno. Kuno sama artinya dengan ketinggalan zaman. Pikiranku menyimpulkan bahwa aku benar-benar ketinggalan zaman. Aku sudah terlihat terlambat melangkah beserta mereka. Air mata menetes. Perasaan pedih tak dapat dibendung.
Di atas kritikan itu, aku semakin giat menulis, sekalipun tidak nulis
setiap hari. Beberapa tulisan yang masih belum diketahui bentuk atau tipenya:
artikel, opini, esai atau kolom, berceceran di buku tulis. Ditulis hal apa pun,
terutama kondisi santri di pondok: kesederhanan dalam menjalani hidup, semangat
yang tinggi dalam belajar untuk menyongsong masa depan, hidup bersama yang tak
dapat ditukar dengan intan, dan lain sebagainya.
Usai menulis, diketiklah di komputer, diedit dan di-print hingga
mudah dan dapat dibaca banyak orang, terutama teman-temanku sendiri, baik yang
mahir menulis atau biasa-biasa saja. Pernah tulisan itu diberikan kepada Bapak
Bachrur Razi, Kak Wahedi, Kak Fawaid dan Kak Aci’. Aku tahu dan kenal, mereka intens menulis. In
fact, karya-karya mereka sering dimuat di media bergengsi, seperti Kompas,
majalah, dan buletin PP. Annuqayah.
Setahuku, masing-masing mereka berbeda-berbeda cara merespons tulisanku.
Kalau Kak Wahedi tidak banyak komentar, cukup bilang satu kalimat, “Nulis lagi khi!”
Sedangkan, Bapak Bachrur dan Kak Fawaid sering memberikan coretan tinta pada
kata atau kalimat yang error, entah diksinya kurang cocok, atau terjadi
pemborosan kata, hingga kertas yang aku terima jadi kotor. Kadang, aku bosan
karena tak henti-henti kritik disodor, tak ada pujian sedikit pun. Kadang, aku
semangat, karena sadar kritikan itu menjadi jembatan menjadi the best.
Sungguh sulit menjadi penulis!
Ada sebuah adagium yang dinyatakan Al-Ghazali berkenaan dengan the best
choice menjadi penulis. “Kalau kamu bukan seorang anak raja, menulislah
agar kamu dapat dikenal.” Kalimat itu mampu menjadi cambuk dalam setiap langkah,
walau rintangan sering menjerat dan menghadap. Cita-cita menjadi penulis terkenal yang karyanya
banyak dimuat di media cetak atau dipublikasikan menjadi buku, terus terbayang.
Sebut saja Quraisy Shihab dengan karyanya, Tafsir al-Misbah; Said Aqil
Siradj dengan karyanya, Tasawuf sebagai Kritik Sosial; KH. Shahal
Mahfud dengan karyanya, Nuansa Fiqh Sosial; dan beberapa penulis lainnya.
Sekalipun kemampuan menulis masih kurang, aku berani nekad untuk berkarya.
Entah, itu karena kerasukan jiwa penulis terkenal, seperti Philip (penulis How
to Say It), Betty Schrampfer Azar (penulis Basic English Grammar,
Fundamentals of English Grammar, dan Using and Understanding English
Grammar), John Eastwood (penulis Oxford Learner’s Pocket Grammar),
Gerge E. dan Julian M. Burks (dua penulis Let’s Write English)
dan yang lainnya. Disusunlah sebuah buku dengan judul Learning English (sekarang
dirubah judulnya menjadi Essentials English Expression), sebuah
buku ungkapan-ungkapan bahasa Inggris. Buku yang sangat tipis dengan
bermodalkan referensi buku How to Say It dan beberapa buku bahasa
Inggris yang lain, karya pertama itu terkesan cukup untuk belajar bahasa asing.
Lalu, buku itu dicetak menjadi 50 eksamplar dengan pakai uang sakuku sendiri,
sekalipun labanya sepenuhnya untuk kas BPBA English, lembaga bahasa Inggris di
PP. Annuqayah daerah Lubangsa Putra.
Dengan keterbatasan anggota BPBA English sejak periode 2011–2012,
kira-kira 20 orang, tercetaknya buku itu mengharuskan dipasarkan ke luar
lembaga ini, apalagi mendapat support dari Layouter buku ini, A. Wasik
untuk dipasarkan di beberapa lembaga atau klub bahasa Inggris di Annuqayah.
Buku itu pun bersisa 30 eksemplar. Pertanyaannya, untuk apa sisa buku itu?
Sedangkan, laba dari 20 buku yang terjual belum menutupi biaya cetak. Then,
dipasarkan ke English Club (EC), klub bahasa Inggris di PP. Annuqayah
Lubangsa Putri dan Aphrodite English Club (AEC), klub bahasa Inggris di PP.
Annuqayah Latee 2 Putri.
“Moga laku semua. Amin,” munajatku tiada henti.
* * *
Hari berikutnya, aku beserta teman pondok berkunjung ke lokasi pemanggilan
di PPA. Latee 2 Putri. Kali ini, awal kali ke sana. Sejarah mulai ditulis.
Didapatilah informasi marketing bahwa buku yang dikirimkan beberapa hari
silam ke AEC sell out. Mendengarnya happy banget. Toh, belum kantongi uang hasil
jual. Sebab, yang beli masih dalam status ngutang. Dipikir-pikir tak kenapa
dari pada tidak laku.
Terus, tinggal objek marketing yang satunya belum diketahui
impormasinya. Pasalnya, sulit untuk search informasi secara langsung:
kunjungi ketua EC secara langsung. Peraturan pondok antara PPA. Lubri dan PPA.
Latee 2 Putri tampak berbeda. Di PPA. Lubri, santri putra dapat kunjungi santri
putri atas hubungan famili: saudara sekandung dan sepupu. Tahukah? Status aku
sendiri sebagai wakil ketua BPBA English periode 2011-2012 M. dan ketua EC sama
sekali tak ada ikatan nasab atau kekeluargaan, apalagi sepupu. Jalan terakhir,
selain contact lewat surat-menyurat, pun phone di kantor
pesantren.
Kirim surat atau telepon masih semu. Dipikir-pikir kirim surat, kesannya,
ganjil karena di antara kita tak pernah kirim surat, walau sekali. Jadi, lebih
baik ditelepon saja.
Di malam hari, aku bergegas menuju kantor pesantren. Di sana tersedia
telepon rumah. Hanya saja, tombol teleponnya dikasih tabir karet, sehingga tak
mudah orang lain pencet sembarangan, kecuali dapat kuncinya dan dibuka.
“Pak, boleh panggil ketua EC?” tanyaku tanpa basa-basi pada salah satu
pengurus pesantren yang sedang bertugas di sana.
“Bisa. Tapi, ada perlu apa?” tanyanya sedikit ragu sambil menatap mukaku.
“Emmm, ingin tanya pendistribusian buku milik BPBA English yang dikirimkan
ke sana kemarin.”
“Kok tidak kirim surat saja?” Dia merasa keberatan atas penjelasanku tadi.
“Aduh, gimana ya Pak. Masalahnya, saya tidak biasa kirim surat ke sana,
hanya surat kerja sama. Itu pun surat formal,” jelasku. “Ayolah Pak... Kan ini kepentingan
organisasi?”
Dia kelihatan sadar nama organisasi disebut-sebut. Apa pun kalau atas nama
organisasi, seliar apa pun hewan itu, akan jadi jinak. In fact, dia
inginnya menolak, tapi akhirnya menerima. Sip.
“Siapa nama ketuanya?” Jari telunjuk ditumbuk-tumbukkan pada tombol yang
tersedia.
“Kurang tahu juga, Pak. Soalnya, baru sekarang BPBA English contact dengan
lembaga putri. Kalau bisa sampaikan saja butuh sama ketua bahasa Inggris.” Aku
kelihat sok mengonsep. Dikira pengurus itu tidak tahu cara kontak santri putri.
Apalagi, dari tadi sudah cek-cok mencerocos.
Tutttt. Seakan nada tunggu panggilan masuk. Aku paham betul, ingat-ingat
pengalaman phone teman melalui ponsel kecuali dikasih nada tunggu
khusus: lagu, atau apa saja. Obrolan dimulai dengan sapaan lirih. “Nyi, tolong
pangilkan ketua bahasa Inggris putri. Dibutuhkan sama ketua bahasa Inggris
putra.” Dia kira aku ketuanya, padahal aku hanya jadi wakil ketua saja. Titik.
“Ditunggu dulu. Ketuanya masih akan dipanggil.” Panggilan diakhiri dengan
ganggang telepon diletak pada posisi semula.
“Masih mau dipanggil katanya.” Dia berujar dan membiarkan aku sendirian
berdiam di atas kursi sedikit empuk. Aku hendak menunggu hingga ada calling
back, maksudnya. Keheningan membungkam pikiran untuk merangkai kata-kata
menjadi santun, sehingga elok kedengarannya. Soalnya, aku bukan tipe orang yang
bicara waktu-waktu juga, perlu disertai bantuan bolpoin dan kertas untuk
ditulis. Biasanya di situ syair indah lahir dengan penuh keleluasaan.
Telepon melengking dekat posisi dudukku. Tangan yang diam di atas paha,
refleks terangkat menuju ganggang telepon. Sayangnya, pengurus lebih dahulu
meraihnya. Digenggamlah gangangnya kemudian didekapkan di telinganya.
Percakapan pendek sedang mengalir deras. Sunggingan senyum tampak menghias
wajah.
“Ini,” ganggang telepon disodorkan. Diterima. Baru percakapan ganti
posisi.
“Halo, Assalamu’alaikum...?” sapaku lembut.
“Waalaikum salam....”
“Benarkah ini ketua EC?” potongku seketika.
“Iya. Ini ketua BPBA kan?”
“Benar.”
“Kamu Khalil, adiknya, Mbak Uuk?”
“Iya.”
Kok bisa tahu tentang aku, lebih-lebih namaku? Apakah dia
sudah mengincar namaku jauh hari sebelumnya? Atau...?
“Kemarin, saya kirim buku, sudah nyampek?”
“Iya nyampek.”
“Laku semua?”
“Al-Hamdulillah. Laku. Kalau bisa dikirimi kembali.”
“Waduh, bukunya sudah habis semua di BPBA. Untuk cetak kembali, butuh
proses yang lama. Ya, insya Allah, jika tidak keberatan dan cetak
kembali, akan dikimkan kembali ke sana.”
“Di BPBA, setiap pengurus punya job masih-masing.”
“Pastinya. Ya, ada yang fokus di speaking. Ada yang intens di
grammar. Begitu pula, ada yang fokus di bidang penerbitan,” ucapku basa-basi.
“Aku kira tidak enak kalau hanya sekedar ngobrol lewat telepon. Soalnya,
ada beberapa hal yang sepantasnya dibicarakan secara langsung, terutama
pertanyaan teman-teman tentang isi buku ini. Katanya, ada sebagian yang tidak dimengerti.”
“Jadi, aku harus manggil?” potongku.
“Iya.”
“Insya Allah. Tapi, saya tidak janji. Soalnya, takut tidak mendapat
izin dari pengasuh atau KAMTIB.”
Dengan ucapan “terima kasih” panggilan diakhiri. Aku kembali ke asrama. Then,
beri tahu sama pengurus yang lain, kebetulan mereka sedang relax di
dalam kamar, kalau bukunya sell out semua.
“Kamu telepon ketua putri, sir?” Salah satu dari mereka tanya
penasaran.
“Iya, di kantor pesantren.”
“Cieee, asyik ngobrol-ngobrol dengan putri?” sebagian yang lain nyeletuk.
Tak direspons, hanya tampak muka dingin.
“Cerita apa saja?” sahut yang lain.
Aku jelaskan kalau aku hanya tanya laku dan tidaknya buku Learning
English. Katanya, putri masih minta dikirimi kembali. Tapi, aku angkat
tangan. Soalnya, cetakannya sudah habis alias laku semua.
Thus, ketua bahasa
Inggris putri tanya, job setiap pengurus BPBA. Aku bilang kalau masing-masing
kita punya job tersendiri. Seakan-akan dia merasa takjub dan kagum dengarnya.
* * *
Ya, telah berlalu masa itu. Masa obrolan yang berlangsung dengan cepat
demi bahasa Inggris di Annuqayah. Kini, masa tinggal menjadi cerita yang terus terbayang dalam lamunan. Usaha menepis dari
kegalauan yang tiba-tiba kambuh, tak kuasa. Bintik-bintik pertanyaan hinggap di
pikiranku. “Kok bisa ia nyebut-nyebut namaku?”
Padahal, bicara sama dia sajak kali itu. Bisa-bisa nama itu, anggapanku,
ditemukan di cover buku bagian pojok atas. “Khalilullah.”
Batin nyambung. Semua ini terjadi karena perantaraan menulis. Hingga,
menjadi sebuah buku, walau isinya tak sebanding dengan Al-Qur’an, sebagai kalam
Tuhan yang tak dapat ditandingi: sastra, keistimewaan, dan keutamaannya. “Di
atas karya,” gumam batinku, “menjadi seperti ini.”[]
No comments:
Post a Comment