Tuesday, June 30, 2015

Dilema



Sore itu aku dan Wahed berkunjung ke sebuah rumah pertama kali aku kunjungi. Sebelum berangkat aku tahu rumah yang akan dituju milik Bapak Sattar. Selain saliturrahim, ke sana untuk tanya soal ESG (Evaluasi Semester Genap) Madrasah Diniyah Baramij Al-Tarbiyah Wa Al-Ta’lim (MD.BTT).

Kehadiranku dibilang wajib, ‘ia’ karena posisiku sebagai ketua di kepanitian. Tak ikut atau biarkan mudir berangkat sendiri terkesan tidak nyaman. “Kamu harus ikut,” suruh batinku desis.

“Lil, ikut aku ke rumah Pak Sattar,” ajaknya sedikit memaksa.

“Pak Sattar bilang soalnya diambil di rumahnya,” ketusnya kemudian.

Aku berangkat dan membuntut di belakang. Ikut ke mana kaki dia melangkah. Pasrah padanya. Dialah seorang yang lebih tahu di antara kita berdua. Tidak hanya satu kali dia kunjung ke sana, tapi sudah berkali-kali. Dia terus melewati jalan kecil licin dan mudah becek jika dikena hujan deras sebelah barat pondok PPA. Lubri. Di sekitar jalan itu terbentang banyak sawah yang terlihat gersang karena panas membakar. Hujan belum waktunya turun, karena musim panas belum berganti.

Matahari condong ke ufuk barat. Jam kira-kira menunjuk pukul 16.00-an. Suara santri putri bergemuruh dari arah pondok yang tak begitu jauh dari arah aku berjalan. Suara itu tidak sejelas berbicara vis. Hanya saja mengisyaratkan bahwa asrama ini dihuni beratus-ratus santri putri.

Sampai di pohon bambu dekat jalan kecil itu, terlihat sebuah rumah sederhana. Rumah kayak rumah-rumah yang berjajar di pedesaan. Di depan rumah itu ditanami beragam tumbuhan. Seingatku pohon jambu dan marunggi. Begitu juga di depannya berdiri gubuk tua.

Nah, tiba di rumah itu, rasa gugup sedikit menjerat badanku. Kaki jadi kaku melangkah. Kepala dibikin menunduk dan sedikit mendongak. Ehm, Santri putri di rumah di samping rumah Pak Sattar. “Santri atau bukan?” batinku bergumam ragu. Mereka kelihatan memelototi kehadiranku beserta Wahed di sampingku. Apalagi, jaket hitam alias almamater IKSAPUTRA yang kupakai, pada kanan depan bagian bawah tertulis namaku ‘Khalilullah’. Nama itu tampak bagi siapa saja yang ada di hadapan, apalagi sengaja mata terbelalak. Sekali melihat orang yang pakai baju itu, pasti terbersit dipikirannya, baju yang dikenakan milikku, sekalipun yang pakai bukan pemiliknya. Sapaan salam mengelinding lembut. “Assalamu’alaikum.” Sekejap sapaan itu ada respons.

“Waalaikum Salam, silahkan duduk,” ajak seorang bangkit dari duduknya. Kepala mengangguk.

Di amper berdiri Pak Sattar menyambut kehadiran kita. Dari tadi dia kelihatan duduk bersama istrinya yang sedang menemui santri putri bertamu ke sana. Kita berdua masuk ke amper yang beralaskan karpet. Refleks, aku menuju dan mendekat si bapak duduk. Tak dikira disuruh duduk di tempat sebelah yang kelihatan kosong. Tempat itu benar-benar terpisah dari tempat pertama kira-kira dua meteran. Kelakuan nakal, girl watching kentara; rupa dan body-nya.

Tak sempat mata melotot, hanya sepintas. Khawatir terkesan tidak sopan bertamu ke rumah orang. Nyatanya sudah berani nakal. Pejamkan dan tundukkan padangan lebih baik. Bahkan, bicara yang tidak perlu atau iseng-iseng sedikit pun tak terdengar. Hanya saja bisik-bisik dari mulut ke mulut. Dudukku tetap tak berubah-ubah. Tatapan hanya mengarah pada benda yang ada di depanku.

“Seperti punya Naila itu baik.” Begitulah celetukan yang kudengar dari teman santri putri yang datang sebelumku dan duduk sejak tadi.

Pikiranku langsung teringat pada seseorang yang aku kenal di ponsel saat liburan Maulid kemarin. “Benarkah dia Naila yang aku maksud? Apakah Naila hanya satu orang di pondok ini?” Pertanyaan tiba-tiba tumbuh dengan sendirinya. Kuedarkan pandangan usai dengar nama itu disebut-sebut. Hasrat melihat mukanya tiba-tiba bangkit. Pandangan diarahkan. Sayang, mukanya menunduk. Hanya saja baju dan kerudung yang dikenakan kentara. Tapi, awal kali masuk amper, mukanya sempat mengelibat. Aku tak terlalu menggubris karena anggapanku dia santri putri yang belum aku kenal. Walau foto yang aku koleksi dari album Facebook-nya lumayan menumpuk di flashdisk, mirisnya, foto-fotonya tak sepersis orangnya. Diakui, pandangan mataku masih lemah, tak sekuat kelelawar yang mampu memandang hingga jarak jauh.

“Bu... jangan keras-keras,” bisiknya lirih sama seorang ibu yang sedang duduk bersimpuh pas di depannya supaya tak nyebut namanya dengan keras.

“Kalo dia benar-benar Naila,” pikirku, “Mmm, baby face banget. 

“Tapi... kenapa dia kelihatan gugup? Keburu pulang lagi? Aneh?!” Imajinasi makin kuat menerawang.

“Bawa flashdisk?” tanya Pak Sattar memecah lamunan.

Flashdisk yang pernah dikirim ke Naila untuk saving foto-fotoku disodorkan. Merek Toshiba berwarna putih dan berekor tali berwarna ungu. “Memang seperti ini flashdisk-nya,” ketusnya sambil menenteng flashdisk tersebut.

“Aduh, kok digitu-gitukan?” desisku, “Kalo dia benar Naila, pasti dia tau flashdisk itu.”

Entahlah, dia benar Naila atau tidak, pasti Ulfah akan cerita. Apalagi mereka saling berteman. Snack yang tampak di hadapan malu-malu dicicipi. Delicious! Sementara santri putri keburu kembali ke pondoknya.

* * *
Maghrib tiba dengan sendirinya. Adzan berkumandang dari masjid Jami’ Annuqayah. Alunan suaranya menebar ke lingkungan sekitar. Tak terasa larut dalam obrolan. Pinggang sedikit pegal dan capek. Wahed pamit pulang.

Tiba di pondok, sebagian teman kamar belum berangkat ke masjid. Iseng-iseng nunggu kiai bunyikan bel, aku cerita. Aku ketemu santri putri di rumah Pak Sattar. “Cantik?”  celetuknya memotong.

“Ya, bilang cantik, aku tak sampai lihat sejelas mungkin. Pokoknya, lumayan,” ceritaku berbunga-bunga kayak kejatuhan duren saja.

“Mereka nyebut nama Naila lagi,” lanjut cerita.

“Memang dia beneran?”

“Tak tahu juga.” Kepalaku geleng-geleng.

Suasana penuh ‘dilema’.[]

No comments:

Tuhan, Hamba, dan Doa

Seringkali kita diam, seakan-akan tidak punya problem yang sedang menjerat eksistensi diri kita. Padahal, kita terperosok dalam jurang pe...