Tuesday, June 30, 2015

Dia dan Burung Camar



Ada sebuah cerita yang terus mengingatkan saya akan burung camar. Cerita itu adalah perahu kertas. Sekalipun cerita itu ditulis secara tuntas oleh Dee (nama pena Dewi Lestari), aku masih belum menyelesaikan bacaan novel tersebut. Tapi, sebait makna ada yang dapat aku tangkap. Ceritanya begini.

Sejak kecil kehidupan Kugy tak lepas dari perumahan yang berseberangan dengan laut. Hari-harinya selalu pergi kelaut. Baginya, laut menjadi tempat dia bermain. Di samping itu dia memiliki seorang Abang yang selalu menjadi jembatan curhatnya. Namanya, Karel.

Suatu hari, Kugy merenung. Dia teringat dengan Dewa Neptunus. Dalam hayalannya, dirinya adalah anak dewa yang diutus hidup di daratan. Sehingga, dia terdorong menulis sebuah surat di sebuah kertas yang dapat dilipat menjadi sebuah perahu, yang dikenal dengan perahu kertas. Dia hanyutkan perahu tersebut di laut itu. Di atas kekreatifan menulis, apapun yang terjadi dalam hidupnya dapat dicurhatkan pada seorang dewa.

Kerena dia sudah menemukan makna hidup yaitu menulis di lipatan kertas sehingga menjadi sebuah perahu, dia tidak ingin kehidupannya dipisahkan dengan laut. Fakta ini dapat dibaca saat keluarga Kugy ingin pindah ke kota. Kugy protes mati-matian. Sebab, dengan pindah ke tempat lain, laut di mana dia layarkan sebuah perahu, tak akan dilakukan kembali. Sungguh, sulit dia beralih dari kebiasan semula. Memang seperti itulah kehidupan manusia.

Di atas masalah yang tiba-tiba menjamah, hadirlah seorang Abang Karel yang dapat mengobati dan mengubur kebingunannya. Dengan pertanyaan yang Kugy sampaikan, “Air sungai, air empang, dan air selokan sampai ke laut?” Karel hanya menganggukkan kepala. Dia mengiyakan. Mendengar Abangnya memberikan sumbangsih positif, perasaan berat semakin memudar. Sehingga, akhirnya Kugy pindah rumah ke Bandung. Namun, sebelum kepergiannya dia masih sempat menulis di kertas. “Nus, saya pindah ke Bandung. I’ll find my stream. Sampai ketemu.” Dengan kepergiannya, kecintaan menulis dan mencurahkan segala teka-teki hidup sedikit pun tak pupus. Dia kelihatan masih mengharapkan Dewa Neptunus membaca dan mendengarkan segala bisikan hatinya.

Itu sebuah cerita yang pernah aku sampaikan pada seseorang yang cinta mati-matian pada burung camar. Soal burung itu, ada hal lebih yang aku sendiri menyadarinya bahkan bertanya-tanya. Sadar kalau camar sebagai nama burung baru aku ketahui saat mendengar cerita dia seorang di medan ponsel. Katanya, dia pernah menulis surat di atas kertas yang isinya ditujukan padaku. Setelah surat tersebut selesai ditulis, dilipat sampai membentuk burung camar. Kemudian, burung tersebut dilayarkan di selokan dekat pondok di mana dulu dia belajar. Secara rasional, burung dapat terbang, bukan dilayarkan di atas aliran air. Tapi, menurutku, hal seperti itu tidak apa-apa. Sebab, burung barusan adalah benda mati yang terbuat dari kertas, sehingga tidak dapat terbang, sekalipun melalui hembusan angin. Sehingga, butuh kekreatifan dalam melepaskan burung tersebut untuk meyampaikan isi surat yang ditulis. Salah satunya dengan dilayarkan seperti halnya perahu kertas yang dilakukan oleh Kugy salam novel di atas.

Burung camar. Aku pernah bertanya-tanya, “Kenapa harus burung camar? Apakah tidak ada burung selain itu?” Pertanyaan yang terus terbersit, hingga mendorongku mencari cerita atau kisah tentang camar. Di google kisah itu kubaca.

Ada sebuh kisah dua burung, yaitu burung camar dan burung elang. Burung camar memiliki perbedaan dengan burung elang. Letak perbedaan, salah satunya dapat dilihat dari cara mencari makan. Burung camar mencari makan di laut, sedangkan di burung elang mencari makan di tempat yang jauh. Selain itu, dari cara terbangnya. Burung camar terbang tidak tinggi melambung di atas awang-awang, tidak seperti burung camar. Di atas perbedaan ini, pada hakikatnya tidak terjadi masalah. Tapi ada satu yang tidak patut ditiru dari burung elang dibandingkan burung camar.

Satu burung elang yang awalnya termasuk dalam kelompok burung camar. Karena, ketamakannya, gengsi mencari makan di tepi laut, ia memisahkan diri tanpa adakan izin sebelumnya. Dia bergabung dengan burung elang yang makannya dapat ditemukan di banyak tempat karena memiliki kemampuan terbang yang tinggi dibandingkan dengan burung camar. Karena, ketidakbersamaan satu burung camar ini, maka dikecamlah ia sebagai burung yang hianat dari kelompok burung camar. Sehingga, ia menjadi burung elang karena pilihannya.

Berawal dari kisah itu, burung elang dapat dibilang sebagai burung penghianat. Sedangkan, burung camar termasuk burung yang tulus mengisap manis dan pahit bersama, menjunjung kebersamaan, dan sederhana. Sampai sekarang, burung itu kelihatan cantik dan anggun.

Sekilas kisah burung camar, pikiran berkesimpulan, pilihan burung camar sebagai kesenangannya tak jauh berbeda dari karakter dia sendiri. Aku akui dia orangnya humanis (I’m into you, you are into me), dan sederhana. Bukankah?[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...