Sore itu aku dan Wahed berkunjung ke sebuah rumah pertama kali aku
kunjungi. Sebelum berangkat aku tahu rumah yang akan dituju milik Bapak Sattar. Selain
saliturrahim, ke sana untuk tanya soal ESG (Evaluasi Semester Genap) Madrasah
Diniyah Baramij Al-Tarbiyah Wa Al-Ta’lim (MD.BTT).
Kehadiranku dibilang wajib, ‘ia’ karena posisiku
sebagai ketua di kepanitian. Tak ikut atau biarkan mudir berangkat sendiri terkesan tidak nyaman. “Kamu harus
ikut,” suruh batinku desis.
“Lil, ikut aku ke rumah Pak Sattar,” ajaknya sedikit memaksa.
“Pak Sattar bilang soalnya diambil di rumahnya,” ketusnya kemudian.
Aku berangkat dan membuntut di belakang. Ikut ke mana kaki dia melangkah. Pasrah padanya. Dialah seorang yang lebih tahu di antara kita berdua. Tidak hanya satu
kali dia kunjung ke sana, tapi sudah berkali-kali. Dia terus melewati jalan
kecil licin dan mudah becek jika
dikena hujan deras sebelah barat pondok PPA.
Lubri. Di sekitar jalan itu terbentang banyak sawah yang terlihat gersang karena panas membakar. Hujan belum waktunya
turun, karena musim panas belum berganti.
Matahari condong ke ufuk barat. Jam kira-kira menunjuk pukul 16.00-an.
Suara santri putri bergemuruh dari arah pondok yang tak begitu jauh dari arah
aku berjalan. Suara itu tidak sejelas berbicara vis. Hanya saja
mengisyaratkan bahwa asrama ini dihuni beratus-ratus santri putri.
Sampai di pohon bambu dekat jalan kecil itu, terlihat sebuah rumah
sederhana. Rumah kayak rumah-rumah yang berjajar di pedesaan. Di depan rumah
itu ditanami beragam tumbuhan. Seingatku pohon jambu dan marunggi. Begitu juga
di depannya berdiri gubuk tua.
Nah, tiba di rumah itu, rasa gugup sedikit menjerat badanku. Kaki jadi
kaku melangkah. Kepala dibikin menunduk dan sedikit mendongak. Ehm, Santri
putri di rumah di samping rumah Pak Sattar. “Santri atau bukan?” batinku
bergumam ragu. Mereka kelihatan memelototi kehadiranku beserta Wahed di
sampingku. Apalagi, jaket hitam alias almamater IKSAPUTRA yang kupakai, pada
kanan depan bagian bawah tertulis namaku ‘Khalilullah’. Nama itu tampak bagi
siapa saja yang ada di hadapan, apalagi sengaja mata terbelalak. Sekali melihat
orang yang pakai baju itu, pasti terbersit dipikirannya, baju yang dikenakan
milikku, sekalipun yang pakai bukan pemiliknya. Sapaan salam mengelinding
lembut. “Assalamu’alaikum.” Sekejap sapaan itu ada respons.
“Waalaikum Salam, silahkan duduk,” ajak seorang bangkit dari duduknya.
Kepala mengangguk.
Di amper berdiri Pak Sattar menyambut kehadiran kita. Dari tadi dia
kelihatan duduk bersama istrinya yang sedang menemui santri putri bertamu ke
sana. Kita berdua masuk ke amper yang beralaskan karpet. Refleks, aku menuju
dan mendekat si bapak duduk. Tak dikira disuruh duduk di tempat sebelah yang
kelihatan kosong. Tempat itu benar-benar terpisah dari tempat pertama kira-kira
dua meteran. Kelakuan nakal, girl watching kentara; rupa dan body-nya.
Tak sempat mata melotot, hanya sepintas. Khawatir terkesan tidak sopan
bertamu ke rumah orang. Nyatanya sudah berani nakal. Pejamkan dan tundukkan
padangan lebih baik. Bahkan, bicara yang tidak perlu atau iseng-iseng sedikit
pun tak terdengar. Hanya saja bisik-bisik dari mulut ke mulut. Dudukku tetap
tak berubah-ubah. Tatapan hanya mengarah pada benda yang ada di depanku.
“Seperti punya Naila itu baik.” Begitulah celetukan yang kudengar dari
teman santri putri yang datang sebelumku dan duduk sejak tadi.
Pikiranku langsung teringat pada seseorang yang aku kenal di ponsel saat
liburan Maulid kemarin. “Benarkah dia Naila yang aku maksud? Apakah Naila hanya
satu orang di pondok ini?” Pertanyaan tiba-tiba tumbuh dengan sendirinya.
Kuedarkan pandangan usai dengar nama itu disebut-sebut. Hasrat melihat mukanya
tiba-tiba bangkit. Pandangan diarahkan. Sayang, mukanya menunduk. Hanya saja
baju dan kerudung yang dikenakan kentara. Tapi, awal kali masuk amper, mukanya
sempat mengelibat. Aku tak terlalu menggubris karena anggapanku dia santri putri
yang belum aku kenal. Walau foto yang aku koleksi dari album Facebook-nya
lumayan menumpuk di flashdisk, mirisnya, foto-fotonya tak sepersis
orangnya. Diakui, pandangan mataku masih lemah, tak sekuat kelelawar yang mampu
memandang hingga jarak jauh.
“Bu... jangan keras-keras,” bisiknya lirih sama seorang ibu yang sedang
duduk bersimpuh pas di depannya supaya tak nyebut namanya dengan keras.
“Kalo dia benar-benar Naila,” pikirku, “Mmm, baby face banget.”
“Tapi... kenapa dia kelihatan gugup? Keburu pulang lagi? Aneh?!” Imajinasi
makin kuat menerawang.
“Bawa flashdisk?” tanya Pak Sattar memecah lamunan.
Flashdisk yang pernah dikirim
ke Naila untuk saving foto-fotoku disodorkan. Merek Toshiba berwarna
putih dan berekor tali berwarna ungu. “Memang seperti ini flashdisk-nya,”
ketusnya sambil menenteng flashdisk tersebut.
“Aduh, kok digitu-gitukan?” desisku, “Kalo dia benar Naila, pasti dia tau flashdisk
itu.”
Entahlah, dia benar Naila atau tidak, pasti Ulfah akan cerita. Apalagi
mereka saling berteman. Snack yang tampak di hadapan malu-malu dicicipi. Delicious!
Sementara santri putri keburu kembali ke pondoknya.
* * *
Maghrib tiba dengan sendirinya. Adzan berkumandang dari masjid Jami’
Annuqayah. Alunan suaranya menebar ke lingkungan sekitar. Tak terasa larut
dalam obrolan. Pinggang sedikit pegal dan capek. Wahed pamit pulang.
Tiba di pondok, sebagian teman kamar belum berangkat ke masjid.
Iseng-iseng nunggu kiai bunyikan bel, aku cerita. Aku ketemu santri putri di
rumah Pak Sattar. “Cantik?” celetuknya
memotong.
“Ya, bilang cantik, aku tak sampai lihat sejelas mungkin. Pokoknya,
lumayan,” ceritaku berbunga-bunga kayak kejatuhan duren saja.
“Mereka nyebut nama Naila lagi,” lanjut cerita.
“Memang dia beneran?”
“Tak tahu juga.” Kepalaku geleng-geleng.
Suasana penuh
‘dilema’.[]
No comments:
Post a Comment